ALLAH MENDENGAR, MENGERTI, DAN MENEBUS
2 SAMUEL 16–18
Alkitab tidak menggambarkan dunia yang “rapi” tanpa masalah, tetapi dengan jujur menunjukkan penderitaan, kehilangan, dan dukacita dalam dunia yang telah jatuh dalam dosa.
Alkitab menggambarkan dunia seperti yang kita kenal. Dunia ini rusak, tidak selalu berjalan seperti yang Tuhan ciptakan semula. Dunia ini dipenuhi oleh manusia yang tidak sempurna. Semua kisah sedih, kekecewaan, dan pergumulan yang kita alami juga ditemukan di dalam Alkitab. Namun, dalam Alkitab juga kita memahami dan menemukan penghiburan kita: Allah mengerti apa yang kita hadapi dan Ia mendengar setiap tangisan kita. Sama seperti Ia mendengar seruan tokoh-tokoh dalam firman-Nya yang berseru dalam kelemahan, ketakutan, kekecewaan, sakit, dan dukacita.
Kehadiran Allah, kuasa-Nya, janji-janji-Nya, dan anugerah-Nya menjadi semakin menghibur karena semuanya dinyatakan dalam dunia yang sama seperti dunia kita—penuh gunung yang tinggi, lembah yang gelap, dan perjalanan hidup yang berat. Semakin jelas dosa dan kehancuran dunia ini terlihat, semakin terang kemuliaan kasih dan anugerah Allah bersinar.
Alkitab memuat kisah-kisah tentang perang, intrik politik, pengkhianatan dalam keluarga, kelaparan, penganiayaan karena iman, bunuh diri, ketidakadilan, dan masih banyak lagi. Hal ini menunjukkan dua hal penting. Pertama, Allah sungguh memahami dunia yang rusak tempat kita hidup. Dunia kita digambarkan dengan jujur di dalam Alkitab. Kedua, anugerah Allah menjangkau semua kerusakan, baik yang ada di dalam diri kita maupun yang terjadi di sekitar kita. Suatu hari nanti, dunia yang rusak ini akan diperbarui sepenuhnya, bebas dari semua hal menyedihkan yang kita temukan dalam Alkitab dan dalam hidup kita.
Salah satu kisah paling menyedihkan dalam Alkitab adalah kisah Raja Daud dan anaknya, Absalom, yang memberontak. Absalom terobsesi dengan kekuasaan ayahnya dan mulai merencanakan untuk merebut takhta, takhta yang Daud terima dari Allah. Dalam sistem kerajaan, jika seseorang ingin mengambil takhta, maka raja yang sedang memerintah harus mati. Daud pun terpaksa meninggalkan takhtanya dan bersembunyi di gua-gua, menghindari niat pembunuhan dari anaknya sendiri. Saat membaca kisah ini, kita tahu bahwa ini bukan kisah dengan akhir yang bahagia. Akhirnya, Daud mendapat kabar bahwa Absalom telah mati. Namun, tidak ada sukacita dalam hatinya.
Lihatlah ratapan seorang ayah yang hancur: “Anakku Absalom, anakku, anakku Absalom! Ah, kalau aku mati menggantikan engkau, Absalom, anakku, anakku!” (2Sam. 18:33). Sungguh menyayat hati untuk membacanya. Kisah Daud dan Absalom ada di dalam Alkitab bukan hanya untuk menunjukkan bahwa Allah menjaga garis keturunan Daud, dari mana Mesias akan datang, tetapi juga untuk menyatakan bahwa Allah mengerti dan mendengar seruan terdalam dari hati kita yang penuh dukacita.
Ratapan Daud mewakili seruan ribuan bahkan jutaan orang tua yang berduka, seruan yang tidak pernah diabaikan oleh Tuhan kita yang penuh belas kasih dan kelembutan hati. Dan di sinilah Injil menjadi kabar yang begitu indah. Jika Daud berkata, “Sekiranya aku mati menggantikan engkau,” maka di dalam Kristus, itu bukan sekadar keinginan, itu menjadi kenyataan. Yesus, Anak Daud yang sejati, benar-benar mati menggantikan kita. Ia masuk ke dalam dunia yang rusak ini, memikul dosa dan penderitaan kita, dan mati di kayu salib untuk kita. Ia tidak hanya memahami dukacita kita, Ia menanggungnya. Ia tidak hanya mendengar tangisan kita, Ia menebusnya.
Karena itu, di tengah dunia yang penuh luka kita tidak sendirian. Tangisan kita didengar. Dan di dalam Kristus, ada pengharapan yang pasti—bahwa suatu hari nanti, segala dukacita akan diganti dengan kemuliaan yang kekal.
Refleksi
Bacalah Mazmur 44:1-26 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:
Bacaan Alkitab Setahun: 2 Samuel 16-18