A Prayer that Can Change Everything

Special Sunday Service – A Prayer That Can Change Everything

Ps. Anthony Pribudi

 

Fokus utama pembelajaran hari ini ditujukan bagi setiap orang yang sedang mengalami kesesakan. Kesesakan adalah kondisi ketika seseorang merasa seolah tercekik oleh tekanan. Dampaknya tidak hanya dirasakan secara emosional, tetapi juga secara fisik, seperti asam lambung naik, dada sesak, sulit tidur, tubuh terasa berat, kepala terasa penuh, kehilangan motivasi, serta sukacita yang memudar karena hidup terasa dipenuhi ketakutan dan tekanan.

Bagi yang saat ini tidak sedang mengalaminya, firman ini tetap relevan. Pertama, setiap orang pasti pernah mengalami kesesakan. Kedua, setiap orang pada waktunya akan kembali menghadapinya. Selama kita hidup di dunia yang telah rusak oleh dosa, kesulitan tidak dapat dihindari.

Namun, ada kabar baik. Jika kita memperhatikan sejarah, kisah kisah Alkitab, dan kehidupan di sekitar kita, tampak sebuah pola yang berulang. Ketika Tuhan mengizinkan kesesakan terjadi, sering kali justru pada masa itulah Ia sedang mengerjakan karya terbaik Nya. Masa kesulitan kerap menjadi titik penting dalam pembentukan hidup kita. Karena itu, jika hari ini Saudara sedang berada di titik terendah, percayalah bahwa Tuhan dapat memakai masa ini untuk kemuliaan Nya dan kebaikan kita (His glory and my good).

Pelajaran terpenting dari firman Tuhan hari ini adalah bahwa respons utama di tengah kesesakan, tantangan, dan pergumulan hidup adalah berdoa. Meskipun ajakan untuk berdoa sering kali terdengar seperti candaan atau sekadar tren di media sosial, Alkitab mengajarkan bahwa doa adalah respons paling krusial ketika menghadapi tekanan hidup.

Hari ini kita akan mempelajari doa seperti apa yang seharusnya dipanjatkan. Sebab, ketika kita berdoa dengan benar di tengah pergumulan, doa tersebut dapat mendatangkan berkat yang besar. Kita akan melihat apa yang perlu didoakan dan karya besar apa yang Tuhan kerjakan melalui penderitaan.

Sebelum melangkah lebih jauh, renungkanlah sebuah pertanyaan: ketika menghadapi masa sulit, apa yang paling sering kita minta dalam doa? Untuk menjawabnya, kita akan belajar dari doa Rasul Paulus bagi jemaat Efesus. Doa ini mengajarkan sebuah doa yang berkuasa, yang apabila dipanjatkan di tengah kesesakan, dapat mengubah segalanya.

 

BACAAN: Efesus 3:14-21

3:14 Itulah sebabnya aku sujud kepada Bapa, 

3:15 yang dari pada-Nya semua turunan yang di dalam sorga dan di atas bumi menerima namanya. 

3:16 Aku berdoa supaya Ia, menurut kekayaan kemuliaan-Nya, menguatkan dan meneguhkan kamu oleh Roh-Nya di dalam batinmu, 

3:17 sehingga oleh imanmu Kristus diam di dalam hatimu dan kamu berakar serta berdasar di dalam kasih. 

3:18 Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, 

3:19 dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan. Aku berdoa, supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah. 

3:20 Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita, 

3:21 bagi Dialah kemuliaan di dalam jemaat dan di dalam Kristus Yesus turun-temurun sampai selama-lamanya. Amin.

 

Berdasarkan surat Efesus 3:14-21, kita akan mempelajari tiga poin utama. Pertama, kita akan melihat apa yang mendorong Paulus untuk berdoa dan untuk apa ia berdoa, seperti yang tertulis pada ayat 14-15. Kedua, kita akan menggali apa saja isi doa Paulus, apa yang ia minta, dan mengapa hal itu begitu penting, yang terdapat pada ayat 16-19. Terakhir, kita akan melihat hasil atau dampak yang Paulus harapkan terjadi dalam kehidupan jemaat ketika mereka berdoa dan Tuhan menjawab permohonan tersebut, sebagaimana dicatat pada ayat 20-21.

 

Mengapa dan Untuk Apa Paulus Berdoa?

Kita mulai dengan bagian yang pertama. Jika kita membaca perikop ini, semuanya dimulai dengan sebuah kalimat yang berbunyi, "Itulah sebabnya aku sujud kepada Bapa." Saat menemukan kalimat seperti ini di Alkitab, kita harus mencari tahu apa sebabnya Paulus berdoa. Jawabannya ada tepat satu ayat sebelumnya, yaitu di ayat 13, di mana Paulus meminta agar jemaat jangan tawar hati melihat kesesakannya, karena kesesakan itu adalah kemuliaan mereka. Jadi, alasan utama Paulus berdoa adalah supaya jemaat di Efesus tidak tawar hati dalam menghadapi situasi berat mereka.

Mari kita lihat gambaran konteks yang dihadapi oleh gereja Efesus. Gereja ini bukanlah gereja baru, melainkan gereja dewasa yang sudah mapan dari hasil pelayanan Paulus. Namun, mereka hidup di masa di mana mempertahankan iman kekristenan tidaklah mudah. Mengikut Yesus pada zaman itu berarti menghadapi tekanan sosial yang nyata. Mereka berisiko ditinggalkan oleh teman teman, keluarga, kehilangan pekerjaan, kehilangan koneksi, hingga mengalami persekusi.

Situasi yang menekan ini memicu keraguan mendalam. Mereka mungkin mulai bertanya tanya, apakah menjadi orang Kristen memang harus sesulit ini? Mengapa setelah menjadi pengikut Kristus, hidup bukannya menjadi lebih mulus tetapi justru semakin berat? Pertanyaan pertanyaan ini mungkin sangat relevan bagi sebagian dari kita hari ini. Mengapa Tuhan yang mengasihi kita masih mengizinkan penyakit kanker, kehilangan besar, dan hal hal menyakitkan terjadi di dalam kehidupan kita?

Keraguan jemaat Efesus memuncak ketika mereka melihat Paulus, sosok yang pertama kali menabur Injil dan mengarahkan mereka kepada Kristus, justru ditangkap, dipenjara, dan terancam hukuman mati. Situasi ini terasa sangat tidak adil. Orang orang yang tidak mengenal Tuhan tampak memiliki hidup yang lebih gampang, sementara hamba Tuhan yang menyerahkan seluruh hidupnya justru menderita. Tekanan hidup inilah yang membuat Paulus sangat khawatir jemaatnya akan jatuh ke dalam tawar hati.

Tawar hati dalam bahasa aslinya memiliki arti kehilangan roh atau kehilangan semangat. Ini adalah keadaan di mana seseorang kehilangan gairah, motivasi, dan sukacita. Melayani Tuhan atau sekadar menjalani kehidupan dan pekerjaan terasa sangat menjenuhkan, berat, serta hampa. Saat kesesakan terjadi, hanya ada dua opsi bagi kita: bertumbuh menjadi lebih baik atau justru memburuk. Jika kita gagal merespons dengan benar, krisis ekonomi, doa yang belum terjawab, atau kehilangan akan menyedot seluruh gairah hidup kita layaknya mesin penyedot debu, membuat kita menyerah pada keadaan.

Dalam situasi krisis seperti ini, logika manusia biasanya akan berdoa meminta jalan keluar instan. Jika kita menjadi Paulus, mungkin kita akan meminta agar Tuhan membebaskannya dari penjara atau segera menyelesaikan semua masalah yang menekan jemaat. Namun luar biasanya, Paulus sama sekali tidak berdoa meminta situasi di luar berubah atau meminta badai segera berlalu.

Sebaliknya, ia berdoa agar Tuhan melakukan sesuatu di dalam diri jemaat Efesus. Paulus menyadari sepenuhnya bahwa yang paling dibutuhkan oleh jemaat bukanlah perubahan keadaan, melainkan hati, jiwa, dan batin yang dikuatkan di tengah tengah penderitaan tersebut.

Dengan hati yang kuat di tengah badai, seseorang akan mampu melihat kemuliaan. Jika hari ini Anda sedang mengalami masa kesesakan yang luar biasa berat dan tersembunyi di balik senyuman Anda, cobalah tanyakan pada diri sendiri dengan jujur: Apakah Anda percaya dengan segenap hati bahwa di balik setiap pergumulan dan masalah, tangan Tuhan sedang mengerjakan suatu kemuliaan dalam hidup Anda? Inilah alasan Paulus berdoa agar jemaat dikuatkan, supaya mereka dapat melihat kemuliaan yang menanti di ujung lorong penderitaan.

Detail penting lainnya adalah Paulus menggunakan kalimat "aku sujud kepada Bapa" alih alih sekadar berkata bahwa ia berdoa. Dalam konteks budaya Yahudi saat itu, orang biasa berdoa sambil berdiri di jalan jalan, bukan duduk atau bersujud. Penggunaan kata sujud di sini menunjukkan bahwa ini bukanlah doa yang biasa. Sujud melambangkan permohonan yang mendalam, kerendahan hati, dan keputusasaan yang bergantung penuh pada Tuhan.

Paulus memposisikan dirinya seperti seorang pengemis yang memohon di hadapan Tuhan karena ia tahu persis bahwa apa yang ia minta adalah sesuatu yang mustahil diusahakan oleh kekuatan manusia. Hal tersebut hanya bisa dikerjakan oleh Tuhan dan Roh Kudus di dalam batin jemaat. Lalu, apa sebenarnya tiga hal yang Paulus minta dengan bersujud kepada Bapa tersebut? Kita akan melihatnya bersama sama di bagian selanjutnya.

 

Apa yang Diminta Paulus & Mengapa Hal Ini Begitu Penting?

Sebagaimana dicatat dalam Efesus 3:16-19, terdapat tiga hal utama yang menjadi pokok doa Paulus. Ketiga permohonan ini bukanlah bagian yang terpisah, melainkan sebuah rangkaian utuh yang saling berkaitan satu sama lain.

Pertama, Paulus berdoa agar Tuhan menguatkan dan meneguhkan batin jemaat melalui Roh Nya. Kedua, supaya mereka dapat memahami dimensi kasih Kristus yang melampaui segala pengetahuan. Ketiga, agar mereka dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah. Mari kita bedah permohonan ini mulai dari poin yang pertama.

Paulus memohon agar Tuhan menguatkan batin jemaat supaya Kristus dapat berdiam di dalam hati mereka. Jika kita berada di posisi Paulus, kita pasti sangat memahami betapa beratnya tekanan yang dialami jemaat Efesus. Mereka harus menghadapi tekanan sosial, persekusi, dan terpaksa hidup di tengah kota yang penuh dengan praktik penyembahan berhala.

Setiap hari iman mereka terus dibombardir oleh godaan sekitar yang menganggap kehidupan pengikut Kristus hanya penuh dengan kesusahan. Apalagi saat itu, jemaat Efesus harus melihat Paulus sebagai pemimpin rohani mereka mendekam di dalam penjara. Kekhawatiran Paulus akan iman jemaat yang berpotensi menjadi tawar hati adalah sesuatu yang sangat beralasan dan nyata.

Namun, Paulus menyadari sebuah kebenaran yang sangat penting. Satu satunya Pribadi yang sanggup menjaga iman jemaat agar tetap teguh di tengah segala kesulitan badai kehidupan adalah Gembala Agung sejati, yaitu Tuhan Yesus Kristus. Itulah sebabnya Paulus berdoa dan menyerahkan sepenuhnya perlindungan jemaat kepada Tuhan.

Terkait dengan hal ini, ada sebuah perenungan penting mengenai esensi rasa syukur. Kita mungkin sering mengucap syukur untuk kesehatan jasmani, pekerjaan yang mapan, atau kemampuan untuk beraktivitas. Namun, kapan terakhir kali kita bangun pagi dan bersyukur semata mata karena kita masih diizinkan menjadi orang Kristen?

Bagi siapa saja yang saat ini sedang mengalami masa kesesakan hidup yang luar biasa berat, fakta bahwa Anda masih bisa percaya kepada Allah Tritunggal dan menyebut diri sebagai anak Allah adalah sebuah mukjizat yang teramat besar. Memiliki iman yang bertahan kepada Yesus Kristus bukanlah hasil dari kehebatan dan kekuatan kita sendiri, melainkan anugerah Tuhan yang tidak bisa dibeli oleh dunia.

Paulus kemudian melanjutkan doanya dengan sebuah kalimat yang bermakna sangat dalam, yaitu supaya Kristus diam di dalam hati kita. Tentu saja setiap orang Kristen sudah memiliki Kristus di dalam dirinya. Namun, ada perbedaan realita yang besar antara sekadar memiliki rumah dan benar benar menjadikan bangunan tersebut sebagai tempat tinggal yang nyaman.

Sama seperti ketika kita membeli rumah tua yang penuh dengan barang rongsokan dan warna yang tidak kita sukai, kita harus merombak dan membersihkannya secara total terlebih dahulu sebelum menempatinya. Ketika Kristus masuk ke dalam hati kita, Dia sering kali mendapati banyak ruang batin yang masih dipenuhi oleh hal hal duniawi, seperti gila pengakuan, kecintaan pada uang, atau ambisi pribadi yang memberikan rasa aman yang semu.

Oleh karena itu, Kristus tidak hanya ingin sekadar tinggal menumpang, tetapi Dia ingin benar benar berdiam secara utuh di sana. Dia mulai membersihkan, merombak, dan menata ulang seluruh hati kita, dan proses pemurnian ini sering kali terjadi justru melalui masa masa kesesakan. Kita harus percaya bahwa Tuhan Yesus adalah Arsitek terhebat yang mampu merancang kehidupan kita menjadi jauh lebih indah daripada yang bisa kita bayangkan, meskipun prosesnya mengharuskan kita membuang barang perabot lama yang masih kita anggap berharga.

Hasil dari hati yang telah direnovasi oleh Tuhan ini adalah kehidupan yang berakar serta berdasar di dalam kasih. Jika kita rindu dipakai Tuhan menjadi berkat bagi lebih banyak orang, hati kita wajib memiliki konsep kasih yang benar. Tanpa pemurnian dari Tuhan, kasih manusia sering kali bersifat sangat manipulatif, egois, dan hanya berpusat pada kepentingannya sendiri.

Tuhan seringkali sengaja mengizinkan penderitaan untuk membentuk hati kita agar berakar pada kasih yang sejati. Mengutip kalimat Charles Spurgeon, setiap kali Tuhan hendak membuat seseorang menjadi besar dan luar biasa, Ia akan terlebih dahulu menghancurkannya menjadi kepingan kepingan. Tuhan harus membersihkan dan merombak hati seseorang sebelum memercayakan pelayanan yang lebih besar.

Doa Paulus yang kedua adalah supaya jemaat dapat memahami seberapa besar, panjang, dan dalamnya kasih Kristus secara nyata. Pengenalan akan kasih Tuhan tidak cukup hanya didapat dengan menghafal buku teologi atau sekadar mendengarkan khotbah. Pengenalan itu harus melalui pengalaman secara pribadi, dan pengalaman terdalam ini sering kali terjadi di tengah masa kesesakan.

Sebagai gambaran sederhana, seorang anak kecil mungkin akan menganggap ayahnya penuh kasih jika ia selalu dibelikan es krim atau mainan setiap hari. Padahal, bukti cinta sejati seorang ayah justru paling terlihat pada saat ia berani mendisiplinkan dan melarang anaknya menyentuh hal hal yang berbahaya, meskipun sang anak mungkin akan marah dan menganggap ayahnya sangat jahat.

Demikian juga pola hubungan kita dengan Tuhan. Kita sering menuntut Tuhan untuk mengabulkan segala ambisi dan keinginan instan kita sebagai bukti cinta Nya. Padahal, saat Tuhan mengambil sesuatu yang berharga dari kita atau membiarkan kita melewati kesulitan, justru pada saat itulah Dia sedang menunjukkan kasih Nya yang paling dalam. Di tengah kesesakan hidup, Roh Kudus bekerja agar kita menyadari bahwa kasih Tuhan jauh lebih besar dari apa pun, melampaui krisis, penderitaan, dan bahkan kematian.

Klimaks dari seluruh rangkaian permohonan ini ada pada doa Paulus yang ketiga, yaitu supaya jemaat dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah. Pernyataan ini mungkin terdengar sangat bertentangan dengan realita penderitaan yang seakan akan terus mengosongkan dan merampas kenyamanan hidup kita. Namun di sinilah letak misteri besarnya. Sebelum Tuhan memenuhi kita dengan kemuliaan Nya, Dia harus mengosongkan kita terlebih dahulu.

Segala kenikmatan yang ditawarkan dunia seperti uang, popularitas, dan kesuksesan tidak ada apa apanya jika dibandingkan dengan kepuasan sejati yang datang dari Allah sendiri. Tokoh rohani John Piper pernah menyatakan bahwa keengganan kita merindukan kemuliaan Allah terjadi karena kita terlalu asyik menikmati hidangan dunia. Jiwa kita terlalu penuh sesak dengan hal hal kecil yang fana, sehingga tidak ada lagi ruang tersisa untuk menerima Pribadi yang terbesar.

Itulah alasan dan tujuan utama mengapa Tuhan seringkali mengosongkan kehidupan kita secara drastis. Dia sengaja membuang hal hal kecil yang selama ini kita anggap sangat besar, supaya hati kita memiliki ruang kosong yang cukup untuk menerima pemberian paling berharga yang telah Dia sediakan, yaitu kehadiran diri Nya sendiri.

 

Apa Hasil yang Diharapkan dari Doa Ini?

Kita akan menutup pembahasan ini dengan melihat dampak apa yang Paulus harapkan terjadi dalam kehidupan jemaat Efesus melalui doa tersebut. Hal ini tertulis jelas pada ayat 20-21, di mana Paulus menyatakan bahwa Bagi Dialah yang dapat melakukan jauh lebih banyak daripada apa yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita.

Pada awal pesan tadi, ada sebuah pertanyaan mengenai apa yang biasanya kita doakan kepada Tuhan. Sekarang di bagian penutup ini, mari kita tanyakan kembali pada diri sendiri. Apakah kita sungguh sungguh percaya bahwa Tuhan memiliki jawaban yang jauh lebih besar daripada apa yang sanggup kita doakan atau pikirkan?

Pernyataan Paulus ini sebenarnya menegaskan bahwa Tuhan sanggup melakukan jauh lebih banyak daripada doa luar biasa yang baru saja ia panjatkan. Tuhan sanggup memenuhi dan memuaskan kita melampaui segala batas bayangan manusia. Namun yang perlu diperhatikan adalah bagaimana cara Tuhan memuaskan kita dan dalam bentuk apa kelimpahan tersebut diberikan.

Paulus menjelaskan bahwa hal itu terjadi seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita. Hal pertama yang harus kita ubah adalah cara pandang kita terhadap mukjizat. Kita sering mengira bahwa mukjizat terbesar adalah ketika Allah mengubah keadaan di luar diri kita.

Padahal sesungguhnya, mukjizat yang jauh lebih besar adalah ketika Allah mengubah dan membentuk hati kita sehingga kita dapat melihat, mengenal, dan dipuaskan oleh kasih Nya dengan semakin dalam dan nyata. Pertanyaannya, percayakah kita bahwa itulah yang sedang Tuhan kerjakan saat ini?

Kita harus percaya bahwa Tuhan sanggup mengubah dan memuaskan hidup kita melebihi apa yang selama ini kita harapkan dari hal hal duniawi. Mungkin justru karena alasan itulah Tuhan mengizinkan musim kesesakan ini terjadi. Tuhan sedang melepaskan kita dari semua sandaran palsu untuk memberitahukan bahwa ada sesuatu yang jauh lebih besar daripada semua hal yang selama ini kita pertahankan.

Poin yang kedua terdapat pada kelanjutan ayat tersebut, yaitu Bagi Dialah kemuliaan di dalam jemaat dan di dalam Kristus Yesus turun temurun sampai selama lamanya. Kita harus menyadari bahwa karya Tuhan dalam hidup kita saat ini bukan sekadar untuk kebaikan pribadi kita semata.

Tuhan sedang merenda sebuah cerita dan kemuliaan yang jauh lebih besar daripada diri kita sendiri. Ada keindahan luar biasa yang sedang Tuhan kerjakan melalui setiap air mata kita. Jika kita memahami hal ini, lalu kita merespons penderitaan dengan benar bersama pertolongan Roh Kudus, maka Tuhan dapat memakai kehidupan kita untuk kemuliaan Nya dan menjadi berkat bagi banyak orang.

Ini bukan lagi sekadar tentang kelegaan kita pribadi. Kehidupan kita akan dipakai untuk sesuatu yang sangat agung, yaitu menjadi berkat bagi gereja, membawa dampak bagi orang orang di sekitar kita, dan memancarkan kemuliaan Tuhan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Coba bayangkan apabila setiap dari kita memahami kebenaran ini. Bayangkan jika kita pulang, bersujud, dan Roh Kudus memampukan kita menghidupi doa ini. Gereja akan dipenuhi oleh orang orang yang sadar bahwa mereka hancur, tetapi memahami bahwa kehancuran itu terjadi bukan karena Tuhan membenci mereka.

Mereka sadar bahwa proses itu ada supaya Tuhan membangun sesuatu yang jauh lebih indah, membuang segala kotoran di hati, dan membuat Kristus benar benar berdiam serta berakar dalam kasih. Bayangkan betapa besarnya dampak dan berkat yang bisa diberikan oleh gereja yang dipenuhi orang orang seperti itu kepada kota Surabaya dan masyarakat di sekitarnya.

Ketika gereja diisi oleh orang orang yang sungguh sungguh dibakar oleh kasih Kristus, kita akan memandang hidup secara realistis. Kita tahu hidup ini menyakitkan dan kita tidak kebal terhadap krisis, tetapi kita memiliki kepastian bahwa semua kesesakan itu terjadi demi kemuliaan Nya dan kebaikan kita.

Jika gereja dipenuhi oleh jemaat dengan hati seperti itu, maka ketika ada orang hancur dari luar datang melangkah masuk, mereka akan menemukan pengharapan, penghiburan, kasih, dan belas kasihan. Mereka tidak hanya akan mendengar Injil dikhotbahkan dari mimbar, tetapi sungguh sungguh melihatnya dihidupi oleh setiap pribadi di sana.

Gereja seperti inilah yang sangat dibutuhkan oleh dunia hari ini. Banyak orang di luar sana tersesat dan hancur karena mencari kasih dan kepuasan di tempat yang salah. Oleh karena itu, dunia sangat membutuhkan orang orang Kristen yang dipakai Tuhan menjadi terang. Sebelum hati kita direnovasi tuntas seperti ajaran Paulus, orang Kristen justru sering kali menjadi batu sandungan, karena masih banyak bagian hidup yang kotor dan rusak.

Sebagai penutup, kita perlu melihat koneksi Injil dari seluruh pesan ini. Maukah kita pulang hari ini dan bersujud mendoakan hal hal tersebut? Bukan sekadar meminta masalah cepat selesai atau mendapat terobosan instan, melainkan memohon agar Kristus memenuhi hati kita dan kemuliaan Nya semakin nyata.

Lalu apa jaminan bahwa Tuhan akan menjawab doa kita? Jawabannya ada pada sebuah peristiwa agung. Bukan hanya Paulus yang pernah bersujud dan berdoa, Yesus Kristus juga pernah bersujud di tengah kesesakan Nya yang paling pekat di Taman Getsemani. Sebelum naik ke kayu salib, Yesus bersujud dalam kegentaran yang sangat luar biasa hingga peluh Nya menetes seperti darah.

Jika Paulus bersujud memohon kekuatan untuk jemaat, Yesus di Getsemani juga memohon kekuatan dengan berkata agar kehendak Bapa saja yang terjadi. Namun, bukan kekuatan atau kehadiran Bapa yang Yesus terima, melainkan Dia justru ditinggalkan dan wajah Bapa berpaling dari Nya. Yesus diperlihatkan pada kengerian neraka dan kematian yang harus Ia tanggung sendirian.

Di saat Paulus berdoa supaya jemaat melihat betapa tingginya kasih Allah, Yesus justru harus melihat dan menanggung betapa tingginya murka Allah atas dosa dosa kita. Semua itu terjadi dengan satu alasan pasti. Yesus bersujud dan meminum cawan murka tersebut supaya hari ini kita bisa bersujud dengan keyakinan penuh bahwa Bapa tidak akan pernah memalingkan wajah Nya dari kita.

Yesus berdoa namun dibiarkan sendirian, supaya hari ini doa kita didengar dan kita diberi kekuatan. Yesus ditinggalkan dalam kelam, supaya hari ini Kristus bisa senantiasa berdiam di dalam hati kita. Yesus menanggung kedalaman murka Allah, supaya hari ini kita dapat mengenal indahnya kedalaman kasih Allah. Pada akhirnya, Yesus rela dipermalukan dan mati, supaya hari ini hidup kita yang hancur dapat diubahkan dan dipakai Tuhan untuk menyatakan kemuliaan Nya.

 

3 Implikasi bagi Orang Berinjil (Gospel Centered)

1. Kesesakan mengubah cara pandang terhadap penderitaan.
Orang yang berpusat pada Injil tidak melihat penderitaan sebagai tanda Allah meninggalkan mereka, tetapi sebagai proses pemurnian. Melalui kesulitan, Tuhan menyingkirkan hal hal fana yang menguasai hati agar Kristus semakin memenuhi hidup mereka.

2. Fokus doa bergeser dari solusi menuju transformasi.
Alih alih hanya meminta jalan keluar, orang berinjil berdoa agar Roh Kudus menguatkan batin mereka. Mukjizat terbesar bukan sekadar perubahan keadaan, melainkan perubahan hati yang semakin mengenal kasih Kristus.

3. Penderitaan dipakai bagi kemuliaan Tuhan.
Penderitaan tidak berhenti pada pemulihan pribadi. Hati yang diperbarui oleh kasih Kristus akan dipakai menjadi berkat bagi gereja dan dunia, memancarkan pengharapan karena Yesus telah terlebih dahulu menanggung penderitaan bagi kita.

 

3 Pertanyaan Reflektif

1. Ketika menghadapi kesesakan, apakah saya hanya meminta masalah segera berlalu, atau memohon agar Tuhan menguatkan batin saya untuk melihat kemuliaan Nya di tengah penderitaan?

2. Hal hal duniawi apa yang sedang Tuhan singkirkan dari hati saya agar Kristus semakin memenuhi hidup saya?

3. Di titik terendah hidup, apakah saya sungguh percaya bahwa karena Yesus ditinggalkan di kayu salib, saya tidak akan pernah ditinggalkan Bapa, dan doa saya pasti didengar?