HANYA ALLAH YANG LAYAK DISEMBAH
YEREMIA 10–13
Allah memperlihatkan betapa tidak berdayanya berhala dibandingkan dengan kuasa-Nya sebagai Raja dan Pencipta atas segala sesuatu.
Hati manusia diciptakan untuk menyembah. Persoalannya bukan apakah kita akan menyembah, tetapi siapa atau apa yang kita sembah. Ketika kita tidak menyembah Allah yang benar, hati kita akan mencari pengganti. Berhala pada zaman sekarang mungkin bukan patung dari kayu atau batu, tetapi bisa berupa uang, pekerjaan, keberhasilan, kenyamanan, popularitas, relasi, bahkan diri sendiri. Semua itu menjadi berhala ketika kita mengandalkannya lebih daripada Allah.
Melalui nabi Yeremia, Allah memperlihatkan betapa bodohnya manusia yang menggantikan Dia dengan berhala. Beginilah firman TUHAN: "Janganlah biasakan dirimu dengan tingkah langkah bangsa-bangsa, janganlah gentar terhadap tanda-tanda di langit, sekalipun bangsa-bangsa gentar terhadapnya. Sebab yang disegani bangsa-bangsa adalah kesia-siaan. Bukankah berhala itu pohon kayu yang ditebang orang dari hutan, yang dikerjakan dengan pahat oleh tangan tukang kayu? Orang memperindahnya dengan emas dan perak; orang memperkuatnya dengan paku dan palu, supaya jangan goyang. Berhala itu sama seperti orang-orangan di kebun mentimun, tidak dapat berbicara; orang harus mengangkatnya, sebab tidak dapat melangkah. Janganlah takut kepadanya, sebab berhala itu tidak dapat berbuat jahat, dan berbuat baikpun tidak dapat." Tidak ada yang sama seperti Engkau, ya TUHAN! Engkau besar dan nama-Mu besar oleh keperkasaan. Siapakah yang tidak takut kepada-Mu, ya Raja bangsa-bangsa? Sungguh, kepada-Mulah seharusnya sikap yang demikian; sebab di antara semua orang bijaksana dari bangsa-bangsa dan di antara raja-raja mereka tidak ada yang sama seperti Engkau! Berhala itu semuanya bodoh dan dungu; petunjuk dewa itu sia-sia, karena ia hanya kayu belaka. -- Perak kepingan dibawa dari Tarsis, dan emas dari Ufas; berhala itu buatan tukang dan buatan tangan pandai emas. Pakaiannya dari kain ungu tua dan kain ungu muda, semuanya buatan orang-orang ahli. -- Tetapi TUHAN adalah Allah yang benar, Dialah Allah yang hidup dan Raja yang kekal. Bumi goncang karena murka-Nya, dan bangsa-bangsa tidak tahan akan geram-Nya. Beginilah harus kamu katakan kepada mereka: "Para allah yang tidak menjadikan langit dan bumi akan lenyap dari bumi dan dari kolong langit ini." Tuhanlah yang menjadikan bumi dengan kekuatan-Nya, yang menegakkan dunia dengan kebijaksanaan-Nya, dan yang membentangkan langit dengan akal budi-Nya. Apabila Ia memperdengarkan suara-Nya, menderulah bunyi air di langit, Ia menaikkan kabut awan dari ujung bumi, Ia membuat kilat serta dengan hujan, dan mengeluarkan angin dari perbendaharaan-Nya. Setiap manusia ternyata bodoh, tidak berpengetahuan, dan setiap pandai emas menjadi malu karena patung buatannya. Sebab patung tuangannya itu adalah tipu, tidak ada nyawa di dalamnya, semuanya adalah kesia-siaan, pekerjaan yang menjadi buah ejekan, dan yang akan binasa pada waktu dihukum. (Yer. 10:2–15).
Allah memakai gambaran yang hampir seperti sindiran. Berhala dibuat oleh manusia, dihias oleh manusia, dipaku agar tidak roboh, lalu harus diangkat karena tidak dapat berjalan. Berhala tidak dapat berbicara, tidak dapat menyelamatkan, tidak dapat memberi kehidupan, bahkan tidak dapat menolong dirinya sendiri.
Sebaliknya, Allah adalah Pencipta langit dan bumi. Dia tidak dibuat oleh tangan manusia, tetapi justru manusia diciptakan oleh-Nya. Berhala bergantung kepada manusia, sedangkan manusia bergantung sepenuhnya kepada Allah. Tidak ada yang dapat dibandingkan dengan kebesaran, hikmat, dan kuasa-Nya.
Masalah penyembahan berhala bukan hanya terjadi di zaman Yeremia. Berhala modern sering kali tampak lebih halus. Kita mungkin tidak sujud di depan patung, tetapi kita bisa menggantungkan rasa aman pada uang, mencari identitas dalam prestasi, atau mengharapkan kebahagiaan tertinggi dari manusia. Semua itu akan mengecewakan, karena apa pun yang menggantikan Allah pada akhirnya tidak mampu memberikan apa yang hanya Allah dapat berikan.
Di sinilah Injil menyatakan keindahannya. Yesus Kristus adalah Allah yang hidup yang datang kepada manusia. Berhala tidak dapat berbicara, tetapi Kristus adalah Firman yang menjadi manusia. Berhala tidak dapat menyelamatkan, tetapi Kristus datang untuk mencari dan menyelamatkan yang terhilang. Berhala tidak memiliki kehidupan, tetapi Kristus berkata, "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup." Berhala tidak dapat menolong manusia, tetapi Kristus mati dan bangkit untuk membebaskan kita dari dosa, kuasa maut, dan segala sesuatu yang memperbudak hati kita.
Melalui karya-Nya di salib, Yesus bukan hanya mengampuni dosa kita, tetapi juga membebaskan kita dari penyembahan kepada berhala-berhala hati. Roh Kudus terus bekerja memperbarui hati kita sehingga kita semakin mengasihi Allah lebih daripada segala sesuatu yang lain.
Hari ini, periksalah kembali hatimu. Apakah ada sesuatu yang diam-diam lebih kamu andalkan, lebih kamu cintai, atau lebih kamu takuti daripada Allah? Datanglah kepada Kristus dan serahkan kembali seluruh hidupmu kepada-Nya. Hanya Dia yang layak menerima penyembahan kita, karena hanya Dia Allah yang hidup, Raja yang kekal, dan Juruselamat yang sanggup memberikan hidup yang sejati. Ketika hati kita berpusat kepada Kristus, kita akan menemukan keamanan, sukacita, dan pengharapan yang tidak pernah dapat diberikan oleh berhala mana pun.
Refleksi
Bacalah Mazmur 135:13–21 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:
Bacaan Alkitab Setahun: Yeremia 10-13