
Memasuki minggu keempat dari rangkaian khotbah Gospel Hope in A Restless World, kita kembali diingatkan pada sebuah titik ketika dalam hidup ini iman saja yang tersisa. Pembahasan kali ini didasarkan pada kitab Habakuk 2:2-4. Beranjak dari firman tersebut, sebuah pertanyaan penting untuk direnungkan adalah, apa yang sebenarnya membuat kita bisa tidur dengan nyenyak dan merasa aman?
BACAAN: Habakuk 2:2-4
2:2 Lalu TUHAN menjawab aku, demikian: "Tuliskanlah penglihatan itu dan ukirkanlah itu pada loh-loh, supaya orang sambil lalu dapat membacanya.
2:3 Sebab penglihatan itu masih menanti saatnya, tetapi ia bersegera menuju kesudahannya dengan tidak menipu; apabila berlambat-lambat, nantikanlah itu, sebab itu sungguh-sungguh akan datang dan tidak akan bertangguh.
2:4 Sesungguhnya, orang yang membusungkan dada, tidak lurus hatinya, tetapi orang yang benar itu akan hidup oleh percayanya.

Jika kita jujur melihat hati, sering kali sumber rasa aman kita bukan hanya Tuhan, melainkan tabungan, pekerjaan, keluarga, kesehatan, pernikahan, atau rencana masa depan. Tanpa disadari, kita menjadikan hal-hal duniawi sebagai sandaran hidup.
Tantangan terbesar muncul ketika sandaran tersebut mulai goyah. Saat rencana tidak berjalan sesuai harapan atau doa yang telah lama dipanjatkan belum mendapat jawaban, kita diuji untuk melihat apa yang sebenarnya menopang hidup kita. Sering kali kita baru menyadari sandaran sejati ketika hal itu mulai digoncangkan.
Hari ini, banyak sandaran manusia sedang mengalami goncangan. Kenaikan harga BBM, perubahan nilai dolar, ketidakpastian politik, serta gejolak geopolitik dunia menunjukkan betapa rapuhnya keamanan yang kita bangun di atas hal-hal sementara. Semua ini menjadi pengingat bahwa sandaran hidup manusia dapat dengan mudah terguncang.
Tim Keller dalam Walking with God in Pain and Suffering mengatakan bahwa kita sering kali baru menyadari Yesus adalah satu-satunya yang kita perlukan ketika segala sesuatu telah dilucuti dan hanya Dia yang tersisa.
Habakuk sedang berada di titik tersebut. Dunia yang ia kenal pada masa Raja Yosia runtuh, bangsanya terancam hancur oleh kedatangan Babel, dan masa depan tampak tanpa harapan. Namun, di tengah kehancuran itu, Tuhan tidak memberikan jawaban yang Habakuk harapkan. Tuhan memberikan sebuah kebenaran yang mengubah sejarah: “orang benar akan hidup oleh iman.” Kalimat ini menjadi inti Injil, ayat penting bagi Paulus, dan salah satu fondasi Reformasi melalui doktrin sola fide atau hanya karena iman. Namun, kita tidak boleh lupa bahwa perkataan ini pertama-tama adalah jawaban langsung Tuhan kepada pergumulan Habakuk.

KESOMBONGAN MEMBUAT KITA SELF SUFFICIENT
Pada Habakuk 2:4 bagian A, terdapat satu penggalan yang perlu disoroti, yakni pernyataan bahwa orang yang membusungkan dada sesungguhnya tidak lurus hatinya. Dalam Alkitab Terjemahan Baru (AYT) kalimat tersebut berbunyi, "Orang yang sombong tidak lurus hatinya." Kendati dalam konteks ayat tersebut Tuhan sedang membicarakan Babel, namun pada hakikatnya Tuhan tengah membicarakan hati manusia.
Dalam kehidupan sehari hari, kita cenderung mendefinisikan kesombongan melalui lensa moral. Misalnya, menyebut seseorang sombong karena memiliki banyak harta dan merasa lebih kaya dari yang lain. Padahal, tentu tidak semua orang kaya bersikap demikian. Ada pula yang dilabeli sombong atau arogan karena merasa dirinya lebih pintar dan menganggap orang lain bodoh. Selain itu, ada juga kesombongan rohani, di mana seseorang merasa dirinya paling rohani di antara yang lain, padahal bisa jadi ia sedang hidup dalam kemunafikan. Singkatnya, pandangan umum sering kali mengartikan orang sombong sebagai individu yang merasa dirinya lebih tinggi.
Akan tetapi, Alkitab mendefinisikan kesombongan jauh lebih dalam. Menurut Alkitab, kesombongan adalah otonomi dari Tuhan. Ini berarti kesombongan bukan semata mata merasa lebih hebat dari orang lain, melainkan sebuah usaha untuk hidup terlepas dari ketergantungan kepada Tuhan. Kesombongan adalah menjalani hidup seolah olah kita tidak membutuhkan Tuhan.
Karakteristik inilah yang mewakili Babel. Sebagaimana dikisahkan tentang Menara Babel dalam Kejadian 11, mereka dengan angkuh menyatakan bahwa mereka kuat, mampu, dan merasa cukup, sehingga meyakini bahwa mereka memegang kendali atas nasib dan masa depan mereka sendiri (We are enough. We control our own destiny. We control our own future). Seiring berjalannya waktu, Babel hanya sekadar berganti pakaian. Dunia dan budaya masa kini masih menggemakan narasi serupa, seperti "Believe in yourself", "Follow your heart", "We are enough", dan "You are the solution of your problem".

Terkait hal ini, Charles Taylor dalam bukunya A Secular Age menyebut manusia modern sebagai the buffered self, yakni manusia yang merasa mampu menopang hidupnya tanpa campur tangan Tuhan. Namun, faktanya hidup kita terlalu besar untuk dapat dikendalikan oleh diri kita sendiri. Terjadinya pandemi beberapa waktu lalu, krisis moneter yang melanda, hingga maraknya penyakit kanker dan penyakit aneh lainnya, telah mengingatkan dan menyadarkan kita bahwa kita tidak pernah benar benar memegang kendali atas kehidupan ini. Bahkan, realitas akan kematian pun semakin menegaskan betapa lemahnya kuasa kita. Sering kali terjadi, seseorang yang baru kita temui beberapa hari sebelumnya tiba tiba dikabarkan meninggal dunia.
Kita seringkali hanya berpikir bahwa kita memegang kendali, namun nyatanya tidaklah demikian. Kita mungkin bisa memprediksi kejadian lima belas menit ke depan—misalnya, saat ini masih beribadah dan sebentar lagi akan pulang—tetapi tidak ada seorang pun yang dapat memastikan apa yang akan terjadi setengah jam dari sekarang. Kita sebatas mampu memprediksi, namun kita tidak pernah benar benar mengendalikan atau mengontrol segalanya, betapa pun kerasnya kita berusaha.

Sebagai ilustrasi, ada seorang teman yang mengalami cedera punggung saat sedang naik pesawat. Awalnya, diduga cedera itu terjadi akibat mengangkat koper berat ke dalam kompartemen. Namun, alasannya ternyata berbeda. Ketika pesawat mengalami turbulensi, karena merasa sangat ketakutan, ia menggenggam kursinya dengan sangat kuat hingga urat punggungnya tegang dan akhirnya cedera. Ia bercerita bahwa pada saat itu, ia berpikir bahwa dengan memegang kursinya, pesawat akan menjadi lebih stabil. Namun, hal itu justru membuat punggungnya sakit.
Tindakan tersebut sungguh mencerminkan perilaku kita. Banyak manusia menjalani hidup dengan terus berupaya keras mengontrol segala sesuatu di sekitarnya—mulai dari mengontrol anak, pasangan, masa depan, opini orang lain tentang mereka, hingga mengontrol setiap hasil dari rencana yang dibuat. Faktanya, ketika kita berusaha mengontrol segalanya, sebenarnya tidak ada satupun yang benar benar berada dalam kendali kita.
Pada akhirnya, kita seringkali dihadapkan pada pertanyaan pertanyaan yang menyiksa: "Mengapa saya tidak bisa tidur?", "Mengapa saya terus overthinking?", "Mengapa saya mengalami anxiety?", "Mengapa asam lambung saya naik?", atau "Mengapa tingkat kortisol saya begitu tinggi hingga seluruh tubuh terasa sakit?" Jawabannya sederhana: karena kita mencoba menjadi Tuhan. Dan bukankah hal itu sering kali terjadi pada kita semua?
Dalam teologi, terdapat banyak atribut Tuhan, namun ada tiga atribut yang paling dikenal. Pertama adalah Omniscience (Maha Tahu), di mana Tuhan mengetahui segala sesuatu. Kedua, Omnipotent (Maha Kuasa), yang berarti Tuhan mampu mengendalikan segalanya. Ketiga, Omnipresent (Maha Hadir), yang menegaskan bahwa Tuhan senantiasa hadir di mana mana. Pemahaman akan omnipresence ini juga mengingatkan bahwa tidak perlu ada istilah "mengundang hadirat Tuhan" seolah olah Dia perlu dipanggil, karena Tuhan memang sudah ada di segala tempat.

Jika kita melihat ketiga atribut tersebut, tanpa disadari manusia sering kali berusaha menirunya.

Tanpa disadari, kita sedang berusaha menjadi entitas "omni" dengan membusungkan dada. Inilah yang Alkitab sebut sebagai kesombongan. Ironisnya, ketika kita berusaha menjadi Tuhan, pada akhirnya kita justru kelelahan, cemas, tidak bisa tidur, dan pikiran menjadi kacau balau. Semuanya berakar dari keinginan kita untuk mengawasi, mengikuti, mengetahui, dan mengontrol segala sesuatu, yang ujung ujungnya membawa kita pada fase burn out atau kelelahan ekstrem. Berusaha menjadi "omni" senantiasa berujung pada kecemasan (anxiety). Oleh karena itu, sadarilah bahwa kita bukan Tuhan dan jangan pernah berusaha menjadi "omni".
Semakin keras kita mencoba mengontrol segalanya, semakin kita merasa gelisah. Mengapa? Karena kita tidak memiliki kapasitas untuk menjadi Tuhan. Hal ini layaknya seorang anak SMP yang sudah bertubuh besar dan mampu memakai jas ayahnya. Meskipun ia bisa mengenakan jas tersebut, ia belum mampu mencari nafkah sendiri, belum sanggup memikul tanggung jawab seorang ayah, dan belum memiliki hikmat atau kedewasaan untuk berpikir seperti sang ayah. Anak itu bisa memakai jas ayahnya, namun tidak memiliki kapasitas seperti ayahnya.
Sama halnya dengan kita. Meskipun kita diciptakan menurut gambar dan rupa Allah, kita bukanlah Tuhan. Kita tidak bisa dan tidak layak mengenakan apa yang pantas dikenakan Tuhan, serta tidak bisa memikul beban yang hanya sanggup dipikul oleh Nya. Lantas, mengapa kita cemas dan tidak bisa tidur? Karena kita memaksakan diri menopang sesuatu yang sama sekali tidak dirancang untuk kita topang. Maka tidak mengherankan jika beban berat itu pada akhirnya menghancurkan hidup kita, mendatangkan stres, dan membuat kita rentan sakit sakitan. Kita harus senantiasa menyadari bahwa manusia tidak pernah diciptakan untuk menjadi "omni", dan setiap usaha untuk menjadi demikian selalu melahirkan kecemasan (anxiety).
Itulah sebabnya Tuhan menegaskan kepada kita bahwa orang benar hidup oleh iman.

ORANG BENAR HIDUP OLEH IMAN
Jika kita mencermati kembali konteks ayat yang dibaca, Habakuk sejatinya bertanya, "Tuhan, kenapa Babel? Tuhan, kenapa ini tidak selesai selesai? Kapan ini akan berakhir? Bagaimana semua ini masuk akal? Bukankah seharusnya Israel kembali pada zaman kejayaannya?" Namun, Tuhan tidak memberikan penjelasan yang diharapkan Habakuk. Jawaban Tuhan sangat singkat dan tegas: "Orang benar hidup oleh iman."
Habakuk berpikir bahwa yang ia butuhkan adalah sebuah penjelasan agar hatinya menjadi tenang dan ia bisa kembali percaya. Bukankah hal ini sangat mewakili perasaan kita? Sering kali kita menuntut, "Tuhan, maukah Engkau menjelaskan semuanya ini? Kenapa begini? Kenapa begitu? Supaya aku tenang." Namun faktanya, kalau Tuhan menjelaskan semuanya kepada kita—mengapa bisnis gagal, pasangan pergi, orang terkasih dipanggil, atau penyakit tiba tiba datang—apakah benar semua pertanyaan kita akan selesai?
Berdasarkan pengalaman konseling, yang sering terjadi justru sebaliknya. Ketika satu pertanyaan dijawab, kita akan mencari pertanyaan yang baru. Kita tidak akan pernah benar benar tenang karena kita akan terus bertanya, hingga akhirnya kita mulai mempertanyakan Tuhan itu sendiri. Terlebih lagi, jika kita bisa memahami semua yang Allah lakukan, maka Dia bukan lagi Allah. Habakuk menginginkan penjelasan, tetapi Tuhan memberikan relasi.
Tuhan berkata, "Hiduplah oleh iman." Dalam konteks modern, pesan ini dapat dimaknai sebagai: "Will you trust me? Maukah engkau mempercayakan hidupmu kepada Ku? Maukah engkau percaya bahwa Aku adalah Tuhan yang baik?" Oleh karena itu, hiduplah oleh iman. Orang benar akan hidup oleh imannya. Tuhan tidak berkata orang benar hidup oleh kepastian, jawaban, ataupun kontrol. Namun, oleh iman.
Kata "hidup" di sini memiliki makna yang sangat kaya, jauh melampaui sekadar bernapas. Hidup berarti dipelihara, ditopang, bertahan, dan diselamatkan sampai akhir. Ini menegaskan bahwa orang benar dipelihara, ditopang, dan diselamatkan oleh iman. Tidak mengherankan jika kalimat "orang benar hidup oleh iman" terus digaungkan dalam Perjanjian Baru. Galatia 3:11 berbicara tentang bagaimana orang Kristen bertumbuh melalui iman, Roma 1:17 tentang orang berdosa yang diterima oleh Allah melalui iman, dan Ibrani 10:38 tentang orang percaya yang mampu bertahan dalam perjalanan hidupnya oleh iman.

Tokoh Kristen Martin Lloyd Jones bahkan menyatakan, "The Christian life is life of faith from beginning to the end." Hidup kekristenan adalah hidup oleh iman dari awal sampai akhir. Sering kali kita keliru dengan beranggapan bahwa iman hanya diperlukan di awal perjalanan kekristenan kita, dan setelahnya kita mengandalkan usaha sendiri. Pemahaman itu salah. Kita masuk, bertumbuh, bertahan, hingga kelak tiba di surga, semuanya oleh iman. Di sinilah letak keindahan konsep kekristenan: iman bukanlah tentang memahami semua jawaban, melainkan mempercayai Pribadi yang memegang jawaban tersebut.
Sebagai ilustrasi, bayangkan anak anak kecil yang disuruh melompat ke pelukan ayahnya. Mereka akan melompat tanpa ragu, tanpa menghitung hukum fisika, gaya, atau jarak. Mereka melompat semata mata karena mereka percaya ayah mereka pasti menangkap mereka. Mereka melompat karena merasa aman. Demikianlah esensi iman: mungkin kita belum memahami semua jawaban, namun kita mempercayai Pribadi yang memegang jawaban, karena kita mengenal Nya.
Oleh sebab itu, kehidupan kekristenan adalah sebuah perjalanan iman (journey of faith). Ini berarti terus mempercayai Tuhan, bahkan ketika kita belum melihat gambaran utuh dari cerita hidup kita, karena kita tahu betapa besar kasih Nya. Jika Allah di pihak kita, siapa yang akan menjadi lawan kita?

Sebelum melanjutkan, penting untuk meluruskan pemahaman yang keliru tentang iman, khususnya ajaran Word of Faith (WOF) yang melahirkan Injil Kemakmuran melalui tokoh seperti Kenneth Hagin, Kenneth Copeland, Joyce Meyer, dan Joel Osteen. Ajaran ini menekankan bahwa iman dan perkataan manusia dapat menciptakan realitas, sehingga fokus bergeser dari kedaulatan Tuhan kepada kemampuan manusia mengendalikan hasil melalui imannya.
Di Indonesia, pengaruh ini sering muncul melalui ungkapan seperti “imanmu menciptakan” atau anggapan bahwa perkataan negatif dapat mendatangkan hal buruk. Akibatnya, iman dipahami seperti kekuatan magis yang menarik realitas sesuai keinginan manusia. Ada tiga masalah utama dalam konsep ini.
Pertama, iman dianggap sebagai penyangkalan realita. Padahal, tokoh Alkitab seperti Daud (Mazmur 13:1-2) dan Habakuk selalu jujur meratapi penderitaan mereka. Iman Alkitabiah tidak selalu berbicara positif, melainkan jujur. Tuhan tidak pernah tersinggung dengan keraguan maupun kejujuran kita.
Kedua, iman diubah menjadi alat untuk memanipulasi realita. Jika kekuatan iman kita yang menentukan hasil, maka seolah olah kitalah yang berdaulat, bukan Tuhan. Kenyataannya, para pahlawan iman dalam Alkitab banyak yang menderita dan tidak mendapatkan keselamatan fisik yang mereka doakan (Ibrani 11:36-39). Iman tidak selalu mengubah situasi, melainkan memampukan kita terus berjalan bersama Tuhan di segala kondisi.
Ketiga, tidak ada ruang pemahaman untuk penderitaan. Saat doa tidak terjawab atau penyakit tak kunjung sembuh, seseorang sering kali dihakimi "kurang iman" atau berdosa. Padahal, Alkitab menegaskan bahwa orang benar pun bisa menderita. Injil mungkin tidak mengubah keadaan fisik kita, namun Injil senantiasa mengubah hati dan cara pandang kita agar mampu melihat realita dengan keyakinan bahwa Tuhan tetap berdaulat.

Sebenarnya kesalahan mendasar yang sering terjadi adalah menjadikan iman itu sendiri sebagai penyelamat. Kita sering terjebak pada pertanyaan, "Apakah imanku sudah besar?" Padahal, pertanyaan yang seharusnya diajukan adalah, "Siapa objek dari imanku?" Yang menyelamatkan kita bukan kekuatan atau besarnya iman kita, melainkan objek dari iman kita.
Bayangkan dua orang yang berjalan menyeberangi jembatan kaca di atas jurang yang dalam. Orang pertama berjalan dengan tenang dan berani, sementara orang kedua melangkah perlahan dengan tubuh gemetar dan keringat dingin. Pada akhirnya, keduanya berhasil sampai di seberang. Apa yang membuat mereka selamat? Apakah keberanian atau kekuatan iman mereka? Sama sekali tidak. Yang menyelamatkan mereka adalah konstruksi jembatan yang kokoh, yang menopang langkah mereka hingga akhir.
Begitu pula dengan kita. Sekalipun iman kita kecil, sebesar biji sesawi, dan sering mengalami pasang surut, yang menyelamatkan kita bukanlah seberapa besar iman yang kita miliki. Yang menyelamatkan kita adalah Juruselamat yang telah mengorbankan nyawa Nya bagi kita: Yesus Kristus.

IMAN MELIHAT KEPADA KRISTUS
Poin ketiga yang menjadi sorotan utama adalah iman melihat kepada Kristus. Melalui kitab Habakuk, kita sesungguhnya sedang dituntun menuju pada Injil. Saat membaca kalimat "Orang benar akan hidup oleh iman" (Habakuk 2:4), kita seringkali keliru dengan berpikir bahwa kitalah sosok orang benar tersebut. Kita merasa dituntut untuk menjadi orang benar agar bisa hidup oleh iman. Namun jujur saja, tidak ada seorang pun manusia yang mampu hidup oleh iman dengan sempurna dan murni.
Ketika hidup berjalan lancar, kita sangat mudah untuk percaya. Namun ketika hidup mulai diwarnai kegagalan dan doa doa tidak dijawab, banyak dari kita yang imannya mulai goyah dan meragukan Tuhan. Lantas, siapakah sebenarnya orang benar yang dimaksud? Roma 3:10 sampai 12 dengan tegas mematahkan kesombongan manusia dengan menyatakan bahwa tidak ada seorang pun yang benar, tidak ada yang mengerti, tidak ada yang menyembah Allah, dan semuanya telah sesat.
Jika tidak ada satu pun manusia yang benar, maka sosok orang benar dalam Habakuk 2:4 sesungguhnya mengacu pada satu pribadi, yaitu Yesus Kristus. Setiap membaca narasi tokoh dalam Alkitab, kita harus ingat bahwa Perjanjian Lama adalah bayangan yang digenapi dalam Perjanjian Baru. Yesus adalah satu satunya orang benar yang selalu hidup oleh iman dan mempercayai Bapa Nya dengan sempurna. Sekalipun Ia ditolak kaum Nya, dikhianati murid Nya, disiksa, hingga ditinggalkan sendirian di atas kayu salib, Yesus tetap percaya, beriman, dan setia tanpa mengeluarkan satu pun kalimat hujatan.
Mungkin muncul pertanyaan, mengapa Yesus membutuhkan iman padahal Ia adalah Tuhan? Pada waktu itu, Yesus hadir sebagai manusia sejati. Ia menjalani hidup bukan dengan mengakses atribut keilahian Nya (atribut "omni"), melainkan hidup dalam ketergantungan yang sempurna kepada Bapa dan Roh Kudus. Yesus menggenapi seluruh janji Bapa dan rela menanggung hukuman dosa layaknya penjahat, semata mata untuk kita.

Sering kali kita terlalu narsis dalam beragama. Kita membaca Alkitab dengan kacamata yang berpusat pada diri sendiri, merasa menjadi korban atas masalah yang ada, dan meratapi iman kita yang naik turun. Padahal, masalah terbesar kita bukanlah iman yang terlalu kecil, melainkan karena kita terlalu sedikit memandang kepada Kristus. Alkitab seluruhnya berbicara tentang Yesus. Oleh karena itu, jangan lagi fokus pada performa iman sendiri, melainkan lihatlah Sang Juruselamat. Yesus hidup dalam ketaatan yang gagal kita hidupi, dan melalui iman kepada Nya, status kebenaran Nya menjadi milik kita. Ingatlah, yang menyelamatkan dan menopang hidup kita bukanlah iman yang besar, melainkan Juruselamat kita yang besar.
Untuk memahami esensi iman ini, mari melihat kesaksian nyata dari Pastor Peter Tan Chi, seorang pendeta dari Filipina. Suatu malam, saat ia sedang menjalankan panggilan pelayanannya memimpin pendalaman Alkitab, tragedi mengerikan terjadi di rumahnya. Sekitar sepuluh perampok bersenjata menyusup masuk, menyandera dan mengikat seluruh penghuni rumah, serta menguras habis harta benda mereka. Hal yang paling menghancurkan malam itu adalah putri sulung mereka yang baru berusia 15 tahun, Joy Tan Chi, diperkosa oleh tujuh dari sepuluh perampok tersebut.

Ketika Pastor Peter pulang dan mendapati rumahnya dikepung polisi, dunianya runtuh seketika. Hatinya hancur, terluka, dan marah. Sama seperti Habakuk, ia melayangkan protes, "Tuhan, kenapa? Aku sedang melayani Mu dan melakukan panggilan Mu, kenapa anakku diperkosa?" Seruan ini adalah bentuk keputusasaan yang juga sering kita lontarkan saat penyakit datang, bisnis hancur, atau doa tidak dijawab.
Sama halnya dengan Habakuk, Pastor Peter tidak mendapatkan semua jawaban yang ia tuntut dari Tuhan. Trauma dari tragedi tersebut tidak bisa dihapus dengan konseling apa pun. Namun puji Tuhan, keluarga ini perlahan dipulihkan. Joy bertumbuh, menikah, memiliki enam anak, dan mendedikasikan hidupnya sebagai konselor bagi wanita muda korban kekerasan seksual. Sangat menakjubkan melihat Joy merilis sebuah buku berjudul When a Good God Allows Rape. Ia tidak menulis bahwa Tuhan tidak peduli atau Tuhan kehilangan kendali, melainkan ia mengakui bahwa Tuhan tetap baik sekalipun Ia mengizinkan kejadian seburuk itu menimpanya.
Keluarga ini telah belajar esensi iman yang sejati. Iman bukanlah berarti kita mengerti semua hal yang Tuhan izinkan terjadi, melainkan berani mempercayai Tuhan meskipun kita sama sekali tidak mengerti. Iman adalah mempercayai karakter Tuhan bahkan ketika kita gagal memahami rencana Nya. Habakuk datang kepada Tuhan untuk mencari jawaban, namun pada akhirnya ia menemukan sesuatu yang jauh melebihi jawaban, yaitu pengenalan akan Pribadi Tuhan itu sendiri. Terkadang, bukan pemecahan masalah yang paling kita butuhkan, melainkan pengenalan yang intim akan Tuhan. Di titik di mana iman adalah satu satunya yang tersisa (when faith is all you have left), biarlah Kristus menjadi satu satunya yang tersisa dan terbukti cukup bagi kita.

Sebagai penutup, ada tiga implikasi penting yang harus dipegang oleh setiap orang yang berinjil:
PERTANYAAN REFLEKTIF
• Jika semua hal yang selama ini membuatku merasa aman mulai goyah, apa yang sebenarnya menjadi sandaran hidupku?
• Dalam area mana aku lebih menuntut penjelasan dari Tuhan daripada mempercayai karakter-Nya?
• Apakah aku sedang berusaha membangun iman kepada diriku sendiri, ataukah sedang memandang kepada Kristus, orang benar yang hidup oleh iman dengan sempurna bagiku?
