YESUS MENANGGUNG PENOLAKAN KITA
MATIUS 27-28
Yesus menanggung sepenuhnya penolakan yang seharusnya kita terima dari Bapa.
Matius 27 mencatat sebuah momen penderitaan yang begitu mengerikan dan gelap ketika Yesus tergantung di kayu salib: “Mulai dari jam dua belas kegelapan meliputi seluruh daerah itu sampai jam tiga. Kira-kira jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: "Eli, Eli, lama sabakhtani?" Artinya: Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku? Mendengar itu, beberapa orang yang berdiri di situ berkata: "Ia memanggil Elia." Dan segeralah datang seorang dari mereka; ia mengambil bunga karang, mencelupkannya ke dalam anggur asam, lalu mencucukkannya pada sebatang buluh dan memberi Yesus minum. Tetapi orang-orang lain berkata: "Jangan, baiklah kita lihat, apakah Elia datang untuk menyelamatkan Dia." Yesus berseru pula dengan suara nyaring lalu menyerahkan nyawa-Nya.” (Mat. 27:45–50).
Kegelapan yang menyelimuti bumi selama tiga jam itu bukan sekadar suasana yang gelap. Kegelapan itu menggambarkan betapa dalamnya penderitaan yang sedang Yesus alami. Bayangkan penderitaan Yesus ketika paku ditancapkan ke tangan dan kaki-Nya. Bayangkan sakitnya tubuh-Nya ketika Ia tergantung di kayu salib. Namun, penderitaan fisik itu bukanlah bagian yang paling mengerikan.
Ada penderitaan yang jauh lebih dalam. Ketika Yesus berseru, “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?”, Ia sedang mengalami sesuatu yang tidak dapat kita bayangkan sepenuhnya: Ia menanggung momen ditolak dan ditinggalkan dalam penghakiman Allah. Ia menghadapi semua pencobaan yang kita hadapi, tetapi Ia tidak pernah berdosa. Lalu di kayu salib, Ia berdiri di tempat kita. Ia menanggung hukuman yang seharusnya kita tanggung. Karena dosa kita, seharusnya kita yang mengalami keterpisahan dari Allah. Kita yang layak menerima murka dan penghakiman-Nya. Tetapi di kayu salib, Yesus mengambil tempat kita.
Yang terjadi di salib bukan sekadar Yesus mengalami rasa sakit. Ia sedang menanggung penghakiman atas dosa kita. Karena itu, seruan Yesus, “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?”, menunjukkan betapa seriusnya dosa kita dan betapa mahalnya harga keselamatan kita.
Inilah bagian yang begitu indah dari Injil: Yesus rela ditinggalkan supaya kita tidak pernah ditinggalkan. Ia rela berdiri di tempat orang berdosa supaya kita dapat berdiri sebagai anak-anak Allah. Karena Kristus telah menanggung penolakan Bapa bagi kita, kita yang ada di dalam Kristus tidak perlu lagi hidup dalam ketakutan bahwa Allah akan meninggalkan kita.
Mungkin hari ini kita merasa sendirian. Mungkin kita merasa Tuhan jauh. Mungkin kita sedang melewati masa ketika doa terasa seperti tidak dijawab. Mungkin kita sedang mengalami kehilangan, penderitaan, atau kekecewaan yang membuat kita bertanya, “Tuhan, di mana Engkau?”
Ingatlah salib. Yesus telah menanggung penderitaan yang paling dalam supaya kita tidak pernah menghadapi keterpisahan dari Allah sebagai hukuman dosa. Karena itu, sebagai anak-anak Allah, kita dapat memiliki kepastian yaitu kita tidak akan pernah ditinggalkan. Perasaan kita dapat berubah, keadaan kita dapat berubah, tetapi kasih Allah di dalam Kristus tidak pernah berubah.
Refleksi
Bacalah 2 Korintus 5:16-21 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:
Bacaan Alkitab Setahun: Matius 27-28