Identitas Kita: Ambisi atau Anugerah?

Silsilah Anugerah dalam Kelahiran Kristus – ADVENT WEEK 3 "Identitas Kita : Ambisi atau Anugerah?”

Ps. Michael Chrisdion

 

Kita masuk dalam khotbah yang berjudul Silsilah Anugerah dalam kelahiran Yesus Kristus. Hari ini kita akan belajar tentang sebuah topik yang sangat dekat dengan hidup, yaitu identitas kita, ambisi atau anugerah. Dalam khotbah ini kita akan membicarakan seorang wanita. Selama ini kita sudah belajar dari berbagai tokoh wanita yang masuk ke dalam silsilah Tuhan Yesus Kristus. Namun hari ini Maria tidak akan dibahas. Maria akan dibahas secara khusus pada hari Natal. Wanita yang akan dibahas hari ini bernama Lea. Lea memang tidak tercatat langsung dalam silsilah Yesus Kristus di kitab Matius. Namun suami Lea tercatat di sana, yaitu Yehuda.

BACAAN: KEJADIAN 29:31-34 ; YOHANES 1:10-11

29:31 Ketika TUHAN melihat, bahwa Lea tidak dicintai, dibuka-Nyalah kandungannya, tetapi Rahel mandul. 

29:32 Lea mengandung, lalu melahirkan seorang anak laki-laki, dan menamainya Ruben, sebab katanya: "Sesungguhnya TUHAN telah memperhatikan kesengsaraanku; sekarang tentulah aku akan dicintai oleh suamiku." 

29:33 Mengandung pulalah ia, lalu melahirkan seorang anak laki-laki, maka ia berkata: "Sesungguhnya, TUHAN telah mendengar, bahwa aku tidak dicintai, lalu diberikan-Nya pula anak ini kepadaku." Maka ia menamai anak itu Simeon. 

29:34 Mengandung pulalah ia, lalu melahirkan seorang anak laki-laki, maka ia berkata: "Sekali ini suamiku akan lebih erat kepadaku, karena aku telah melahirkan tiga anak laki-laki baginya." Itulah sebabnya ia menamai anak itu Lewi. 

29:35 Mengandung pulalah ia, lalu melahirkan seorang anak laki-laki, maka ia berkata: "Sekali ini aku akan bersyukur kepada TUHAN." Itulah sebabnya ia menamai anak itu Yehuda. Sesudah itu ia tidak melahirkan lagi.

1:10 Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan oleh-Nya, tetapi dunia tidak mengenal-Nya. 

1:11 Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya.

Ada dua kesamaan penting di dalam dua cerita ini. Jika kita memperhatikan kisah Lea, Lea adalah produk dari penipuan yang dilakukan oleh ayahnya. Ketika Lea menikah dengan Yakub, Yakub sebenarnya tidak pernah mencintai atau memilih Lea. Ceritanya Yakub bekerja kepada pamannya yang bernama Laban. Laban memiliki seorang anak perempuan bernama Rahel yang sangat cantik, seperti bunga desa. Yakub jatuh hati dan ingin menikah dengan Rahel. Mengetahui hal itu, Laban berkata bahwa Yakub harus bekerja selama tujuh tahun dan setelah itu ia boleh menikahi Rahel.

Yakub bekerja dengan sangat keras selama tujuh tahun demi menikahi Rahel. Namun pada malam pernikahan, sesuai adat Yahudi, wajah pengantin perempuan tertutup cadar. Pada malam pertama, ketika cadar itu dibuka, ternyata perempuan yang dinikahinya bukan Rahel melainkan Lea. Bayangkan perasaan Yakub dan bayangkan juga perasaan Lea. Alkitab mencatat bahwa Lea tidak cantik dan matanya lemah, tidak bercahaya. Lea hidup sebagai perempuan yang ditolak, tidak diinginkan, dan tidak dicintai.

Di sisi lain, kita juga membaca bahwa ketika Tuhan datang ke dunia, ketika Yesus datang, Ia datang kepada ciptaan-Nya sendiri. Dialah Sang Pencipta. Namun ciptaan itu tidak menerima Dia. Natal pertama tidak dimulai dengan sambutan hangat, sorak sorai, dan sukacita. Alkitab justru menunjukkan bahwa Natal dimulai dengan kelahiran Sang Juruselamat yang tidak diinginkan. Yesus datang ke dunia yang tidak menyambut-Nya, bahkan menolak-Nya. Ketika mencari tempat menginap pun tidak ditemukan. Semua orang sibuk dengan urusan masing masing. Akhirnya Ia lahir di kandang.

Natal bukanlah kisah tentang Allah yang datang ke dunia yang hangat. Natal adalah kisah tentang Allah yang masuk ke dunia yang dingin, dunia yang acuh, dan dunia yang tidak peduli terhadap Tuhan. Dosa membuat manusia menjadi acuh. Dosa membuat manusia menjadi dingin satu sama lain. Yang dipentingkan adalah kepentingan diri sendiri dan kepuasan ego pribadi.

Jika kita melihat kembali Kejadian 29:31, di sana dikatakan bahwa Lea tidak dicintai oleh suaminya. Ia tidak diinginkan. Dan Yohanes 1:11 berkata bahwa Yesus tidak diterima oleh ciptaan-Nya sendiri. Natal menyatakan bahwa kehadiran Allah justru hadir di tengah penolakan.

Mengapa dua cerita ini disandingkan. Karena ada pesan yang ingin disampaikan bagi Natal ini. Pesan bagi mereka yang letih, lesu, berbeban berat, dan merasa tertolak. Dunia ini dipenuhi orang orang yang merasa lelah. Lelah oleh keadaan, lelah oleh kehidupan, lelah oleh masalah, dan lelah karena perasaan ditolak. Ada yang lelah karena pekerjaan, perjuangan hidup, bahkan pelayanan. Ada hamba Tuhan yang lelah karena pelayanan. Ada juga yang menonton secara daring karena kelelahan.

'

Sering kali yang paling melelahkan dalam hidup bukanlah kerja kerasnya, tetapi keharusan untuk terus membuktikan bahwa diri ini berarti supaya tidak ditolak. Kelelahan itu muncul karena persoalan identitas. Ada perasaan bahwa jika gagal maka diri ini bukan siapa siapa. Jika tidak dianggap maka hidup ini tidak berarti. Jika tidak berguna maka diri ini tidak layak. Tanpa disadari, beban pembuktian itu dibawa masuk ke dalam iman.

Masalah terbesar manusia sering kali bukan kurang iman, tetapi salah menaruh identitas. Seseorang bisa bekerja keras untuk menjadi kaya. Seseorang bisa berjuang untuk berhasil. Pelayanan dilakukan dengan sungguh sungguh dan dikatakan bahwa semuanya itu untuk Tuhan. Namun jauh di dalam hati ada harapan tersembunyi. Jika aku kaya, terimalah aku. Jika aku berhasil, anggaplah aku. Tolong nilai aku dan lihat aku.

Inilah pergumulan yang nyata. Supaya hal ini tidak hanya menjadi teori tetapi realitas hidup, kita akan berhenti sejenak dari khotbah. Kita akan menyaksikan sebuah ilustrasi melalui drama musikal. Akan ditampilkan seorang tokoh bernama Ken yang berperan sebagai badut. Yang penting bukan badutnya, tetapi apakah kisahnya bisa dirasakan. Ada juga tokoh lain yang menjadi bayangannya, suara di dalam pikirannya sendiri.

ILUSTRASI DRAMA

Drama ini mengisahkan perjalanan seorang performer yang awalnya tampak berhasil dan penuh semangat, namun perlahan hatinya bergeser dari Tuhan kepada ambisi pribadi. Ia digambarkan sebagai sosok yang membawa sukacita bagi banyak orang lewat panggung dan karyanya, hingga suatu hari mendapat tawaran proyek besar yang dianggap sebagai puncak karier. Demi mengejar kesempatan itu, ia berutang, mengorbankan waktu ibadah, dan memusatkan seluruh hidupnya pada latihan serta keberhasilan performa.

Ketika proyek tersebut tiba tiba dibatalkan, seluruh rasa aman dan kepercayaannya runtuh. Kekecewaan, kemarahan, dan rasa tidak adil muncul, karena ia merasa sudah bekerja keras dan “melakukan segalanya”. Di titik krisis ini, ia menyadari bahwa selama ini ia bukan sekadar bekerja untuk hidup, tetapi sedang berusaha mengontrol hidupnya sendiri tanpa Tuhan. Proyek telah menggantikan posisi Tuhan sebagai pusat hidupnya.

Melalui pergumulan batin dan doa pertobatan, ia kembali melihat bahwa nilai hidup, keamanan, dan kecukupan sejati tidak berasal dari panggung, uang, atau validasi manusia, melainkan dari kasih karunia Kristus. Drama ditutup dengan nyanyian yang menegaskan Injil: di tengah dunia yang gelap, Kristus datang membawa terang dan harapan. Manusia lemah dan mudah bergeser, namun tetap dikasihi Sang Raja, dan kasih Tuhanlah yang menuntun hati kembali kepada-Nya.

SEMUA ORANG SEDANG MENCARI NILAI DIRI

Barusan kita melihat sebuah kisah yang sebenarnya terdengar sangat familiar. Jangan terpaku pada badutnya, tetapi perhatikan hutangnya. Perhatikan kerja keras yang pada akhirnya justru membuahkan kekecewaan. Apa yang dikejar ternyata tidak menghasilkan apa apa. Saya sudah berkali kali melakukan konseling dengan para pebisnis yang mengalami kondisi seperti ini. Saya juga berkali kali mendampingi para ibu yang menaruh seluruh harapannya pada anak anaknya, namun akhirnya justru disakiti oleh anak anak mereka sendiri. Tidak sedikit pula pasangan suami istri yang menaruh harapan tertinggi pada pasangannya, tetapi pada akhirnya semua itu runtuh dan hancur.

Jika kita jujur, Ken bukan sekadar tokoh di atas panggung. Ia adalah cermin bagi diri kita semua. Dari luar, Ken terlihat lucu, kreatif, dan penuh energi. Namun ketika dilihat lebih dalam, terlihat jelas bahwa hidupnya digerakkan oleh ambisi yang terus dikejar. Di balik ambisi itu tersembunyi ketakutan yang besar. Takut ditolak, takut gagal, takut tidak dianggap, dan takut hidupnya tidak berarti tanpa panggung. Karena itulah ia mati matian mengejar kesuksesan dan ketenaran. Ia rela berhutang, rela mengorbankan segalanya, bahkan mengorbankan Tuhan.

Saya tidak sedang berbicara tentang ibadah semata. Ibadah hanyalah indikator bahwa Tuhan tidak lagi menjadi yang utama. Buktinya pekerjaan tetap dijalani tanpa ragu. Semua itu berakhir dengan kekecewaan, bahkan kehilangan dari apa yang sejak awal dikejar. Gambaran ini terasa sangat dekat dengan kehidupan nyata. Dan jika kita jujur, kita pun sangat mirip dengan Ken.

Alkitab juga menyimpan kisah yang serupa, yaitu kisah Lea yang tadi sudah dibaca bersama. Beberapa pakar Alkitab menyebut Lea sebagai the girl that nobody wanted, perempuan yang tidak diinginkan. Dalam ayat 31 dikatakan dengan jelas bahwa Lea tidak dicintai. Perhatikan baik baik, masalah Lea bukan karena ia malas atau jahat. Masalahnya adalah ia tidak dicintai. Dan ini menyedihkan.

Apa yang terjadi pada Lea sesungguhnya juga terjadi pada diri kita. Karena manusia terpisah dari Allah, manusia terus mendambakan cinta dan penerimaan. Inilah sebabnya poin pertama yang perlu dipahami adalah bahwa setiap orang sedang mencari nilai diri dalam hidupnya. Setiap orang sedang mencari penerimaan dan pengakuan. Ini bukan sekadar drama atau cerita kuno. Ini adalah masalah universal dari generasi ke generasi. Semua orang ingin merasa berarti.

Dalam kisah ini, Lea mencari nilai dirinya melalui cinta suaminya. Ken, si badut dalam drama tadi, mencari nilai diri melalui panggung dan pengakuan manusia lewat proyek proyek besarnya. Tetapi pada dasarnya keduanya sedang melakukan hal yang sama. Mereka sedang mencari nilai diri. Jika kita jujur, kita semua melakukan hal yang sama. Ambisi yang kita miliki sebenarnya adalah cermin dari pencarian nilai diri itu.

Banyak orang mencari nilai diri melalui keberhasilan. Bekerja keras, membanting tulang, berusaha menjadi kaya dan sukses supaya diakui. Ada juga yang mengejarnya melalui relasi dan keluarga supaya dianggap. Bahkan dalam pelayanan, tidak sedikit yang menjadikannya sebagai sarana aktualisasi diri. Pekerjaan bukanlah hal yang salah. Keluarga juga bukan sesuatu yang keliru. Keberhasilan dan berkat materi pun bukan masalah. Semuanya itu tidak salah. Yang menjadi masalah adalah ketika semua itu dijadikan sumber identitas.

Perhatikan kembali kisah Lea. Mengapa bisa dikatakan bahwa Lea mencari nilai diri lewat suaminya. Lihatlah nama nama anak yang dilahirkannya. Nama nama itu mencerminkan pencarian nilai dirinya. Setiap kali menamai anak, ia selalu menyebut nama Tuhan. Namun sebenarnya Tuhan hanya dijadikan alat. Hatinya bukan tertuju kepada Tuhan, melainkan kepada suaminya. Ruben lahir dan ia berkata bahwa Tuhan telah memperhatikan dirinya. Namun ujungnya adalah harapan bahwa suaminya akan mencintainya. Ketika harapan itu tidak terwujud, ia kembali berharap pada anak kedua. Simeon lahir dan ia berkata bahwa sekarang ia pasti akan diperhatikan. Namun kembali tidak terjadi. Anak ketiga lahir, Lewi, dan ia kembali berharap bahwa kali ini suaminya akan melekat kepadanya.

Setiap anak menjadi proyek pembuktian diri bagi Lea. Semua lahir dari kerinduan untuk dicintai. Jika kisah ini disandingkan dengan drama tadi, maka terlihat jelas bahwa Ken juga sedang mencari Rubennya, Simeonnya, dan Lewinya sendiri. Ia mencarinya lewat proyek besar, uang, dan tepuk tangan. Dan jika kita jujur, kita pun memiliki versi Ruben, Simeon, dan Lewi dalam hidup kita. Kita mencarinya lewat pekerjaan, pelayanan, pasangan, bahkan lewat likes, followers, dan reputasi. Semua pencapaian bisa berubah menjadi panggung bagi ego.

Di sinilah letak masalahnya. Masalahnya bukan pada pencarian nilai diri, karena itu tidak terelakkan. Masalah yang sesungguhnya adalah di mana nilai diri itu dicari.

ANUGERAH MASUK KE TENGAH IDENTITAS YANG HANCUR

Dari kisah ini kita belajar satu hal yang sangat penting, yaitu betapa mudahnya hati manusia menjadikan hal hal yang baik sebagai penyelamat palsu. Berhala bukan selalu sesuatu yang jahat. Justru seringkali berhala adalah sesuatu yang baik. Berkat dari Tuhan, ketika dijadikan yang terutama, bisa berubah menjadi berhala. Dan kepada berhala itu manusia rela menyembah. Setiap penyembahan selalu memiliki altar. Di atas altar itulah banyak hal dikorbankan. Keluarga dikorbankan, pasangan dikorbankan, perasaan anak anak, perasaan suami, perasaan istri, bahkan diri sendiri dan kesehatan pun dikorbankan demi mengejar apa yang sedang diinginkan dan diambisikan.

Biasanya bahasa yang dipakai sederhana. Jika aku punya itu, jika asetku sebesar itu, jika omzetku mencapai angka itu, jika aku menikah dengan dia, jika aku mendapatkan hal tersebut, maka aku pasti bahagia. Ini bukan sekadar obsesi. Ini adalah penyembahan. Hati sedang menyembah sesuatu. Jika kita kembali melihat Lea, ia menyebut nama Tuhan, tetapi hatinya melekat pada suami dan anak. Dalam drama tadi, Ken si badut juga memulai semuanya dengan alasan untuk Tuhan. Namun pada akhirnya yang dicari adalah pengakuan dunia. Semua itu ternyata dilakukan demi karier dan pengakuan diri.

Yakub, suami Lea, juga memiliki persoalan yang serupa. Ia menerima janji Tuhan, tetapi hatinya terobsesi pada Rahel. Hubungan ini menjadi semakin kompleks. Masalah terbesar bukanlah ketika seseorang mengejar hal hal yang jahat. Banyak orang yang secara moral terlihat baik. Kehadiran di gereja pada hari Natal menjadi salah satu buktinya. Namun persoalan muncul ketika hal hal yang baik dijadikan yang terutama. Ketika hati berkata, jika aku memiliki itu barulah hidupku berarti, di situlah kecenderungan hati manusia terlihat dengan jelas.

Karena itu penting untuk memeriksa ambisi diri. Dari sanalah bisa terlihat apakah harga diri dan nilai diri terikat pada apa yang sedang dikejar. Jika yang dikejar itu bukan Tuhan, maka kegagalan akan membawa dampak yang sangat mengerikan. Ketika identitas dibangun di atas performa, kekuatan, dan talenta, kegagalan akan terasa seperti neraka. Banyak orang memiliki talenta yang luar biasa. Ada yang unggul dalam olahraga, musik, akademik, atau profesi. Namun jika identitas dibangun di atas semua itu, maka saat kegagalan datang, jiwa ikut runtuh.

Bagi Ken si badut, kegagalan bukan sekadar kehilangan pekerjaan. Itu adalah kehilangan harga diri. Bagi Lea, penolakan bukan hanya masalah relasi dengan suami, tetapi kehancuran identitas. Ketika identitas didasarkan pada performa, runtuhnya performa berarti runtuhnya jiwa. Jika nilai diri diikat pada keberhasilan, maka kesuksesan melahirkan kesombongan. Segala sesuatu terasa bergantung pada kehebatan diri sendiri. Namun ketika kegagalan datang, yang muncul adalah penghukuman diri, rasa malu, dan perasaan tidak berarti.

Itulah yang dialami Lea. Setiap kelahiran anak memunculkan harapan baru bahwa suaminya akan mencintainya. Namun harapan itu terus pupus. Setiap kekecewaan menghancurkan hatinya sedikit demi sedikit. Hal yang sama terjadi pada Ken. Ketika proyeknya gagal, dunianya runtuh. Pertanyaan yang perlu diajukan adalah apakah identitas hidup dibangun di atas performa. Jika demikian, kegagalan tidak hanya berarti kehilangan kesempatan, tetapi kehilangan jati diri. Tanpa hasil, tanpa panggung, tanpa pengakuan, seseorang tidak lagi tahu siapa dirinya.

Pada akhirnya seseorang bisa sampai pada titik kesendirian yang dalam. Semua orang yang seharusnya mengasihi pergi meninggalkan. Bukan tanpa sebab. Mereka telah disakiti. Mereka telah dipersembahkan di altar penyembahan. Perasaan mereka dilukai demi mengejar sesuatu yang dianggap sebagai sumber kebahagiaan.

Maka muncul pertanyaan yang sangat jujur. Apa yang harus dilakukan. Ketika seseorang menyadari bahwa dirinya seperti Lea, atau seperti Ken dalam kisah tadi.

KENYATAAN PAHIT TENTANG HATI KITA

Di sinilah pesan Natal. Di sinilah kabar baik itu dinyatakan. Ketika anugerah masuk ke tengah identitas yang hancur, terjadi sebuah perubahan besar dalam kisah Lea. Perubahan itu bukan dimulai ketika situasinya berubah, melainkan ketika pusat hatinya berubah. Jika kita membaca Kejadian 29:31, terlihat dengan jelas apa yang menjadi titik awal perubahan itu. Inisiatifnya datang dari Tuhan. Firman Tuhan berkata bahwa Tuhan melihat Lea yang tidak dicintai.

Bayangkan kehidupan rumah tangga Lea yang penuh dengan drama, manipulasi, dan favoritisme. Ia bukan anak yang difavoritkan. Rahel yang selalu diutamakan. Di tengah suami yang tidak mengasihinya, di tengah fakta bahwa ia adalah korban penipuan ayahnya sendiri, di tengah budaya yang memandang perempuan sebagai warga kelas dua dan menilai mereka dari kecantikan, ada satu Pribadi yang melihat dirinya. Tuhan melihat Lea. Ketika dunia tidak melihat, Tuhan justru melihat. Firman Tuhan dengan jelas berkata bahwa Tuhan melihat Lea yang tidak dicintai.

Hal yang sama terjadi pada Ken. Ketika sorotan lampu padam, ketika ponsel tidak lagi berdering, ketika proyek besar dibatalkan, ketika ia duduk sendirian dan bertanya siapa dirinya, Tuhan melihat dia. Tuhan memperhatikan. Di sinilah kabar Natal itu dinyatakan. Tuhan bukanlah Allah yang duduk jauh di takhta surga dan membiarkan manusia tenggelam dalam pencarian nilai diri, disiksa oleh berhala berhala yang memperbudak. Ia adalah Allah yang melihat, mendengar, dan mencari. Ketika seseorang merasa tidak dianggap dan tertolak, di situlah Tuhan hadir paling dekat. Anugerah selalu dimulai bukan dari manusia, tetapi dari Allah yang lebih dulu melihat.

Lalu terjadilah sebuah titik balik. Pada ayat 35, ketika anak keempat lahir, firman Tuhan mencatat bahwa Lea kembali mengandung dan melahirkan seorang anak laki laki. Kali ini ucapannya berbeda. Ia berkata bahwa kali ini ia akan bersyukur kepada Tuhan. Anak itu dinamai Yehuda. Sesudah itu ia tidak melahirkan lagi.

Perhatikan perbedaannya. Sebelumnya ia berkata tentang Ruben dengan harapan bahwa suaminya akan mencintainya. Tentang Simeon dengan harapan ia akan diperhatikan. Tentang Lewi dengan harapan suaminya akan melekat kepadanya. Namun pada anak keempat tidak ada lagi kalimat tentang suami. Tidak ada lagi harapan transaksional. Yang muncul hanyalah ucapan syukur kepada Tuhan. Anak itu dinamai Yehuda.

Nama Yehuda berasal dari kata yada yang berarti memuji Tuhan, menyembah Tuhan, dan bersyukur kepada Tuhan. Seakan Lea berkata bahwa kali ini ia tidak lagi mencari pembuktian diri. Kali ini ia tidak lagi mencari cinta suaminya melalui anak yang dilahirkannya. Kali ini ia memuji Tuhan. Terjadi pergeseran nilai yang sangat dalam di hati Lea. Suami bukan lagi sumber nilai dirinya. Tuhanlah yang menjadi sumber pujiannya.

Sebelumnya rumus hidupnya adalah jika aku punya ini maka suamiku akan mencintaiku. Namun ketika ia menyadari bahwa Tuhan melihat dan memperhatikannya, walau ia tidak dikasihi suaminya, walau ia ditolak, walau ia menjadi korban penipuan, ia tahu bahwa Tuhan melihat dan mencintainya. Di sinilah rumus hidup itu berubah.

Pertanyaannya adalah apa rumus hidup yang dijalani. Jika rumus hidup berkata bahwa jika aku kaya maka aku bahagia, jika aku menikah dengan dia maka hidupku utuh, maka hidup dijalani dengan pola transaksi. Hidup yang dibangun di atas transaksi pada akhirnya akan membawa kekecewaan, karena nilai dan pengharapan diletakkan pada hal hal yang fana. Namun ketika seseorang sadar bahwa dirinya berharga bukan karena apa yang ia lakukan, melainkan karena apa yang Tuhan telah lakukan, maka hidup mulai berubah. Tuhan melihat manusia bahkan ketika masih berdosa dan seharusnya ditolak. Dari sanalah rumus hidup berubah dari jika menjadi walau.

Walau aku tidak sehebat orang lain. Walau aku tertolak. Walau aku gagal. Aku tahu bahwa Tuhan memperhatikan dan menerima aku. Inilah pesan Natal bagi kita hari ini.

Dan perhatikan apa yang terjadi melalui Lea. Dari rahim Lea lahirlah Yehuda. Dan dari Yehuda lahirlah garis keturunan Yesus Kristus. Tuhan dengan sengaja memilih perempuan yang tidak diinginkan untuk melahirkan garis keturunan Raja yang dinantikan oleh semua orang. Allah memuliakan yang tidak dimuliakan. Tuhan memilih yang tidak diinginkan untuk menenun silsilah Sang Raja.

Lalu apa hubungannya dengan kita. Apa hubungannya dengan Natal. Perhatikan perjalanan Yesus Kristus dari palungan sampai ke salib. Ia menjadi Pribadi yang tidak diinginkan. Bahkan kelahirannya ditolak. Ia lahir di kandang, di tempat yang hina dan najis. Hidupnya penuh dengan penolakan. Ia ditolak oleh keluarga, oleh orang Farisi, dan oleh kota asalnya. Yesaya berkata bahwa wajah-Nya tidak tampan dan manusia tidak menghiraukan-Nya.

Pencipta alam semesta menjadi Pribadi yang tidak diinginkan. Bahkan kematian-Nya pun penuh dengan penghinaan. Ia dicerca, diludahi, dipukuli, dicambuki, ditelanjangi, dan dipermalukan. Murid murid-Nya meninggalkan dan mengkhianati-Nya. Semua itu dilakukan supaya orang orang seperti kita, seperti Lea, seperti mereka yang merasa tidak diinginkan dan terus mencari nilai diri namun tidak pernah menemukannya, dapat diselamatkan.

Yesus menjadi Pribadi yang mengerti rasanya ditolak dan dikhianati. Ia menjadi Pendamping bagi mereka yang terluka. Ia berkata bahwa Ia pernah ada di sana dan karena itulah Ia hadir. Inilah pesan Natal. Anugerah itu bukan sekadar konsep. Anugerah itu menjadi daging. Ia menjadi yang tertolak supaya mereka yang tertolak dapat diterima. Ia mati supaya kita hidup. Ia bangkit supaya kita memperoleh hidup yang kekal.

Natal adalah anugerah bagi mereka yang lelah membuktikan diri. Itulah sebabnya drama tadi diletakkan dalam perayaan Natal. Natal bukan hanya kisah bayi di palungan, tetapi kabar bahwa anugerah Allah turun mencari manusia. Di tengah dunia yang kelelahan mengejar pengakuan, prestasi, dan citra diri, Tuhan berkata untuk berhenti menjadikan panggung ambisi sebagai Tuhan. Nilai hidup tidak ditentukan oleh performa, tetapi oleh salib dan kasih Tuhan.

PERTANYAAN REFLEKTIF

Apa satu hal dalam hidupmu yang menjadi “panggungmu” jika Tuhan ambil hari ini, kamu merasa hidupmu kehilangan nilai dirimu?

Dalam kegagalan atau kekecewaan apa yang akhir akhir ini Tuhan sedang mengetuk hatimu, undangan untuk berhenti membuktikan diri dan kembali pulang kepada Nya?

Di area hidup mana kamu perlu berhenti berkata, “KALAU ini berhasil aku akan bahagia” dan mulai berkata, “Aku akan tetap bahagia dan bersyukur WALAU…”?

ORANG BERINJIL

Nilai dirinya tidak ditentukan oleh apa yang dia miliki namun oleh Pribadi yang sudah lebih dulu memiliki dia

Mampu melihat kegagalan menjadi pintu pertobatan tempat Tuhan membongkar berhala di hati

Bekerja keras bukan untuk memperoleh identitas melainkan sebagai buah dari identitas baru yang sudah diberikan oleh Kristus