TUHAN HADIR DI SITU
YEHEZKIEL 46-48

 

Di dalam kehadiran Tuhan, kita menemukan kehidupan, damai sejahtera, keamanan, dan pengharapan yang kekal.

 

Seandainya kita adalah penulis paling kreatif sekalipun, rasanya kita tidak mungkin menulis akhir yang lebih baik daripada perikop ini. Bagian akhir ini jauh lebih indah daripada akhir cerita dongeng yang berkata, “Mereka hidup bahagia selamanya.” Akhir kitab Yehezkiel bukan hanya menyampaikan inti pengharapan umat Tuhan, tetapi juga membawa kita kepada sesuatu yang jauh lebih dalam dan lebih luas. Akhir ini mengingatkan kita pada alasan Tuhan menciptakan manusia menurut gambar-Nya dan menempatkan mereka di taman Eden yang indah. Ini membawa kita kepada tempat di mana kita seharusnya menemukan identitas, tujuan, dan makna hidup kita.

 

Hal ini bukan hanya berbicara kepada orang-orang pada zaman dahulu, tetapi juga sangat relevan bagi kita hari ini. Kehadiran Allah membawa perubahan yang nyata dalam hidup kita. Di bagian akhir kitab Yehezkiel, kita sampai pada akhir penglihatan panjang tentang pembangunan kembali Bait Suci, kota, dan pembagian tanah kepada suku-suku Israel. Dan kata-kata terakhir dari penglihatan itu menjadi seperti kesimpulan seluruh kitab Yehezkiel: “Jadi keliling kota itu adalah delapan belas ribu hasta. Sejak hari itu nama kota itu ialah: TUHAN HADIR DI SITU.” (Yeh. 48:35).

 

Tidak ada nama yang lebih baik untuk kota umat Allah selain “TUHAN HADIR DI SITU.” Nama ini merangkum apa yang Allah lakukan ketika Ia membawa umat-Nya kembali dari pembuangan. Ia bukan hanya memulihkan mereka secara lahiriah, tetapi lebih dalam lagi, Ia membawa mereka kembali kepada diri-Nya.

 

Di sinilah identitas mereka ditemukan. Mereka adalah umat yang dipilih Allah untuk hidup bersama-Nya. Di sinilah pengharapan mereka berada. Apa pun kesulitan yang mereka hadapi, mereka tidak lagi menghadapinya sendirian, karena Tuhan ada di tengah-tengah mereka. Di sinilah hidup mereka memiliki arah. Tuhan adalah Pencipta, Pemelihara, Pelindung, Penebus, dan Penuntun mereka. Di hadapan Tuhan, mereka menemukan tujuan hidup mereka. Segala sesuatu menjadi bermakna karena mereka hidup di dalam kehadiran-Nya.

 

Kalimat “TUHAN HADIR DI SITU” juga menjadi pengingat bahwa Allah, dalam kasih karunia-Nya yang besar dan tidak layak kita terima, memilih untuk tinggal bersama umat-Nya. Yang membuat kota itu kudus dan indah bukan terutama tempatnya, melainkan karena Tuhan ada di sana. Bahkan, di mana pun Tuhan hadir, tempat itu menjadi kudus.

 

Dosa telah memisahkan kita dari Allah, sama seperti manusia yang terpisah dari Allah di taman Eden. Secara alami, kita hidup tanpa pengharapan dan tanpa Allah di dunia ini. Tetapi Allah tidak membiarkan kita terus hidup dalam keadaan seperti itu. Ia mengutus Anak-Nya untuk hidup bersama kita, mati bagi kita, menerima hukuman yang seharusnya kita terima, dan bangkit dari kematian supaya hubungan kita dengan Allah dipulihkan. Karena itu, apa yang dahulu tidak mungkin kita lakukan yaitu kembali kepada Allah sekarang menjadi mungkin karena Kristus telah membuka jalan bagi kita untuk datang kepada Allah. Allah sekarang tinggal di dalam kita melalui Roh Kudus.

 

Jadi, ketika kita mencari identitas, rasa aman, kehidupan, pengharapan, makna, dan tujuan hidup, semuanya dapat kita temukan di dalam Tuhan. Kalau kita diminta menyebut satu nama untuk umat Allah, gereja, atau diri kita sendiri, tidak ada nama yang lebih baik daripada “TUHAN HADIR DI SITU.” Dialah identitas kita dan pengharapan kita yang kekal. 

 

Refleksi
Bacalah Mazmur 73:1-28 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:

 

  1. Apa yang Anda pelajari tentang Tuhan dari renungan ini?
  2. Apa yang Anda pelajari tentang dirimu dari renungan ini?
  3. Apa yang perlu Anda pertobatkan dan terapkan hari ini?

 

Bacaan Alkitab Setahun: Yehezkiel 46-48