
Perjalanan khotbah berseri Gospel Hope in a Restless World kini telah tiba di bagian terakhir. Sebagai penutup dari eksposisi kitab Habakuk pada minggu ketujuh ini, sebuah perenungan penting diangkat melalui tajuk What If Your Greatest Loss Is God's Greatest Grace. Sebuah pertanyaan yang mengajak setiap orang untuk merenungkan bagaimana jika justru di balik kehilangan terbesar, Tuhan sebenarnya sedang mengerjakan kasih karunia Nya yang terbesar di dalam hidup manusia.
BACAAN : HABAKUK 3:17-19
3:17 Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang,
3:18 namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku.
3:19 ALLAH Tuhanku itu kekuatanku: Ia membuat kakiku seperti kaki rusa, Ia membiarkan aku berjejak di bukit-bukitku.

Sejak kecil, manusia diajarkan cara meraih kesuksesan, bertumbuh, menjadi pemimpin yang baik, membangun usaha, mencapai kebebasan finansial, mempersiapkan masa depan, hingga menjadi orang tua yang baik. Buku, seminar, podcast, dan YouTube pun banyak membahas hal hal tersebut. Akibatnya, muncul anggapan bahwa hidup akan aman jika semua itu berhasil dibangun.
Tanpa disadari, hati mulai bergeser dari bersandar kepada Tuhan menjadi bersandar pada sistem yang dibangun sendiri, seperti perencanaan keuangan, dana darurat, investasi, asuransi, gaya hidup sehat, dan rencana pensiun. Semua itu baik, tetapi dapat menjadi sandaran yang menggantikan Tuhan.
Ironisnya, ada satu pelajaran yang hampir tidak pernah diajarkan, yaitu bagaimana menghadapi kehilangan. Hampir tidak ada yang mempersiapkan manusia menghadapi kehilangan impian, kesehatan, harta, hasil jerih payah, maupun orang yang mereka kasihi.
Kenyataan yang menyedihkan dan harus diakui secara jujur adalah ada satu hal yang pasti dalam kehidupan ini, yaitu cepat atau lambat kita semua pasti akan kehilangan sesuatu. Semua orang akan mengalami kehilangan, tetapi banyak yang tidak tahu bagaimana cara menghadapinya.
Pernyataan ini bukan bertujuan untuk membuat manusia menjadi pesimis atau putus asa, melainkan untuk bersikap realistis. Alkitab pun bersikap realistis. Yesus sendiri berkata dalam Yohanes 16:33 bahwa di dalam dunia kamu akan menderita. Kalimat tersebut menggunakan kata akan, bukan mungkin atau sebuah probabilitas, sehingga hal itu merupakan suatu kepastian. Hal ini terjadi karena manusia hidup di dunia yang sudah rusak dan jatuh ke dalam dosa.
Kehilangan tidak pernah datang karena diundang, melainkan datang tanpa permisi. Satu hasil laboratorium bisa mengubah seluruh jalan hidup seseorang. Satu telepon membawa kabar buruk di tengah malam dapat mengubah hati. Satu kecelakaan dapat mengubah seluruh hidup. Satu surat PHK dapat mengubah nasib keluarga. Bahkan, satu percakapan yang berlangsung beberapa menit atau satu jam saja dapat mengubah arah hidup seseorang, baik antara atasan dan karyawan, sepasang kekasih, maupun orang tua dan anak. Hanya dengan satu percakapan, sesuatu bisa terjadi.
Sebuah pertanyaan besar kemudian muncul, kalau semuanya hilang, apa yang masih tersisa dan apa yang masih menopang hidup kita? Pertanyaan inilah yang sebenarnya sedang diajukan oleh Habakuk.
Mengingat ini adalah minggu ketujuh sebelum memasuki seri yang baru, penting untuk kembali merangkum perjalanan kitab Habakuk. Perjalanan Habakuk dimulai ketika ia mempertanyakan mengapa Tuhan seolah diam. Dari situ, manusia belajar membawa seluruh pergumulan kepada Tuhan dengan jujur, karena Tuhan tidak menolak pertanyaan maupun kelemahan manusia.
Pada minggu kedua, kita melihat Habakuk belajar mempercayai kedaulatan Tuhan ketika jawaban-Nya tidak sesuai harapan. Ia mengira Tuhan akan mengirimkan kebangunan rohani, tetapi justru mengirimkan Babel. Minggu ketiga mengajarkan bahwa manusia dapat tetap mempercayai Tuhan sekalipun tidak memahami segala sesuatu, sehingga belajar menantikan-Nya. Minggu keempat menegaskan bahwa orang benar hidup oleh iman, bahkan ketika iman menjadi satu satunya yang tersisa.
Selanjutnya, melalui gambaran Babel yang serakah, haus kuasa, dan korup, manusia belajar meninggalkan berhala ketika kecukupan terasa tidak pernah cukup. Minggu lalu, pembahasan berfokus pada akar kecemasan, yaitu ketika pandangan lebih tertuju pada masalah daripada kepada Tuhan. Melalui konsep liturgical remembrance, Habakuk diajak mengingat kembali karya Allah dalam eksodus dan pemeliharaan-Nya di padang gurun. Karena itu, ibadah dan saat teduh menjadi penting untuk terus mengarahkan hati kepada keindahan dan kemuliaan Allah yang mudah dilupakan manusia.
Sebagai kesimpulan, ada tiga hal utama yang dipelajari hari ini. Pertama, ketika semua berkat yang Tuhan berikan hilang, apakah itu berarti Tuhan tidak baik lagi? Kedua, ketika Tuhan menjadi lebih berharga daripada semua pemberian Nya. Ketiga, ketika Injil memberi kekuatan yang tidak tergoyahkan dan membuat Injil kembali terlihat indah.

KETIKA SEMUA BERKAT YANG DIBERIKAN TUHAN HILANG
Perhatikan ayat 17, terdapat sesuatu yang sangat menarik. Habakuk menyampaikan sebuah daftar yang meliputi pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, pohon zaitun mengecewakan, ladang ladang tidak menghasilkan, kambing domba terhalau, dan tidak ada lembu sapi di dalam kandang.
Sekilas, ayat ini terlihat seperti daftar kerugian seolah olah seseorang sedang menghitung satu per satu apa yang telah hilang. Namun, Habakuk tidak sedang membuat daftar secara sembarangan. Di sinilah letak keindahan Alkitab, di mana tidak ada satu pun yang ditulis secara acak atau kebetulan.
Timbul pertanyaan mengapa yang disebut secara spesifik adalah keenam hal tersebut, bukan rumah, emas, atau keluarga? Sebenarnya, daftar yang disebutkan bukanlah sekadar daftar penderitaan, melainkan tanda berkat yang sedang hilang atau covenant blessing yang merupakan bahasa perjanjian. Jika membaca Ulangan 7, Ulangan 8, Ulangan 11, dan Ulangan 28, terdapat daftar yang sangat mirip. Tuhan berjanji bahwa apabila Israel hidup di dalam perjanjian dengan Allah, maka seluruh kehidupan mereka akan dipenuhi dengan tanda tanda pemeliharaan Nya. Oleh karena itu, ketika Habakuk menyebutkan semua itu, ia sebenarnya sedang berkata, "Aku kehilangan seluruh tanda bahwa Allah sedang menyertai kami sesuai dengan perjanjian Nya."
Mari ditelusuri maknanya satu per satu:
Secara keseluruhan, Habakuk sedang mengatakan bahwa ia kehilangan semua simbol yang selama ini menunjukkan bahwa hidupnya sedang diberkati Tuhan.
Hal ini sangat relevan dengan kehidupan masa kini. Banyak orang menyamakan berkat Tuhan dengan kenyamanan hidup, kesehatan, karier, dan kekayaan, bahkan menganggap penderitaan sebagai tanda kurangnya iman atau hukuman Tuhan. Akibatnya, ketika mengalami sakit, kehilangan, atau kegagalan, mereka mulai meragukan penyertaan Allah.
Padahal, mengukur kasih Allah dari berkat materi bukanlah ajaran kekristenan, melainkan cara pandang dunia. Jika kenyamanan menjadi bukti perkenanan Tuhan, bagaimana dengan Ayub atau Paulus yang tetap setia meski mengalami penderitaan? Bahkan Paulus berkali kali mengalami bahaya saat menjalankan kehendak Tuhan. Dengan logika yang sama, orang fasik yang hidup makmur pun dapat mengklaim diri diberkati.
Karena itu, jangan menjadikan berkat materi sebagai bukti utama kasih Allah. Jika demikian, salib Kristus tidak dapat dijelaskan. Di salib, Yesus kehilangan segalanya, tetapi justru di sanalah kasih Allah dinyatakan dengan paling sempurna.
Saat Tuhan mengizinkan kehilangan terjadi, kehilangan tidak menciptakan berhala, tetapi menyingkapkan berhala yang sudah ada di hati. Penderitaan memperlihatkan tempat iman benar benar diletakkan, sebagaimana badai menguji apakah sebuah rumah sungguh berdiri di atas fondasi yang kokoh.
Mengutip C. S. Lewis, dalam kenyamanan Tuhan berbisik, melalui hati nurani Tuhan berbicara, tetapi dalam penderitaan Tuhan berteriak. Rasa sakit dan kehilangan adalah megafon Tuhan untuk membangunkan jiwa manusia yang sering kali tuli. Selama hidup berjalan baik baik saja, manusia sering tidak sadar apa yang menjadi sandaran hatinya hingga semuanya mulai runtuh. Apa yang paling ditakutkan untuk hilang, sering kali itulah yang menjadi pusat penyembahan hati.
Sebuah refleksi besar pun muncul: Apakah Tuhan tetap baik ketika semua tanda kebaikan Nya hilang? Pertanyaan terbesar Habakuk ini cepat atau lambat akan dihadapi oleh semua orang. Beruntung, cerita Habakuk tidak berhenti di ayat 17. Ada satu kata yang mengubah seluruh arah penutup kitab ini, yaitu kata "Namun".
Ibarat sebuah film, setelah kamera menyorot segala kehampaan, kandang yang kosong, serta pohon yang tandus dalam kesunyian, Habakuk mengangkat kepalanya dan berkata, "Namun, aku akan bersorak sorak." Kehilangan ternyata bukanlah akhir dari ceritanya. Kata "namun" adalah jembatan yang menghubungkan kehilangan dengan penyembahan.
Akan ada masa ketika Tuhan mengizinkan manusia mengalami kehilangan. Pada saat itulah jembatan ini harus ditemukan agar sebuah kehilangan tidak berakhir dalam keputusasaan. Di sinilah letak perbedaan antara iman Kristen dan optimisme belaka. Optimisme hanya bergantung pada harapan bahwa keadaan akan berubah menjadi lebih baik. Sebaliknya, iman Kristen meyakini bahwa meskipun tidak tahu apakah keadaan akan membaik dan sekalipun situasi tidak berubah, Tuhan tetap baik, tidak pernah berubah, dan selalu menyertai.

KETIKA TUHAN MENJADI LEBIH BERHARGA DARI SEMUA PEMBERIAN-NYA
Jika membaca kitab Habakuk, terlihat jelas bahwa Tuhan sedang membawa Habakuk menempuh sebuah perjalanan iman yang ditandai dengan pergeseran fokus yang sangat nyata. Pada awal kitab, Habakuk lebih sibuk mencari tahu apa yang sedang Tuhan lakukan, sehingga fokusnya tertuju pada karya Allah. Namun di akhir kitab, Habakuk justru menemukan siapa Tuhan itu, sehingga fokusnya tidak lagi pada karya Allah, melainkan pada pribadi Allah sendiri.
Perhatikan ayat dalam Habakuk 3:18. Melanjutkan kata "namun" yang menjadi jembatan pada pembahasan sebelumnya, Habakuk menyatakan, "Namun aku akan bersorak sorak di dalam Tuhan." Beberapa terjemahan lain menuliskannya sebagai, "Aku akan bersukacita di dalam Tuhan."
Terdapat perbedaan yang sangat mendasar di sini. Habakuk tidak berkata bahwa ia bersukacita karena Tuhan menolongnya atau karena apa yang telah Tuhan lakukan. Bersukacita karena apa yang Tuhan lakukan dan bersukacita di dalam Tuhan adalah dua hal yang sama sekali berbeda.
Sebagai sebuah ilustrasi, jika seorang suami bersukacita karena istrinya memberikan hadiah mobil dan jam tangan mewah, maka sumber sukacitanya sebenarnya adalah pemberian tersebut, bukan istrinya. Sebaliknya, jika ia bersukacita di dalam istrinya, maka entah diberi makanan sederhana atau tidak diberi hadiah sama sekali, ia akan tetap bahagia hanya dengan kehadiran istrinya. Sukacita yang sejati tidak terletak pada pemberian atau perbuatan, melainkan pada pribadi itu sendiri.
Itulah pesan utama dari sikap Habakuk. Ia bersukacita di dalam Tuhan, bukan karena panennya dikembalikan atau karena Babel dikalahkan. Kenyataannya, Babel bahkan belum datang menghancurkan. Sering kali, orang orang masa kini bersukacita hanya ketika doa dijawab, anak sembuh, atau bisnis berhasil. Hal ini menunjukkan bahwa pusat sukacita masih berada pada apa yang Tuhan lakukan. Sebaliknya, Habakuk menunjukkan bahwa sekalipun keadaan belum berubah, selama ia memiliki Tuhan, maka Tuhan adalah sukacitanya dan Tuhan itu sudah cukup. Objek sukacitanya telah bergeser dari sekadar karya Tuhan menjadi pribadi Tuhan sendiri.
Perubahan ini sangatlah besar. Di awal kitab, Habakuk meminta Tuhan mengubah kehidupannya dan keadaannya. Ia lebih tertarik kepada tangan Tuhan yang sanggup mengubah situasi. Namun di pasal ketiga, ia berseru bahwa Tuhan adalah sukacita dan hidupnya. Habakuk akhirnya melihat bahwa Allah sendiri jauh lebih indah daripada semua pekerjaan Nya dan bukan sekadar Pribadi yang berguna atau bermanfaat.
Sering kali manusia memandang Allah hanya sejauh Ia berguna bagi mereka. Padahal, mukjizat terbesar dalam kitab Habakuk bukanlah ketika keadaan hidupnya diubah, melainkan ketika Tuhan menjadi harta Habakuk yang paling berharga.
Pola ini terus berulang dalam perjalanan iman tokoh Alkitab. Pada awalnya, banyak orang mengikut Tuhan karena berkat, jawaban doa, atau kesembuhan. Namun seiring waktu, Roh Kudus menguji apakah mereka tetap memandang Tuhan setia ketika berkat yang dinantikan tidak kunjung datang.
Asaf mengalami proses yang sama dalam Mazmur 73. Mula mula ia iri kepada orang fasik dan mengukur hidup dari keadaan materi. Namun setelah masuk ke hadirat Tuhan, ia menyadari bahwa Tuhan adalah harta terbesar, sehingga tidak ada lagi yang lebih diinginkannya selain Dia.
Prinsip yang sama ditegaskan Yesus dalam Yohanes 15:4, "Tinggallah di dalam Aku." Yesus tidak memanggil pengikut Nya untuk tinggal di dalam berkat, melainkan di dalam diri Nya. Banyak orang mengejar buah seperti mukjizat, jawaban doa, dan berkat, padahal buah hanya lahir ketika seseorang tinggal di dalam Kristus.
Inilah salah satu penyakit rohani terbesar di zaman ini. Budaya konsumerisme membuat manusia menilai Tuhan dari manfaat yang diberikan. Injil justru memanggil manusia untuk menemukan hidup mereka di dalam Tuhan, bukan menggunakan Tuhan demi hidup yang lebih baik.
Habakuk menghancurkan mentalitas ini. Sekalipun hampir kehilangan segalanya, ia sadar bahwa ia tidak kehilangan Tuhan, dan itu sudah cukup. Melalui pengalaman ini, Tuhan ingin mengubah hati manusia agar berhenti menjadikan berkat sebagai pusat hidup dan melihat Kristus sebagai harta yang terutama.
Hati tidak berubah hanya melalui kemauan, disiplin, atau larangan. Peringatan bahaya merokok, misalnya, tidak otomatis membuat orang berhenti merokok karena hati tetap melekat pada sesuatu yang dicintai. Masalah utamanya bukan apakah manusia mencintai sesuatu, melainkan apa yang mereka cintai.
Thomas Chalmers, dalam The Expulsive Power of a New Affection, menjelaskan bahwa hati berubah bukan karena dipaksa melepaskan kasih yang lama, tetapi karena menemukan kasih yang lebih besar. Selama belum menemukan kasih yang lebih indah, hati akan terus kembali pada apa yang lama.
Di sinilah Injil bekerja. Injil tidak sekadar mengubah perilaku, tetapi mengubah hati dengan memperlihatkan keindahan Kristus yang melampaui segala tawaran dunia. Seperti anak yang baru rela melepaskan boneka rusaknya ketika menerima mainan yang lebih baik, manusia baru dapat melepaskan berhalanya ketika melihat Kristus sebagai harta yang lebih mulia.
Karena itu, melalui kehilangan dan berbagai proses kehidupan, Tuhan bukan hanya menyingkapkan berhala di hati manusia, tetapi juga menyatakan bahwa Dia sendiri jauh lebih indah dan memuaskan daripada apa pun yang ditawarkan dunia.

KETIKA INJIL MEMBERI KEKUATAN YANG TAK TERGOYAHKAN
Memasuki poin ketiga, Injil menjadi indah dan memberikan kekuatan yang tak tergoyahkan. Habakuk 3:19 berkata, "Allah Tuhanku itu kekuatanku. Ia membuat kakiku seperti rusa. Ia membiarkan aku berjejak di bukit bukitku."
Perhatikan bahwa Habakuk tidak berkata Tuhan memberikan kekuatan, tetapi Tuhan adalah kekuatannya. Penekanan ini sangat penting. Jika Tuhan hanya dipandang sebagai pemberi kekuatan, fokus manusia akan tertuju pada pemberian Nya. Namun, ketika Tuhan diakui sebagai kekuatan itu sendiri, fokus berpindah kepada Pribadi-Nya.
Inilah puncak kedewasaan rohani Habakuk. Ia menyadari bahwa kebutuhan terbesar manusia bukanlah berkat, pertolongan, atau mukjizat, melainkan Tuhan sendiri.
Habakuk menggambarkan Tuhan membuat kakinya seperti rusa, yang mampu berdiri teguh di lereng curam dan tebing berbatu. Rusa dapat bertahan bukan karena medannya berubah, tetapi karena kakinya dikuatkan.
Melalui gambaran ini, orang percaya memahami cara Tuhan bekerja. Manusia sering berdoa agar gunung dipindahkan, badai diredakan, atau keadaan diubah. Tuhan memang sanggup melakukannya, tetapi sering kali Ia tidak mengubah keadaan, melainkan mengubah umat-Nya. Ia tidak selalu memindahkan gunung, tetapi membentuk kaki untuk mendakinya; tidak selalu meredakan badai, tetapi menguatkan iman untuk melaluinya; tidak selalu mengangkat keluar dari lembah, tetapi berjalan bersama di tengah lembah.
Kekuatan sejati bukanlah hidup tanpa masalah, melainkan ketika Kristus menjadi cukup di tengah masalah. Itulah sebabnya Paulus berkata, "Jika aku lemah, maka aku kuat," karena ketika semua sandaran lain runtuh, kuasa Tuhan dinyatakan dengan sempurna melalui kasih karunia-Nya.
Habakuk, yang hidup jauh sebelum kedatangan Kristus, telah menjadikan Tuhan sebagai kekuatannya meskipun belum melihat karya salib. Dalam Habakuk 3:17 ia hanya kehilangan simbol simbol berkat perjanjian. Namun, Yesus Kristus benar benar menanggung hilangnya berkat perjanjian itu sendiri.
Di kayu salib, Yesus bukan hanya menderita secara fisik, tetapi juga menanggung kutuk perjanjian dan ditinggalkan oleh Bapa. Seperti ditegaskan dalam Galatia 3:13, Kristus menjadi kutuk demi menebus manusia, menanggung hukuman yang seharusnya diterima oleh para pelanggar perjanjian.
Tujuan utama salib bukan hanya pengampunan dosa atau jaminan masuk surga, tetapi memperdamaikan manusia dengan Allah. Kekosongan hati manusia tidak dapat dipenuhi oleh berkat materi, melainkan oleh Pribadi Allah sendiri.
Karena itu, berkat terbesar Injil bukanlah hidup yang lancar, mukjizat, atau bahkan surga, melainkan mendapatkan Allah kembali. Seperti dikatakan John Piper, Injil bukan sekadar kabar baik bahwa manusia masuk surga, tetapi bahwa manusia mendapatkan Allah. Dengan demikian, Injil bukan hanya membawa berkat dari Allah, tetapi membawa manusia kepada Allah.
Sebagai kesimpulan akhir, muncul sebuah harapan agar Tuhan mengubah hati setiap orang, sehingga Kristus tidak hanya dipandang berguna secara transaksional, tetapi menjadi Pribadi yang paling indah dan harta yang paling berharga. Ketika hal itu terjadi, tidak ada kehilangan yang dapat merampas sukacita dan pengharapan, sebab kekuatan dan sukacita tersebut bertumpu pada Tuhan sendiri.
Kebenaran ini membawa pada tiga implikasi Injil yang sangat penting untuk dihidupi:
PERTANYAAN REFLEKTIF
