Apa Yang Kita Banggakan ?

The Gospel After Genesis – Week 7 “Apa yang Kita Banggakan?”

Ps. Natanael Thamrin

 

BACAAN : Roma 3:27-31 ; 4:1-8

3:27 Jika demikian, apakah dasarnya untuk bermegah? Tidak ada! Berdasarkan apa? Berdasarkan perbuatan? Tidak, melainkan berdasarkan iman! 

3:28 Karena kami yakin, bahwa manusia dibenarkan karena iman, dan bukan karena ia melakukan hukum Taurat. 

3:29 Atau adakah Allah hanya Allah orang Yahudi saja? Bukankah Ia juga adalah Allah bangsa-bangsa lain? Ya, benar. Ia juga adalah Allah bangsa-bangsa lain! 

3:30 Artinya, kalau ada satu Allah, yang akan membenarkan baik orang-orang bersunat karena iman, maupun orang-orang tak bersunat juga karena iman. 

3:31 Jika demikian, adakah kami membatalkan hukum Taurat karena iman? Sama sekali tidak! Sebaliknya, kami meneguhkannya.

4:1 Jadi apakah akan kita katakan tentang Abraham, bapa leluhur jasmani kita? 

4:2 Sebab jikalau Abraham dibenarkan karena perbuatannya, maka ia beroleh dasar untuk bermegah, tetapi tidak di hadapan Allah. 

4:3 Sebab apakah dikatakan nas Kitab Suci? "Lalu percayalah Abraham kepada Tuhan, dan Tuhan memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran." 

4:4 Kalau ada orang yang bekerja, upahnya tidak diperhitungkan sebagai hadiah, tetapi sebagai haknya. 

4:5 Tetapi kalau ada orang yang tidak bekerja, namun percaya kepada Dia yang membenarkan orang durhaka, imannya diperhitungkan menjadi kebenaran. 

4:6 Seperti juga Daud menyebut berbahagia orang yang dibenarkan Allah bukan berdasarkan perbuatannya: 

4:7 "Berbahagialah orang yang diampuni pelanggaran-pelanggarannya, dan yang ditutupi dosa-dosanya; 

4:8 berbahagialah manusia yang kesalahannya tidak diperhitungkan Tuhan kepadanya." 

FAKTA : SEMUA ORANG MEMEGAHKAN SESUATU

Poin yang pertama adalah fakta. Harus kita akui bahwa semua orang memegahkan sesuatu. Untuk melihat bagaimana fakta ini nyata dan bukan sekadar konsep, saya ingin membawa kita masuk ke dalam situasi konkret ketika Rasul Paulus menulis surat Roma. Ini adalah konteks penting saat kita membaca surat Roma.

Saya mulai dari hari Pentakosta. Dalam Kisah Rasul 2:10 dicatat ada orang orang dari Roma yang hadir di sana. Besar kemungkinan sebagian dari mereka bertobat, lalu kembali ke Roma, dan di sanalah komunitas Kristen mulai terbentuk. Seiring waktu, gereja di Roma bertumbuh. Hampir pasti orang orang non Yahudi juga mulai percaya dan menjadi bagian dari jemaat. Jadi sejak awal, gereja Roma adalah gereja yang sangat beragam.

Sekitar tahun 49 M, Kaisar Claudius memerintahkan semua orang Yahudi meninggalkan kota Roma. Catatan ini bisa dibaca dalam Kisah Rasul 18:2. Artinya, orang Yahudi, termasuk orang Yahudi Kristen, harus pergi dari kota itu. Selama mereka tidak ada, kemungkinan besar orang non Yahudi mengambil alih kehidupan gereja. Akibatnya banyak hal berubah: budaya, cara ibadah, dan kebiasaan.

Lalu sekitar lima tahun kemudian, saat Claudius meninggal sekitar tahun 54 M, orang Yahudi diizinkan kembali ke Roma. Tetapi ketika mereka kembali, gereja yang mereka tinggalkan sudah tidak sama. Kalau dulu mereka memimpin, sekarang mereka harus menyesuaikan diri. Kalau dulu budaya mereka dominan, sekarang budaya lain yang lebih membentuk.

Dalam konteks seperti inilah, dua atau tiga tahun kemudian, sekitar tahun 56-57 Masehi, Paulus menulis surat Roma. Bukan kepada gereja yang baru dimulai, tetapi kepada gereja yang sedang bergumul: bergumul dengan perbedaan, perubahan, banyak kebutuhan, dan mungkin juga kebutuhan untuk merasa lebih benar daripada yang lain.

Mengapa ini penting? Karena sejak gereja Roma berdiri sampai Paulus menulis suratnya, ada begitu banyak dinamika. Salah satu yang paling menonjol adalah pergumulan untuk merasa lebih daripada yang lain. Di balik semua perbedaan itu, baik Yahudi maupun non Yahudi sama-sama punya sesuatu untuk dibanggakan. Orang Yahudi mungkin bermegah dalam Taurat dan berkata, “Kami umat pilihan Tuhan.” Orang non Yahudi yang sudah lima tahun memimpin gereja bisa saja bermegah, “Kami sudah lama memimpin di sini.” Mereka bangga atas posisi dan perubahan yang mereka bawa.

Tetapi meskipun berbeda, akarnya sama. Masing masing punya alasan untuk merasa lebih benar dibanding yang lain. Dalam situasi seperti inilah Paulus masuk dan bertanya tajam dalam ayat 27, “Jika demikian, apakah dasarnya untuk bermegah?” Lalu Paulus menjawab dengan tegas, “Tidak ada.” Bukan berdasarkan perbuatan, bukan karena jasa manusia.

Sekarang pertanyaannya bagi kita hari ini: apa artinya? Sebelum berpikir ini hanya masalah jemaat Roma, kita perlu jujur melihat diri sendiri. Mungkin kita tidak bermegah dalam Taurat, tetapi saya yakin kita semua, termasuk saya, pernah bermegah atas sesuatu.

Sering kali kita membangun identitas lewat perbandingan. Dalam hati kita berpikir, “Kalau dibandingkan, saya lebih baik dari dia.” Atau, “Dalam hal itu saya lebih unggul.” Mungkin dalam pekerjaan kita berkata, “Dia memang lebih sukses, tapi saya lebih bertanggung jawab.” Atau, “Dia lebih pintar, tapi saya lebih rajin.”

Dalam konteks rohani, kita bisa berpikir, “Dia memang aktif melayani, tapi saya lebih konsisten saat teduh.” Atau, “Dia melayani di depan, tapi hati saya lebih tulus.” Dalam komunitas, kita bisa berkata, “Dia lebih rajin ikut CG, tapi saya lebih dalam soal firman.” Bahkan saat melihat media sosial, kita bisa berpikir, “Hidupnya memang kelihatan rapi, tapi kalau tahu aslinya tidak sebagus itu.”

Lihat cara kerjanya. Kita bermegah dengan membandingkan.

Mungkin kita tahu Injil dan tahu bahwa kita diselamatkan oleh anugerah. Tetapi kalau jujur, hati kita sering belum merasa tenang. Bisa jadi kita percaya Injil di kepala, tetapi hati masih mencari pembenaran lain. Itu sebabnya kita mudah khawatir, takut, marah, insecure, dan gelisah.

Intinya, kita terus mencari sesuatu yang membuat diri merasa lebih benar, lebih baik, lebih layak. Lebih dalam lagi, hati manusia bukan hanya mencari pembenaran, tetapi juga applause, pujian. Kita tidak hanya ingin benar, tetapi ingin diakui. Kita tidak hanya ingin diterima, tetapi ingin dipuji. Karena itu manusia tidak tahan saat direndahkan. Pernahkah kita berbuat baik tetapi tidak dihargai, lalu hati berkata, “Percuma melakukan semua ini”? Tetapi ketika dipuji, hati langsung bersukacita. Itu menunjukkan sesuatu.

Kalau itu yang terjadi, hidup kita bergerak ke dua arah. Kalau merasa lebih baik, kita menghakimi orang lain. Kalau merasa kalah, kita minder, iri hati, bahkan diam diam membenci. Apa inti dari dua kecenderungan ini? Kita terus melihat diri lebih baik, entah dengan membenarkan diri sendiri atau membandingkan diri dengan orang lain yang lebih buruk.

Tim Keller pernah berkata, “Setiap kemegahan adalah sebuah ejekan. Ketika kamu membangun identitasmu di atas sesuatu, kamu otomatis merendahkan siapa pun yang tidak memiliki hal itu.” Artinya, setiap kali kita bermegah, kita sedang mencari applause. Kita ingin ada yang melihat dan berkata, “Kamu memang lebih baik.” Tetapi applause selalu bekerja lewat perbandingan. Kalau ingin dianggap lebih berhasil, harus ada orang lain yang kurang berhasil. Kalau ingin dianggap lebih rohani, harus ada orang lain yang kurang rohani.

Jadi setiap kebanggaan kita sering kali hanyalah cara halus hati mencari pujian dan penerimaan. Di sinilah Roma 3:27 sangat radikal. Paulus seolah berkata, “Tidak ada seorang pun yang bisa bermegah. Tidak ada alasan untuk merasa lebih benar. Tidak ada ruang untuk merasa lebih tinggi. Tidak ada dasar untuk membangun identitas di atas kebenaran diri sendiri.”

Senada dengan itu, Yeremia 9:23–24 berkata: jangan orang bijaksana bermegah karena hikmatnya, jangan orang kuat karena kekuatannya, jangan orang kaya karena kekayaannya. Tetapi siapa yang mau bermegah, baiklah bermegah karena ia memahami dan mengenal Tuhan. Perhatikan, ayat ini tidak berkata jangan bermegah sama sekali. Ayat ini berkata jangan bermegah atas hal hal itu. Artinya, bermegah tidak bisa dihilangkan dari hati manusia, tetapi harus diarahkan.

Menariknya, kata bermegah dalam bahasa Ibrani memakai kata halal, yang berarti memuji atau memuliakan. Dari kata itu muncul kata haleluya, artinya pujilah Tuhan. Kata yang sama bisa dipakai untuk memuliakan Tuhan atau meninggikan diri sendiri. Jadi hati manusia tidak pernah berhenti memuji sesuatu. Pertanyaannya, siapa yang kita puji? Siapa yang kita muliakan?

Mari berhenti sejenak dan merenung. Hari ini, apa yang membuat kita merasa lebih dari orang lain? Bagaimana reaksi kita saat dikritik? Jika hal yang dibanggakan itu hilang, apakah kita masih merasa berharga? Dan apakah yang kita miliki dipakai untuk memuliakan Tuhan, atau diam diam untuk meninggikan diri sendiri?”

MASALAH : KEMEGAHAN DIRI MEMBAWA KERUSAKAN

Waktu kita tahu faktanya bahwa semua orang memegahkan diri, maka kita menemukan sebuah masalah. Masalahnya adalah kemegahan diri selalu membawa kerusakan. Mungkin kita bertanya, ketika Paulus berkata bahwa tidak ada dasar untuk bermegah, mengapa sama sekali tidak ada dasarnya? Apa yang membuat semua dasar bermegah di dalam diri manusia akhirnya runtuh? 

Perhatikan ayat 28. Di sana dikatakan demikian. Mari kita baca sekali lagi ayat ini: “Karena kami yakin bahwa manusia dibenarkan karena iman dan bukan karena ia melakukan hukum Taurat.” Logikanya begini. Kalau kita dibenarkan karena apa yang kita lakukan, maka selalu akan ada ruang untuk berkata, “Saya punya bagian di dalamnya. Saya punya andil terhadap itu. Saya berkontribusi.” Di situlah kita bisa bermegah.

Tetapi ketika Paulus berkata bahwa kita dibenarkan karena iman, kita tidak membawa apa apa untuk ditawarkan kepada Tuhan. Kita hanya menerimanya. Kita tidak membawa apapun kepada Tuhan. Tahukah bahwa hal ini sangat konsisten dengan definisi iman itu sendiri. Melalui studi kata Yunani dari Helps Word Studies kata iman itu berarti begini: faith is always a gift from God and never can be produced by people.

Iman adalah kasih karunia dari Allah, hadiah dari Allah, dan tidak akan pernah mampu dilakukan, diproduksi, atau dihasilkan oleh siapa pun. Inilah yang membuat semua dasar yang berasal dari dalam diri kita untuk bermegah tertutup total.

Tetapi masalahnya begini. Kita tahu semua ini, namun sering kali kita hidup seolah olah kita diterima berdasarkan apa yang kita lakukan. Kalau kita tidak melayani, kita merasa guilty. Kalau kita tidak melakukan apa pun, kita merasa tidak berarti. Semua ini adalah cara kerja dari bermegah, yaitu membanggakan sesuatu.

Ketika hidup kita berjalan dengan cara seperti itu, tahukah bahwa kemegahan itu tidak akan pernah netral. Itu akan selalu membawa kerusakan. Dari bacaan yang saya renungkan hari ini, yang kita renungkan bersama, ada tiga bentuk kerusakan ketika kita bermegah atas diri sendiri.

Yang pertama, kemegahan diri menggeser cara kita berelasi dengan Allah.

Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa kemegahan diri membuat Allah berhenti mengasihi kita. Tidak. Yang saya maksud dengan kemegahan diri menggeser cara kita berelasi dengan Allah adalah bukan lagi, “Tuhan, saya membutuhkan Engkau,” tetapi menjadi, “Tuhan, lihat apa yang saya lakukan.” Ketaatan kita berubah fungsi. Bukan respons atas kasih, tetapi menjadi alat untuk mengontrol Tuhan. Seolah Tuhan berhutang kepada kita.

Apa dampaknya? Ketika kita bermegah atas prestasi diri, kita tidak akan pernah sungguh sungguh bergantung kepada Kristus dan beristirahat di dalam Dia. Inilah yang saya maksud dengan relasi yang bergeser dengan Allah. Kita tidak akan pernah beristirahat sepenuhnya di dalam Kristus, di dalam anugerah.

Akhirnya relasi dengan Allah berubah dari posisi penerima anugerah menjadi upaya untuk membuktikan diri. Kemegahan diri selalu membawa kerusakan.

Kerusakan yang kedua adalah kemegahan diri merusak kesatuan dengan sesama.

Perhatikan ayat 29 dan 30. Mari kita baca sekali lagi ayat ini. “Atau adakah Allah hanya Allah orang Yahudi saja? Bukankah Ia juga adalah Allah bangsa bangsa lain? Ya, benar. Ia juga adalah Allah bangsa bangsa lain. Artinya kalau ada satu Allah yang akan membenarkan baik orang orang bersunat karena iman maupun orang orang tak bersunat juga karena iman.”

Secara sederhana, Paulus seolah olah ingin berkata begini. Allah adalah Allah orang Yahudi dan Allah orang non Yahudi. Artinya tidak ada kelompok yang bisa merasa lebih unggul. Tidak ada kelompok yang bisa merasa lebih superior. Tidak ada suku yang bisa merasa lebih tinggi daripada yang lain.

Tetapi kalau kita bermegah atas diri sendiri, kita akan cenderung mulai membandingkan diri dengan orang lain. Kita mulai merasa lebih benar dan cenderung sulit melihat perbedaan.

Kita akan mudah berkata, “Ah, gerejaku itu lebih baik dari gerejanya. Gerejaku lebih gospel daripada gerejanya. CG ku lebih baik daripada CG nya,” dan seterusnya. Secara sederhana, kita akan selalu melihat orang lain sebagai kompetitor yang perlu dikalahkan, bahkan sebagai ancaman bagi diri kita.

Tahukah betapa rusaknya ketika kita selalu membanggakan diri sendiri?

Dan yang ketiga, kemegahan diri selalu mengalihkan cara kita membaca firman. 

Ayat 31 menegaskan hal ini. Mari kita baca bersama: “Jika demikian, adakah kami membatalkan hukum Taurat karena iman? Sama sekali tidak. Sebaliknya kami meneguhkannya.” Paulus berkata hukum Taurat tidak dibatalkan, tetapi ditegakkan. Masalahnya bukan pada Tauratnya, melainkan pada cara kita membaca dan memakainya.

Ketika kita bermegah atas diri sendiri, kita cenderung memakai firman untuk membenarkan diri, bukan untuk mengenal Tuhan dan melihat kebutuhan kita akan anugerah. Firman berubah dari cermin bagi diri menjadi alat pembelaan diri.

Intinya, kemegahan diri merusak segalanya. Ia membuat kita merasa tidak butuh anugerah, tidak butuh orang lain, dan akhirnya tidak butuh Tuhan. Tanpa sadar kita menjadi budak applause, budak pujian manusia. Kita sudah melihat faktanya: semua manusia pasti bermegah. Kita juga tahu masalahnya: bermegah di dalam diri membawa kerusakan. Lalu apa solusinya?

SOLUSI: SALIB ADALAH DASAR KEMEGAHAN KITA

Solusinya adalah salib. Saliblah dasar kemegahan kita.

Seperti saya sampaikan sebelumnya, hati manusia tidak pernah berhenti berbangga dan mencari pujian. Jadi solusi atas kemegahan diri bukan berhenti bermegah, tetapi bermegah dari sumber yang benar, yaitu Tuhan sendiri.

Untuk menjelaskan ini, saya ingin memberi ilustrasi. Pernah mendengar istilah the overview effect? Istilah ini muncul dari dunia antariksa dan diperkenalkan Frank White.

Apa itu overview effect? Itu adalah perubahan kesadaran yang dialami astronot ketika melihat bumi dari luar angkasa. Saat mereka melihat bumi sebagai bola biru kecil, rapuh, dan bercahaya di tengah luasnya semesta, sesuatu terjadi di dalam diri mereka. Mereka tidak lagi melihat batas negara, perbedaan suku, atau konflik politik. Mereka melihat satu kemanusiaan yang utuh. Masalah yang dulu terasa besar tiba tiba tampak kecil dibanding kebesaran ciptaan.

Demikian juga ketika kita memandang salib, seharusnya kita mengalami spiritual overview effect: ego yang tadinya terasa besar mendadak sirna di hadapan kemuliaan Allah.

Paulus memberi contoh nyata dalam Roma 4:1–8. Ia mengangkat dua tokoh besar orang Yahudi: Abraham dan Daud. Keduanya secara manusia punya banyak alasan untuk bermegah. Abraham punya prestasi iman. Dalam Kejadian 12 ia taat meninggalkan tanah kelahirannya tanpa tahu ke mana ia pergi. Dalam Roma 4:11 ia disebut bapa semua orang percaya. Gelar itu luar biasa. Kalau Abraham hidup hari ini, ia bisa saja berkata, “Saya sudah membuktikan iman saya.”

Daud juga demikian. Ia mengalahkan Goliat, dikenal sebagai raja terbesar Israel, menulis banyak mazmur, dan disebut berkenan di hati Tuhan. Kalau Daud hidup hari ini, ia bisa saja berkata, “Lihat semua yang sudah saya capai.”

Tetapi yang mengejutkan, Paulus menunjukkan bahwa Abraham tidak bermegah dalam perbuatannya. Daud pun tidak bermegah dalam pencapaiannya.

Abraham tidak berkata, “Lihat apa yang saya lakukan,” tetapi ia percaya kepada Tuhan. Daud tidak berkata, “Lihat hidup saya,” tetapi berkata, “Berbahagialah orang yang diampuni dosanya.”

Orang yang paling punya alasan untuk bermegah justru tidak bermegah di dalam dirinya. Kalau Abraham tidak bermegah dalam ketaatan dan Daud tidak bermegah dalam pencapaian, lalu kita mau bermegah dalam apa? Tidak ada, selain di dalam Tuhan.

Ini bukan sekadar emosional. Alasannya sangat dalam. Masalah manusia bukan hanya karena kita kurang baik dibanding orang lain. Kalau itu masalahnya, maka solusinya cukup menjadi sedikit lebih baik dari orang lain.

Tetapi Paulus menunjukkan sesuatu yang lebih serius. Standar Tuhan bukan perbandingan, melainkan kesempurnaan. Di hadapan Tuhan pertanyaannya bukan, “Apakah kamu lebih baik dari orang lain?” tetapi, “Apakah kamu sempurna?”

Sering kali kita merasa aman karena lebih baik dari orang lain. Kita membandingkan diri secara horizontal. Tetapi di hadapan takhta Allah, garis ukurnya bukan orang di sebelah kita, melainkan kekudusan Allah sendiri.

Kalau standar Tuhan itu seratus, maka nilai sembilan puluh sembilan sama gagalnya dengan nilai sepuluh. Di titik inilah semua dasar kemegahan diri runtuh. Ketika standar Tuhan adalah kesempurnaan, tidak ada seorang pun yang bisa berdiri dan bermegah.

Roma 3:19 berkata bahwa hukum Taurat membuat setiap mulut tersumbat dan seluruh dunia jatuh di bawah hukuman Allah. Artinya, ketika kita mendekat kepada hukum Tuhan, kita tidak melihat betapa baiknya diri kita, tetapi betapa kotornya diri kita.

Hukum Taurat menegaskan ketidakmampuan kita mencapai standar Tuhan. Di sinilah kita sadar bahwa kita tidak butuh sekadar perbaikan moral, tetapi penyelamatan total. Kita bukan hanya perlu diperbaiki, kita perlu diselamatkan. Bahkan persembahan dan pelayanan kita, jika didasarkan pada kemegahan diri, seperti kain kotor di hadapan Tuhan.

Lalu ketika Injil menyatakan bahwa keselamatan adalah kasih karunia Allah melalui iman, apakah hukum Tuhan tidak lagi berguna? Banyak orang berpikir begitu. Tetapi Paulus menjawab tegas di ayat 31: “Jika demikian, adakah kami membatalkan hukum Taurat karena iman? Sama sekali tidak. Sebaliknya, kami meneguhkannya.”

Banyak orang mengira anugerah berarti Tuhan menurunkan standar-Nya. Tidak.

Di sinilah ketegangan Injil terlihat. Jika Tuhan mengampuni orang berdosa tanpa menghukum dosa, maka keadilan-Nya diabaikan. Jika Tuhan menghukum semua orang berdosa, maka tidak ada seorang pun selamat. Tetapi Tuhan tidak menurunkan standar-Nya. Melalui Injil, hukum Tuhan justru diteguhkan. Bukan melalui Abraham, bukan melalui Daud, tetapi melalui satu Pribadi: Yesus Kristus.

Kristus adalah satu satunya Pribadi yang benar benar menegakkan hukum. Dalam hidup-Nya, Ia menghormati hukum. Ini disebut active obedience. Ia lahir di bawah hukum Taurat, menggenapi setiap tuntutan hukum, dan memenuhi seluruh kehendak Allah. Tidak ada satu titik pun yang Ia abaikan.

Tetapi bukan hanya dalam hidup-Nya, Kristus juga menghormati hukum dalam kematian-Nya. Ini disebut passive obedience. Yesus bukan hanya taat dalam hidup, tetapi juga menerima hukuman yang seharusnya kita tanggung.

Hukum Allah menuntut hukuman atas dosa. Roma 6:23 berkata, “Upah dosa ialah maut.” Tetapi hukuman itu ditanggungkan kepada Kristus dengan sempurna. Ia taat sampai mati, bahkan mati di kayu salib.

Martin Lloyd Jones berkata, tidak ada satu titik pun dalam sejarah manusia yang menyatakan murka Allah terhadap dosa seperti kematian Kristus di atas salib. Karena itu salib adalah wujud nyata penggenapan total hukum Allah. Di salib, hukum tidak dilunakkan tetapi dipenuhi sampai tuntas. Dosa tidak diabaikan. Keadilan Tuhan tidak dilanggar. Justru di salib, kebenaran, kekudusan, dan keadilan Tuhan dinyatakan.

Tetapi di balik semua itu ada harga yang sangat mahal: the cost of the cross. Salib bukan hanya tempat dosa dihakimi, tetapi tempat Anak Allah menanggung hukuman dosa. Dia yang sempurna diperlakukan seperti orang berdosa. Dia yang benar dihakimi seperti yang bersalah. Dia yang layak dipuji justru ditolak dan dihina. Dia yang layak dimuliakan justru dipermalukan.

Di atas salib Ia berseru, “AllahKu, AllahKu, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” Inilah harga salib. Bukan sekadar paku, mahkota duri, atau luka. Harga terdalam dari salib ialah Anak Allah menanggung murka Allah yang seharusnya tertuju kepada kita.

Yesaya 53:5 berkata: “Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita. Dia diremukkan oleh karena kejahatan kita. Ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya dan oleh bilur bilurnya kita menjadi sembuh.” Hukuman itu bukan untuk Yesus. Murka itu bukan untuk Dia. Keterpisahan itu bukan untuk Dia. Itu untuk kita. Tetapi Dia menanggungnya. Dia mengambilnya.

Kalau itu harganya, dan Dia yang membayarnya, bagaimana mungkin kita masih bermegah di dalam diri sendiri?

Hari ini ketika kita melihat salib, kita memiliki dasar baru untuk bermegah. Dahulu kita bermegah di dalam diri sendiri, dan itu mustahil. Sekarang di dalam Kristus kita dipulihkan. Dahulu kita berusaha taat supaya diterima, tetapi gagal memenuhi standar Tuhan. Sekarang di dalam Kristus kita sudah diterima. Karena itu kita dimampukan untuk taat.

Injil membebaskan kita dari pencarian applause, dari kebiasaan membandingkan diri, dan memampukan kita berkata: “Kalau Kristus menjadi kemegahanku, maka kehilangan apa pun tidak akan menghancurkanku.” Kalau Kristus menjadi kemegahan kita, dunia tidak lagi menentukan nilai diri kita. Kita dibebaskan dari approval manusia dan dari cinta akan dunia.

Itulah sebabnya Paulus berkata dalam Galatia 6:14: “Tetapi aku sekali kali tidak mau bermegah selain di dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus. Sebab olehnya dunia telah disalibkan bagiku dan aku bagi dunia.” Ketika kita melihat salib, kita tidak bisa lagi bermegah di dalam diri. Dan ketika kita bermegah di dalam Kristus, relasi dengan Allah dipulihkan. Kita tidak lagi perlu membuktikan diri, tetapi bisa beristirahat di dalam Kristus.

Relasi dengan sesama juga dipulihkan. Kita tidak lagi merasa superior ataupun inferior, karena semua berdiri di bawah kasih karunia Kristus. Cara kita melihat firman pun dipulihkan. Kita tidak lagi memakai firman sebagai alat pembenaran diri, tetapi rindu memberitakannya kepada orang lain.

Hari ini, apakah saudara lelah karena terus membuktikan diri? Kepada Tuhan atau kepada orang lain? Injil mengundang kita untuk beristirahat. Kita tidak perlu takut terlihat lemah dan gagal. Karena di dalam Kristus, kita dikasihi sepenuhnya dan diterima seutuhnya.

STOP AND REFLECT

  • Apakah saya sudah “beristirahat” dalam karya Kristus, atau masih terus berusaha membuktikan diri kepada Tuhan dan orang lain?
  • Bagaimana karya salib Kristus mengubah cara saya memandang diri sendiri dan orang lain?
  • Apakah pemahaman anda tentang Firman Tuhan membuat anda menjadi orang yang sulit dikritik, atau justru menjadi orang yang paling cepat bertobat?

ORANG BERINJIL

  • Tidak lagi perlu membuktikan diri untuk mendapatkan kasih Allah, karena telah memiliki penerimaan sejati di dalam Kristus.
  • Tidak lagi takut terlihat gagal atau lemah, karena sadar bahwa ia sepenuhnya dikenal oleh Tuhan namun tetap sepenuhnya dikasihi oleh Nya.
  • Tidak lagi menjadikan Firman sebagai alat pembenaran diri, melainkan rindu berbagi kabar baik Injil kepada orang lain karena mereka tahu betapa berharganya anugerah yang telah mereka terima.