Ambassadors of Divine Mysteries

Special Sunday Service

“The Ambassadors of Divine Mystery”

Ps. Yakub Tri Handoko

 

BACAAN: Kolose 1:27-29

1:27 Kepada mereka Allah mau memberitahukan, betapa kaya dan mulianya rahasia itu di antara bangsa-bangsa lain, yaitu: Kristus ada di tengah-tengah kamu, Kristus yang adalah pengharapan akan kemuliaan!

1:28 Dialah yang kami beritakan, apabila tiap-tiap orang kami nasihati dan tiap-tiap orang kami ajari dalam segala hikmat, untuk memimpin tiap-tiap orang kepada kesempurnaan dalam Kristus.

1:29 Itulah yang kuusahakan dan kupergumulkan dengan segala tenaga sesuai dengan kuasa-Nya, yang bekerja dengan kuat di dalam aku.

 

Salam sejahtera dari Tuhan kita Yesus Kristus untuk setiap kita. Saya mengawali pesan ini dengan sebuah rasa syukur yang mendalam, karena Tuhan masih mempercayakan kesempatan kepada saya yang lemah, terbatas, dan berdosa ini. Hanya oleh anugerah-Nya semata, Tuhan terus mempercayakan firman yang mulia itu kepada saya yang hina. Pengakuan ini bukanlah sekadar pemanis kata atau slogan rohani yang sering kita dengar. Saya mengucapkan ini karena saya menyadari sepenuhnya di kedalaman hati saya, how broken I am and how faithful God is—betapa hancurnya diri saya dan betapa setianya Allah. Kita yang berada di dalam gereja yang sudah mendeklarasikan diri sebagai gereja yang berpusat pada Injil (gospel-centered), terkadang tanpa sadar terjebak pada slogan-slogan semata. Kita begitu mudah meneriakkan jargon rohani, tetapi pertanyaan kritisnya adalah: apakah apa yang kita slogankan itu benar-benar kita alami dalam kehidupan nyata?

Hari ini, saya mengajak kita semua untuk merenungkan sebuah tema yang sangat esensial, yaitu panggilan kita sebagai The Ambassadors of Divine Mystery. Kita ini adalah duta-duta dari misteri ilahi yang luar biasa itu. Sebagai seorang duta, kita menjadi perwakilan resmi dari misteri ilahi tersebut, yaitu Injil. Sehingga, pertanyaan yang harus terus menggema di dalam benak kita adalah: jika orang lain melihat kita dan hidup bersama dengan kita sehari-hari, apakah orang itu bisa mengenal Injil dengan lebih baik? Apa yang ingin kita tunjukkan kepada dunia haruslah benar-benar selaras dengan siapa diri kita sebenarnya.

Saya teringat kisah epik dari komedian Indonesia, Asri Welas. Suatu ketika, ia diundang syuting iklan sabun yang biasanya dibintangi oleh selebriti cantik. Ia datang dengan antusias, tetapi kebingungan karena semua artis lain dirias kecuali dirinya. Saat syuting dimulai, ia hanya diminta masuk ke dalam bathtub (bak mandi) dan ternyata hanya kakinya yang disorot oleh kamera. Setelah itu, ia disuruh pulang, sementara wajah yang kelak ditampilkan di layar kaca adalah wajah artis lain. Ternyata, pihak agensi hanya membutuhkan kakinya yang dinilai sangat bagus, bukan wajahnya.

Cerita ini mengajarkan saya bahwa apa yang kita "jual" atau tawarkan ke dunia harus selaras dengan identitas kita yang sebenarnya. Setiap minggu kita merayakan keindahan Injil (the beauty of the gospel), tetapi pertanyaannya, apakah orang-orang di sekitar kita bisa sungguh-sungguh melihat keindahan itu melalui hidup kita?

Untuk mengevaluasi diri kita, saya sering mengajukan dua pertanyaan.

Pertama, dalam setahun terakhir, berapa banyak orang yang telah mendengarkan Injil secara lisan melalui Anda? Mungkin kita beralasan, "Saya tidak memberitakan Injil karena saya seorang introvert." Saya tahu, orang introvert yang memaksakan diri berbicara kadang bisa terasa aneh dan canggung. Bayangkan saja, di dalam gereja saat hitung mundur ibadah tinggal satu menit, seorang introvert yang memaksakan diri untuk ramah malah bertanya kepada jemaat di sebelahnya, "Mau ibadah, ya?" Atau saat melihat orang sendirian, ia bertanya, "Sendirian, ya?", padahal sekalian saja ia tanya "Kristen, ya?"

Jika kita beralasan sulit memberitakan Injil secara verbal, pertanyaan kedua saya adalah: berapa banyak orang yang telah melihat dan merasakan Injil secara nyata melalui hidup Anda? Saya khawatir gereja kita hanya pandai membuat slogan-slogan manis tentang Injil, tetapi hidup kita sendiri sama sekali tidak dirasakan manis oleh orang lain.

Mengapa kita sering kali kehilangan dorongan untuk memberitakan Injil dan gagal menjadi wujud konkret dari pesannya? Menurut evaluasi saya, ada dua persoalan mendasar. Pertama, kita sebenarnya belum sungguh sungguh mengalami atau memahami keindahan Injil itu di dalam hati kita. Kedua, kita mungkin tidak tahu bagaimana cara menyampaikannya secara tepat.

Oleh karena itu, hari ini saya ingin mengupas betapa mulia dan indahnya Injil itu, serta bagaimana kita bisa menyampaikannya secara relevan kepada dunia. Karena semangat untuk memberitakan Injil ditentukan oleh pemahaman tentang keberhargaan Injil. Jika kita merasa memiliki sesuatu yang sangat berharga dan mulia, rasanya mustahil jika kita tidak menceritakannya.

 

MEMAHAMI KEINDAHAN INJIL

Mari kita melihat Kolose 1:27–29, sebuah bagian Alkitab yang ironisnya jarang sekali dikhotbahkan. Melalui nas ini, Rasul Paulus memaparkan betapa indahnya Injil sebagai sebuah misteri ilahi. Untuk memahaminya, kita perlu melihat latar belakang jemaat Kolose yang saat itu sedang menghadapi paparan ajaran sesat. Menurut analisis saya, ajaran ini adalah semacam mistisisme Yahudi, karena di dalamnya terdapat aturan hari Sabat, makanan, ibadah kepada para malaikat, pencarian penglihatan penglihatan, dan penyiksaan diri (asketisme).

Ajaran ini sangat menekankan hal hal yang bombastis, spektakuler, dan misterius terkait keberadaan ilahi yang melampaui manusia. Mengapa jemaat tertarik pada hal semacam itu? Karena kita diciptakan sebagai gambar Allah (Imago Dei). Kita bukan hanya tanah liat, melainkan tanah liat yang telah dihembusi nafas Allah, sehingga di dalam diri kita selalu ada kerinduan terhadap hal hal ilahi yang transenden.

Jika harus memilih antara acara pemahaman Alkitab biasa tentang surga dengan kesaksian spektakuler orang yang baru "pulang dari surga", mayoritas orang pasti akan memilih mendengarkan kesaksian karena sifatnya yang eksklusif dan misterius. Seandainya manusia tidak dihembusi nafas Allah, kita semua ini tak lebih dari sekadar tanah liat berbentuk celengan.

Namun, Injil sangatlah berbeda dengan misteri buatan manusia. Misteri ilahi dalam Injil merupakan inisiatif murni dari Allah, bukan hasil ritual atau usaha keras asketisme manusia. Allah-lah yang berkehendak memberitahukannya (to whom God will make known).

Hal ini persis seperti kisah Zakheus. Zakheus merasa harus berusaha keras memanjat pohon ara demi melihat Tuhan, namun pada kenyataannya, Yesus-lah yang berinisiatif melihat dan memanggilnya turun. Bahkan seandainya Zakheus tidak memanjat pohon sekalipun, Yesus tetap akan menemukannya, sebab Ia memang datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.

Lebih dari itu, misteri ini berbicara tentang sebuah kehadiran yang sangat personal: "Kristus ada di tengah-tengah kamu." Injil bukanlah sekadar doktrin atau konsep abstrak mengenai pikiran alam semesta seperti filsafat orang Yunani, melainkan tentang Allah yang berpribadi dan tinggal bersama kita.

Di masa depan, saat Artificial Intelligence (AI) semakin maju, saya yakin dunia akan mengalami kekeringan emosional yang luar biasa akan emotional touch. Saya percaya AI tidak akan pernah bisa menggantikan figur manusia yang penuh kasih sayang.

Coba bayangkan sebuah "boneka ajaib" dari Amerika yang diprogram untuk selalu mengucapkan kalimat positif secara sempurna, seperti "I love you so much," setiap kali tombolnya ditekan. Ketika ditanya, para istri pasti akan tetap memilih suami mereka yang nyata dibandingkan boneka tersebut, meskipun sang suami asli terkadang menyebalkan. Kita merindukan kehadiran seorang pribadi.

Kehadiran-Nya memberikan jaminan dan kepastian pengharapan akan kemuliaan.Manusia tidak suka hidup dalam ketidakpastian. Injil memberikan kepastian yang sungguh didambakan oleh jiwa kita.

BAGAIMANA KITA MEMBERITAKAN INJIL?

Jika kita sudah memahami betapa luar biasanya Kristus sebagai satu satunya harta yang paling berharga, langkah selanjutnya adalah: bagaimana kita bisa memberitahukan hal ini kepada orang lain? Menurut saya, memberitakan Injil itu gampang gampang susah, tetapi porsinya lebih banyak gampangnya. Ini bukanlah sesuatu yang "susah susah sulit". Dengan merujuk pada pemaparan Paulus, mari kita pelajari empat prinsip penting dalam memberitakan Injil sehari hari.

 

1. Fokus pada Pribadi Kristus

Paulus menegaskan, "Dialah yang kami beritakan." Paulus tidak mengatakan "Injil-lah yang kami beritakan," melainkan dengan tegas merujuk pada sang Pribadi, "Dialah." Fokus penginjilan bukanlah sekadar mendebatkan seperangkat doktrin agama yang abstrak, melainkan memperkenalkan Kristus sebagai jawaban relasional bagi dunia.

Jika kita benar benar telah mengalami keindahan Kristus dalam hidup kita, menceritakan tentang-Nya seharusnya menjadi hal yang sangat alamiah. Membagi Injil tidak akan terasa sukar karena kita hanya membagikan pengalaman nyata yang telah kita rasakan. Kekristenan menawarkan Tuhan yang paling personal di antara semua kepercayaan. Allah kita bukan sekadar turun menjadi manusia, tetapi Ia juga memiliki emosi.

Di Taman Getsemani Ia berkata bahwa hati-Nya sedih seperti mau mati. Di depan kubur Lazarus, Ia bisa menangis tersedu-sedu kehilangan sahabat-Nya, padahal Ia sangat tahu bahwa dalam hitungan menit Ia akan membangkitkan Lazarus. Allah kita sangat riil. Karena masalah terbesar umat manusia adalah dosa, dan Kristus hadir secara personal sebagai solusi yang nyata, maka Dia seharusnya sangat menarik bagi semua orang yang sedang mencari kedamaian sejati.

 

2. Disertai Teguran dan Ajaran yang Berhikmat

Paulus mengatakan bahwa memberitakan Kristus harus dilakukan dengan cara menasihati, mengajari, dan bahkan memperingatkan, dengan catatan: "dalam segala hikmat." Injil adalah perpaduan yang tak terpisahkan antara kasih karunia (grace) dan kebenaran (truth). Sesuai perintah firman Tuhan, kita harus speaking the truth in love. Kebenaran terkadang harus berbentuk peringatan keras, tetapi cara kita menyampaikannya haruslah dibalut dengan kebijaksanaan tingkat tinggi.

Kita sering melihat dua sisi ekstrem dalam gereja yang tidak berhikmat. Ekstrem pertama adalah pengkhotbah yang alergi berbicara tentang dosa atau neraka demi menjaga sentimen positif. Ekstrem kedua adalah orang Kristen yang sedikit-sedikit menakut-nakuti orang lain dengan neraka. Saya pernah mewawancarai seorang remaja non Kristen di sebuah sekolah. Ia mengatakan bahwa orang Kristen itu baik, tetapi ia sangat muak karena setiap kali berpapasan dengan mereka, ia selalu ditakut takuti dan dilabeli sebagai "calon penghuni neraka".

Pengalaman personal saya menguatkan hal ini. Saat saya meriset Ph.D. di Amerika, saya dimintai tolong untuk menginjili seorang bapak yang sedang berlibur. Bapak ini trauma dan malas bertemu pendeta karena selalu merasa dihakimi sebagai penghuni neraka di masa lalu. Alih alih menghakiminya, saya menggunakan pendekatan budaya Jawa dengan penuh tata krama. "Bapak, kalau mau tidur, silakan tidak apa apa. Jangan sungkan," kata saya. Justru karena saya menghormatinya, ia merasa sungkan dan akhirnya mau duduk mengobrol. Saya tetap memberitakan kebenaran Injil, namun tanpa nada menghakimi, dan bapak itu bersedia mendengarkan dengan hati terbuka.

Mentor saya, almarhum Pdt. Joseph Tong, pernah menasihati: "Kalau kamu memberitakan Injil kepada seseorang, sebisa mungkin jadikan dia saudara seiman. Jika tidak bisa, pastikan dia menjadi kawan. Jika tetap tidak bisa, setidaknya pastikan dia tidak menjadi lawan."

Sayangnya, banyak orang Kristen yang tidak berhikmat, sibuk meributkan hal hal sepele non esensial seperti mengurusi tato atau rambut gondrong orang yang belum percaya. Ketidakbijaksanaan semacam inilah yang justru menjauhkan banyak jiwa dari anugerah Tuhan yang seharusnya kita tawarkan.

 

3. Pendekatan Individual Menuju Kesempurnaan

Paulus berambisi untuk memimpin "tiap tiap orang" kepada kesempurnaan dalam Kristus.Perhatikan kata "tiap tiap orang." Penginjilan haruslah sangat spesifik dan personal, bukan sekadar melihat orang secara massal atau kategorial.

Di masa lalu, saya sering berdosa melakukan hal ini saat menjadi "penginjil angkot". Saya selalu bertanya kepada penumpang kapan ia akan turun. Jika ia turun sebentar lagi, saya akan segera menembaknya dengan pertanyaan klise, "Bapak kalau mati hari ini, Bapak masuk mana?" Saya bahkan tidak peduli untuk menanyakan namanya, apalagi menanyakan pergumulan spesifik yang sedang dihadapinya. Pernah juga saya mendengar ada orang Kristen yang nekat mengabarkan Injil di toilet umum. Sikap yang nir etika, kehilangan tata krama, dan tidak sopan semacam ini hanya akan membuat orang merasa antipati terhadap kekristenan.

Membawa Injil yang tak lekang oleh zaman tidak berarti kita boleh mengabaikan sopan santun dan kepekaan sosial. Injil harus tercermin bersinar dari empati keseharian kita.

Suatu hari saya makan bersama keluarga di restoran, dan makanan kami terlambat datang lebih dari satu jam. Alih alih mengamuk, saya memanggil manajer restoran tersebut dan menanyakan alasannya dengan sangat sopan. Saya sabar menunggu dan memahami situasi mereka. Kesabaran dan empati seperti ini memberikan ruang bagi pelayan restoran untuk merasakan percikan keindahan Injil melalui hidup pelanggannya. Injil tidak hanya untuk didiktekan sebagai teori, tetapi harus sungguh sungguh didemonstrasikan dalam tindakan nyata.

 

4. Bekerja Keras dan Bersandar Sepenuhnya pada Kuasa Allah

Sebagai duta Kristus, kita dituntut untuk bekerja keras. Paulus sendiri menggunakan kata agonyyang berarti bersusah payah dan menderita demi Injil. Memberitakan Injil tidak bisa dilakukan dengan sikap pasif yang hanya menunggu orang datang ke gereja.

Ironisnya, doa kita sering kali terdengar "kurang ajar" di telinga Tuhan. Yesus mengamanatkan, "Pergilah dan jadikanlah semua bangsa murid-Ku." Kita yang diperintahkan untuk pergi, malah kita berdoa menyuruh Tuhan yang melawat suku suku pedalaman. Kita harus proaktif: berdoalah (pray), bagikan kisah hidup (share), dan undanglah mereka (invite).

Namun, di tengah kerja keras itu, Paulus mengingatkan kita untuk berjuang "sesuai dengan kuasa-Nya yang bekerja dengan kuat di dalam aku." Keselamatan dan pertobatan seseorang mutlak adalah karya kedaulatan Tuhan, bukan hasil retorika persuasif kita.

Saya sangat tidak setuju dengan pengkhotbah yang menyombongkan diri telah mempertobatkan ribuan orang. Saat saya berkhotbah di sebuah acara camp retreat dan melihat ratusan anak muda maju menerima Kristus, saya sangat sadar bahwa saya tidak mempertobatkan satu orang pun.Saya hanyalah menuai hasil panen dari benih yang telah sekian lama ditanam, dirawat, dan disirami dengan penuh kesabaran oleh kebaikan teman teman Kristen mereka dalam keseharian.

Oleh karena itu, bekerjalah dengan giat, namun tetaplah bersandar rendah hati pada kedaulatan Allah.

 

DUNIA MEMBUTUHKAN INJIL YANG HIDUP

Sebagai penutup dari perenungan ini: Jika Injil adalah kekuatan Allah dan pemberitaan Injil disertai dengan kuasa Allah, tidak ada satupun alasan bagi kita untuk menyerah terhadap sekeras apa pun hati manusia. Namun, kuasa ilahi itu hanya akan nyata bekerja apabila yang kita beritakan sungguh sungguh adalah Kristus itu sendiri, bukan sekadar doktrin kering mengenai-Nya.

Seseorang pernah bertanya kepada saya tentang kelanjutan gospel centered movement di Indonesia. Jawaban saya tegas: pergerakan ini pasti akan mati jika Pribadi Kristus mulai digantikan oleh sekadar pengetahuan doktrin atau jargon jargon tentang Kristus.

Dunia tidak sekadar membutuhkan knowledge (pengetahuan). Jika gereja hanya mampu menawarkan konsep pengetahuan, eksistensi gereja sudah bisa digantikan sepenuhnya oleh AI. Yang sangat dibutuhkan oleh dunia saat ini adalah kehadiran nyata dari sang Pribadi yang hidup.

Oleh karena itu, melalui doa saya memohon, mari kita keluar dari rutinitas zona nyaman kita untuk menghadirkan Injil secara nyata, agar orang lain bukan sekadar mendengar teori agama kita, tetapi benar benar melihat dan menikmati keindahan Injil yang mengubah kehidupan melalui diri kita.

 

Implikasi Injil

Identitas kita sebagai duta Injil harus tercermin dalam kehidupan nyata melalui empati, kesabaran, dan perilaku sehari hari, bukan sekadar jargon rohani.

Injil bukan sekadar doktrin atau aturan agama, tetapi tentang Kristus yang hidup dan hadir di tengah kita. Karena itu, pemberitaan Injil harus memperkenalkan Kristus sebagai jawaban nyata bagi dunia yang kehilangan kedamaian.

Kita dipanggil untuk aktif memberitakan Injil melalui doa, berbagi, dan mengundang dengan hikmat, sambil tetap rendah hati dan bersandar pada kedaulatan Allah yang menyelamatkan.

 

Pertanyaan Reflektif

● Dalam satu tahun terakhir, berapa banyak orang di sekitar saya yang telah benar-benar melihat dan merasakan keindahan Injil secara nyata melalui sikap dan tindakan saya sehari-hari?

● Ketika berinteraksi dengan orang yang belum percaya, apakah saya menyampaikan kebenaran Injil dengan penuh hikmat dan tata krama, ataukah saya cenderung menghakimi, menakut-nakuti, dan meributkan hal-hal sepele yang justru menjauhkan mereka?

● Apakah selama ini saya sudah mempedulikan pergumulan spesifik individu di sekitar saya secara proaktif, sambil menyadari dan berserah bahwa hanya kuasa Allah yang mampu mempertobatkan hati mereka?