When God Becomes Big Again

Gospel Hope in A Restless World – Week 6 “When God Becomes Big Again”

Ps. Michael Chrisdion

 

BACAAN : HABAKUK 3:1-16

3:1 Doa nabi Habakuk. Menurut nada ratapan. 
3:2 TUHAN, telah kudengar kabar tentang Engkau, dan pekerjaan-Mu, ya TUHAN, kutakuti! Hidupkanlah itu dalam lintasan tahun, nyatakanlah itu dalam lintasan tahun; dalam murka ingatlah akan kasih sayang! 
3:3 Allah datang dari negeri Teman dan Yang Mahakudus dari pegunungan Paran. Sela. Keagungan-Nya menutupi segenap langit, dan bumipun penuh dengan pujian kepada-Nya. 
3:4 Ada kilauan seperti cahaya, sinar cahaya dari sisi-Nya dan di situlah terselubung kekuatan-Nya. 
3:5 Mendahului-Nya berjalan penyakit sampar dan demam mengikuti jejak-Nya. 
3:6 Ia berdiri, maka bumi dibuat-Nya bergoyang; Ia melihat berkeliling, maka bangsa-bangsa dibuat-Nya melompat terkejut, hancur gunung-gunung yang ada sejak purba, merendah bukit-bukit yang berabad-abad; itulah perjalanan-Nya berabad-abad. 
3:7 Aku melihat kemah-kemah orang Kusyan tertekan, kain-kain tenda tanah Midian menggetar.
3:8 Terhadap sungai-sungaikah, ya TUHAN, terhadap sungai-sungaikah murka-Mu bangkit? Atau terhadap lautkah amarah-Mu sehingga Engkau mengendarai kuda dan kereta kemenangan-Mu? 
3:9 Busur-Mu telah Kaubuka, telah Kauisi dengan anak panah. Sela. Engkau membelah bumi menjadi sungai-sungai; 
3:10 melihat Engkau, gunung-gunung gemetar, air bah menderu lalu, samudera raya memperdengarkan suaranya dan mengangkat tangannya. 
3:11 Matahari, bulan berhenti di tempat kediamannya, karena cahaya anak-anak panah-Mu yang melayang laju, karena kilauan tombak-Mu yang berkilat.
3:12 Dalam kegeraman Engkau melangkah melintasi bumi, dalam murka Engkau menggasak bangsa-bangsa. 
3:13 Engkau berjalan maju untuk menyelamatkan umat-Mu, untuk menyelamatkan orang yang Kauurapi. Engkau meremukkan bagian atas rumah orang-orang fasik dan Kaubuka dasarnya sampai batu yang penghabisan. Sela. 
3:14 Engkau menusuk dengan anak panahnya sendiri kepala lasykarnya, yang mengamuk untuk menyerakkan aku dengan sorak-sorai, seolah-olah mereka menelan orang tertindas secara tersembunyi. 
3:15 Dengan kuda-Mu, Engkau menginjak laut, timbunan air yang membuih. 
3:16 Ketika aku mendengarnya, gemetarlah hatiku, mendengar bunyinya, menggigillah bibirku; tulang-tulangku seakan-akan kemasukan sengal, dan aku gemetar di tempat aku berdiri; namun dengan tenang akan kunantikan hari kesusahan, yang akan mendatangi bangsa yang bergerombolan menyerang kami. 

Untuk memahami apa yang terjadi pada Habakuk, mari kita bayangkan sebuah ilustrasi sederhana. Jika selembar uang seribu rupiah diletakkan di atas meja atau disimpan di dalam saku, nilainya tidak akan berubah. Namun, apabila uang seribu rupiah itu dipegang tepat di depan mata, kita tidak akan bisa lagi melihat ruangan di sekitar kita maupun orang orang yang ada di dalamnya. Yang terlihat hanyalah uang seribu rupiah tersebut.

Padahal, jika dibandingkan dengan nilai seluruh ruangan beserta isinya, uang seribu rupiah itu sama sekali tidak sebanding. Bahkan untuk membayar parkir saja belum tentu cukup. Akan tetapi, sesuatu yang nilainya begitu kecil dapat menjadi pusat perhatian sehingga menutupi semua hal yang ada dalam pandangan kita.

Apakah ruangan menjadi lebih kecil? Tidak. Apakah orang orang menghilang? Tidak. Apakah uang itu tiba-tiba membesar? Juga tidak. Yang berubah hanyalah apa yang memenuhi pandangan mata.

Dalam kehidupan kita, sering kali yang terasa besar bukanlah Tuhan, melainkan masalah kita, diagnosis dari dokter, tagihan, cicilan, atau pergumulan keluarga. Hal hal itulah yang memenuhi pandangan dan pikiran kita setiap hari. Tuhan tidak pernah menjadi kecil, melemah, atau kehilangan kuasaNya. Ia tetap memegang kendali atas sejarah. Ketika Tuhan terasa kecil, masalahnya adalah ada sesuatu yang perlahan menutupi pandangan kita. Sebab apa yang memenuhi pandangan kita pada akhirnya akan memenuhi hati kita.

Itulah yang terjadi pada Habakuk. Sepanjang pasal awal hingga pasal 3, Tuhan menyatakan realitas yang mungkin juga sedang terjadi dalam kehidupan kita saat ini. Mari kita ingat kembali perjalanan rohani Habakkuk melalui rangkaian khotbah dalam sermon series ini:

  • When God Seems Silent (Habakuk 1:1-4): Sebelum melihat ancaman Babel, Habakuk melihat kekerasan, korupsi, dan ketidakadilan bangsanya sendiri. Ia merasa Tuhan diam saja.
  • When God's Answer Doesn't Make Sense (Habakuk 1:5-11): Jawaban Tuhan justru mengejutkan. Alih alih memberikan kebangunan rohani, Tuhan menyatakan bahwa Ia akan membangkitkan Babel. Keadaan terasa semakin sulit dan suram.
  • Trust God in the Waiting (Habakuk 1:12 - 2:1): Habakuk berhenti berdebat dan naik ke menara pengintai untuk belajar menunggu dan mempercayai Tuhan.
  • When Faith Is All You Have Left (Habakuk 2:2–4): Walaupun belum sepenuhnya mengerti, Habakuk mulai percaya karena ia tidak lagi melihat keadaan. Ia beriman kepada karakter Tuhan.
  • When Never Is Enough (Habakuk 2:5–20): Tuhan kemudian memperlihatkan sifat Babel yang serakah, haus kekuasaan, dan tidak pernah merasa cukup, menegaskan bahwa keadilan pasti akan ditegakkan.

Kini, di pasal 3, ancaman Babel masih ada dan penghakiman tetap akan datang. Masa depan belum berubah. Tetapi Habakuk telah berubah. Ia berubah karena akhirnya ia tidak lagi sekadar melihat Babel. Ia mulai melihat Tuhan.

Melihat Tuhan di tengah persoalan adalah hal yang sangat penting. Melalui perenungan hari ini, kita akan mendalami tiga poin utama:

  1. Apa yang memenuhi pandanganmu akan membentuk hidupmu.
  2. Masalah (Babel) tetap ada, tetapi pandangan Habakuk tentang Tuhan diperbesar.
  3. Kapan dan di mana kebesaran serta kemuliaan Allah paling terlihat?

 

APA YANG MEMENUHI PANDANGANMU AKAN MEMBENTUK HIDUPMU

Jika kita membawa firman Tuhan yang baru kita renungkan ke dalam konteks hari ini, budaya kita sedang mengalami krisis pandangan (vision crisis).

Coba pikirkan, ketika bangun pagi apa yang pertama kali kita lihat? Kebanyakan dari kita langsung membuka telepon genggam. Di sana sudah menunggu notifikasi, surel, berita, Instagram, TikTok, hingga berbagai aplikasi lainnya. Bagi investor, pergerakan saham menjadi perhatian pertama. Bagi pelaku ekspor impor, nilai tukar dolar. Bagi yang mengikuti berita, situasi ekonomi dan politik langsung memenuhi pikiran.

Sesungguhnya, semua notifikasi itu sedang memperebutkan satu hal yang sama, yaitu pandangan kita. Bahkan, beberapa penelitian menyebutkan bahwa manusia modern menerima informasi dalam sehari jauh lebih banyak daripada yang diterima seseorang pada abad pertengahan selama berbulan bulan.

Tidak heran jika hari ini kita hidup di dunia yang sangat terkoneksi, tetapi kita tumbuh menjadi generasi yang dipenuhi kecemasan. Mengapa hal ini bisa terjadi? Jawabannya adalah karena apa yang memenuhi dan berhasil menguasai pandangan kita, pada akhirnya akan membentuk hidup kita.

Siapa pun atau apa pun yang menguasai perhatian kita, apa yang terus kita pandang, amati, dan fokuskan, pada akhirnya akan menguasai kasih kita. Segala sesuatu yang kita kasihi akan menempati takhta di pusat hati kita. Ketika sesuatu sudah memiliki kuasa atas kasih kita, hal itu pasti akan mempengaruhi penyembahan kita. Pada akhirnya, tanpa sadar kita akan menyembah hal tersebut dan memprioritaskannya di atas segala galanya.

Karena itu, periksalah diri kita. Apa yang saat ini paling memenuhi pandangan dan perhatian kita? Sebab itulah yang sedang membentuk kasih, dan pada akhirnya menentukan penyembahan kita.

Melalui Habakuk 3, kita belajar bahwa Tuhan tidak memberi Habakuk informasi atau strategi baru, melainkan mengubah apa yang memenuhi pandangannya. Perubahan perspektif itulah yang akhirnya mengubah seluruh hidupnya. Hal ini terlihat di ayat 16. Tepat sebelum berkata bahwa ia menjadi tenang, Habakuk mengaku hatinya gemetar, bibirnya menggigil, dan tubuhnya lemah. Mengapa? Karena memiliki iman tidak berarti hilangnya rasa takut.

Habakuk tidak berpura pura berani. Ia jujur mengakui ketakutannya. Sebab iman bukan membuat kita berhenti menjadi manusia atau kebal terhadap ketakutan, melainkan membuat kita melihat Pribadi yang jauh lebih besar daripada ketakutan kita. Iman bukan ketiadaan rasa takut, tetapi keberanian untuk tetap percaya di tengah rasa takut.

Kebenaran ini sangat menghibur. Mungkin hari ini ada yang sedang menghadapi krisis bisnis, keretakan rumah tangga, kecemasan menanti hasil pemeriksaan, pergumulan dengan anak, atau beban merawat orang tua yang sakit. Di luar tampak tenang, tetapi di dalam hati sedang gemetar. Melalui firman ini, Tuhan menegaskan bahwa Ia mengerti pergumulan kita.

Akar persoalan kita bukanlah karena masalah atau Babel yang kita hadapi terlalu besar, melainkan karena kita terlalu lama memandangnya. Sama seperti Habakuk, kita terus menatap pergumulan hingga akhirnya masalah itu memonopoli seluruh pandangan kita. Habakuk menjadi begitu takut karena matanya terlalu lama tertuju pada Babel.

Ketakutan bekerja seperti ilustrasi uang seribu rupiah. Sebuah persoalan tampak sangat besar bukan karena ukurannya, tetapi karena terus menjadi fokus perhatian kita. Ketika kita terus memandangnya, masalah itu menguasai hati dan kasih kita. Apa yang terus memenuhi pandangan kita pada akhirnya akan menentukan ke mana arah hati dan hidup kita.

Itulah sebabnya Alkitab berulang kali menekankan pentingnya menjaga pandangan mata.

Hawa jatuh ke dalam dosa karena tertarik pada buah yang sedap dipandang (Kej. 3:6). Sepuluh pengintai dipenuhi ketakutan karena hanya melihat raksasa, sedangkan Yosua dan Kaleb melihat dengan mata iman (Bil. 13:33). Daud berani menghadapi Goliat karena melihat Tuhan lebih besar daripada musuhnya (1Sam. 17:45). Yesaya tersungkur ketika memandang kekudusan Tuhan (Yes. 6:1). Bujang Elisa yang semula ketakutan menjadi tenang setelah matanya dibukakan untuk melihat bala tentara surga (2Raj. 6:17).

Semua kisah ini menunjukkan bahwa pandangan menentukan arah hidup. Karena itu, tanyakan kepada diri sendiri: apa yang saat ini memenuhi pandangan kita? Apakah Babel dan segala persoalannya, atau Tuhan yang jauh lebih besar daripada semuanya?

Berhati hatilah, sebab sangat mungkin itulah yang sedang membentuk hidup kita. Kesadaran ini membawa kita pada pertanyaan berikutnya: bagaimana Tuhan mengubah Habakuk?

 

BABEL TETAP ADA, TETAPI PANDANGAN AKAN TUHAN DIPERBESAR

Di sinilah kita mulai melihat sesuatu yang sangat mengejutkan. Jika berada di posisi Habakuk, mungkin doa kita adalah meminta Tuhan membatalkan penghukuman, menghilangkan Babel, dan mengubah keadaan secepatnya. Namun ternyata, bukan itu yang Tuhan lakukan. Tuhan tidak mengubah situasinya, melainkan mengubah apa yang Habakuk pandang. Sangat mungkin, cara Tuhan bekerja dalam hidup kita hari ini juga demikian. Kita sibuk meminta Tuhan mengubah keadaan, padahal Tuhan lebih dahulu ingin mengubah hati kita dengan menyatakan diriNya.

Dalam doa pembukanya (ay. 2), Habakuk mengingat kembali pekerjaan Tuhan yang membuatnya gentar dan memohon agar kasih sayang Tuhan tetap dinyatakan di tengah murka-Nya. Lalu di ayat 3 muncul pernyataan yang menjadi pusat bagian ini: "Allah datang." Habakuk tidak berkata bahwa ia menemukan Allah, tetapi bahwa Allah datang. Inilah tema besar seluruh Alkitab: Allah yang berinisiatif datang kepada manusia.

Allah datang mencari Adam dan Hawa di Eden, datang di Gunung Sinai untuk membebaskan dan membentuk identitas Israel, dan akhirnya datang dalam Pribadi Yesus Kristus. Keselamatan selalu dimulai dari inisiatif Allah, bukan usaha manusia mencapai-Nya. Itulah inti Injil dan bukti kesetiaan Tuhan pada perjanjian-Nya.

Pengulangan kata "Sela" menunjukkan bahwa doa Habakuk merupakan liturgi yang mengajak umat mengingat kembali sejarah penebusan. Ayat 3 membawa kita ke Teman dan Paran, mengingatkan pada Gunung Sinai, tempat Allah menyatakan kemuliaan-Nya. Ayat 7 mengingatkan pemeliharaan Tuhan di padang gurun. Ayat 8 dan 15 membawa kita pada pembelahan Laut Teberau, bukti bahwa Tuhan membuka jalan ketika tidak ada jalan. Ayat 11 mengingatkan matahari dan bulan yang berhenti pada zaman Yosua, saat Tuhan memberi kemenangan bagi umat-Nya.

Melalui seluruh rangkaian ini, Tuhan mengajak Habakuk menelusuri kembali sejarah penebusan agar ia memahami satu kebenaran: iman dan pengharapan bertumbuh ketika kita mengingat siapa Allah dan apa yang telah Ia kerjakan.

Itulah sebabnya Alkitab terus memerintahkan kita untuk mengingat dan menyembah. Masalahnya, kita ini sangat mudah lupa. Menurut Palmer Robertson dalam tafsirannya, Habakuk pasal 3 bukan sekadar doa biasa, melainkan sebuah liturgical remembrance atau pengingat liturgis. Habakuk dibawa masuk kembali ke dalam sejarah penebusan melalui sarana ibadah. Ternyata, salah satu cara paling kuat yang Tuhan pakai untuk mengingatkan dan menumbuhkan iman kita adalah melalui liturgi ibadah.

Setiap gereja memiliki liturgi, tetapi pertanyaannya: apakah liturgi kita mengikuti pola Alkitab yang mengarahkan pandangan kepada kebesaran Tuhan? Ibadah yang alkitabiah dimulai dengan panggilan beribadah, membawa kita memandang Tuhan, menyadarkan kita akan dosa, menerima anugerah, mendengar firman, meresponnya, lalu diutus melalui berkat. Pola ini sejalan dengan metanarasi Alkitab: Penciptaan, Kejatuhan, Penebusan, Pembaruan, dan Pemulihan, serta pola perjumpaan Israel di Sinai dan Yesaya dengan Tuhan.

Liturgi bukanlah sarana mencari kepuasan emosional, melainkan pembentukan rohani. Sepanjang minggu dunia mengarahkan kita untuk berpusat pada diri sendiri, tetapi melalui ibadah Minggu Tuhan mengalihkan pandangan kita kepada Kristus, karya salib, dan kasih Allah Tritunggal yang telah menebus kita.

Ironisnya, banyak keluarga Kristen perlahan menggeser prioritas itu. Orang tua berdoa agar anak takut akan Tuhan, tetapi kemudian hari Minggu dipenuhi les, turnamen, dan berbagai aktivitas lain sehingga ibadah menjadi pilihan kedua. Tanpa sadar mereka mengajarkan bahwa Tuhan bukan prioritas utama. Ketika anak akhirnya meninggalkan iman, orang tua kebingungan mencari penyebabnya. Padahal, salah satu pembentukan iman yang paling penting adalah konsistensi beribadah. Melalui liturgi dan ibadah Minggu, kita terus diingatkan kepada siapa kasih dan prioritas hidup kita harus diarahkan.

David Prior mengatakan bahwa pengharapan Habakuk lahir bukan karena ia mengetahui masa depan, melainkan karena ia kembali melihat Allah yang setia menyertainya. Seperti suami istri yang membuka album foto untuk mengingat kasih mereka, Perjamuan Kudus mengingatkan kita akan pengorbanan Kristus. Kita membutuhkan pengingat ini terus menerus, sebab ketika kita lupa, Tuhan tampak kecil dan masalah terasa semakin besar.

Itulah yang dialami Habakuk. Tuhan tidak langsung mengubah situasinya, tetapi mengubah cara pandangnya. Habakuk tidak lagi melihat hidup melalui lensa Babel, melainkan melihat Babel melalui lensa Tuhan. Ancamannya tetap ada, tetapi perspektifnya berubah, dan itulah yang mengubah hidupnya.

Mungkin itulah yang ingin Tuhan kerjakan dalam hidup kita hari ini: mengganti lensa hidup kita agar tidak lagi berfokus pada masalah. Lalu, jika kita diminta untuk mengingat, sebenarnya kita sedang mengingat siapa? Di manakah kebesaran dan kemuliaan Tuhan paling nyata dinyatakan?

 

KAPAN DAN DIMANA KEMULIAAN ALLAH PALING TERLIHAT?

Sepanjang Habakuk pasal 3, kita melihat satu tema yang terus berulang, yaitu Habakuk melihat Allah datang. Allah datang di Gunung Sinai, di Laut Teberau, dan hadir selama empat puluh tahun di padang gurun untuk memelihara umatNya.

Namun kemudian, di ayat 13 muncul sebuah kalimat yang menjadi benang merah dengan Injil: "Engkau berjalan maju untuk menyelamatkan umatMu."

Inilah pusat dari seluruh penglihatan Habakuk. Di sinilah Habakuk menjelaskan alasan utama mengapa Allah datang. Allah datang bukan sekadar untuk memamerkan kuasaNya atau sekadar menunjukkan bahwa Dia dahsyat. Ia membelah Laut Teberau bukan hanya untuk membuktikan kehebatanNya. Semua peristiwa menakjubkan itu dilakukan dengan satu tujuan pasti: untuk menyelamatkan umatNya.

Di dalam Perjanjian Lama, Allah datang dengan berbagai cara yang menggetarkan. Ia datang melalui tiang awan, tiang api, gempa bumi, awan gelap, hingga api yang turun dari langit pada zaman Nabi Elia. Namun di dalam Perjanjian Baru, Allah datang dengan cara yang sama sekali berbeda, bahkan sedemikian rupa hingga membuat banyak orang tidak menyadari bahwa Allah sedang melawat mereka.

Sebagaimana dicatat dalam Yohanes pasal 1 ayat 1, "Pada mulanya adalah Firman. Firman itu bersama sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah." Lalu di ayat 14 dikatakan, "Firman itu telah menjadi manusia dan diam di antara kita." Sang Firman itu berjalan debu tanah Galilea, duduk makan bersama Zakheus, menyembuhkan orang kusta, serta memilih murid muridNya dari kalangan nelayan, pemungut cukai, tabib, dan orang orang yang sama sekali tidak diperhitungkan oleh dunia.

Banyak pakar teologi menyimpulkan bahwa melalui Habakuk 3 ayat 13, Habakuk sebenarnya sedang melihat sosok Divine Warrior atau Pahlawan Ilahi. Habakuk melihat Tuhan sebagai Raja yang maju berperang, di mana kedatanganNya membuat gunung berguncang, laut terbelah, dan bangsa bangsa gemetar.

Gambaran penakluk yang memenuhi seluruh pasal 3 inilah yang sesungguhnya sangat dinantikan oleh bangsa Israel. Mereka menunggu seorang Raja yang datang sebagai kesatria pembebas dari segala penjajahan. Tetapi perhatikanlah sebuah ironi besar: ketika Raja itu benar benar datang, tidak ada seorang pun yang mengenaliNya.

Mengapa bisa demikian? Karena Sang Pahlawan Ilahi datang sebagai Anak Domba. Israel menantikan Singa dari Yehuda, namun yang datang adalah Anak Domba. Mereka mengharapkan Mesias yang perkasa dan penuh kemenangan militer, tetapi yang datang justru seorang bayi yang tampak tidak berdaya. Mereka mendambakan seorang bangsawan keturunan Daud, namun yang hadir adalah anak seorang tukang kayu.

Tidak ada yang menyangka dan menduga cara Tuhan ini. Semua ini harus terjadi karena musuh terbesar manusia tidak dapat dikalahkan dengan pedang ataupun kekuatan politik. Musuh terbesar manusia bukanlah Babel, bukan Roma, bukan penyakit, dan bukan pula kemiskinan. Masalah terbesar kita tidak dapat diselesaikan dengan kekayaan atau kekuasaan. Masalah terbesar umat manusia adalah dosa, dan dosa tidak akan pernah bisa dikalahkan dengan pedang.

Itulah sebabnya Anak Manusia harus datang sebagai Anak Domba yang akan disembelih dan pada akhirnya disalibkan. Di sinilah kita menemukan paradoks Injil yang luar biasa:

  • Dalam penglihatan Habakuk, Tuhan menghancurkan musuh musuhNya; tetapi di kayu salib, Sang Anak Domba justru mati bagi musuh musuhNya.
  • Habakuk melihat murka Allah dicurahkan; tetapi di kayu salib, murka itu justru ditanggung oleh Sang Anak Domba.
  • Habakuk melihat kemenangan dinyatakan melalui kekuatan; tetapi di kayu salib, kemenangan justru dinyatakan melalui kelemahan.
  • Habakuk melihat keselamatan melalui penghakiman; tetapi di kayu salib, keselamatan datang melalui pengorbanan, di mana Kristuslah yang rela dihakimi demi kita.

Tanpa Kristus, posisi kita bukanlah Israel yang merupakan umat Tuhan. Kitalah Babel. Kitalah para pemberontak yang seharusnya menerima hukuman itu. Namun Sang Pahlawan Ilahi tidak datang untuk menghancurkan kita. Ia justru memilih untuk dikorbankan dan dihancurkan tubuhNya demi menyelamatkan kita.

Jika ditanya, di manakah kemuliaan Allah paling besar dinyatakan dan kebesaranNya paling nyata terlihat? Jawaban yang wajar mungkin adalah saat Laut Teberau terbelah, saat Gunung Sinai dipenuhi petir dan gempa, atau saat Lazarus dibangkitkan dari kematian. Namun, Yohanes mencatat Yesus mengatakan sesuatu yang sangat mengejutkan. Yesus berkata, "Sekarang Anak Manusia dimuliakan," justru tepat ketika Ia ditangkap dan sedang bersiap menuju salib.

Kemuliaan Allah yang paling terang dan nyata justru terlihat di kayu salib. Mengapa? Karena hanya di kayu saliblah keadilan Allah ditegakkan tanpa kompromi, sementara pada saat yang sama kasih Allah dinyatakan sepenuhnya kepada kita.

Jika kitab Keluaran menceritakan eksodus pembebasan Israel dari Mesir, maka salib Kristus menggenapi eksodus yang jauh lebih besar: membebaskan kita dari dosa dan maut. Roma 5 menegaskan bahwa Kristus mati bagi kita ketika kita masih menjadi musuh Allah, sehingga kini kita diangkat menjadi anak-anak-Nya. Habakuk hanya melihat bayangan penebusan, tetapi kita melihat penggenapannya di dalam Kristus.

Karena itu, Tuhan mungkin tidak langsung mengubah keadaan kita. Hasil pemeriksaan, bisnis, keluarga, atau pergumulan lain bisa saja belum berubah. Namun Tuhan mengubah cara kita memandang semuanya dengan menyatakan bahwa Kristus jauh lebih besar daripada setiap masalah.

Ketika Kristus menjadi pusat pandangan kita, Babel dan segala pergumulan akan tampak jauh lebih kecil dibandingkan kebesaran-Nya. Benarlah pepatah, "You become what you behold." Merenungkan Injil mungkin tidak langsung mengecilkan masalah, tetapi akan membesarkan Kristus di hati kita. Itulah kuasa Injil yang mengubahkan hidup kita dari kemuliaan kepada kemuliaan.

Sebagai penutup, mari kita renungkan tiga implikasi penting dari kebenaran ini:

  1. Orang berinjil memiliki pengharapan yang teguh. Walaupun masalah yang dihadapi benar benar besar dan nyata, kita tetap memiliki pengharapan yang kuat karena kita memandang Kristus yang jauh lebih besar daripada masalah tersebut.
  2. Orang berinjil dapat dengan tenang menyongsong masa depan. Ketenangan ini bukan lahir karena kita memegang kendali atau mengetahui semua jawaban tentang hari esok. Kita dapat tetap tenang karena kita berjalan bersama Kristus yang berdaulat dan memegang masa depan. Yang terpenting bukanlah rintangan apa yang sedang kita hadapi, melainkan Siapa yang berjalan menyertai kita.
  3. Orang berinjil diubah hatinya bukan oleh rentetan informasi baru, tetapi oleh pusat pandangan yang baru. Dan pusat pandangan yang baru dan mengubahkan itu tidak lain adalah keindahan Injil Kristus.

PERTANYAAN REFLEKTIF

  1. Apa "Babel" yang hari hari ini terlihat lebih besar daripada Tuhan dalam hidupmu?
  2. Apakah kamu sedang melihat hidup melalui lensa Babel... atau melalui lensa Tuhan?
  3. Apa satu langkah iman yang Tuhan sedang panggil untuk kamu ambil... setelah kembali melihat Kristus lebih besar daripada Babelmu?