Hadiah Terbesar bagi Kita

Silsilah Anugerah dalam Kelahiran Kristus – ADVENT WEEK 5 "Hadiah Terbesar bagi Kita (Kisah Maria)” 

Ps. Michael Chrisdion

 

Selamat hari Natal. What a wonderful news. Hari yang penuh sukacita karena Yesus Kristus, Sang Juru Selamat, telah lahir ke dalam dunia. Dia yang mulia rela menjadi hina. Dia yang kuat merengkuh kerapuhan manusia. Dia datang untuk menyelamatkan manusia yang adalah musuh Allah, menyelamatkan manusia yang rapuh agar dikuatkan, didampingi, dan dijadikan anak anak Allah. Hari ini khotbah berseri kembali diteruskan, ini adalah bagian terakhir dari rangkaian Silsilah Anugerah dalam kelahiran Yesus Kristus. Pada kesempatan ini kita masuk ke dalam kisah Maria. 

Kita akan membaca bersama beberapa ayat dari perikop Lukas 1:26-45. Di bagian ini diceritakan bagaimana malaikat Tuhan yang bernama Gabriel menampakkan diri kepada Maria. Ia menyampaikan nubuat dan pesan tentang kelahiran Yesus Kristus Sang Mesias melalui rahim Maria. Kita juga akan melihat bagaimana respons Maria dan apa yang bisa dipelajari dari perjumpaan ini.

Namun sebelum masuk lebih jauh ke dalam kisah Maria, ada satu pernyataan yang perlu direnungkan bersama. Sering kali Natal terasa terlalu familiar. Terasa biasa. Ceritanya sudah diketahui. Lagu lagunya dikenal. Dekorasinya mudah dikenali. Bahkan ayat ayatnya sudah sangat akrab. Justru karena semuanya terasa dikenal, Natal sering kali tidak lagi menggetarkan dan mengejutkan. Banyak orang tahu Yesus lahir. Banyak orang tahu tentang Maria, malaikat, dan palungan. Namun dengan jujur harus diakui, tidak sedikit orang datang ke ibadah Natal bukan untuk menerima sesuatu yang benar benar mengubah hidup.

Padahal Natal bukan sesuatu yang biasa. Natal sebenarnya adalah kabar yang aneh. Bahkan bisa dikatakan tidak sopan. Tidak sopan secara intelektual, tidak sopan secara religius, bahkan tidak sopan secara budaya. Natal menyatakan bahwa Allah Yang Mahakuasa menjadi bayi. Ini bukan sekadar kabar yang menghangatkan hati, melainkan kabar yang mengguncangkan seluruh kategori berpikir manusia.

Bayangkan jika hari ini ada seseorang berkata, Aku percaya Sang Pencipta alam semesta pernah menjadi satu sel biologis. Tidak mungkin responnya adalah kekaguman. Yang muncul justru kebingungan. Apa maksudnya. Kok terdengar aneh. Di situlah terlihat bahwa kabar Natal memang bukan kabar yang biasa. Ini adalah kabar yang menabrak cara manusia memahami realitas.

Karena itu muncul satu pertanyaan penting. Jika Allah sungguh datang ke dunia dengan cara seperti ini, kepada siapa Ia memilih untuk datang pertama kali?. Bukan ke istana. Bukan ke pusat kekuasaan. Bukan kepada mereka yang tampak sempurna secara moral atau religius. Allah selalu memulai karya keselamatan di tempat yang tidak diduga, melalui orang orang yang sering kali tidak dipilih oleh manusia.

Itulah sebabnya ketika membaca silsilah Yesus selama beberapa minggu terakhir, yang ditemukan bukanlah cerita yang rapi dan ideal. Yang muncul justru kisah kisah yang hancur, penuh skandal, penuh retakan. Namun di situlah jejak anugerah terlihat nyata. Anugerah bekerja di tengah hidup manusia yang rusak.

Hari ini kita tiba pada titik pertemuan dari semua kisah itu. Bukan pada seorang raja. Bukan pada seorang imam. Melainkan pada seorang gadis muda yang sederhana bernama Maria.

Maria sering dibayangkan sebagai figur yang lembut dan tenang. Namun Alkitab tidak memperkenalkannya sebagai ikon religius. Ia diperkenalkan sebagai manusia biasa yang secara tiba tiba berhadapan dengan kabar yang mengguncangkan seluruh hidupnya. Justru di sinilah Natal menjadi nyata.

Melalui kisah Maria, kita akan melihat dua hal. Pertama tentang hadiah Natal itu sendiri. Apa sebenarnya isi hadiah Natal dari Tuhan. Kedua tentang bagaimana hadiah itu dapat dibuka oleh setiap orang yang mendengarnya.

Kita mulai dengan pertanyaan pertama. Apa isi hadiah Natal dari Tuhan. Jawabannya kita temukan dalam kisah Maria.

LUKAS 1:31-35

1:31 Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. 1:32 Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya, 1:33 dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan." 1:34 Kata Maria kepada malaikat itu: "Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?" 1:35 Jawab malaikat itu kepadanya: "Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah. 

Dari ayat ayat ini terlihat dengan jelas siapa Anak yang akan lahir itu. Ia disebut Anak Allah. Ia disebut Raja yang kekal. Ia disebut Kudus. Ia disebut Tuhan. Pertanyaannya, anak macam apa yang memiliki atribut kekekalan seperti ini. Ia akan disebut Anak Allah. Ia akan menerima takhta Daud dan memerintah sampai selama lamanya. Ia lahir bukan melalui kehadiran seorang pria, melainkan melalui kuasa Yang Mahatinggi.

Malaikat menegaskan bahwa kehamilan Maria bukan terjadi karena relasi manusiawi, melainkan karena karya Allah sendiri. Oleh sebab itu, Anak yang lahir itu disebut Kudus, Anak Allah. Dalam seluruh Alkitab, yang benar benar disebut Kudus secara absolut hanyalah Allah sendiri. Bukan sekadar kudus relatif, tetapi Yang Kudus sepenuhnya.

Ketika Maria mendengar semua ini, ia tidak langsung bersukacita dan menyanyi. Magnificat baru muncul kemudian. Pada titik ini hatinya masih bergumul. Tuhan kemudian mempertemukan Maria dengan Elisabet. Di sanalah pemahaman Maria semakin dibukakan.

Apa yang dikatakan oleh Elisabet di bagian berikutnya sangat penting. Lukas 1:41-43 dan 45 berkata demikian. 

1:41 Dan ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabetpun penuh dengan Roh Kudus, 1:42 lalu berseru dengan suara nyaring: "Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. 1:43 Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? 1:44 Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai kepada telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan. 1:45 Dan berbahagialah ia, yang telah percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana."

Perhatikan dua frasa penting di sini. Ibu Tuhanku dan dari Tuhan. Kata Tuhan yang digunakan adalah kata yang sama. Artinya Tuhan yang mengutus malaikat adalah Tuhan yang ada di dalam rahim Maria. Roh Kudus menyatakan kepada Elisabet bahwa bayi di dalam rahim itu adalah Tuhan yang sama dalam keilahian Nya.

Inilah signifikansi yang luar biasa. Di sini terlihat benih yang mendorong gereja mula mula kepada doktrin Tritunggal. Allah yang mengutus. Allah yang menjadi bayi. Roh Kudus yang bekerja dan mengurapi. Satu Allah dalam tiga pribadi yang setara dalam keilahian.

Natal membuat klaim yang menghancurkan cara manusia memahami Tuhan. Yang tak terbatas menjadi terbatas. Yang kekal menjadi fana. Yang Mahakuasa masuk ke dalam rahim seorang perempuan dan menjadi bayi yang lemah. Sang Pencipta menjadi janin. Tidak ada agama lain yang berani menyatakan hal seperti ini.

Jika semua ini benar, maka Natal bukan sekadar menghadirkan sosok yang dikagumi. Natal menghadirkan kebenaran yang harus diterima dan realitas yang harus ditempatkan di pusat hidup. Itulah sebabnya ayat 45 sangat penting. Berbahagialah ia yang percaya.

Pernyataan ini tidak hanya ditujukan kepada Maria. Roh Kudus mengarahkan kata kata ini juga kepada setiap pembaca. Natal bukan hanya tentang siapa Yesus, tetapi tentang apa maknanya bagi hidup kita. Jika ini bukan simbol atau metafora, melainkan realitas, maka percaya kepada kebenaran ini akan mengubah hidup.

Kata berbahagia di sini bukan sekadar perasaan terinspirasi. Kata aslinya adalah makarios. Artinya pemulihan yang utuh. Shalom yang penuh. Ketika wajah Tuhan diangkat dan cahaya hadirat Nya menyinari hidup, manusia dipulihkan secara menyeluruh. Psikologis, relasional, sosial, dan spiritual.

Seakan Elisabet berkata, Jika kamu percaya ini, hidupmu akan diubahkan secara total. Natal membawa kehidupan yang baru.

Di dalam paket Natal itu sendiri terdapat banyak hal. Beberapa di antaranya dibahas oleh Timothy Keller dalam bukunya Hidden Christmas. Ketika seseorang sungguh percaya kepada makna Natal, cara pandang hidupnya akan berubah. Pertanyaannya kemudian, mengapa Tuhan memilih datang sebagai bayi yang sederhana, bukan sebagai raja di istana. Inilah hadiah pertama yang mengubah cara manusia melihat hidup.

Hadiah Natal yang pertama berbicara tentang kerentanan dan keintiman. 

Dua hal ini menjadi sorotan penting dalam makna Natal. Kerentanan di dalam keintiman. Sebuah ungkapan yang mungkin terdengar sederhana, tetapi menyimpan kedalaman yang besar. Dalam salah satu buku dikatakan, God became breakable to restore relationship. Allah menjadi rapuh untuk memulihkan relasi.

Untuk memahami ini, bayangkan setiap relasi yang dekat dalam hidup manusia. Pernikahan, hubungan orang tua dan anak, persahabatan, bahkan relasi dalam tim pelayanan. Semua relasi ini pasti pernah masuk ke dalam momen konflik. Ketika konflik terjadi, apa yang biasanya muncul pertama kali. Saling menyalahkan. Setiap pihak merasa benar. Yang satu berkata kamu yang salah, yang lain menjawab tidak, kamu yang salah. Percakapan itu berputar tanpa ujung.

Ketika konflik itu diceritakan kepada orang lain, narasinya hampir selalu sama. Aku tidak salah. Aku benar. Dia yang salah. Pihak lain pun menceritakan hal yang sama dari sudut pandangnya sendiri. Akibatnya relasi perlahan runtuh. Bukan semata karena masalahnya, tetapi karena tidak ada yang mau mengalah. Tidak ada yang mau bergeser. Tidak ada yang mau mengakui kesalahan.

Sering kali masing masing pihak sebenarnya sadar bahwa dirinya tidak sepenuhnya benar. Mungkin ada sebagian kecil kesalahan. Namun pengakuan itu terasa terlalu mahal. Mengapa harus meminta maaf jika merasa sebagian besar berada di pihak yang benar. Pola ini terus berulang. Setiap orang merasa sebagai korban. Setiap orang menunggu pihak lain yang lebih dulu merendahkan diri.

Dalam relasi pernikahan hal ini juga sering terjadi. Selama tidak ada yang mau mengaku salah, konflik akan terus berlanjut. Diam berkepanjangan, jarak emosional, dan kelelahan batin menjadi hal yang biasa. Lalu apa yang biasanya menjadi titik balik rekonsiliasi. Satu kalimat sederhana namun mahal. Aku yang salah. Aku minta maaf.

Ketika salah satu pihak menurunkan pertahanannya dan mulai merendahkan diri, meskipun terasa tidak adil dan menyakitkan, sesuatu mulai berubah. Relasi perlahan disembuhkan. Bahkan tidak jarang relasi itu menjadi lebih dalam dari sebelumnya. Ada keintiman yang baru. Ada respek yang lebih besar kepada pihak yang lebih dulu mengambil inisiatif untuk berkorban secara relasional.

Di situlah terlihat satu kebenaran penting. Sering kali satu satunya cara sebuah relasi berhenti rusak adalah ketika seseorang rela merendahkan diri dan berkata, aku salah. Dari pengorbanan itulah keintiman lahir. Ada penebusan yang mahal di dalamnya.

C S Lewis pernah berkata dalam salah satu tulisannya bahwa jika seseorang tidak mau hatinya hancur, jangan pernah memberikannya kepada siapa pun. Hati itu memang akan aman, tetapi juga akan menjadi keras dan tidak lagi bisa ditebus. Maksudnya jelas. Tidak ada relasi tanpa kerentanan. Tidak ada kedalaman tanpa risiko terluka.

Di sinilah keunikan iman Kristen terlihat dengan sangat jelas. Allah yang Mahakuasa menjadi rapuh. Allah yang tak tersentuh rela disakiti. Allah yang tak terkalahkan menjadi bayi. Allah yang kekal rela mati. Semua itu dilakukan untuk menebus umat Nya. Allah tidak mempertahankan ego. Tidak bersikap arogan. Justru Allah yang mengambil inisiatif. Allah yang mencari manusia. Allah yang berkorban untuk memulihkan relasi yang rusak.

Padahal siapa yang bersalah. Manusialah yang bersalah. Siapa yang berdosa. Manusialah yang berdosa. Namun Allah tetap datang.

Martin Luther pernah berkata dalam salah satu khotbah Natalnya. Jika Tuhan sosok yang begitu berkuasa dan menakutkan, Allah justru menghadirkan seseorang yang bisa dipeluk. Tidak ada orang yang takut kepada bayi. Bayi tidak mengintimidasi. Bayi menarik hati manusia. Luther melanjutkan bahwa baginya tidak ada penghiburan yang lebih besar daripada Kristus yang mulia menjadi manusia, menjadi anak, menjadi bayi yang bermain di pangkuan ibunya.

Allah yang digambarkan seperti api yang menghanguskan dan badai yang dahsyat rela menjadi bayi. Semua itu supaya Ia bisa dekat. Supaya Ia bisa merasakan sakit yang dirasakan manusia. Supaya relasi bisa dipulihkan.

Refleksinya sangat jelas. Jika Allah rela menjadi sedemikian rentan demi manusia, mengapa manusia begitu sulit untuk rendah hati kepada sesamanya? Jika Allah rela membuka diri sedemikian rupa, mengapa begitu takut untuk menjadi rentan? 

Jika Natal sungguh dipercayai, hidup akan diubahkan. Hati akan dipulihkan. Manusia akan lebih mampu membuka diri, belajar rentan, dan membangun keintiman yang sejati.

Kesepian dan ketakutan untuk rentan sering kali muncul karena belum sungguh menyadari bahwa Allah telah lebih dulu menjadi rentan. Allah rela menjadi rapuh untuk memulihkan dan menebus. Itulah kasih Nya yang dinyatakan secara nyata. Dan inilah paket hadiah Natal yang pertama.

Hadiah Natal yang kedua adalah penghiburan di dalam penderitaan. 

Di sini terdapat sebuah kebenaran yang sangat indah. Tuhan tidak berdiri di atas penderitaan manusia. Ia masuk ke dalam penderitaan itu sendiri.

Di dalam cara pandang manusia terhadap penderitaan, biasanya ada dua ekstrem. Pandangan yang pertama adalah pandangan sekuler. Pertanyaannya selalu sama. Jika Allah itu baik, mengapa ada penderitaan. Jika Allah itu ada, mengapa Ia tidak melakukan sesuatu terhadap penderitaan. Logika yang dibangun sederhana. Jika ada penderitaan, berarti Allah tidak ada. Kalaupun Allah ada, Ia pasti tidak peduli.

Ekstrem yang kedua datang dari pandangan religius yang moralistik. Jika seseorang mengalami penderitaan, maka kesimpulannya adalah Allah sedang menghukumnya. Pasti ada dosa. Pasti ada kesalahan. Penderitaan dipahami sebagai tanda murka dan penghakiman Allah.

Namun kekristenan menghadirkan cara pandang yang sama sekali berbeda. Ini bukan sekadar jalan tengah, melainkan jalan ketiga yang jauh lebih dalam. Ketika melihat Natal dan inkarnasi Yesus yang lahir di kandang dan palungan, dan ketika melihat Paskah saat Yesus menderita dan mati di kayu salib, yang terlihat bukan Allah yang menghakimi dari kejauhan. Yang terlihat adalah Allah yang mengasihi dan rela hadir di tengah penderitaan manusia.

Yesus mengalami lapar. Yesus hidup dalam kemiskinan. Yesus ditolak, dikhianati, disiksa, dan mati. Allah mengetahui dengan sangat nyata bagaimana rasanya hidup sebagai manusia. Ia tidak jauh. Ia tidak acuh. Ia masuk ke dalam penderitaan.

Mungkin pertanyaan berikutnya muncul. Jika demikian, mengapa Ia tidak langsung mengakhiri penderitaan itu. Mengapa sakit penyakit, bencana, dan luka batin masih ada. Jawabannya mungkin tidak selalu kita ketahui. Namun ketidaktahuan manusia tidak berarti tidak ada alasan yang benar. Bisa jadi alasannya belum kita pahami, tetapi satu hal yang pasti. Alasannya bukan karena ketidakpedulian.

Allah membenci kejahatan dan penderitaan sedemikian rupa sehingga Ia rela masuk ke dalamnya. Dorothy Sayers dalam tulisannya The Dogma is the Drama mengatakan bahwa apapun alasan Allah menciptakan manusia sebagai makhluk yang terbatas dan menderita, Allah memiliki kejujuran dan keberanian untuk mengambil dan meminum obatnya sendiri.

Tuhan mengalami seluruh spektrum pengalaman manusia. Pergumulan keluarga, kerja keras, kekurangan, penghinaan, penderitaan fisik, keputusasaan, hingga kematian. Ia lahir dalam kemiskinan dan mati dalam kehinaan. Semua itu nyata dan menyakitkan.

Karena itulah Natal memberikan sumber penghiburan yang unik. Tuhan yang disembah bukan Tuhan yang hanya memberi perintah dari tempat yang jauh. Ia adalah Tuhan yang pernah merasakan apa yang manusia rasakan.

Refleksinya sederhana namun dalam. Jika Allah rela masuk ke dalam penderitaan manusia, apa yang membuat seseorang berpikir bahwa Ia tidak peduli? Pemikiran itu tidak benar. Mungkin hari ini ada penderitaan yang belum sembuh. Mungkin ada doa yang belum dijawab. Mungkin ada luka yang masih terbuka. 

Natal tidak menjanjikan bahwa semua itu akan langsung selesai. Natal menyatakan satu hal yang sangat kuat. Aku bersamamu. Aku hadir di dalam setiap penderitaanmu. Dan biarlah kebenaran itu menjadi penghiburan yang menopang iman hari demi hari.

Hadiah yang ketiga adalah panggilan untuk keadilan

Ini sungguh luar biasa. Karena Allah mengambil rupa manusia dan memiliki tubuh, bahkan tubuh itu mati dan dibangkitkan, maka keadilan menjadi sesuatu yang sangat penting. Tubuh itu penting, dan karena itu keadilan juga penting.

Dalam berbagai budaya dan pandangan dunia, tubuh seringkali dipahami secara berbeda. Dalam agama agama timur seperti Hinduisme klasik dan Advaita Vedanta, tubuh dianggap sebagai ilusi. Buddhisme dan spiritualisme juga memiliki pandangan serupa. Realitas tertinggi dianggap sebagai roh, sementara dunia fisik dipandang sebagai maya, sementara, bahkan ilusi. Keselamatan dalam pandangan ini adalah pelepasan dari tubuh.

Dalam dunia Yunani dan Romawi kuno, pengaruh Platonisme sangat kuat. Pandangan ini melihat tubuh sebagai sesuatu yang buruk. Dunia materi dianggap rendah dan rusak, bahkan sebagai penjara bagi jiwa. Keselamatan dipahami sebagai pembebasan jiwa dari tubuh.

Sementara itu, Yudaisme dan Islam adalah monoteisme transenden. Allah dipahami terlalu kudus dan terlalu mulia untuk bertubuh. Allah menjadi manusia dianggap mustahil.

Di sinilah iman Kristen sungguh unik. Dalam teologi inkarnasional, Allah yang transenden tanpa kehilangan keilahian dan kekudusan Nya sungguh sungguh menjadi manusia dalam pribadi Yesus Kristus. Allah masuk ke dalam sejarah manusia, mengambil tubuh, dan menebus manusia dari dalam ke luar, termasuk tubuh manusia.

Kekristenan tidak pernah mengajarkan bahwa Allah menjauh dari dunia. Kekristenan juga tidak pernah mengajarkan bahwa dunia ini ilusi. Tubuh bukan ilusi. Allah tidak kehilangan kekudusan ketika mengambil tubuh. Dan tubuh bukan sesuatu yang jahat, karena tubuh akan dipulihkan. Semua pandangan ini membedakan iman Kristen dari monisme timur, monoteisme transenden, dan Platonisme.

Lalu apa hubungannya dengan keadilan. Karena Allah memiliki tubuh dalam Yesus Kristus, Ia peduli kepada yang miskin. Ia menunjukkan belas kasihan kepada mereka yang terpinggirkan. Ia peduli kepada orang sakit, orang terluka, orang tertindas, dan kaum marginal. Ia hadir bagi mereka yang menjadi korban ketidakadilan. Yesus menyatakan diri sebagai Allah yang sungguh peduli terhadap penegakan keadilan.

Natal dan Paskah bersama sama membentuk Injil yang utuh. Allah menebus manusia secara menyeluruh, jiwa dan tubuh. Itulah sebabnya keadilan tidak pernah bisa dipisahkan dari iman Kristen.

Di sekitar kita terdapat begitu banyak ketidakadilan. Ada kemiskinan. Ada orang orang yang dipinggirkan. Ada mereka yang menjadi korban sistem dan kekuasaan. Bagi mereka yang hidup di dalam Kristus dan memiliki hati bagi sesama, perjuangan untuk keadilan dapat dijalani tanpa keputusasaan.

Memang benar bahwa ketidakadilan tampaknya selalu ada, di negara maju maupun berkembang. Sulit membayangkan dunia tanpa ketidakadilan. Namun pengharapan Kristen tidak berhenti di situ. Karena Yesus memiliki tubuh, tubuh itu dipulihkan, dan Ia dibangkitkan, maka ada kepastian bahwa keadilan pada akhirnya akan ditegakkan.

Kesadaran ini membuat umat Tuhan tetap realistis dan tetap berjuang. Perjuangan itu mungkin tidak menghapus seluruh ketidakadilan di dunia sekarang, tetapi itu adalah partisipasi bersama Allah. Perjuangan ini dijalani tanpa sinisme dan tanpa putus asa, karena Allah suatu hari akan menuntaskan segala ketidakadilan.

 

Hadiah yang keempat dalam paket Natal adalah berakhirnya kesombongan. 

Kasih karunia menghancurkan rasa superioritas. Ada dua momen dalam hidup Yesus yang sangat menonjol, yaitu kelahiran dan kebangkitan Nya. Menariknya, dalam dua peristiwa ini Allah memilih perempuan. Kelahiran Yesus terjadi melalui rahim Maria. Kebangkitan Yesus pertama kali disaksikan oleh perempuan.

Pada masa itu, perempuan memiliki status yang rendah. Kesaksian mereka bahkan tidak dianggap sah di pengadilan. Justru di sinilah keotentikan Alkitab terlihat. Allah dengan sengaja memakai mereka yang diremehkan dunia.

Ini bukan soal merendahkan perempuan, melainkan menunjukkan bahwa setiap manusia memiliki kecenderungan untuk meremehkan orang lain. Entah karena perbedaan pandangan politik, kelas sosial, latar belakang budaya, kepribadian, atau moral. Natal menyatakan bahwa keselamatan tidak dicapai dengan naik ke atas, tetapi justru dengan Allah turun ke bawah untuk mencari mereka yang diremehkan.

Martin Luther pernah berkata dalam khotbah Natalnya tentang Lukas pasal dua, bayangkan jika Yusuf dan Maria yang bau kandang berdiri di sebelahmu, bagaimana engkau memandang mereka. Banyak orang hanya mau menerima Kristus yang bersih, rapi, dan terhormat. Namun Kristus dalam Alkitab lahir di kandang dan membawa bau ternak. Natal menghancurkan keangkuhan, baik secara rohani maupun sosial.

Jika dirangkum, perubahan hidup adalah buah dari percaya. Dari paket Natal ini, relasi dipulihkan karena manusia belajar menjadi rentan. Iman menjadi tangguh karena ada penghiburan dalam penderitaan. Perjuangan keadilan terus dilakukan karena ada pengharapan akan pemulihan tubuh dan dunia. Dan hati direndahkan karena semua terjadi oleh kasih karunia.

Setelah itu, muncul pertanyaan penting. Bagaimana hadiah ini dibuka. Kisah Maria memberikan jawabannya. Ketika mendengar perkataan malaikat, Maria terkejut dan menimbangnya dalam hati. Ia berpikir keras, menganalisis, dan mempertanyakan apa arti semua itu. Iman tidak anti rasio. Iman justru dimulai dari kejujuran untuk berpikir.

Maria bertanya, bagaimana hal itu mungkin terjadi. Ini bukan pertanyaan sinis, melainkan pertanyaan yang mencari pengertian. Keraguan seperti ini tidak ditolak oleh Tuhan. Justru dari pertanyaan itu muncul jawaban yang indah, bahwa bagi Allah tidak ada yang mustahil.

Iman yang sejati bukan iman yang berhenti berpikir. Iman selalu mendorong seseorang untuk berpikir lebih dalam. Setelah berpikir dan bertanya, Maria tidak berjalan sendiri. Ia pergi kepada Elisabeth. Di dalam komunitas, imannya diteguhkan. Roh Kudus bekerja melalui relasi.

Iman tidak pernah bertumbuh dalam kesendirian. Iman selalu membutuhkan percakapan, keterbukaan, dan komunitas. Pada akhirnya, Maria berserah. Ia berkata bahwa dirinya adalah hamba Tuhan dan menyerahkan hidupnya sepenuhnya.

Maria mempertaruhkan reputasi, masa depan, relasi, bahkan nyawanya. Ia bisa berkata ya karena Allah lebih dahulu berkata ya kepada dunia yang berdosa. Allah tidak menuntut manusia naik kepada Nya, melainkan turun mendekati manusia.

Maria membuka hidupnya bagi Allah. Yesus membuka hidup Nya bagi manusia. Tubuh Nya disalib, dilukai, dan dikorbankan agar manusia yang berdosa tidak ditolak, melainkan diterima sebagai anak anak Allah. Jika hari ini hati digerakkan untuk membuka diri, itu karena Yesus telah lebih dahulu membuka hidup Nya. Di situlah kekuatan Injil dinyatakan.

 

PERTANYAAN REFLEKTIF

Jika Allah menyerahkan diri-Nya sepenuhnya untukmu, apa yang perlu kamu serahkan kepada-Nya?

Apakah aku berani berkata “ya” kepada Dia yang sudah lebih dulu berkata “ya” bagiku dan memberikan diri-Nya sepenuhnya bagiku?

KARENA INJIL

Allah datang dalam kelemahan dan kerapuhan, agar kita yang lemah dan rapuh tidak takut mendekat.

Menyerah pada kehendak Tuhan bukan putus asa, justru menjadi jalan bagi sukacita dan shalom yang sejati.

Pertanyaan yang tulus dan keraguan tidak ditolak Tuhan, tapi dipakai untuk menumbuhkan iman yang lebih dalam.