What's Next

Special Sunday Service

“What’s Next?”

Pdt. Dr. Juanda., M.Th., M.Mis

 

Hari ini, mari merenungkan sebuah pertanyaan sederhana yang sangat menentukan jalan hidup kita: what's next? Kita perlu mempertanyakan apakah kita benar benar sudah berjalan di garis yang lurus dan menikmati Injil setiap hari, ataukah kita hanya menikmati Injil pada momentum tertentu saja saat sedang belajar firman Tuhan.

Setiap orang hadir dengan motivasi yang berbeda beda. Ada orang Kristen yang sangat pandai berbicara tentang teologi dan apologetika, namun tidak pernah sungguh sungguh menikmati Injil sebagai bagian dari hidupnya, sehingga hatinya tidak pernah berubah. Di sisi lain, ada yang datang untuk membandingkan ajaran, ada yang sedang dalam proses pencarian iman, dan ada pula yang sungguh sungguh rindu menikmati pendewasaan rohani melalui Injil.

Tekanan hidup seringkali membuat kita gagal menikmati Kristus dan berjalan sesuai kehendakNya. Tanpa disadari, kita mungkin telah terpapar dan menikmati berbagai paham atau isme duniawi karena kita hidup berbaur dengan masyarakat. Paham paham tersebut meliputi moralisme, gnostisisme, antinomianisme, Injil kemakmuran, humanisme, pluralisme, Injil terapeutik, stoikisme, Injil sosial, legalisme, individualisme ekspresif, hingga pandangan self help. Sebagai contoh, saya sendiri pernah sangat menyukai stoikisme yang membuat saya sulit marah dan tidak peduli pada urusan orang lain. Sepintas hal ini terlihat seperti pertumbuhan mental yang positif, tetapi sesungguhnya bertentangan dengan kebenaran Injil. Hanya dengan meninggalkan paham paham tersebut, kita dapat melihat Injil tanpa distorsi dan memahami maksud Tuhan di dalam Alkitab.

Bahkan bagi saya yang sangat fasih berbicara tentang Injil dan memiliki identitas baru di dalam Kristus, titik nadir kehidupan tetap bisa terjadi. Saya ingin menceritakan kisah hidup saya ketika saya mulai berkhotbah di usia delapan belas tahun dan langsung mendapat koreksi tajam. Bertahun-tahun kemudian, setelah memiliki tiga anak, mempelajari teologi, dan sukses bekerja hingga mampu membeli dua rumah dari hasil usaha saya sendiri, saya mengalami krisis keuangan yang sangat berat. Dalam keadaan terdesak dan ingin menguji kuasa Tuhan, saya mengikuti sebuah persekutuan doa. Saat ditanya siapa yang bermasalah dengan keuangan dan rindu dompetnya terisi uang, saya mengangkat dompet saya yang kosong tinggi-tinggi.

Tindakan saya mengangkat dompet tersebut adalah sebuah terapi keputusasaan. Saya diminta tidak membuka dompet itu sampai tiba di rumah. Sesampainya di rumah, dompet itu tetap kosong. Saya baru menyadari betapa berbahayanya jika saat itu benar-benar ada uang gaib di dalamnya, karena itu bisa berarti uang hasil curian atau uang palsu tanpa nomor seri layaknya praktik pencucian uang. Sebagai orang yang hidup dalam Injil, kita harus berhati-hati dalam mencari rezeki yang benar. Keterpurukan itu bahkan sempat membuat saya memikirkan rencana bunuh diri sebanyak dua kali, namun urung saya lakukan karena takut gagal dan justru menanggung malu. Hal ini membuktikan kepada saya bahwa saat tekanan sangat berat, pengetahuan teologi saja tidak cukup jika Injil tidak benar-benar memengaruhi kehidupan. Sebaliknya, saat sedang sangat diberkati secara finansial, orang juga cenderung menunda-nunda pelayanan karena menganggap uang lebih penting.

Oleh karena itu, penting untuk merenungkan sudah berapa lama kita menikmati Tuhan dalam hidup ini. Tidak ada manusia yang bisa hidup hingga ratusan tahun. Sesuai firman Tuhan, usia manusia biasanya berkisar tujuh puluh atau delapan puluh tahun. Setiap kali kita merayakan ulang tahun, sesungguhnya jatah umur kita semakin pendek. Menyadari keterbatasan usia ini seharusnya membuat kita berhenti memelihara amarah kepada pasangan dan mulai memikirkan apa yang sudah kita kerjakan untuk Kristus selama kita menikmati Injil.

 

BACAAN: 2 Timotius 4:5-8

4:5 Tetapi kuasailah dirimu dalam segala hal, sabarlah menderita, lakukanlah pekerjaan pemberita Injil dan tunaikanlah tugas pelayananmu!

4:6 Mengenai diriku, darahku sudah mulai dicurahkan sebagai persembahan dan saat kematianku sudah dekat.

4:7 Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman.

4:8 Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hari-Nya; tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang merindukan kedatangan-Nya.

 

Untuk menjawab panggilan tersebut, kita diajak merenungkan kebenaran firman Tuhan yang tertulis dalam 2 Timotius 4:5-8. Bagian ini merupakan pesan Rasul Paulus kepada Timotius yang masih muda untuk menghadapi tantangan pelayanan di Efesus. Kota Efesus adalah kota metropolitan yang megah dan sangat penting, yang kemunculannya tercatat berulang kali dalam Alkitab, seperti pada Kisah Para Rasul 19 dan Wahyu 2. Banyak godaan di kota itu yang membuat orang berpaling dari iman. Rasul Paulus, yang saat itu sedang di penjara dan menanti hukuman mati, memberikan perintah yang tegas. Terdapat kata kontras pada ayat 5 yang menegaskan agar Timotius tetap giat memberitakan Injil meskipun banyak yang menolak ajaran sehat. Paulus juga menguatkan Timotius agar tidak merasa rendah diri dan tidak membiarkan dirinya diremehkan oleh jemaat karena usianya yang masih muda.

Dari kisah Paulus dan Timotius ini, kita mendapatkan pijakan tentang apa selanjutnya yang harus dilakukan oleh setiap orang yang hidup di dalam Injil. Saat menikmati kasih karunia Tuhan, bukan berarti seluruh persoalan hidup otomatis selesai. Kita harus memikirkan tindakan nyata yang selaras dengan firman Tuhan. Langkah pertama dari tiga prinsip yang perlu dilakukan untuk melangkah maju adalah belajar tahu diri.

 

TAHU DIRI

Sikap tidak tahu diri sering kali membuat seseorang menjadi sombong. Ketika kehilangan identitasnya, orang cenderung meninggikan diri dengan melontarkan pertanyaan yang merendahkan orang lain, padahal ia sendiri sedang lupa pada jati dirinya. Melanjutkan perenungan mengenai langkah apa yang harus diambil selanjutnya, 2 Timotius 4:5 memberikan panduan yang sangat jelas: "Tetapi kuasailah dirimu dalam segala hal, sabarlah menderita,lakukanlah pekerjaan pemberita Injil dan tunaikanlah tugas pelayananmu." Melalui firman ini, makna tahu diri dapat dijabarkan ke dalam serangkaian prinsip tindakan untuk merespons tantangan hidup.

Prinsip pertama adalah penguasaan diri. Orang yang hidup di dalam Injil semestinya memiliki tingkat kewaspadaan yang tinggi dan sangat memahami siapa dirinya. Penguasaan diri ini dituntut bukan hanya dalam kondisi ideal, melainkan dalam segala hal. Saat menghadapi perundungan, diabaikan, atau bahkan dibicarakan dari belakang, kita diminta untuk tetap mengendalikan diri. Rasul Paulus memberikan nasihat ini kepada Timotius yang saat itu tengah menghadapi jemaat yang mungkin sedang memberontak, mengingatkan bahwa meskipun keadaan sama sekali tidak sesuai harapan, penguasaan diri adalah fondasi yang mutlak.

Prinsip selanjutnya adalah keharusan untuk bertahan dan sabar menderita. Seseorang yang mampu menguasai diri pada kenyataannya tetap bisa mengalami tekanan hidup yang luar biasa. Ketegangan batin sering kali terjadi ketika kita dihadapkan pada pilihan untuk merespons sebuah kejahatan. Saat disakiti, dirugikan secara materi, atau dikhianati, naluri manusiawi kita tentu ingin memaki dan membalas dendam. Namun, suara hati yang dipimpin Tuhan akan selalu menyerukan pengampunan.

Apabila kita membalas kejahatan dengan kejahatan, kita sedang mendukakan Tuhan. Sebaliknya, apabila kita memilih untuk tidak membalas, kitalah yang harus menanggung penderitaan tersebut. Di sinilah letak ujian sesungguhnya untuk bertahan. Sebagai orang yang memiliki kuasa Allah melalui Injil, kita seharusnya merespons persoalan dengan cara yang jauh lebih baik daripada standar dunia.

Prinsip berikutnya adalah tugas untuk terus memberitakan Injil. Segala kesulitan dan himpitan masalah di sekeliling kita justru merupakan momentum emas untuk menyampaikan kabar baik. Sering kali, ketika seseorang hidup dalam kemakmuran dan memiliki banyak uang, mereka merasa sama sekali tidak membutuhkan Tuhan. Sebaliknya, saat seseorang berada dalam kesulitan ekonomi, merasa tidak berdaya, dan menyadari keberdosaannya di hadapan Allah yang kudus, hati mereka menjadi jauh lebih terbuka terhadap Injil.

Namun, sebelum bisa memberitakan kabar baik, kita harus terlebih dahulu menikmati Injil itu sendiri. Sederhananya, jika kita menyukai makanan di suatu tempat, kita pasti akan dengan sukarela merekomendasikannya kepada orang lain dengan penuh gairah tanpa mengharapkan komisi sepeser pun. Begitu pula saat seseorang merasa bangga karena mendapatkan harga diskon paling murah saat berbelanja, ia akan menceritakannya ke mana mana. Seharusnya, jika kita sudah mengecap indahnya kebenaran Injil, kita juga memiliki semangat yang sama untuk membagikannya.

Kesempatan menceritakan kebaikan Tuhan ada di mana mana, entah saat sedang beristirahat setelah berolahraga maupun saat berinteraksi dengan para pedagang di warung sederhana. Lewat tindakan kebaikan praktis yang mencerminkan Injil, seperti tidak menuntut uang kembalian atau tidak menekan pedagang dengan meminta diskon secara berlebihan saat kita mampu, kita sudah memberikan kesaksian hidup yang memancing orang lain untuk mengenal Kristus.

Terakhir, prinsip yang ditekankan Paulus kepada Timotius adalah untuk belajar bertanggung jawab dalam menunaikan pelayanan. Mengabarkan Injil sering kali mendatangkan perasaan putus asa, kebosanan, dan rasa malas. Akan tetapi, tugas ini pantang untuk ditinggalkan sebelum selesai. Kegagalan menunaikan pelayanan sering kali membuat seseorang kehilangan arah, layaknya tokoh atau hamba Tuhan yang sangat mengerti teologi namun kini justru menghabiskan waktunya hanya untuk mengkritik dan menjelek jelekkan pihak lain karena melupakan panggilan awalnya.

Seperti yang tertulis dalam 2 Korintus 5:17, "Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru. Yang lama sudah berlalu. Sesungguhnya yang baru sudah datang." Memahami makna tahu diri bukanlah ajang untuk membuktikan kehebatan demi mendapatkan validasi. Orang yang benar benar tahu diri adalah mereka yang telah menikmati identitas barunya di dalam Kristus secara nyata.

Yang kedua, ketika kita bertanya, what next, tentang kehidupan kita...

 

TAHU PANGGILAN

Setelah memahami pentingnya tahu diri, langkah kedua yang harus kita miliki untuk menjawab pertanyaan tentang kehidupan kita selanjutnya adalah tahu panggilan. Kita perlu sangat berhati hati dalam memaknai hal ini agar tidak terjebak pada perasaan sekadar merasa terpanggil tanpa landasan yang benar. Rasul Paulus menggambarkan kesadaran akan panggilan ini dengan sangat indah dan mendalam. Pada 2 Timotius 4:6 ia menulis, "Mengenai diriku, darahku sudah mulai dicurahkan sebagai persembahan dan saat kematianku sudah dekat." Kemudian ia melanjutkannya pada 2 Timotius 4:7, "Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik. Aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman."

Untuk memahami makna kedua ayat tersebut secara praktis, kita bisa membayangkannya melalui lima tahapan proses saat bepergian menggunakan pesawat terbang.

Proses pertama menyerupai tahap check in. Ketika Paulus mengatakan bahwa darahnya sudah mulai dicurahkan, ia tidak bermaksud melukai dirinya sendiri, melainkan ia sepenuhnya sadar bahwa masanya di dunia hampir habis. Sama seperti penumpang yang sudah memegang tiket, suka atau tidak suka, ia harus melewati meja check in untuk memulai perjalanannya. Tidak ada seorang pun yang bisa langsung duduk di dalam pesawat begitu saja.

Proses kedua adalah boarding, yang tercermin dari kesadaran Paulus bahwa kematiannya sudah dekat dan hidupnya diserahkan sebagai persembahan. Sangat luar biasa melihat sikap Paulus di penghujung hidupnya. Berbeda dengan kebanyakan orang sekarat yang umumnya meninggalkan pesan pesan duniawi tentang menjaga aset atau meneruskan bisnis keluarga, Paulus dari dalam penjara Roma justru memberikan pesan rohani yang abadi. Ketika kita menyadari bahwa hidup kita telah dibeli lunas oleh darah Kristus, kita harus mengingat tahap ini. Saat menghadapi persoalan berat, posisikan diri kita seperti orang yang sudah selesai melakukan check in rohani. Jangan pernah berpikir untuk mundur atau keluar dari bandara, karena langkah selanjutnya adalah boarding menuju rencana Tuhan.

Proses ketiga adalah mengakhiri pertandingan yang baik. Kalimat agung ini sering kali kita temukan terukir pada batu nisan atau karangan bunga dukacita, padahal faktanya Paulus menulis ayat ini saat ia masih hidup. Orang yang benar benar tahu panggilannya adalah orang yang tahu persis bagaimana cara menyelesaikan pertandingannya dengan baik hingga tuntas. Setiap hari kita sedang berlari dalam lintasan kita masing masing. Saat berlari, kita tidak boleh memedulikan teriakan orang lain. Jika kita terus menoleh ke kiri dan kanan, kita hanya akan kehilangan fokus dan membuang detik detik berharga dalam perlombaan iman kita.

Proses keempat adalah mencapai garis akhir, yang menandakan kesiapan penuh untuk berangkat. Sama halnya ketika kita sudah berada di dalam pesawat yang siap mengudara, kita tidak bisa membatalkan penerbangan dengan alasan sepele atau meminta diturunkan di tengah jalan. Paulus menyadari bahwa pelayanannya di dunia sudah mencapai garis akhir, dan ia membagikan kesaksian ini untuk memastikan Timotius juga menyelesaikan tugas pelayanannya di daerahnya dengan tekad yang sama.

Proses kelima dan terakhir adalah memelihara iman, yang melambangkan bahwa seluruh pekerjaan yang dipercayakan Tuhan kepada Rasul Paulus telah benar benar diselesaikan dengan setia. Pada akhirnya, setiap dari kita juga akan tiba di momen perhentian tersebut.

Metafora penerbangan ini sengaja dibagikan agar melekat dalam pikiran kita. Tujuannya sangat jelas, yaitu supaya kapan pun kita dihadapkan pada pergumulan hidup, merasa jengkel, atau mengalami penundaan yang membuat kita ingin marah marah layaknya penumpang yang penerbangannya dibatalkan di bandara, kita bisa segera mengingat kelima tahapan rohani ini. Dengan demikian, amarah kita akan mereda dan kita dimampukan untuk terus berjalan selaras dengan panggilan Injil.

 

TAHU TUJUAN

Prinsip ketiga dan yang terakhir adalah tahu tujuan. Memperhatikan firman Tuhan pada ayat 8, tertulis bahwa telah tersedia mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hari kedatanganNya. Hadiah ini diberikan bukan hanya kepada Paulus, melainkan kepada semua orang yang merindukan kedatanganNya. Terdapat kesalahpahaman dalam mengartikan teks ini, di mana sebagian orang menyalahgunakannya saat menghadapi keluarga yang tidak harmonis, masalah utang piutang, atau tekanan kejahatan dengan menjadikannya pembenaran untuk mengakhiri hidup. Padahal kematian pasti akan datang pada waktunya tanpa perlu diburu buru, dan firman ini sama sekali tidak boleh dipakai sembarangan.

Saat menyadari makna tahu tujuan, ada dua hal mendasar yang harus dibangun di dalam hidup. Hal yang pertama adalah tetap yakin. Kita harus memiliki keyakinan penuh bahwa atas segala sesuatu yang sedang dikerjakan bagi Tuhan, telah tersedia mahkota kebenaran. Meskipun menghadapi penolakan dan ketidaksukaan dari banyak pihak saat memberitakan Injil, kita harus memegang teguh keyakinan bahwa pekerjaan ini adalah benar.

Terkadang sungguh mengherankan melihat banyak orang yang belum mengenal Yesus justru gemar menjelek jelekkan Dia, padahal jauh di lubuk hatinya ada kerinduan yang tersembunyi. Rasa putus asa dan kelelahan mental tidak boleh menghentikan langkah pelayanan, karena sebelum kita mencari Kristus, Dia sudah lebih dahulu mencari dan merindukan kita.

Hal kedua yang perlu dibangun adalah kerinduan akan kedatanganNya. Kerinduan ini muncul bukan sekadar karena lelah melihat peningkatan kejahatan di sekitar kita, melainkan karena kesadaran penuh bahwa kemenangan Kristus akan segera dinyatakan. Hal ini bisa diibaratkan seperti sebuah film dimana tokoh utamanya baru menang pada bagian akhir, atau dalam ungkapan budaya lokal disebut lakone menang keri. Jika tokoh utama menang sejak awal, maka ceritanya sudah selesai.

Berangkat dari prinsip ini, biarkan orang bersikap buruk saat kita membagikan kasih Yesus. Jangan pernah khawatir karena kemenangan pasti akan terjadi pada akhirnya. Teruslah merindukan kedatangan Kristus, sebab kelak pengorbananNya di kayu salib akan dinyatakan secara nyata dan membawa kemuliaan yang melampaui segala bayangan manusia saat ini.

Sebagai pilar kehidupan orang percaya, saat menikmati karunia Tuhan kita perlu tahu diridengan menyadari identitas baru kita di dalam Kristus sehingga hidup kita berbeda dari dunia. Saat dipercaya melayani, kita perlu tahu panggilan dan senantiasa mengevaluasi arah hidup kita setiap hari.

Terakhir, kita harus tahu tujuan agar setiap hal yang kita kerjakan bukanlah sekadar membuang waktu, melainkan bagian dari rencana kekal Allah. Ada janji luar biasa bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan, namun janji tersebut dikhususkan bagi mereka yang mengasihi Dia, yang terpanggil sesuai rencanaNya, dan yang kelak akan diubahkan menjadi serupa dengan Kristus.

Sebagai perenungan penutup, ada tiga pertanyaan krusial yang harus dievaluasi di hadapan Tuhan.

Pertama, apakah kuasa Injil masih benar benar disadari dan dinikmati dalam keseharian?Bukti nyata dari hal ini harus terlihat melalui bagaimana sikap kita dalam keluarga, baik kepada suami maupun istri.

Kedua, apakah kita masih konsisten memberitakan Injil kepada diri sendiri dan kepada sesama? Setiap manusia membutuhkan teguran Injil setiap hari melalui komunitas rohani dan pengakuan dosa bersama.

Ketiga, sudah berapa banyak jiwa jiwa baru yang benar benar dibawa kepada Kristus? Ini bukan tentang sekadar mengajak orang Kristen yang malas untuk kembali beribadah, melainkan menjangkau mereka yang sama sekali belum pernah mengenal kebenaran.

Alih alih memendam amarah, kita dituntut untuk menunjukkan belas kasihan bahkan kepada orang yang pernah menipu atau berbuat jahat kepada kita. Ladang pelayanan itu selalu terbuka lebar di rumah kita sendiri, mulai dari pengemudi, asisten rumah tangga, hingga tukang kebun. Jika kesempatan kesempatan di depan mata ini terus diabaikan, jangan jangan selama ini kita hanya memiliki pengetahuan kognitif tentang Injil tanpa pernah sungguh sungguh menikmatinya. Sebab, seseorang yang telah mengecap kelezatan Injil pasti akan memiliki kerinduan besar untuk membagikan kenikmatan tersebut kepada dunia.