Aman Dalam Genggaman

Special Sunday Service – Aman Dalam Genggaman

Ps. Lius Erik

 

Jika kita hendak pergi ke suatu tempat, ke mana pun tujuannya, hampir semua orang akan memilih jalan pintas daripada jalan memutar. Alasannya sederhana. Jalan pintas menghemat waktu, biaya, tenaga, bahkan emosi, terlebih saat sedang lelah atau lapar. Karena itu pula, ketika kita menggunakan Google Maps, aplikasi tersebut hampir selalu menawarkan rute tercepat agar kita segera sampai ke tujuan, termasuk jalur alternatif saat terjadi kemacetan.

Pengalaman pribadi saya bersama istri menguatkan hal ini. Dulu, sebelum Tol Trans Jawa tersedia, perjalanan Jakarta Malang bisa memakan waktu hingga dua puluh jam. Sangat melelahkan. Namun setelah tol dibuka, perjalanan yang sama hanya sekitar sepuluh jam. Jauh lebih manusiawi dan jauh lebih menyenangkan. Sejak itu, rasanya tidak ada alasan untuk kembali memilih jalan memutar.

Meski demikian, ada juga orang orang tertentu yang tetap memilih jalan lebih jauh. Mungkin mereka yang merasa punya banyak waktu dan kesabaran, meski sulit ditemukan. Atau mereka yang sedang jatuh cinta. Orang yang sedang berpacaran sering tidak keberatan mengambil jalan terpanjang agar kebersamaan tidak cepat berakhir. Namun biasanya, setelah menikah, pilihan itu berubah. Jalan pintas kembali menjadi yang utama.

Di luar dua kelompok tersebut, hampir semua orang lebih memilih jalan pintas dibandingkan jalan memutar. Alasannya sederhana, karena jalan pintas terasa lebih efisien dan membawa kita lebih cepat sampai ke tujuan. Tanpa kita sadari, cara berpikir seperti ini juga sering tercermin dalam cara kita menjalani hidup. Dalam perjalanan iman, kita cenderung memilih jalan yang terasa aman, nyaman, cepat, dan sesuai dengan keinginan pribadi. Itulah respon yang paling natural sebagai manusia.

Cara berpikir ini semakin diperkuat karena kita hidup di dunia yang menuntut segala sesuatu serba instan dan cepat. Dunia yang terus berkata, jika bisa cepat mengapa harus lama, jika ada jalan pintas mengapa harus memutar. Perlahan namun pasti, pola pikir seperti ini meresap ke dalam hidup kita. Namun menariknya, cara Tuhan menuntun hidup umatnya tidak selalu seperti itu. Kita menyukai jalan pintas, tetapi Tuhan seringkali membawa kita melalui jalan yang memutar. Kita ingin cepat sampai, tetapi Tuhan lebih sering membawa kita masuk ke dalam proses. Kita mengejar hasil, sementara Tuhan terutama membentuk hati.

Di sinilah pergumulan sering muncul. Jalan Tuhan tidak selalu terasa nyaman, tidak selalu masuk akal, dan tidak selalu sesuai dengan ekspektasi kita. Hal yang sama dialami oleh bangsa Israel ribuan tahun yang lalu. Dalam perjalanan mereka keluar dari Mesir, Tuhan dengan sengaja tidak membawa mereka melalui jalan yang paling singkat, melainkan melalui jalan yang memutar. Bukan karena Tuhan tidak tahu jalan tercepat, tetapi karena Tuhan sedang membentuk hati umat pilihanNya melalui setiap langkah perjalanan itu.

Pemahaman ini menolong kita ketika menoleh ke belakang dan melihat perjalanan hidup yang telah kita lalui. Pemahaman yang sama juga menolong kita ketika melangkah ke depan memasuki tahun yang baru. Tuhan yang menuntun Israel adalah Tuhan yang sama yang setia menuntun kita sepanjang jalan. Ia mengetahui jalan yang terbaik karena Ia memegang seluruh cerita hidup kita.


KELUARAN 13:17-22

13:17 Setelah Firaun membiarkan bangsa itu pergi, Allah tidak menuntun mereka melalui jalan ke negeri orang Filistin, walaupun jalan ini yang paling dekat; sebab firman Allah: "Jangan-jangan bangsa itu menyesal, apabila mereka menghadapi peperangan, sehingga mereka kembali ke Mesir." 

13:18 Tetapi Allah menuntun bangsa itu berputar melalui jalan di padang gurun menuju ke Laut Teberau. Dengan siap sedia berperang berjalanlah orang Israel dari tanah Mesir. 

13:19 Musa membawa tulang-tulang Yusuf, sebab tadinya Yusuf telah menyuruh anak-anak Israel bersumpah dengan sungguh-sungguh: "Allah tentu akan mengindahkan kamu, maka kamu harus membawa tulang-tulangku dari sini." 

13:20 Demikianlah mereka berangkat dari Sukot dan berkemah di Etam, di tepi padang gurun. 

13:21 TUHAN berjalan di depan mereka, pada siang hari dalam tiang awan untuk menuntun mereka di jalan, dan pada waktu malam dalam tiang api untuk menerangi mereka, sehingga mereka dapat berjalan siang dan malam. 

13:22 Dengan tidak beralih tiang awan itu tetap ada pada siang hari dan tiang api pada waktu malam di depan bangsa itu.

Kebenaran ini kita temukan dalam firman Tuhan yang diambil dari Keluaran 13:17-22. Bagian ini menceritakan bagaimana Allah membebaskan bangsa Israel dari tanah Mesir. Sebelum perjalanan itu dimulai, Tuhan telah melakukan sepuluh tulah yang dahsyat sehingga Firaun akhirnya membiarkan bangsa Israel pergi. Mereka keluar dari Mesir bukan dengan tangan kosong, melainkan membawa perhiasan emas dan perak milik orang Mesir. Setelah itu, perjalanan menuju tanah perjanjian pun dimulai.

Namun, baru saja perjalanan itu dimulai, kita menemukan sesuatu yang tidak biasa. Tuhan memilih membawa bangsa Israel melalui jalan yang memutar, bukan melalui jalan tercepat menurut logika manusia. Alasannya dijelaskan dalam ayat 17 dan 18. Alkitab menggunakan bahasa antropomorfisme, bahasa yang menggambarkan Tuhan seolah olah berpikir dan mempertimbangkan seperti manusia. Tuhan tidak membawa bangsa Israel melalui jalan terdekat karena Ia berkata, jangan sampai bangsa itu menyesal ketika menghadapi peperangan dan akhirnya kembali ke Mesir.

Secara geografis, jalur tercepat menuju tanah perjanjian adalah jalur perdagangan di sepanjang pantai Mediterania yang dikenal sebagai Via Maris. Jika bangsa Israel melalui jalur ini, mereka kemungkinan besar bisa tiba dalam waktu sekitar dua minggu. Namun jalur tersebut bukan hanya jalur perdagangan, melainkan juga jalur militer. Di sepanjang jalur itu terdapat pos penjagaan Mesir, dan di depan mereka ada bangsa Filistin, bangsa pejuang yang siap berperang.

Inilah alasan mengapa Tuhan membawa bangsa Israel melalui jalan memutar. Masalahnya bukan terletak pada senjata, melainkan pada mental dan hati mereka yang belum siap. Setelah ratusan tahun hidup sebagai budak, yang terbentuk dalam diri mereka bukanlah mental seorang pejuang, melainkan mental seorang budak. Status dan pola hidup itu telah mendarah daging dan membentuk pribadi mereka.

Mengubah kebiasaan dan pola hidup yang telah dijalani bertahun tahun tentu tidak mudah. Dibutuhkan penyesuaian. Pengalaman sederhana bisa menggambarkan hal ini. Seseorang yang terbiasa mengendarai mobil matic akan membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri ketika harus mengendarai mobil manual. Begitu juga seseorang yang terbiasa menggunakan tangan kanan akan merasa canggung ketika harus makan dengan tangan kiri. Jika perubahan sederhana saja membutuhkan waktu, apalagi perubahan mental dan hati yang telah dibentuk selama ratusan tahun.

Meski demikian, pertanyaan tetap muncul. Mengapa Tuhan tidak memilih jalan yang lebih cepat. Bukankah Tuhan bisa melakukan satu mukjizat lagi. Bukankah Tuhan bisa langsung mengubah mental bangsa Israel seketika. Bukankah Tuhan mampu membawa mereka langsung ke tanah perjanjian. Semua itu mungkin bagi Tuhan, tetapi itu bukan cara Tuhan bekerja. Ketika kita berpikir demikian, sesungguhnya kita sedang mencoba memasukkan Tuhan yang tidak terbatas ke dalam akal kita yang terbatas.

Dalam perjalanan iman, ada satu hal penting yang perlu kita pahami. Tuhan tidak pernah mengejar kecepatan, melainkan kedewasaan. Tuhan bukan hanya ingin membawa umatNya sampai ke tujuan, tetapi membentuk siapa mereka sepanjang perjalanan. Jalan pintas mungkin tercepat, tetapi bukan yang terbaik karena itu bukan jalan Tuhan.

Bahkan, dalam kelanjutan kisah ini, Tuhan bukan hanya membawa bangsa Israel melalui jalan memutar, tetapi juga membawa mereka ke situasi yang tampak seperti jalan buntu. Di depan mereka terbentang Laut Teberau, di belakang mereka tentara Mesir yang mengejar. Bangsa Israel marah dan merasa dijebak. Namun Alkitab menjelaskan bahwa situasi ini justru Tuhan sendiri yang izinkan. Tuhan menyatakan bahwa melalui peristiwa itu, Ia akan menyatakan kemuliaanNya sehingga orang Mesir mengetahui bahwa Dialah Tuhan.

Bangsa Israel mungkin bingung dan marah, tetapi satu hal yang pasti, mereka tidak pernah keluar dari genggaman tangan Tuhan. Ketika kita menoleh ke belakang dan melihat perjalanan hidup kita, mungkin ada masa ketika Tuhan membawa kita ke jalan yang sulit dimengerti, bahkan terasa buntu. Dalam momen seperti itu, respon pertama kita seringkali bukan iman, melainkan emosi. Kita bisa marah, curiga, dan mempertanyakan cara Tuhan.

Namun sering kali, Tuhan mengizinkan jalan memutar dan jalan buntu bukan untuk menjatuhkan kita, melainkan untuk membentuk kita. Hal hal yang tidak menyenangkan dan menyakitkan kerap dipakai Tuhan untuk kebaikan kita. Jalan Tuhan mungkin tidak selalu nyaman dan cepat, tetapi selalu membawa kita ke tujuan yang tepat.

Seperti yang dikatakan oleh Matthew Henry, meskipun Tuhan tidak memimpin umatNya melalui jalan yang paling dekat, kita dapat yakin bahwa Ia memimpin melalui jalan yang terbaik. Kebenaran ini akan nyata ketika kita tiba di akhir perjalanan. Tuhan selalu tahu apa yang sedang Ia kerjakan. Bahkan ketika kita ragu, kita tetap dipanggil untuk percaya bahwa jalan Tuhan adalah jalan yang terbaik. Dan dasar dari kepercayaan itu adalah karena Tuhan yang kita sembah adalah Tuhan yang setia pada janjiNya. Hal inilah yang akan kita lihat pada bagian berikutnya.

Pada ayat 19 kita menemukan satu informasi yang sekilas terlihat biasa saja, namun sesungguhnya menyimpan kebenaran yang sangat dalam. Ketika Firaun akhirnya mengizinkan bangsa Israel keluar dari Mesir, mereka pergi dengan membawa perhiasan emas dan perak milik orang Mesir. Namun bukan hanya itu. Musa juga membawa tulang tulang Yusuf bersama mereka. Kemungkinan besar yang dimaksud di sini adalah jasad Yusuf yang telah diawetkan, atau mumi Yusuf.

Mungkin muncul pertanyaan di dalam benak kita. Apa hubungan bagian ini dengan kesetiaan Tuhan pada janjiNya. Bahkan secara manusiawi, membawa seseorang yang telah meninggal ratusan tahun sebelumnya terasa aneh dan mungkin juga menyeramkan. Untuk apa tulang tulang itu dibawa. Namun bagian ini bukan sekadar informasi tambahan. Ini adalah penggenapan dari sebuah janji yang telah diucapkan ratusan tahun sebelumnya.

Sebelum Yusuf meninggal, ia telah memahami satu hal yang sangat penting. Mesir bukanlah tempat tinggal permanen bagi umat Tuhan. Karena itu, menjelang kematiannya, seperti yang dicatat dalam Kejadian 50:24-25, Yusuf meminta sumpah dari orang Israel agar tulang tulangnya dibawa keluar dari Mesir pada waktu Tuhan membebaskan mereka. Tindakan Yusuf ini adalah sebuah pernyataan iman. Ia percaya bahwa Tuhan pasti menepati janjiNya.

Hal ini ditegaskan kembali dalam Perjanjian Baru, di dalam Ibrani 11:22. Firman Tuhan mengatakan bahwa karena iman, Yusuf menjelang kematiannya memberitakan tentang keluarnya orang Israel dan memberi pesan tentang tulang belulangnya. Inilah juga yang ditekankan oleh Tim Chester ketika membahas Keluaran 13:19. Ia mengatakan bahwa iman adalah percaya kepada janji Tuhan. Iman hidup di masa kini dalam terang masa depan yang telah Tuhan janjikan.

Artinya, iman bukan hanya soal apa yang kita nantikan di masa depan, tetapi bagaimana janji Tuhan membentuk cara kita hidup hari ini. Yusuf tidak hidup berdasarkan situasi Mesir, sekalipun pada waktu itu ia hidup dengan nyaman. Ia hidup berdasarkan janji Tuhan yang telah disampaikan sejak Abraham, Ishak, dan Yakub. Dan pada akhirnya, janji itu sungguh digenapi. Tulang Yusuf baru benar benar dikuburkan di tanah perjanjian setelah bangsa Israel menyelesaikan perjalanan panjang selama empat puluh tahun di padang gurun, seperti yang dicatat dalam kitab Yosua. Tuhan setia pada janjiNya.

Inilah yang menjadi dasar pengharapan kita. Tuhan yang setia kepada Yusuf dan bangsa Israel adalah Tuhan yang sama yang setia pada janjiNya dalam hidup kita. Alkitab penuh dengan janji Tuhan, tetapi janji janji itu tidak berfokus pada kenyamanan hidup kita. Janji Tuhan berfokus pada kemuliaanNya dan pembentukan hati kita.

Namun dalam keberdosaan, kita sering memandang janji Tuhan dengan kacamata kita sendiri. Fokusnya menjadi sangat egois. Janji Tuhan dijadikan alat transaksi. Kita berpikir, jika kita percaya maka hidup pasti nyaman. Jika kita taat maka keadaan pasti membaik. Jika kita miskin maka suatu hari pasti kaya. Jika kita sakit maka pasti sembuh. Jika kita gagal maka pasti berhasil. Kita menyebut semua itu sebagai janji Tuhan, padahal Alkitab tidak mengajarkan demikian.

Kita sering mengira janji Tuhan berbicara tentang perubahan keadaan, padahal Alkitab jauh lebih banyak berbicara tentang perubahan hati. Tuhan tidak pernah menjanjikan hidup tanpa pergumulan. Tuhan menjanjikan penyertaan di tengah pergumulan. Dan penggenapan janji Tuhan tidak pernah bergantung pada kesetiaan atau ketaatan kita, melainkan pada kesetiaan Tuhan sendiri.

Lalu muncul pertanyaan berikutnya. Apakah mudah untuk percaya pada janji Tuhan. Jawabannya, sangat mudah ketika keadaan hidup baik baik saja. Namun tantangan yang sesungguhnya muncul ketika hidup berada dalam kegelapan, ketika suasana hening, atau ketika badai sedang mengamuk. Dalam kehidupan, pengalaman dan perasaan kita sering kali tidak sejalan dengan janji Tuhan. Kita tahu firman Tuhan berkata bahwa Ia tidak akan meninggalkan dan tidak akan membiarkan. Namun di tengah pergumulan, janji itu bisa terasa kosong, jauh, dan tidak nyata.

Ketika keadaan hidup tidak kunjung membaik dan doa doa belum dijawab, janji Tuhan menjadi semakin sulit untuk dipercayai. Masalahnya bukan karena Tuhan ingkar janji, tetapi karena kita lebih mudah mempercayai apa yang kita lihat dan alami daripada apa yang Tuhan firmankan. Justru di tengah kelemahan dan keberdosaan itulah Tuhan menunjukkan bahwa kesetiaanNya tidak pernah bergantung pada kekuatan iman kita.

Kebenarannya adalah ini. Janji Tuhan tetap benar sekalipun keadaan terlihat buruk. Tuhan tidak berubah sekalipun hati kita goyah. Jika Tuhan berfirman, Ia pasti menggenapinya. Oleh sebab itu, marilah kita bertobat jika selama ini kita ragu, curiga, atau bahkan marah kepada Tuhan karena merasa Ia tidak setia seperti yang kita harapkan. Firman Tuhan hari ini mengingatkan bahwa Tuhan tidak pernah lupa dengan apa yang telah Ia janjikan. Ia ingat dan Ia pasti menggenapinya.

Jika di penghujung tahun ini kita sedang berada di tengah badai kehidupan, kiranya kita terus mengingat bahwa Tuhan setia dan Tuhan tidak pernah gagal. Kesetiaan Tuhan tidak hanya dinyatakan lewat kata kata, tetapi dibuktikan melalui penyertaanNya di sepanjang perjalanan umatNya.

Hal inilah yang terlihat dengan jelas di ayat 21 dan 22. Tuhan menyertai perjalanan bangsa Israel melalui tiang awan dan tiang api, yang melambangkan kehadiran dan penyertaanNya. Tiang awan dan tiang api itu tidak pernah beralih siang dan malam. Dua puluh empat jam Tuhan menyatakan kehadiranNya. Ini menunjukkan bahwa Tuhan tidak hanya tahu jalan yang tepat, tetapi Ia juga ikut berjalan bersama umatNya untuk memastikan mereka tiba dengan selamat.

Ketika membaca kisah ini, mungkin muncul rasa iri karena bangsa Israel memiliki tanda yang begitu jelas dan dapat dilihat oleh mata. Namun yang terpenting bukanlah tiang awan atau tiang api itu sendiri, melainkan pribadi Tuhan yang hadir di dalamnya. Kabar baiknya adalah hari ini Tuhan tidak meninggalkan kita tanpa tuntunan. Kita mungkin tidak melihat tiang awan dan tiang api secara kasat mata, tetapi Tuhan memberikan tuntunan yang jauh lebih dekat, yaitu Allah Roh Kudus yang menyertai dan diam bersama kita, yang menuntun kita ke dalam seluruh kebenaran.

Melalui kisah ini kita melihat bagaimana Tuhan memimpin perjalanan umatNya, dan itu menjadi gambaran bagaimana Tuhan memimpin hidup kita. Tuhan tidak memimpin seperti seorang raja yang menunggang kuda jauh di depan sementara umatNya tertinggal di belakang. Tuhan juga tidak memimpin dari belakang dengan membiarkan umatNya maju sendiri dan menghadapi bahaya lebih dulu. Tuhan memimpin dengan cara menuntun.

Dalam perikop ini, kata menuntun muncul berulang kali. Ini bukan kebetulan. Kata ini menggambarkan dengan tepat bagaimana Tuhan menyertai perjalanan hidup umatNya. Tuhan memimpin bukan dari kejauhan, melainkan seperti seorang ayah yang menuntun anaknya berjalan. Menuntun membutuhkan kesabaran. Orang yang menuntun harus menyesuaikan langkahnya dengan orang yang dituntun. Jika seseorang menarik paksa, itu bukan menuntun melainkan menyeret.

Sering kali, seorang anak yang dituntun orang tuanya justru ingin melepaskan tangannya. Anak itu tertarik pada sesuatu yang tampak menarik, padahal belum tentu baik dan bahkan bisa berbahaya. Di situlah ketegasan orang tua terlihat, tetap memegang tangan anaknya meskipun anak itu menangis atau memberontak. Demikian pula Tuhan memperlakukan kita.

Jika kita jujur di hadapan Tuhan, berapa sering kita meragukan kasih dan penyertaanNya. Berapa sering kita merasa lebih tahu apa yang kita butuhkan dibandingkan Tuhan. Seperti bangsa Israel, kita pun sering memberontak dan ingin melepaskan tangan Tuhan karena merasa Tuhan diam atau terlalu lambat menolong. Ada kalanya kita memilih bertindak dengan cara kita sendiri dan mengandalkan akal pikiran kita sendiri, yang kita anggap lebih baik daripada cara Tuhan yang terasa tidak jelas.

Firman Tuhan hari ini mengingatkan bahwa Tuhan bukan hanya tahu apa yang terbaik, tetapi Ia juga setia pada janjiNya dan senantiasa menyertai. Kita tahu bahwa perjalanan bangsa Israel menuju tanah perjanjian bukan dua minggu, bukan satu tahun, bukan sepuluh tahun, melainkan empat puluh tahun. Selama empat puluh tahun mereka berada di padang gurun karena kekerasan hati mereka. Namun satu hal yang pasti, selama empat puluh tahun itu Tuhan tidak pernah meninggalkan mereka, bahkan sedetik pun tidak.

Di sinilah kita melihat tujuan Tuhan yang sesungguhnya ketika Ia mengizinkan umatNya berjalan melalui jalan yang memutar. Dalam Ulangan 29:5-6, Tuhan sendiri berkata bahwa selama empat puluh tahun Ia memimpin mereka di padang gurun. Pakaian mereka tidak rusak, kasut mereka tidak rusak, mereka tidak makan roti dan tidak minum anggur, supaya mereka tahu bahwa Dialah Tuhan Allah mereka.

Selama empat puluh tahun itu, Tuhan sedang mengajar satu hal yang sangat penting, yaitu pengenalan akan diriNya. Ia bukan hanya Tuhan yang membebaskan umatNya dari perbudakan Mesir, tetapi juga Tuhan yang memelihara, Tuhan yang menyertai, dan Tuhan yang setia di sepanjang perjalanan.

Dalam ingatan saya, ada beberapa momen ketika Tuhan mengizinkan saya dan istri mengalami situasi yang serupa. Situasi di mana Tuhan seolah menuntun kami melalui jalan yang sulit dipahami. Bukan sekadar jalan yang memutar, tetapi jalan yang sangat membingungkan. Salah satu yang paling membekas terjadi pada tahun 2017. Pada waktu itu kami sedang menempuh studi di Malang dan telah melewati setengah perjalanan. Kami akan memasuki semester kelima. Namun di saat itu, istri saya mengalami masalah kesehatan yang mengharuskannya menjalani perawatan dan pemulihan rutin di Jakarta.

Pada titik itu kami harus mengambil keputusan yang sangat berat. Kami memutuskan untuk cuti kuliah selama satu semester dan kembali ke Jakarta. Padahal kami sudah menjalani panggilan Tuhan di seminari. Banyak hal telah kami tinggalkan. Kontrakan rumah sudah diperpanjang. Semua telah kami atur. Namun tiba tiba kami harus kembali ke Jakarta dalam kondisi tanpa pemasukan, tanpa pekerjaan, dan tanpa kepastian. Dengan jujur kami bertanya tanya, apa maksud Tuhan. Tuhan telah membawa kami sejauh ini, tetapi mengapa seolah menyuruh kami mundur.

Namun Tuhan sungguh tahu apa yang sedang Ia kerjakan. Enam bulan kemudian, barulah kami menyadari bahwa Tuhan sedang menyingkapkan isi hati kami. Tanpa kami sadari, selama ini sandaran kami bukan sepenuhnya Tuhan. Sekalipun sudah dua tahun berada di seminari Alkitab, karena sebelumnya kami terbiasa bekerja dan menerima gaji, rasa aman kami ternyata masih bertumpu pada pemasukan rutin. Semua itu, tanpa kami sadari, telah menjadi sandaran hati dan membentuk mental serta cara kami merasa aman.

Momen cuti satu semester itu menjadi semacam kurikulum tersembunyi dari Tuhan. Pelajaran yang tidak tertulis di dalam silabus, tetapi sangat nyata dalam kehidupan. Melalui jalan yang terasa memutar, Tuhan sedang membongkar motivasi hati kami dan mengajar kami untuk kembali bersandar penuh kepadaNya. Jalan ke depan tidak menjadi lebih mudah, tetapi melalui proses itu Tuhan membawa kami selangkah lebih dekat untuk mengenal Dia, bukan hanya secara teori, melainkan secara pribadi.

Alkitab juga mencatat pengalaman serupa dalam kehidupan Ayub. Setelah waktu pergumulan yang panjang, penderitaan yang berat, pertanyaan yang tidak terjawab, dan keheningan Tuhan, Ayub sampai pada satu kesimpulan yang sangat indah. Ia berkata bahwa dahulu pengetahuannya tentang Tuhan hanya sebatas mendengar dari orang lain, tetapi kini ia mengenal Tuhan secara langsung. Ketika keadaan baik, Ayub hanya tahu tentang Tuhan. Namun justru melalui penderitaan, Tuhan membawa Ayub kepada pengenalan yang lebih dalam. Dari mengenal Tuhan lewat cerita orang lain, ia dibawa untuk mengenal Tuhan secara pribadi sebagai Tuhan yang hadir dan memegang hidupnya bahkan di tengah penderitaan.

Di sinilah firman Tuhan menolong kita memahami makna perjalanan hidup. Rasul Paulus berkata dalam Roma 8:28 bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia dan terpanggil sesuai dengan rencanaNya. Kata turut bekerja di sini menggunakan kata Yunani sunerg, yang menjadi dasar kata sinergi. Artinya bekerja bersama secara selaras. Ini menunjukkan bahwa Allah bukan Tuhan yang pasif. Ia tidak sekadar mengizinkan sesuatu terjadi lalu membiarkan kita sendiri. Ia hadir dan bekerja bersama kita dalam setiap bagian dan setiap musim kehidupan.

Seperti yang dijelaskan oleh William Newell, istilah all things mencakup seluruh musim hidup, baik gelap maupun terang, bahagia maupun sedih, manis maupun pahit, kelimpahan maupun kesukaran. Semua yang Tuhan izinkan tidak pernah berdiri sendiri. Di dalamnya ada Tuhan yang turut bekerja untuk membawa kita kepada kebaikan yang tertinggi, yaitu pengenalan akan Dia dan keserupaan dengan Kristus.

Tuhan yang turut bekerja di dalam segala sesuatu bukan Tuhan yang jauh dan abstrak. Ia menyatakan kesetiaanNya dengan masuk ke dalam sejarah manusia. Ketika kita membaca kisah Keluaran, kita tidak sekadar membaca catatan sejarah. Kita sedang melihat bayangan karya keselamatan Tuhan. Keluaran adalah kisah pembebasan, tetapi pembebasan itu belum final. Israel keluar dari Mesir, tetapi dosa masih tinggal di hati manusia. Mereka bebas dari perbudakan Firaun, tetapi umat manusia masih berada di bawah perbudakan dosa dan maut.

Pembebasan yang sejati baru digenapi ribuan tahun kemudian. Melalui rentang waktu yang panjang itu, Tuhan kembali menyatakan bahwa Ia setia pada setiap janji yang telah Ia ucapkan dan Ia pasti menggenapinya. Karya keselamatan itu dinyatakan ketika Allah Bapa mengutus AnakNya yang tunggal, Yesus Kristus, Sang Imanuel, turun ke dunia. KehadiranNya membawa pengharapan bagi yang putus asa, damai bagi yang gelisah, dan sukacita bagi yang terhilang.

Penggenapan keselamatan yang sempurna tidak terjadi melalui jalan pintas. Yesus tidak melewati penderitaan, tetapi memikulnya. Ia tidak melewati salib, tetapi taat sampai mati di atas kayu salib. Di Taman Getsemani, Yesus bergumul karena Ia tahu penderitaan yang akan Ia hadapi bukan hanya penderitaan fisik, melainkan keterpisahan dari Bapa, sesuatu yang belum pernah Ia alami. Namun dalam ketaatan yang sempurna Ia berkata bahwa kehendak Bapa yang terjadi.

Puncak penggenapan janji keselamatan terjadi di salib. Di atas kayu salib Yesus berseru, Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku. Di sana kita melihat Sang Imanuel rela mengalami kesendirian karena keterpisahan dengan Bapa. Kita melihat Sang Kebenaran rela dinyatakan bersalah karena menanggung dosa kita. Kita melihat Sang Pembebas rela dihukum oleh manusia berdosa yang hendak ditebusNya.

Di salib kita melihat betapa dalamnya kasih Tuhan, betapa seriusnya dosa manusia, dan betapa mahalnya keselamatan yang kita terima. Melalui salib, kita yang seharusnya mengalami keterpisahan kekal kini diperdamaikan dan hidup dalam persekutuan dengan Allah. Kita yang seharusnya dihukum kini dibenarkan dan diterima sebagai anak anak Allah. Kita yang dahulu adalah budak dosa kini mengalami kebebasan sejati di dalam Kristus. Di salib itulah Yesus melepaskan segalanya supaya kita selamanya aman di dalam genggamanNya.

Pengharapan kita bukan terletak pada kuatnya genggaman kita kepada Tuhan, melainkan pada Kesetiaan Tuhan yang tidak pernah melepaskan genggaman Nya atas hidup kita.

PERTANYAAN REFLEKTIF

Di sepanjang tahun ini, bagaimana respon hati saya ketika Tuhan menuntun saya melalui jalan memutar atau bahkan jalan buntu?

Adakah momen momen di tahun ini di mana saya mencoba melepaskan tangan Tuhan, karena saya merasa tahu jalan yang lebih cepat, lebih aman, atau lebih masuk akal menurut pikiran saya?

Saat saya bersiap melangkah ke tahun yang baru, apa yang memberi saya ketenangan hari ini? Apakah kepastian keadaan, rencana, dan kekuatan saya sendiri, atau keyakinan bahwa hidup saya berada di dalam genggaman tangan Tuhan?

ORANG BERINJIL

Mempercayakan hidup kita kepada Tuhan yang menuntun, bukan hanya ketika jalan terasa jelas dan mudah, tetapi juga ketika Tuhan membawa kita melalui jalan yang memutar dan tidak kita mengerti.

Belajar taat dan bertahan di dalam proses Tuhan, menyadari bahwa Tuhan tidak sedang memperlambat hidup kita, melainkan sedang membentuk hati kita.

Melangkah bersama Tuhan dengan iman, karena Tuhan yang menuntun tidak pernah melepaskan genggaman Nya atas hidup kita.