Trust God in The Waiting

Gospel Hope in A Restless World – Week 3 “Trust God in The Waiting”
Ps. Lius Erik

Mungkin gambar keramaian dan teks

Sekitar dua tahun silam, kota Burbise di Illinois, Amerika Serikat, mengenang kembali tragedi kelam yang terjadi dua puluh lima tahun sebelumnya. Peristiwa nahas itu melibatkan kecelakaan kereta Amtrak yang merenggut nyawa sebelas orang dan menyebabkan seratus dua puluh dua lainnya terluka. Salah satu keluarga yang harus menanggung beban kesedihan mendalam adalah keluarga Cindy Lipscomb. Kala itu, Cindy sedang dalam perjalanan pulang setelah berlibur bersama keluarganya dan sahabat karibnya, Jun Bonin, beserta keluarga Jun.

Cindy dan Jun dikenal sebagai dua sahabat yang sangat mengasihi Tuhan. Liburan mereka awalnya berjalan dengan penuh sukacita saat mereka pergi ke Chicago menggunakan kereta. Namun, perjalanan pulang menjadi petaka. Kedua anak Cindy meminta izin untuk tidur bersama anak dari Jun yang berada di gerbong paling depan. Sebelum berpindah gerbong, mereka sempat mencium Cindy dan mengucapkan selamat malam. Tidak ada yang menduga bahwa itulah ciuman terakhir mereka.

Mungkin gambar satu orang atau lebih dan pencahayaan

Kurang dari satu jam kemudian, kereta tersebut menabrak truk bermuatan baja. Benturan dahsyat itu membuat beberapa gerbong tergelincir, bahkan gerbong paling depan terbakar hebat. Sebanyak sebelas orang meninggal dunia, termasuk kedua anak Cindy, sahabatnya Jun, dan cucu dari Jun. Kisah ini terasa begitu menyakitkan karena detail kehidupan yang tragis, seperti ucapan selamat malam terakhir dan keinginan berpindah gerbong yang menjadi penentu nasib mereka. Sebuah keluarga yang berangkat dengan kegembiraan harus pulang membawa duka kehilangan yang mendalam.

Kisah Cindy hanyalah satu dari sekian banyak cerita di dunia yang memicu pertanyaan eksistensial bagi manusia, yaitu mengapa Tuhan membiarkan hal ini terjadi. Pertanyaan serupa sering kali muncul dalam berbagai pergumulan hidup, mulai dari sakit penyakit yang tak kunjung sembuh, kehilangan orang yang disayangi, kehancuran keluarga, hingga ketidakadilan yang merajalela. Pertanyaan ini muncul karena apa yang kita alami seringkali bertolak belakang dengan pemahaman kita tentang karakter Tuhan yang kasih, adil, dan berdaulat.

Mungkin gambar alat musik dan teks yang menyatakan 'H W'

BACAAN: HABAKUK 1:12 - 2:1

1:12 Bukankah Engkau, ya TUHAN, dari dahulu Allahku, Yang Mahakudus? Tidak akan mati kami. Ya TUHAN, telah Kautetapkan dia untuk menghukumkan; ya Gunung Batu, telah Kautentukan dia untuk menyiksa. 

1:13 Mata-Mu terlalu suci untuk melihat kejahatan dan Engkau tidak dapat memandang kelaliman. Mengapa Engkau memandangi orang-orang yang berbuat khianat itu dan Engkau berdiam diri, apabila orang fasik menelan orang yang lebih benar dari dia?

1:14 Engkau menjadikan manusia itu seperti ikan di laut, seperti binatang-binatang melata yang tidak ada pemerintahnya? 

1:15 Semuanya mereka ditariknya ke atas dengan kail, ditangkap dengan pukatnya dan dikumpulkan dengan payangnya; itulah sebabnya ia bersukaria dan bersorak-sorai. 

1:16 Itulah sebabnya dipersembahkannya korban untuk pukatnya dan dibakarnya korban untuk payangnya; sebab oleh karena alat-alat itu pendapatannya mewah dan rezekinya berlimpah-limpah. 

1:17 Sebab itukah ia selalu menghunus pedangnya dan membunuh bangsa-bangsa dengan tidak kenal belas kasihan?

2:1 Aku mau berdiri di tempat pengintaianku dan berdiri tegak di menara, aku mau meninjau dan menantikan apa yang akan difirmankan-Nya kepadaku, dan apa yang akan dijawab-Nya atas pengaduanku. 

Mungkin gambar satu orang atau lebih dan orang tersenyum

Pergumulan ini bukanlah hal baru. Filsuf Yunani, Epicurus, pernah menyoroti paradoks tentang keberadaan kejahatan di tengah dunia yang dikuasai oleh Tuhan yang mahakuasa dan mahabaik. Isu ini pun menjadi perhatian utama banyak orang, termasuk rabi Harold Kushner dalam bukunya yang terkenal serta survei yang dilakukan Barna Research bagi Lee Strobel. Hasilnya menunjukkan bahwa pertanyaan tentang alasan adanya penderitaan dan kejahatan adalah pertanyaan yang paling ingin diajukan manusia kepada Tuhan.

Kita hidup di dunia yang telah rusak akibat dosa. Kerusakan ini tidak hanya memisahkan manusia dari Tuhan, tetapi juga membawa penderitaan, kejahatan, dan kematian ke dalam seluruh ciptaan. Bagi orang percaya, mengikut Yesus tidak berarti bebas dari rasa sakit atau penderitaan, namun hal itu meneguhkan kita untuk tetap percaya meskipun jalannya belum terbuka. Alkitab tidak meminta kita untuk menyangkal pergumulan atau berpura pura baik baik saja. Sebaliknya, Alkitab mencatat bagaimana umat Tuhan membawa kebingungan dan keluhan mereka dengan jujur ke hadapan-Nya.

Kitab Habakuk memberikan contoh nyata mengenai kejujuran di hadapan Tuhan. Habakuk bergumul melihat kondisi Yehuda yang penuh dengan kekerasan dan korupsi, sehingga ia berseru mempertanyakan keadilan Tuhan. Jawaban Tuhan justru menambah beban kebingungan Habakuk, karena Tuhan menyatakan akan memakai bangsa Babel yang kejam untuk menghukum Yehuda. Hal ini terasa tidak masuk akal bagi Habakuk, karena ia meminta keadilan tetapi justru dihadapkan pada ketidakadilan yang lebih besar.

Respons Habakuk terhadap jawaban Tuhan yang membingungkan itu menjadi pelajaran berharga bagi setiap orang percaya. Ia tidak datang sebagai orang yang tidak beriman, melainkan sebagai sosok yang sedang bergumul. Ia tetap berpijak pada karakter Tuhan yang tidak pernah berubah meskipun ia tidak memahami jalan-jalan-Nya. Iman yang sejati tidak berdiri di atas kemampuan manusia untuk menjelaskan segala sesuatu, melainkan berakar kuat pada siapa Tuhan itu sesungguhnya. Habakuk memberikan teladan tentang bagaimana menyampaikan keluhan dengan jujur, namun tetap berakar di dalam iman.

Mungkin gambar teks yang menyatakan 'GGALKAN ESI'

BERPEGANG PADA KARAKTER TUHAN

Pada bagian ini, kita dapat melihat dengan jelas respons Habakuk terhadap jawaban Tuhan. Habakuk sama sekali tidak berpaling meninggalkan Tuhan atau mengambil kesimpulan sempit bahwa Tuhan itu tidak adil. Sebaliknya, ia memilih untuk kembali mengingat siapa hakikat Tuhan yang ia kenal selama ini.

Dalam doanya, Habakuk menyatakan keyakinannya bahwa Tuhan adalah Allah yang Mahakudus dan kekal, yang telah menetapkan penghukuman namun juga menjadi gunung batu pelindung. Di titik inilah Habakuk sesungguhnya sedang berteologi. Ia sedang menyatakan apa yang ia percayai tentang Tuhan di tengah situasi kelam yang belum bisa ia pahami.

Seperti yang pernah diingatkan melalui Daily Devotion Gibeon Church, teologi bukanlah monopoli para pendeta, hamba Tuhan, dosen teologi, atau mahasiswa seminari semata. Teologi sangat lekat dengan kehidupan kita sehari hari karena pada dasarnya setiap manusia itu berteologi. Setiap orang memiliki cara tersendiri dalam memandang Tuhan, kehidupan, penderitaan, dan masa depan. Persoalannya bukanlah apakah kita memiliki teologi atau tidak, melainkan teologi seperti apa yang kita yakini dan pegang teguh. Kita perlu merenungkan apakah cara pandang kita dibangun berdasarkan firman dan karakter Tuhan, atau hanya sekadar terombang ambing oleh keadaan dan pandangan dunia. Teologi yang benar akan menuntun kita untuk semakin mengenal Tuhan dan Juruselamat, tempat kita menemukan tujuan hidup, penebusan, serta pengharapan yang kekal.

Inilah yang persis dilakukan oleh Habakuk. Di tengah pusaran kebingungannya, ia tidak membiarkan rasa bimbang itu menjadi kacamata untuk menilai Tuhan. Ia memilih untuk kembali bertumpu pada karakter Tuhan yang ia kenal. Pengakuan ini terlihat sangat jelas dari panggilannya kepada Tuhan.

Pertama, ia menyebut "Ya Tuhan", yang merujuk pada Yahwe, nama perjanjian Tuhan. Habakuk menyadari sepenuhnya bahwa Tuhan bukanlah sosok yang jauh atau Allah yang asing, melainkan Allah yang setia dan telah mengikat perjanjian untuk memelihara umatNya. Selanjutnya, ia menyebut "Dari dahulu", yang menegaskan bahwa Tuhan adalah Allah yang kekal. Tuhan bukanlah Allah yang baru muncul seketika saat krisis melanda atau kehilangan kendali saat sejarah umat manusia tampak kacau. Tuhanlah yang memegang kendali atas sejarah itu sendiri.

Habakuk juga menyebut "Allahku", sebuah ungkapan yang sangat personal dan intim. Ada relasi, kedekatan, serta kepercayaan yang mendalam dalam panggilan tersebut. Ia tidak sedang berbicara kepada sosok yang tak dikenalnya, melainkan kepada Tuhan yang benar benar ia kasihi. Kemudian, ia memanggil Tuhan sebagai Yang Mahakudus, yang berarti Tuhan tidak mungkin berkompromi dengan dosa atau menyetujui sebuah kejahatan. Terakhir, Habakuk menyebut Tuhan sebagai gunung batu, yang melambangkan kekuatan agung, perlindungan, dan tempat berpijak yang kokoh.

Dari seluruh pengakuan utuh tentang karakter Tuhan ini, Habakuk tiba pada satu kesimpulan imannya, yaitu bahwa mereka tidak akan mati. Keyakinan ini muncul karena Habakuk berpegang teguh pada kesetiaan Tuhan terhadap perjanjianNya. Meskipun Tuhan akan mendisiplinkan umatNya dan memakai bangsa Babel sebagai alat penghukuman, Tuhan tidak mungkin memusnahkan umat perjanjianNya sendiri.

Mungkin gambar teks yang menyatakan 'A-MASA 8586 (THE N co コリイ'

Seorang tokoh bernama Palmer Robertson pernah mengulas hal ini dengan menyatakan bahwa Habakuk sedang mengaitkan dirinya dan umat Tuhan dengan kekekalan Allah serta kesetiaan perjanjianNya. Karena Yahwe adalah Allah mereka, maka tidak mungkin umatNya akan binasa. Dalam hal ini, Habakuk tidak sedang bersikap arogan dengan mengklaim bahwa ia memahami semua jalan Tuhan. Ia justru sedang bersikap rendah hati dan menegaskan bahwa meskipun ia tidak mengerti apa yang sedang Tuhan kerjakan, ia sangat mengenal siapa Tuhan yang sedang bekerja di balik semua peristiwa itu. Ia tetap berpegang erat pada karakter Tuhan kendati jalan jalanNya terasa begitu membingungkan.

Akan tetapi, berpegang teguh pada karakter Tuhan bukan berarti Habakuk terlepas dari berbagai pertanyaan yang mengganjal hatinya. Justru karena ia sangat mengenal betapa suci dan adil Tuhannya, muncul sebuah pertanyaan baru di benaknya. Habakuk mempertanyakan mengapa mata Tuhan yang terlalu suci untuk melihat kejahatan dan kelaliman justru tampak berdiam diri saat orang fasik menghancurkan orang yang jauh lebih benar.

Melalui pertanyaan ini, Habakuk seolah olah sedang mengungkapkan isi jeritan hatinya yang terdalam. Ia menyampaikan bahwa justru karena ia tahu Tuhan itu sungguh kudus dan adil, ia menjadi sangat tidak mengerti mengapa Tuhan memilih untuk memakai bangsa Babel yang fasik. Habakuk mempertanyakan mengapa Tuhan harus memilih cara pendisiplinan yang menyakitkan seperti itu bagi umatNya, padahal Ia adalah Allah yang karakternya sangat agung dan mulia.

Mungkin gambar teks yang menyatakan 'PERENUNGAN KATEKISMUS'

BERPEGANG DI HADAPAN TUHAN

Habakuk sesungguhnya tidak sedang mempertanyakan Tuhan dari luar pemahamannya, melainkan ia bergumul di dalam relasinya yang intim dengan Tuhan. Walaupun ia tidak memahami cara Tuhan bekerja, ia tetap datang menghadap Tuhan melalui ratapan dan pertanyaan. Hal ini sejalan dengan pandangan James Brockner dalam bukunya yang menyatakan bahwa ratapan dan pertanyaan merupakan anugerah Tuhan bagi orang percaya. Keduanya membuka jalan bagi iman yang jujur serta percakapan yang setia dengan Tuhan di tengah masa masa yang sulit. Oleh karena itu, seseorang yang sungguh mengenal Tuhan tidak perlu berpura pura mengerti segala hal. Ia diizinkan untuk mengakui keterbatasannya untuk mengerti sembari tetap berpegang teguh pada karakter Tuhan yang ia kenal.

Sebagai ilustrasi, beberapa bulan lalu saya dan istri berlibur ke Jogja untuk melihat matahari terbit. Saat perjalanan pulang, saya bersikeras mengikuti panduan GPS meskipun istri saya sudah menyarankan jalur lain. Keputusan itu justru membuat kami tersesat di jalan sempit bertepi jurang.

Istri saya mulai panik dan memprotes arah tujuan kami, sementara saya berusaha menutupi kepanikan demi ego. Pada akhirnya, saya menyadari bahwa insting istri saya ternyata lebih akurat daripada GPS. Walaupun ia merasa takut, bingung, dan kesal karena tersesat, ia sama sekali tidak berpikir bahwa saya berniat mencelakakannya. Ia merasa bebas untuk marah dan mengeluh karena hal itu didasari oleh relasi yang kuat serta kepercayaannya pada karakter saya yang sangat mengasihinya.

Meskipun ilustrasi tersebut memiliki keterbatasan karena Tuhan tidak mungkin salah mengambil jalan atau keputusan, hal ini dapat menggambarkan perasaan Habakuk secara nyata. Ia seakan akan berkata bahwa ia mengenal Tuhan sebagai Yahwe yang tidak mungkin keliru, tetapi justru karena pengenalan itulah ia tidak mengerti mengapa Tuhan memilih jalan yang mempergunakan bangsa jahat seperti Babel. Habakuk bergumul justru karena ia sangat percaya kepada Tuhan, dan ia membawa segala kebingungan itu ke hadapan Nya. Hal ini mengajarkan bahwa ketika manusia tidak mengerti jalan Tuhan, tidak perlu pura-pura menjadi kuat atau menahan segala pertanyaan di dalam hati. Setiap orang boleh datang kepada Tuhan dengan jujur, asalkan kebingungan tersebut tidak dijadikan dasar untuk menyimpulkan hal hal buruk tentang karakter Tuhan.

Mungkin gambar satu orang atau lebih

Terkadang, ketika kenyataan hidup tidak sesuai harapan, manusia tergoda untuk mulai menilai Tuhan dari sudut pandang yang sempit. Keadaan buruk, doa yang belum terjawab, atau maraknya ketidakadilan sering kali membuat manusia berasumsi bahwa Tuhan tidak baik atau sekadar berdiam diri. Namun, bagian ini memberikan pengajaran bahwa saat manusia tidak mengerti jalan Tuhan, kembalilah pada pengenalan akan karakter Nya sebagai Allah perjanjian yang selalu setia dan menjadi gunung batu perlindungan. Keadaan, perasaan, dan pemahaman manusia bisa berubah-ubah serta sangat terbatas, tetapi kesetiaan dan hikmat Tuhan tidak pernah berkurang sedikit pun. Oleh sebab itu, orang percaya boleh datang membawa kejujuran tentang rasa takut dan beban hidup yang berat, lalu memahkotainya dengan pengakuan iman bahwa Tuhan tetap kudus dan baik. Penjelasan atas setiap peristiwa hidup mungkin tidak selalu ada, tetapi karakter Tuhan yang abadi selalu bisa menjadi pegangan yang sangat pasti.

Lebih jauh lagi, Habakuk memaparkan mengapa jawaban Tuhan terasa sangat sulit untuk ia terima. Ia mendeskripsikan betapa jahat dan sombongnya bangsa Babel. Habakuk mengibaratkan umat manusia layaknya ikan di laut yang lemah dan rentan, sedangkan Babel digambarkan sebagai nelayan kejam yang menangkap mereka semua dengan kail, pukat, dan jala. Hal yang membuat Habakuk semakin gelisah adalah kenyataan bahwa Babel tidak hanya melakukan kejahatan, tetapi mereka juga menikmati serta membanggakan kekerasan yang mereka perbuat. Lebih parah lagi, mereka menyembah alat keberhasilan mereka sendiri dan memuja kekuatan serta strategi yang seolah olah menjadi sumber kemenangan mereka tanpa sedikit pun memuliakan Tuhan.

Melalui keluhannya, Habakuk sesungguhnya tidak sedang menginformasikan hal baru kepada Tuhan, karena Tuhan Maha Mengetahui segala kebusukan Babel. Sikap Habakuk ibarat seorang anak yang mengadu kepada ayahnya, mempertanyakan mengapa orang yang sangat jahat justru dibiarkan berkuasa. Habakuk tidak rela melihat kejahatan berjaya dan orang fasik menang. Perasaan ini serupa dengan rasa frustasi ketika menonton film yang diakhiri dengan kemenangan sang tokoh jahat.

Saat ini orang percaya mungkin tidak berhadapan langsung dengan bangsa Babel, tetapi Babel merupakan simbol dari kondisi dunia yang telah rusak akibat dosa dan menolak Tuhan. Babel adalah representasi dari kekuatan, keberhasilan, keamanan, serta kemuliaan diri yang dicapai tanpa ketundukan kepada Sang Pencipta. Menghadapi situasi dunia yang korup dan penuh intrik ini tentu dapat memicu kemarahan. Akan tetapi, narasi ini juga menjadi teguran keras untuk memeriksa hati setiap individu. Babel jatuh pada kesombongan karena menyembah jalanya sendiri. Tanpa disadari, manusia juga kerap tergoda untuk memuja kekayaan, reputasi, jabatan, kesuksesan, atau bahkan pelayanan yang dianggap sebagai penjamin keamanan dan keberhasilan.

Saat melihat ketidakadilan di dunia, manusia tidak seharusnya hanya mempertanyakan mengapa orang lain bisa berbuat demikian, tetapi juga perlu mengevaluasi diri apakah ada keinginan yang sama di dalam hati. Rasa marah terhadap orang fasik yang berhasil seringkali berjalan beriringan dengan rasa iri terhadap mereka. Di titik inilah manusia dituntut untuk bergumul di hadapan Tuhan. Kita harus membawa kemarahan atas dunia yang rusak ini sekaligus menyerahkan hati yang rentan terseret oleh arus dunia. Habakuk memberikan teladan luar biasa untuk tidak menggunakan kebingungan sebagai alasan untuk menjauh, melainkan menjadikannya sarana untuk bergumul bersama Tuhan. Setelah menumpahkan segala keluh kesahnya, Habakuk mengambil sikap iman yang sangat penting, yaitu berdiri tegak, terdiam, dan menantikan apa yang akan Tuhan lakukan selanjutnya.

Mungkin gambar teks yang menyatakan 'UHAN ENGERTI UHAN JADI GPASTI KETIKAJALANTUHAN LANTUHAN BELUM KITA MENGERTI KARAKTER TUHAN TETAP MENJADI PEGANGANYANGPASTI NYANGPASTI PEGANGA'

BERDIAM MENANTIKAN TUHAN

Di dalam kitab Habakuk pasal dua ayat pertama, sang nabi menyatakan tekadnya yang teguh. Ia berseru bahwa ia mau berdiri di tempat pengintaiannya dan tegak di menara untuk meninjau serta menantikan firman dan jawaban Tuhan atas pengaduannya. Pada titik ini, Habakuk belum memiliki semua jawaban. Ancaman kejam bangsa Babel tetap nyata di depan mata dan situasi belum berubah sedikit pun. Namun, sebuah hal yang luar biasa terjadi, Habakuk tidak melarikan diri.

Ia tidak menyerah lalu membuang imannya. Sebaliknya, ia memilih untuk tetap berdiri, menanti, dan mendengar apa yang akan difirmankan Tuhan. Walaupun ia belum mengerti jalan Tuhan, ia sangat percaya bahwa Tuhan tidak pernah kehilangan kendali. Walaupun ia belum melihat gambaran utuh dari rencana Tuhan, ia percaya bahwa Tuhan tidak akan pernah mengecewakan umat Nya.

Sikap Habakuk ini sangat penting untuk kita pelajari, karena salah satu bahaya terbesar saat kita menghadapi pergumulan adalah kehilangan fokus. Ketika penderitaan datang, pandangan kita sering kali seolah tertutup oleh kabut yang sangat tebal. Kita menjadi sulit melihat dengan jelas, dan yang tampak di pelupuk mata hanyalah besarnya masalah, rasa sakit, ketidakadilan, serta doa doa yang belum terjawab. Saat kabut itu terasa semakin pekat, kita mudah lupa bahwa Tuhan sesungguhnya tetap hadir dan memegang kendali penuh atas hidup kita.

Pada tahun 1952, perenang jarak jauh Florence Chadwick mencoba berenang melintasi lautan dari Pulau Catalina menuju pesisir California. Di tengah rasa lelah dan dingin, kabut tebal turun hingga menutupi pandangannya ke garis pantai. Kehilangan pandangan terhadap tujuannya membuat semangat Florence luntur, sehingga ia memutuskan menyerah dan naik ke perahu. Ironisnya, ia baru menyadari bahwa daratan ternyata sudah sangat dekat. Florence berhenti bukan karena ketahanan fisiknya habis, melainkan karena kabut telah merampas fokusnya dari garis akhir.

Terkadang perjalanan hidup kita terasa persis seperti kisah tersebut. Hal yang paling melelahkan bukanlah keberadaan masalah itu sendiri, melainkan saat kita tidak bisa melihat ke mana sebenarnya Tuhan sedang membawa arah hidup kita. Kita mungkin masih terus bertahan, berdoa, melayani, dan mencoba untuk setia. Namun, karena kabut pergumulan terasa terlalu tebal, kita tidak kunjung melihat perubahan, jawaban, maupun titik terang. Di tengah kebingungan itu, kita mulai kehilangan fokus. Kita menganggap keadaan jauh lebih buruk dari aslinya, merasa Tuhan telah pergi menjauh, dan mulai kehilangan harapan.

Sama seperti kita, Habakuk juga belum melihat semua jawaban atau mengetahui bagaimana akhir dari segalanya. Namun, menantikan Tuhan bukanlah sebuah sikap pasif atau sekadar menyerah pada nasib. Menantikan Tuhan adalah sebuah tindakan aktif. Sikap ini adalah bentuk komitmen untuk tetap datang kepada Nya, membuka telinga terhadap firman Nya, dan mempercayakan diri seutuhnya pada karakter Tuhan, sekalipun jawaban yang diterima belum sesuai harapan. Habakuk menanti karena ia menaruh percaya pada Tuhan yang memegang sejarah, yang memiliki kasih kekal, dan yang karakter Nya tidak pernah berubah.

Mungkin gambar saksofon

Salib Sebagai Bukti Kedaulatan dan Kasih Allah

Pertanyaannya, dari mana kita bisa yakin bahwa Tuhan tetap dapat dipercaya saat kita tidak memahami jalan jalan Nya? Jawaban yang paling terang benderang hanya dapat kita temukan di dalam pribadi Yesus Kristus.

Dahulu, penglihatan Habakuk sangatlah terbatas karena ia hanya melihat datangnya kehancuran melalui bangsa Babel. Namun, Tuhan melihat jauh melampaui rentetan peristiwa tersebut. Tuhan sedang mengarahkan sejarah umat manusia menuju karya keselamatan yang jauh lebih agung. Tuhan yang disembah Habakuk sebagai Yahwe dan Gunung Batu, pada akhirnya turun sendiri ke dalam dunia melalui Yesus Kristus. Kedatangan Nya bukanlah untuk menyelesaikan urusan politik bangsa Babel, melainkan untuk membereskan masalah paling mematikan bagi umat manusia, yaitu dosa.

Sang Pencipta yang kekal rela masuk ke dalam ruang waktu yang terbatas dan sudi lahir di tengah dunia yang telah rusak parah akibat dosa. Yesus mengizinkan diri Nya ditangkap oleh jaring kejahatan manusia. Ia menelan pahitnya pengkhianatan, ketidakadilan, kekerasan, fitnah, ejekan, hingga kebencian yang mendalam, yang berujung pada kerelaan Nya untuk disalibkan. Di atas kayu salib itulah, Yesus yang paling suci dan benar justru diperlakukan sebagai sosok yang paling hina dan berdosa.

Melalui peristiwa salib, karakter Allah terpancar dengan paling jelas:

  • Kekudusan Tuhan terbukti, karena dosa sekecil apapun tidak bisa diabaikan dan menuntut penyelesaian.
  • Keadilan Tuhan ditegakkan, karena kejahatan tidak pernah dianggap sebagai perkara ringan.
  • Kasih Tuhan dinyatakan secara sempurna, karena Ia sendiri yang turun tangan menanggung hukuman umat Nya.
  • Kedaulatan Tuhan berjaya, karena sebesar apapun kejahatan manusia tidak akan sanggup menggagalkan rencana keselamatan Nya yang agung.

Oleh karena itu, ketika kita berhadapan dengan jalan Tuhan yang belum bisa kita pahami, kita tidak dipanggil untuk mengerti semuanya. Kita hanya dipanggil untuk kembali menaruh percaya kepada Dia yang telah menyatakan diri Nya di atas kayu salib. Firman Tuhan tidak pernah mengecilkan atau menyederhanakan pertanyaan dan jeritan hati kita. Akan selalu ada misteri dalam hidup yang mungkin tidak akan pernah Tuhan singkapkan seumur hidup kita.

Namun, di tengah segala misteri tersebut, kita tidak pernah dibiarkan tanpa pegangan. Salib Kristus adalah bukti nyata bahwa jalan Tuhan yang kelihatannya paling gelap, paling tidak adil, dan paling tidak masuk akal, justru dirangkai menjadi jalan keselamatan yang paling besar. Sebagai orang percaya, mari kita bawa segala pertanyaan, kebingungan, dan luka kita dengan jujur ke hadapan Tuhan. Di dalam Kristus, kita bukanlah orang asing yang harus menyembunyikan luka, melainkan anak anak yang bebas datang memeluk Bapanya. Mari belajar menantikan Dia dengan sebuah keyakinan teguh bahwa hikmat, kasih, dan kedaulatan Nya jauh lebih besar daripada keterbatasan pengertian kita.

Mungkin gambar saksofon dan piano

REFLEKTIF

• Ketika jalan Tuhan belum saya pahami, apakah saya masih berpegang pada karakter Tuhan yang tidak berubah?

• Apakah saya sedang menantikan Tuhan, atau sebenarnya sedang menuntut Tuhan menjawab sesuai skenario saya?

• Bagaimana Tuhan sedang membentuk hati saya di tengah bagian hidup yang belum saya mengerti?

Mungkin gambar alat musik dan teks

ORANG BERINJIL

  1. Berpegang pada karakter tuhan yang tidak pernah berubah, bahkan ketika jalan-nya belum kita pahami.
  2. Tidak lagi menjauh dari tuhan saat bergumul, tetapi membawa pertanyaan, kebingungan, dan luka kita dengan jujur kepada-nya.
  3. Belajar menantikan dia dengan percaya bahwa hikmat, kasih, dan kedaulatan-nya jauh lebih besar daripada pengertian kita.
Mungkin gambar satu orang atau lebih dan keramaian