TUHAN HADIR DI TENGAH DUKACITA KITA
2 SAMUEL 19–21
Akan tiba hari ketika Allah menghapus air mata terakhir dari mata kita, dan kita tidak akan menangis lagi.
Coba Anda bayangkan ada dalam keadaan dan kondisi yang berat seperti ini. Seorang ibu mencari anaknya ke seluruh rumah, lalu menemukannya di ruang bawah tanah—sudah tidak bernyawa, dengan catatan bunuh diri di sampingnya. Bayangkan suara ibu itu—penuh luka, terputus oleh tangisan pilu. Dukacita seperti itu terasa begitu berat, begitu nyata, seolah-olah bisa meremukkan hati Anda juga.
Ketika Anda masuk ke dalam situasi seperti itu, mungkin yang Anda rasakan hanyalah kehampaan. Kata-kata terasa tidak cukup. Kebenaran yang selama ini Anda tahu tentang Tuhan bisa terasa jauh, dingin, bahkan seperti tidak menyentuh keadaanmu. Dukacita terasa memenuhi ruangan—seperti awan gelap yang membuatmu sulit berpikir dan bahkan sulit bernapas. Anda mungkin menangis. Anda mungkin hanya bisa diam. Anda mungkin memeluk orang lain tanpa tahu harus berkata apa. Dan jauh di dalam hatimu, ada kesadaran bahwa hidup tidak akan pernah sama lagi. Kehilangan itu nyata. Luka itu dalam. Dan rasanya terlalu berat untuk dipahami.
Daud pun pernah ada di titik itu. Absalom, anak yang sangat ia kasihi, bukan hanya sekadar anak—ia adalah bagian dari hidupnya. Ia membesarkan, mengasihi, dan melihat anaknya bertumbuh. Tetapi akhirnya, Daud harus menghadapi kenyataan pahit tentang anaknya. Ia tenggelam dalam dukacita (2 Samuel 18). Dan mungkin hari ini, Anda juga ada di titik itu—berdukacita. Itu tidak salah. Tetapi firman Tuhan mengingatkan: berdukacita itu benar, namun dikuasai oleh dukacita itu berbahaya. Karena itu, Allah membangkitkan Yoab untuk menegur Daud dan memanggilnya kembali kepada tugas yang telah Allah percayakan kepadanya.
Perkataan Yoab dalam 2 Samuel 19 mungkin terdengar keras, tetapi dukacita memang bisa menjadi dua hal: sesuatu yang wajar, tetapi juga bisa menjadi sesuatu yang menghancurkan. Dukacita tidak boleh menguasai hati kita, tidak boleh menjadi identitas kita, dan tidak boleh menentukan pengharapan masa depan kita.
Ini bukan berarti kita harus menyangkal perasaan kita. Tetapi kita perlu tetap ingat siapa kita dan apa yang telah Allah berikan kepada kita sebagai anak-anak-Nya. Di tengah tragedi dan kehilangan yang paling berat, kita memiliki empat hal dari Tuhan:
Allah menjumpai kita bahkan di titik tergelap kehidupan, dengan anugerah dari kehadiran, kuasa, janji, dan firman-Nya. Dalam Injil, kita melihat bahwa Yesus bukan hanya memahami dukacita—Ia masuk ke dalamnya. Ia menangis, Ia menderita, dan pada akhirnya Ia menanggung dosa dan kematian di kayu salib. Namun cerita tidak berhenti di sana. Yesus bangkit, dan melalui kebangkitan-Nya, ada pengharapan bahwa dukacita bukanlah akhir. Karena Injil, air mata kita tidak sia-sia, dan dukacita kita tidak tanpa tujuan. Tuhan hadir, Tuhan bekerja, dan Tuhan akan memulihkan.
Refleksi
Bacalah Yesaya 25:6-9 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:
Bacaan Alkitab Setahun: 2 Samuel 19-21