When God's Answer Doesn't Make Sense

Gospel Hope in A Restless World – Week 2 “When Answer Doesn’t Make Sense”

Ps. Michael Chrisdion

Mungkin gambar pencahayaan dan teks yang menyatakan 'WAHYU17-18 18 W AHYU 17-18 Babel Babelmenjadi menjadi simbol seluruh peradaban manusia yang berkata: WAHYU17-18 18 WAHYU HOM Babal កដ simbo simbolseluruh seluruh Tya വവയമ്ത്ി seluruh සങ berksta ha borksto manusia yang THE GOSPEL "Kamidapat Kami dapat hiduptanpa hidup tanpa Tuhan.' "Kamidapat hk idup hiduptanpa tanpa tan HOLD WHEN EVERYTHING ELSE IS FALLING FALLING APART'

Saat ini kita sedang mempelajari seri khotbah Gospel Hope in a Restless World melalui kitab Habakuk. Pada perenungan sebelumnya, kita melihat tema When God Seems Silent, ketika Tuhan tampak diam di tengah dunia yang rusak, penuh ketidakadilan, korupsi, kekerasan, dan berbagai bentuk kejahatan. Di tengah realitas tersebut, Habakuk mempertanyakan mengapa Tuhan seolah membiarkan semuanya terus terjadi.

Habakuk hidup pada masa transisi dari Raja Yosia ke Raja Yoyakim. Di bawah kepemimpinan Yosia, reformasi rohani sempat membawa harapan setelah Kitab Taurat ditemukan kembali. Namun, setelah Yosia wafat, Yoyakim memimpin dengan penindasan dan korupsi yang semakin parah. Kondisi inilah yang mendorong Habakuk bergumul dan bertanya tentang pekerjaan Tuhan di tengah bangsanya.

Kini kita beralih kepada jawaban Tuhan. Namun, respons yang diberikan justru jauh dari harapan Habakuk dan terasa tidak masuk akal. Inilah fokus perenungan kita kali ini: ketika jawaban Tuhan malah menimbulkan kebingungan yang lebih besar.

Kitab Habakuk mengajarkan sebuah pelajaran penting. Terkadang bagian tersulit dalam hidup bukanlah ketika Tuhan diam, melainkan ketika Ia menjawab doa kita dengan cara yang sama sekali berbeda dari harapan dan logika kita.

Mungkin gambar teks yang menyatakan 'PERENUNGAN KATEKISMUS'

BACAAN: HABAKUK 1:5-11

1:5 Lihatlah di antara bangsa-bangsa dan perhatikanlah, jadilah heran dan tercengang-cengang, sebab Aku melakukan suatu pekerjaan dalam zamanmu yang tidak akan kamu percayai, jika diceriterakan. 

1:6 Sebab, sesungguhnya, Akulah yang membangkitkan orang Kasdim, bangsa yang garang dan tangkas itu, yang melintasi lintang bujur bumi untuk menduduki tempat kediaman, yang bukan kepunyaan mereka. 

1:7 Bangsa itu dahsyat dan menakutkan; keadilannya dan keluhurannya berasal dari padanya sendiri. 

1:8 Kudanya lebih cepat dari pada macan tutul, dan lebih ganas dari pada serigala pada waktu malam; pasukan berkudanya datang menderap, dari jauh mereka datang, terbang seperti rajawali yang menyambar mangsa. 

1:9 Seluruh bangsa itu datang untuk melakukan kekerasan, serbuan pasukan depannya seperti angin timur, dan mereka mengumpulkan tawanan seperti banyaknya pasir. 

1:10 Raja-raja dicemoohkannya dan penguasa-penguasa menjadi tertawaannya. Ditertawakannya tiap tempat berkubu, ditimbunkannya tanah dan direbutnya tempat itu. 

1:11 Maka berlarilah mereka, seperti angin dan bergerak terus; demikianlah mereka bersalah dengan mendewakan kekuatannya.

Mungkin gambar satu orang atau lebih, pencahayaan dan keramaian

Tidak ada yang keberatan ketika Tuhan mengabulkan doa. Persoalannya muncul saat Tuhan menjawab dengan cara yang berbeda dari harapan kita. Kita berdoa agar pernikahan dipulihkan, tetapi Tuhan menyingkapkan dosa dan egoisme yang tersembunyi. Kita meminta karakter dibentuk, tetapi Tuhan menghadirkan orang-orang yang menguji kesabaran. Kita rindu lebih dekat kepada-Nya, tetapi Tuhan mengizinkan musim sulit yang mengguncang hidup. Percaya bahwa Tuhan berdaulat bukanlah hal yang sulit; tantangannya adalah tetap percaya ketika Ia bekerja melalui cara yang tidak kita sukai. Pergumulan inilah yang juga dialami Habakuk.

Mungkin gambar teks yang menyatakan 'mem S'

TUHAN SEDANG BEKERJA

Sebagai pengingat dari perenungan sebelumnya yang diambil dari kitab Habakuk pasal 1:2-4, sang nabi melontarkan sebuah pertanyaan kritis. Ia bertanya-tanya mengapa kejahatan seakan dibiarkan terjadi dan jika Tuhan memang berkuasa, mengapa ketidakadilan terus saja menang. Namun, pertanyaan tersebut bukanlah indikasi hilangnya iman. Sebaliknya, justru karena Habakuk sangat percaya kepada Tuhan, ia berani membawa seluruh pergumulan, keraguan, kemarahan, serta gejolak emosinya langsung ke hadapan Tuhan.

Itulah definisi iman yang sejati. Iman yang teguh bukan berarti kita tidak pernah memiliki pertanyaan, melainkan sebuah keberanian dan ketulusan untuk membawa setiap pertanyaan serta kebingungan tersebut langsung kepada pencipta kita.

Kini kita dihadapkan pada kenyataan bahwa pada akhirnya Tuhan memberikan jawaban atas seruan Habakuk. Hal yang paling menarik adalah puncak pergumulan sang nabi tidak dimulai pada saat Tuhan terdiam, melainkan justru ketika Tuhan mulai berbicara.

“Lihatlah di antara bangsa bangsa dan perhatikanlah. Jadilah heran dan tercengang cengang, sebab Aku melakukan suatu pekerjaan dalam zamanmu yang tidak akan kamu percayai jika diceritakan.” (Habakuk 1:5)

Di saat Habakuk merasa bahwa Tuhan bersikap pasif, Tuhan justru menegaskan bahwa Ia sedang bekerja secara luar biasa.

Kita pun sering terjebak dalam pola pikir yang sama dengan menganggap Tuhan diam atau terlambat menolong kita. Kita kerap kali mengeluh dan mempertanyakan letak kasih Tuhan saat kemalangan menimpa, seolah olah kita merasa standar kasih dan keadilan kita jauh lebih tinggi daripada milik sang Pencipta. Padahal, Alkitab berulang kali mengingatkan kita bahwa ketidakhadiran yang sekadar tampak oleh mata fisik sama sekali bukan berarti ketidakhadiran yang nyata. Tuhan selalu bekerja, dan selalu tepat waktu.

Habakuk hanya mampu melihat realita dalam batasan satu generasi. Demikian pula kita yang mungkin hanya mampu melihat rentang waktu satu minggu atau satu tahun ke depan. Di sisi lain, Tuhan melihat keseluruhan bingkai sejarah umat manusia.

Mungkin gambar satu orang atau lebih dan pencahayaan

Tim Keller pernah menyampaikan sebuah pandangan mendalam bahwa ketika manusia hanya mampu melihat kebingungan, Tuhan sejatinya sedang menatap keseluruhan alur cerita. Saat kita merasa bahwa Ia berdiam diri, Tuhan sebenarnya sedang mengerjakan jauh lebih banyak hal daripada yang sanggup kita sadari. Kita hanya melihat secuil peristiwa, sementara Ia menguasai segalanya secara utuh.

Perbedaan perspektif ini dapat digambarkan melalui beberapa ilustrasi. Seorang anak yang takut kepada dokter gigi menganggap orang tuanya kejam karena hanya melihat rasa sakit, padahal orang tuanya mengetahui bahwa tindakan itu diperlukan untuk kesembuhannya. Demikian pula, kita sering hanya melihat penderitaan saat ini, sementara Tuhan melihat tujuan yang lebih besar. Seperti bagian bawah karpet Persia yang tampak kusut, hidup kita sering terlihat tidak beraturan, tetapi dari sudut pandang Tuhan semuanya membentuk pola yang indah. Atau seperti penumpang pesawat yang panik saat turbulensi, sementara pilot tetap tenang karena melihat instrumen, cuaca, dan tujuan akhir perjalanan. Kita hanya melihat guncangan sesaat, tetapi Tuhan melihat keseluruhan perjalanan.

Habakuk berada di kursi penumpang, sementara Tuhan memegang kendali sebagai pilot. Kita sering hanya melihat guncangan hidup, tetapi Tuhan melihat tujuan akhirnya. Kita melihat kehilangan, Tuhan melihat pembentukan; kita merasakan penderitaan, Tuhan sedang mendewasakan; kita mengeluhkan keterlambatan, Tuhan bekerja menurut waktu yang sempurna. Karena itu, kita tidak dapat menilai pekerjaan Tuhan hanya dari kesulitan yang sedang terjadi.

Namun seringkali masalahnya bukan sekadar percaya bahwa Tuhan bekerja, melainkan menerima cara-Nya bekerja. Inilah pergumulan Habakuk ketika Tuhan berkata, “Sesungguhnya Akulah yang membangkitkan orang Kasdim” (Hab. 1:6). Habakuk berharap kebangunan rohani dan pemulihan, tetapi Tuhan justru memakai bangsa Babel yang kejam dan sombong sebagai alat penghukuman dan pemurnian. Jawaban Tuhan bukan hanya di luar dugaan Habakuk, tetapi juga bertentangan dengan harapannya. Meski Babel bukan bangsa yang saleh, dalam kedaulatan-Nya Tuhan tetap memilih dan memakai mereka untuk menggenapi rencana-Nya.

Keterangan foto tidak tersedia.

TUHAN MEMAKAI BABEL

Jika kita memperhatikan ayat-ayat berikutnya, Babel digambarkan sebagai bangsa yang sangat kejam. Mereka menjarah, membunuh, dan menghancurkan bangsa-bangsa lain tanpa belas kasihan. Namun dalam Alkitab, Babel bukan hanya nama sebuah bangsa atau wilayah geografis. Babel juga menjadi simbol dari hati manusia dan peradaban yang berusaha hidup dengan kekuatannya sendiri tanpa Tuhan.

Akar dari semangat Babel sudah terlihat sejak pembangunan Menara Babel dalam Kejadian 11:4. Manusia berkata, “Mari kita membuat nama bagi diri kita,” menunjukkan keinginan untuk memuliakan diri sendiri, bukan Allah. Semangat yang sama muncul kembali pada Raja Nebukadnezar dalam Daniel 4:30 ketika ia membanggakan kerajaannya dengan berkata bahwa semuanya dibangun oleh kekuatannya dan untuk kemuliaannya. Namun kesombongan itu segera dihakimi Tuhan, sehingga ia kehilangan kewarasannya untuk suatu waktu.

Karena itu, Babel dalam seluruh Alkitab menjadi lambang kesombongan manusia yang ingin menjadi tuan atas hidupnya sendiri. Bahkan dalam kitab Wahyu, Babel tetap melambangkan peradaban yang merasa tidak membutuhkan Tuhan. Seperti yang dikatakan Palmer Robertson, Babel adalah gambaran kesombongan manusia yang terorganisir dan diwujudkan dalam sebuah sistem peradaban.

Hal yang paling mengejutkan dan mengguncang iman adalah fakta bahwa Tuhan justru memakai Babel. Tuhan memilih untuk memakai bangsa yang terkenal sombong, kejam, bengis, dan sangat jahat. Di titik inilah fondasi teologi Habakuk runtuh seketika. Selama ini, Habakuk hanya memiliki kerangka berpikir bahwa Tuhan akan memakai orang baik, para nabi, atau raja yang diurapi. Ia sama sekali tidak memiliki ruang pemahaman bahwa Tuhan yang maha suci bisa memakai sebuah entitas yang sangat jahat untuk mencapai tujuanNya.

Bukankah ini juga yang sering menjadi akar pergumulan hidup kita? Kita sangat mudah memuji Tuhan ketika Ia bekerja melalui gereja, hamba Tuhan, atau orang orang baik di sekitar kita. Namun, pertanyaan kritisnya adalah:

  • Bagaimana jika Tuhan memakai krisis ekonomi untuk mengguncang berhala berhala kenyamanan kita?
  • Bagaimana jika Tuhan memakai kegagalan bisnis, kehancuran pernikahan, atau kemerosotan anak anak untuk membentuk jati diri kita?
  • Bagaimana jika Tuhan mengizinkan penyakit kanker, kelemahan tubuh, atau pengkhianatan orang terdekat sebagai bagian dari rencanaNya?
Mungkin gambar teks yang menyatakan 'MELALUI SALIB YESUS KRISTUS YANG TAMPAK SEPERTI KEKALAHAN TERBESAR... YANG TAMPAK SEPERTI KEGAGALAN BESAR... KEMENANGAN TERBESAR. YANG TAMPAK SEPERTI TUHAN KEHILANGAN KEDAULATAN-NYA... KESELAMATAN TERBESAR. MOMEN KETIKA TUHAN PALING BERDAULATD DAN MEMEGANG KENDALI.'

Ketika hal hal buruk ini terjadi, kita serta merta merasa tidak nyaman. Kita mulai memprotes dan merasa bahwa kedaulatan Tuhan tidak sejalan dengan keinginan kita. Kita merasa standar kasih dan keadilan kita jauh lebih sempurna daripada milik Tuhan. Inilah pergumulan nyata yang dialami Habakuk, dan puji Tuhan, pergumulan jujur ini dicatat di dalam Alkitab agar kita bisa belajar darinya.

Mari kita bedah realita budaya kita saat ini. Semangat Babel tidak pernah sungguh sungguh hilang; ia hanya berganti pakaian mengikuti zaman.

  • Jika dulu orang orang Babel berseru mari kita bangun menara batu, manusia hari ini berseru mari kita bangun platform, kerajaan bisnis, dan personal branding raksasa.
  • Jika dulu manusia menolak Tuhan demi bangunan fisik, hari ini manusia merasa tidak membutuhkan Tuhan karena kemajuan ekonomi dan teknologi.
  • Banyak orang mulai berhenti berdoa dan lebih memilih mencari jawaban kehidupan melalui kecerdasan buatan seperti AI, Gemini, Claude, atau ChatGPT. Muncul sebuah arogansi modern yang berkata, untuk apa membutuhkan Tuhan jika kita memiliki teknologi yang tahu segalanya?

Harus dipahami dengan jelas bahwa teknologi, AI, maupun kemajuan ekonomi bukanlah musuh kita. Akar permasalahan Babel selalu terletak pada hati manusia yang berdosa. Dosa bukan sekadar tindakan melanggar aturan moral, melainkan sebuah hasrat untuk mengambil alih posisi Tuhan di atas takhta kehidupan kita.

Kita sering kali merasa peradaban kita sudah terlalu maju. Kita merasa ilmu medis modern sanggup menaklukkan segalanya, namun kenyataannya pandemi berskala global tetap melumpuhkan dunia. Kita merasa sistem ekonomi global terlalu kuat untuk hancur, namun resesi dan keruntuhan pasar tetap melanda berbagai negara. Kita sangat berharap teknologi bisa menjadi juru selamat, namun yang terjadi justru lonjakan kasus kecemasan, kesepian, dan ketidakpastian baru. Babel selalu menebar janji janji manis tentang keselamatan dan ketenangan abadi, tetapi ia tidak akan pernah sanggup memberikannya.

Di sinilah letak kejutan besarnya. Tuhan sanggup dan bersedia memakai penderitaan, kebingungan, dan masa masa kelam yang sedang kita alami saat ini untuk menggenapi tujuan agungNya.

Mari kita renungkan sebuah analogi menarik dari film Lord of the Rings. Semua karakter dalam cerita tersebut berlomba lomba memperebutkan satu cincin kekuasaan. Mereka merasa jika mereka berhasil menguasai cincin itu, mereka akan mampu memperbaiki dunia dan mencapai kepuasan sejati. Namun realitanya sangat bertolak belakang. Semakin erat mereka menggenggam cincin itu, semakin jiwa mereka diperbudak olehnya. Semakin mereka berusaha mengontrol cincin itu, cincin itulah yang akhirnya mengontrol seluruh kehidupan mereka.

Hal ini adalah cerminan akurat dari hasrat kita untuk mengontrol kehidupan. Kita berpikir bahwa kebahagiaan akan tercapai jika kita bisa mengontrol masa depan bisnis, tumpukan uang, atau masa depan anak anak kita. Padahal, semakin keras kita berusaha mengontrol segalanya, semakin kita dikendalikan oleh ketakutan ketakutan itu sendiri. Uang, bisnis, dan segala ambisi itu justru berbalik menjadi majikan yang kejam.

Itulah alasan utama mengapa jawaban Tuhan sering kali terasa mengganggu zona nyaman kita. Jawaban Tuhan datang layaknya palu godam untuk menghancurkan ilusi kendali yang selama ini kita pertahankan mati matian. Jangan jangan, jawaban yang membingungkan atas doa doa kita saat ini adalah cara Tuhan menyelamatkan kita dari diri kita sendiri.

Pada akhirnya, tantangan terbesar bagi Habakuk dan juga bagi kita bukanlah semata mata menghadapi kejahatan Babel. Ujian iman yang sesungguhnya adalah apakah kita tetap bersedia mempercayai Tuhan, bahkan di saat cara kerjaNya sama sekali tidak bisa dipahami oleh keterbatasan akal sehat kita.

Mungkin gambar pencahayaan

KETIKA CARA TUHAN SULIT DIPAHAMI

Memasuki bagian ini, kita berhadapan dengan pergumulan yang juga dialami Habakuk. Kita percaya bahwa Tuhan berdaulat, tetapi sering kali sulit menerima cara-Nya memakai kedaulatan itu. Pada dasarnya kita ingin dipimpin Tuhan, namun hanya jika Ia membawa kita ke arah yang kita sukai dan sesuai dengan rencana kita.

Kita berdoa agar Tuhan membuka pintu dan melakukan mukjizat, tetapi sering kali kita juga menentukan pintu mana yang harus dibuka dan kapan itu harus terjadi. Ketika Tuhan menjawab dengan cara yang tidak sesuai logika atau harapan kita, pergumulan iman yang sesungguhnya pun dimulai.

Karena itu Yesaya 55:8–9 mengingatkan bahwa rancangan dan jalan Tuhan jauh lebih tinggi daripada rancangan dan jalan manusia. Tuhan yang sejati tidak dapat dibatasi oleh cara berpikir kita. Ia tidak selalu memberikan penjelasan lengkap atau peta masa depan yang terperinci. Sebaliknya, Ia memimpin kita selangkah demi selangkah dan menggantikan tuntutan akan kepastian dengan janji penyertaan-Nya. Sering kali, tantangan terbesar bagi iman bukanlah percaya bahwa Tuhan memimpin, melainkan mempercayai-Nya ketika jalan yang Ia pilih berbeda dari yang kita inginkan.

Karena Anda sedang mengedit naskah khotbah, berikut versi yang lebih padat tetapi tetap mempertahankan kekuatan narasi dan transisi teologisnya:

Beberapa tahun sebelum saya benar-benar memahami Injil, saya sudah aktif melayani sebagai hamba Tuhan. Saya rela menjual mobil untuk membiayai perjalanan misi ke berbagai daerah pedalaman. Namun di balik semua itu, saya menyimpan teologi transaksi yang keliru: saya percaya bahwa jika saya mengurus bisnis Tuhan, maka Tuhan pasti akan mengurus bisnis saya.

Dengan keyakinan itu, saya membangun bisnis secara agresif, bahkan mengagunkan dua rumah untuk ekspansi usaha. Namun ketika krisis ekonomi 2008 datang, semuanya runtuh. Bisnis tutup satu per satu, rumah disita, utang menumpuk, dan doa-doa saya seolah tidak mendapat jawaban.

Titik terendahnya terjadi ketika saya hendak membelikan anak saya makanan di sebuah restoran cepat saji. Kartu kredit saya ditolak di depan antrean yang panjang. Seorang teman yang kebetulan melihat akhirnya membayarkan makanan tersebut. Setelah itu saya duduk dan menangis. Saya marah kepada Tuhan. Dalam hati saya bertanya, setelah semua pelayanan dan pengorbanan yang saya lakukan, mengapa Ia membiarkan semua ini terjadi?

Mungkin gambar satu orang atau lebih dan gitar

Dalam perjalanan pulang, saya mendengarkan sebuah khotbah dengan kalimat yang menembus hati saya: “Kasih karunia Tuhan menjadi sempurna dalam kelemahanmu.” Melalui pelayanan John Piper dan Timothy Keller, saya mulai mengenal dimensi Injil yang selama ini asing bagi saya: berjalan bersama Tuhan di tengah penderitaan, bukan sekadar mengejar terobosan dan kesuksesan.

Di masa itulah saya menyadari bahwa saya sedang berada di padang gurun. Di sana Tuhan menghancurkan berhala-berhala yang selama ini saya andalkan. Ketika semua yang saya banggakan lenyap, saya akhirnya memahami bahwa harta terbesar saya bukanlah keberhasilan bisnis atau pencapaian pelayanan, melainkan Kristus sendiri.

Pada akhirnya Tuhan memulihkan kehidupan, pernikahan, dan keuangan kami. Namun itu bukan poin utamanya. Yang paling saya syukuri adalah Tuhan mengizinkan kehancuran itu terjadi, karena tanpa melewati masa-masa tersebut saya mungkin akan terus menyembah versi ideal diri saya sendiri dan tidak pernah sungguh-sungguh dibentuk oleh-Nya.

Tahukah Anda apa cara Tuhan yang paling sulit dipahami dalam sejarah? Jawabannya adalah salib Kristus.

Bayangkan Anda adalah salah satu murid Yesus pada Jumat Agung. Sang Mesias yang berkuasa membangkitkan orang mati justru ditangkap, disiksa, dan disalibkan. Tidak ada seorang pun di Golgota yang menganggap rencana Tuhan sedang berjalan dengan baik. Yang terlihat hanyalah kegagalan, ketidakadilan, dan hancurnya seluruh harapan.

Namun pada hari Pentakosta, Petrus menjelaskan bahwa semua itu terjadi "sesuai dengan maksud dan rencana Allah" (Kis. 2:23). Kematian Yesus bukan kecelakaan sejarah. Tuhan memakai pengkhianatan, kejahatan manusia, dan salib yang hina untuk menggenapi rencana keselamatan-Nya. Melalui apa yang tampak sebagai kekalahan terbesar, Tuhan justru menghadirkan kemenangan terbesar atas dosa dan maut.

Pada dasarnya, salib adalah kisah Habakuk dalam skala yang lebih besar. Apa yang tampak sebagai kekacauan ternyata berada dalam kendali Tuhan. Tiga hari kemudian, kebangkitan Kristus membuktikan bahwa Allah sanggup mengubah kejahatan terburuk menjadi kebaikan yang paling mulia.

Karena itu, pengharapan orang Kristen tidak dibangun di atas keadaan yang selalu masuk akal atau jawaban doa yang selalu sesuai harapan, melainkan di atas karya salib. Habakuk dan para murid sama-sama belajar bahwa iman bukanlah kemampuan memahami segala sesuatu, melainkan keberanian mempercayai Pribadi yang memegang segala sesuatu.

Tangan yang sedang memimpin hidup Anda hari ini adalah tangan yang sama yang pernah dipaku di kayu salib. Anda mungkin belum memahami rencana-Nya, tetapi melalui salib Anda dapat melihat hati-Nya. Jika Tuhan sanggup memakai pengkhianatan Yudas, kepengecutan Pilatus, dan kematian Anak-Nya sendiri untuk mendatangkan keselamatan, maka Ia juga sanggup memakai bagian-bagian hidup Anda yang paling membingungkan untuk mendatangkan kemuliaan bagi nama-Nya dan kebaikan bagi Anda.

Mungkin gambar satu orang atau lebih

IMPLIKASI INJIL DALAM KEHIDUPAN KITA

1. Iman yang Bertahan di Tengah Ketidakpastian

Orang yang berpusat pada Injil tetap mampu beriman meskipun jawaban Tuhan terasa tidak masuk akal. Hal ini terjadi karena ia sadar bahwa Tuhan sedang merangkai rencana agung yang melampaui logika manusia. Kita hanya mampu memproyeksikan waktu yang singkat, sementara Tuhan melihat keseluruhan sejarah hingga menembus kekekalan.

Sama seperti analogi permadani Persia, dari bawah kita hanya melihat benang benang kusut yang berantakan, tetapi Tuhan melihat mahakarya yang sempurna dari atas. Sesuai dengan janji dalam Roma pasal 8 ayat 28, Allah turut bekerja dalam segala sesuatu termasuk melalui penderitaan dan kebingungan untuk mendatangkan kebaikan bagi umatNya.

2. Berhenti Mengukur Kasih Tuhan dari Situasi

Jangan pernah menjadikan kondisi stabilitas keuangan, kesehatan fisik, atau kelancaran rencana pribadi sebagai tolok ukur kasih Tuhan. Alasan utamanya adalah Tuhan sering kali melakukan pembentukan karakter terbesar justru melalui rentetan peristiwa yang paling menyesakkan.

Ketika saya duduk menangis di sebuah restoran cepat saji akibat kebangkrutan yang menghancurkan semua usaha saya, saya sama sekali buta terhadap rencana Tuhan. Namun saat menoleh ke belakang hari ini, saya justru sangat bersyukur atas kehancuran tersebut karena melaluinya Tuhan menyelamatkan dan membentuk ulang hidup saya. Kita mungkin tidak mengerti sekarang, tetapi belajarlah untuk tidak menilai kasih Tuhan hanya dari kesulitan yang sedang mendera hari ini.

3. Ketenangan Batin di Tengah Badai Pergumulan

Ketenangan sejati lahir dari sebuah keyakinan absolut: tangan perkasa yang kini memegang kendali dan mengatur seluruh roda sejarah dunia adalah sepasang tangan yang sama, yang rela dipaku di kayu salib demi menebus kita.

Jika Tuhan sanggup memakai salib yang identik dengan kekalahan dan kehinaan menjadi instrumen kemenangan terbesar sepanjang masa, maka kita sangat pantas mempercayaiNya saat jalan hidup terasa buntu. Di titik kedamaian itu kita bisa berdoa, "Tuhan, aku sungguh tidak memahami misteri jalanMu, tetapi aku menaruh percaya sepenuhnya pada kebaikan hatiMu."

Mungkin gambar satu orang atau lebih dan keramaian

REFLEKSI DIRI

Sebagai penutup, mari meneduhkan hati sejenak dan merenungkan beberapa hal berikut ke dalam kedalaman jiwa secara jujur:

  • Bagian hidup manakah yang selama ini memicu protes di batin dan membuat Anda berseru bahwa jawaban Tuhan tidak masuk akal?
  • Jika Tuhan pada akhirnya memilih untuk tidak mengubah keadaan sesuai dengan ekspektasi Anda, apakah Anda masih bersedia mengakui dan menyembah Dia sebagai Allah yang baik?
  • Apakah wujud Babel Babel modern yang selama ini Anda bangun? Apakah obsesi pada karier, keamanan finansial, atau pengakuan manusia yang diam diam memberi Anda ilusi rasa aman?

Lepaskanlah genggaman tangan Anda atas segala ilusi kendali tersebut. Serahkan seluruh kehidupan Anda ke dalam otoritas Tuhan, dan arahkan pandangan Anda hanya kepada Kristus sang Jangkar Pengharapan yang sejati.