ANUGERAH ALLAH MELALUI SABAT
YEREMIA 14–17
Salah satu pemberian anugerah Allah yang baik bagi kita adalah Sabat: waktu untuk berhenti dari pekerjaan, beristirahat, menyembah, dan kembali mengingat bahwa hidup kita ada di dalam tangan-Nya.
Kita hidup dalam dunia yang terus bergerak. Kita terbiasa dengan kesibukan, target, pekerjaan, pelayanan, tanggung jawab, dan berbagai tuntutan hidup. Bahkan ketika tubuh kita berhenti, pikiran kita sering kali tetap bekerja. Kita merasa harus terus produktif agar hidup kita berarti.
Namun, Allah mengenal kita jauh lebih baik daripada kita mengenal diri sendiri. Dia tahu bahwa kita memiliki keterbatasan. Kita bukan manusia yang dirancang untuk bekerja tanpa henti. Allah menciptakan kita dengan kebutuhan untuk berhenti, beristirahat, dan menikmati Dia. Karena itu, sejak awal Allah memberikan pola Sabat kepada umat-Nya. Sabat bukan sekadar aturan tentang satu hari dalam seminggu. Sabat adalah pengingat bahwa kita bukan mesin yang harus terus menghasilkan sesuatu. Kita adalah manusia yang bergantung kepada Allah.
Tuhan tahu bahwa tubuh kita membutuhkan istirahat. Namun bukan hanya tubuh kita yang membutuhkan istirahat, hati kita juga membutuhkannya. Hati kita mudah sekali teralihkan. Kesibukan, pekerjaan, pencapaian, bahkan berbagai hal yang sebenarnya baik dapat perlahan-lahan mengambil tempat yang seharusnya menjadi milik Tuhan. Tanpa kita sadari, kita dapat mulai menemukan identitas dari apa yang kita kerjakan, nilai diri dari seberapa produktif kita, dan rasa aman dari seberapa banyak yang berhasil kita capai.
Karena itu, Tuhan memberikan Sabat sebagai anugerah. Melalui Nabi Yeremia, Tuhan berkata: “Beginilah firman Tuhan: Berawas-awaslah demi nyawamu! Janganlah mengangkut barang-barang pada hari Sabat dan membawanya melalui pintu-pintu gerbang Yerusalem! Janganlah membawa barang-barang dari rumahmu ke luar pada hari Sabat dan janganlah lakukan sesuatu pekerjaan, tetapi kuduskanlah hari Sabat seperti yang telah Kuperintahkan kepada nenek moyangmu. Namun mereka tidak mau mendengarkan dan tidak mau memperhatikannya, melainkan mereka berkeras kepala, sehingga tidak mau mendengarkan dan tidak mau menerima tegoran. Apabila kamu sungguh-sungguh mendengarkan Aku, demikianlah firman Tuhan, dan tidak membawa masuk barang-barang melalui pintu-pintu gerbang kota ini pada hari Sabat, tetapi menguduskan hari Sabat dan tidak melakukan sesuatu pekerjaan pada hari itu, maka melalui pintu-pintu gerbang kota ini akan berarak masuk raja-raja dan pemuka pemuka, yang akan duduk di atas takhta Daud, dengan mengendarai kereta dan kuda: mereka dan pemuka-pemuka mereka, orang-orang Yehuda dan penduduk Yerusalem. Dan kota ini akan didiami orang untuk selama-lamanya.” (Yer. 17:21-25).
Melalui Sabat, Allah sedang mengajarkan pada kita untuk berhenti sejenak dan meletakkan pekerjaan kita. Kita tidak harus selalu menghasilkan sesuatu. Ada waktunya bagi kita untuk mengingat bahwa nilai diri kita tidak ditentukan oleh seberapa banyak yang kita kerjakan. Kita sering hidup seolah-olah segala sesuatu akan berantakan jika kita berhenti. Kita takut tertinggal. Kita takut tidak produktif. Kita merasa harus terus mengendalikan jadwal, pekerjaan, pelayanan, keuangan, dan masa depan kita. Tetapi Sabat mengingatkan kita bahwa Allah tetap bekerja ketika kita berhenti.
Sabat adalah sebuah latihan iman. Ketika kita berhenti dari pekerjaan, kita sedang mengakui bahwa Allah adalah Pemelihara kita. Ketika kita mengambil waktu untuk beribadah, kita sedang mengingat bahwa tujuan hidup kita bukan sekadar menghasilkan sesuatu, tetapi mengenal, menikmati, dan memuliakan Allah. Dan kita membutuhkan pengingat seperti ini karena hati kita mudah mengembara. Kita mudah menemukan identitas dalam pekerjaan, pencapaian, kesibukan, bahkan pelayanan. Kita dapat mulai merasa bahwa nilai diri kita ditentukan oleh seberapa banyak yang berhasil kita kerjakan.
Di sinilah Injil membawa kita kepada dasar yang lebih dalam. Kita tidak perlu terus bekerja untuk membuktikan bahwa kita berharga di hadapan Allah. Di dalam Kristus, kita sudah diterima. Yesus Kristus telah menyelesaikan pekerjaan keselamatan yang tidak mungkin kita selesaikan. Di kayu salib, Ia berkata, "Sudah selesai." Kita tidak perlu menambahkan apa pun pada karya penebusan-Nya. Kita diselamatkan bukan karena seberapa produktif kita, seberapa banyak kita melayani, atau seberapa sempurna hidup kita, tetapi karena karya Kristus yang sempurna bagi kita. Karena itu, istirahat bukan berarti kemalasan. Istirahat dapat menjadi tindakan iman. Kita berhenti bukan karena tidak peduli dengan pekerjaan, tetapi karena percaya bahwa Allah tetap memegang kendali ketika kita melepaskan kendali untuk sementara.
Sabat juga mengingatkan kita bahwa hidup bukan hanya tentang bekerja. Kita perlu waktu untuk beribadah, menikmati hadirat Tuhan, membaca firman-Nya, berdoa, menikmati relasi keluarga, memulihkan tubuh, dan mensyukuri kebaikan-Nya. Allah tidak memberikan Sabat untuk membebani kita, tetapi sebagai anugerah untuk memulihkan kita. Mungkin kita perlu bertanya kepada diri sendiri: Apakah aku benar-benar tahu bagaimana beristirahat? Apakah aku percaya bahwa Allah tetap memelihara hidupku ketika aku berhenti? Atau apakah aku merasa harus terus bekerja supaya hidupku aman dan berarti?
Jangan menipu diri sendiri dengan berpikir bahwa kita memiliki energi dan kekuatan yang tidak terbatas. Kita adalah manusia yang terbatas dan mudah lelah. Karena itu, terimalah pemberian Allah berupa istirahat dengan hati yang bersyukur. Berhentilah sejenak, lepaskan bebanmu, dan arahkan kembali hatimu kepada Tuhan. Dan yang terpenting, temukan perhentian yang sejati di dalam Kristus.
Di tengah dunia yang terus berkata, “Lakukan lebih banyak,” Tuhan mengundang kita untuk berhenti dan mengingat di dalam hati kita: “Aku bukan apa yang aku kerjakan. Hidupku bukan ditentukan oleh produktivitasku. Aku adalah milik Tuhan, dan di dalam Dia aku dapat menemukan perhentian sejati.”
Nikmatilah Sabat sebagai anugerah, bukan beban. Berhentilah dari kesibukan, nikmati hadirat Allah, pulihkan tubuh dan jiwamu, dan ingatlah kembali siapa yang sebenarnya memegang hidupmu. Anda tidak harus terus-menerus menghasilkan sesuatu untuk menjadi berharga. Di dalam Kristus, Anda sudah dikasihi, diterima, dan memiliki tempat di hadapan Allah.
Refleksi
Bacalah Markus 2:23–28 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:
Bacaan Alkitab Setahun: Yeremia 14-17