Siapa Yang Membayar Harga?

The Gospel After Genesis – Week 6 “Siapa yang Membayar Harga”

Ps. Michael Chrisdion

 

Kita sedang berada dalam rangkaian khotbah The Gospel After Genesis. Masih dalam suasana Paskah, tetapi sekaligus ada kerinduan untuk menjawab ketakutan terhadap masa depan. Banyak yang sedang mengalami goncangan karena keadaan dunia dan situasi geopolitik yang tidak stabil. Karena itu, pembahasan kali ini berjudul siapa yang membayar harga.

Istilah “bayar harga” tentu sudah sangat familiar. Mengikut Yesus sering dikaitkan dengan membayar harga. Bahkan ada yang berkata bahwa datang ke gereja pun adalah bentuk membayar harga. Misalnya, ketika hujan tetap datang beribadah, itu dianggap sebagai membayar harga. Atau ketika harus menderita sedikit demi Tuhan, itu juga disebut membayar harga. Tetapi perlu dipertanyakan, apakah itu benar-benar membayar harga? Bisa jadi selama ini terjadi kesalahpahaman. Hal-hal tersebut sebenarnya bukan membayar harga, melainkan menghidupi iman.

BACAAN: Roma 3:23-26

3:23 Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, 

3:24 dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus. 

3:25 Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian karena iman, dalam darah-Nya. Hal ini dibuat-Nya untuk menunjukkan keadilan-Nya, karena Ia telah membiarkan dosa-dosa yang telah terjadi dahulu pada masa kesabaran-Nya. 

3:26 Maksud-Nya ialah untuk menunjukkan keadilan-Nya pada masa ini, supaya nyata, bahwa Ia benar dan juga membenarkan orang yang percaya kepada Yesus.

Kehidupan di dunia ini memang tidak bisa dilepaskan dari konsep membayar harga. Hampir segala sesuatu menuntut pengorbanan. Jika ingin sukses, harus bekerja keras. Jika ingin sehat, harus menjaga pola makan dan berolahraga. Jika ingin memiliki relasi yang baik, perlu meluangkan waktu dan menetapkan prioritas yang benar. Tidak ada hasil tanpa pengorbanan, tidak ada pencapaian tanpa harga yang dibayar. Prinsip ini juga sering dibawa ke dalam kehidupan rohani, sehingga muncul anggapan bahwa mengikut Tuhan, beribadah, dan melayani pun berarti membayar harga.

Di sisi lain, manusia hidup dalam dunia digital yang seolah-olah menawarkan segala sesuatu secara gratis. Instagram, YouTube, TikTok, hingga berbagai layanan AI terasa tidak berbayar. Namun sebenarnya tidak ada yang benar-benar gratis. Manusia tetap membayar, hanya bentuknya berbeda, yaitu melalui data, waktu, dan perhatian. Tanpa disadari, pola pikir ini memengaruhi cara memandang kehidupan. Seolah-olah segala sesuatu bisa diperoleh tanpa konsekuensi yang nyata.

Dari sini muncul cara berpikir bahwa kesalahan bisa hilang begitu saja, seakan hidup dapat direset. Hal ini sering terlihat dalam relasi, misalnya dalam pernikahan. Konflik terjadi, tetapi tidak pernah benar-benar diselesaikan. Setelah tidur, keesokan harinya semua berjalan seolah tidak ada apa-apa. Luka dan kekecewaan dianggap hilang begitu saja, padahal sebenarnya hanya ditutupi. Pola ini terus berulang, dan tanpa disadari terbentuk asumsi bahwa kerusakan tidak memiliki harga.

Cara berpikir yang sama kemudian diterapkan pada dosa. Ada anggapan bahwa dosa bisa dihapus begitu saja, seolah Tuhan cukup berkata tidak apa-apa dan semuanya selesai. Seakan-akan kerusakan dalam relasi, baik antara orang tua dan anak, suami dan istri, maupun antar sahabat, tidak memerlukan biaya pemulihan. Padahal jika segala sesuatu dalam dunia ini memiliki harga, mengapa dosa dianggap tidak memiliki harga?

Jika semua hal membutuhkan pengorbanan untuk mencapainya, mengapa kehidupan yang rusak bisa dipulihkan tanpa pengorbanan? Pertanyaan ini perlu dipikirkan dengan serius. Teks yang tadi dibaca memberikan tiga kata kunci penting yang perlu dipahami dan dihidupi.

Yang pertama adalah redemption. Yang kedua adalah jalan pendamaian, atau dalam bahasa Inggris disebut propitiation. Yang ketiga adalah demonstration, yaitu pernyataan Allah. Ketiga konsep ini saling berkaitan dan menjadi dasar untuk memahami penebusan. Ketika hal ini sungguh dipahami dan masuk ke dalam hati, ada ketenangan yang akan muncul.

REDEMPTION - MENGAPA KITA MEMBUTUHKANNYA

Kita hidup di zaman yang terus mengatakan bahwa manusia itu bebas. Jadilah dirimu sendiri. Be yourself. Banyak orang yang tidak menyukai agama, tidak menyukai kekristenan, atau tidak menyukai moralitas berkata, lakukan saja apa yang membuatmu bahagia. Tentukan standar hidupmu sendiri. Find your truth. Jika sesuatu terasa benar bagimu, maka itu adalah kebenaranmu. Jika seseorang menyukai sesama jenis, itu dianggap sebagai kebenaran pribadinya dan didorong untuk diterima. Jika tidak menyukai pernikahan, dianggap itu hanya birokrasi, sehingga hidup bersama tanpa ikatan pun dianggap wajar. Intinya, tentukan standar hidupmu sendiri.

Namun perlu kejujuran di sini. Kita sering berpikir bahwa hidup seperti itu adalah kebebasan, tetapi sebenarnya tidak sesederhana itu. Manusia tidak sebebas yang dibayangkan. Jika benar-benar bebas, mengapa sulit menerima kritik? Mengapa tidak pernah merasa cukup? Mengapa selalu takut gagal? Mengapa sulit berhenti bekerja dan akhirnya menjadi workaholic? Mengapa ada dorongan terus-menerus untuk membuktikan diri, dan ketika ditolak atau gagal langsung merasa hancur dan tidak berharga?

Semua itu sebenarnya bukan tanda kebebasan, melainkan tanda perbudakan. Karena itu Alkitab dalam Roma 3:24 mengatakan bahwa manusia membutuhkan penebusan di dalam Kristus Yesus. Tanpa disadari, manusia hidup dalam keadaan diperbudak. Seorang filsuf bernama Franz Kafka pernah mengatakan bahwa masalah manusia bukan hanya karena melakukan kesalahan, tetapi karena ada sesuatu yang salah di dalam hati manusia itu sendiri. Ia menyatakan bahwa manusia berada dalam kondisi berdosa bahkan tanpa konsep rasa bersalah. Artinya ada kesadaran bahwa ada yang salah, bahkan ketika seseorang berkata dirinya tidak bersalah.

Perbudakan ini muncul dalam berbagai bentuk. Yang pertama adalah perbudakan oleh rasa bersalah dan rasa tidak cukup. Dunia mencoba mengatasi rasa bersalah dengan menolak Tuhan dan berkata bahwa tidak ada standar mutlak. Tidak ada kebenaran absolut. Karena itu muncul gagasan find your truth. Jika itu benar bagimu, maka orang lain tidak berhak mengatakan itu salah. Semua orang memiliki versinya masing-masing dan cukup saling toleransi.

Namun di dalam hati, manusia tetap berusaha membuktikan bahwa dirinya benar. Ini menjadi ironi. Jika tidak ada standar mutlak, mengapa masih ada dorongan untuk terus membuktikan diri? Mengapa tetap merasa kurang? Mengapa tetap gelisah dan tidak pernah tenang? Inilah yang membuat manusia hidup dalam kecemasan dan ketidakpuasan. Kehidupan kemudian dipenuhi dengan konsumerisme, membeli sesuatu untuk menunjukkan nilai diri, mengejar pencapaian untuk membuktikan harga diri. Di satu sisi menolak standar, tetapi di sisi lain tetap hidup seolah-olah ada standar yang harus dicapai.

Akibatnya, manusia diperbudak oleh suara hati sendiri, oleh rasa bersalah, dan oleh perasaan tidak cukup yang terus menghantui. Untuk menutupi perasaan ini, manusia masuk ke dalam perbudakan kedua, yaitu diperbudak oleh tuan-tuan palsu atau berhala. Karena merasa tidak cukup dan bersalah, manusia mencari sesuatu untuk menutupi kekosongan itu melalui pekerjaan, jabatan, kemewahan, gaya hidup, atau relasi dan cinta.

Hal-hal tersebut pada awalnya baik, tetapi ketika dijadikan sumber identitas, semuanya berubah menjadi tuan dalam hidup. Tuan seperti ini tidak pernah punya batas, tidak pernah puas, dan selalu menghukum ketika gagal. Itulah sebabnya hidup menjadi gelisah, sulit tidur, dan penuh kecemasan. Bahkan pengalaman sederhana menunjukkan hal ini. Ada yang mengalami kecemasan berlebihan hingga terbangun tengah malam dengan keringat dingin. Ada yang takut sebelum melakukan sesuatu, bahkan sebelum memulai sudah dihantui kegagalan. Ada yang tidak bisa tidur sebelum pertandingan karena takut kalah, dan setelah menang pun tetap tidak bisa tidur karena tekanan yang tinggi.

Hal yang sama juga terjadi dalam pengalaman pribadi ketika hendak melakukan perjalanan panjang bersepeda. Malam sebelumnya sudah berusaha tidur lebih awal, tetapi tidak bisa tidur karena rasa takut. Belum mulai sudah takut gagal, takut kram, takut apa kata orang jika tidak berhasil. Ini menunjukkan bahwa manusia sering kali hidup di bawah tekanan dari tuan-tuan yang tidak terlihat.

Lalu bagaimana mengetahui bahwa sesuatu sudah menjadi tuan dalam hidup? Ketika tidak bisa berkata cukup, ketika tidak bisa berhenti, dan ketika kehilangan hal itu membuat hidup hancur. Pada titik itu, hal tersebut bukan lagi sekadar gaya hidup atau pekerjaan, melainkan sudah menjadi perbudakan. Manusia membeli sesuatu yang tidak dibutuhkan dengan uang yang tidak dimiliki untuk mengesankan orang yang sebenarnya tidak disukai, dan tetap tidak bisa berhenti. Semua ini menunjukkan adanya perbudakan oleh rasa bersalah, rasa tidak cukup, dorongan untuk membuktikan diri, dan oleh tuan-tuan palsu yang diciptakan sendiri.

Karena itu Alkitab menyatakan bahwa manusia membutuhkan penebusan. Penebusan berarti membeli kembali, membebaskan dengan membayar harga. Konsep ini menjadi jelas jika melihat konteks zaman Alkitab. Pada masa itu tidak ada sistem kebangkrutan seperti sekarang. Jika seseorang berhutang dan tidak mampu membayar, ia tidak bisa lepas dari tanggung jawabnya. Ia akan kehilangan kebebasannya dan menjadi budak. Istrinya menjadi budak, anak-anaknya menjadi budak, bahkan keturunannya bisa terus berada dalam perbudakan.

Satu-satunya harapan adalah jika ada orang lain yang datang dan membayar seluruh hutangnya, sehingga ia dibebaskan. Itulah yang disebut penebusan. Meskipun konsep ini terasa jauh, sebenarnya dalam kehidupan sehari-hari ada gambaran kecil dari penebusan. Setiap kerusakan selalu menciptakan hutang, dan setiap hutang menuntut pembayaran.

Contohnya ketika seseorang berhutang dan tidak bisa membayar, lalu orang lain datang menebusnya. Atau ketika seseorang merusak sesuatu, entah ia yang membayar atau orang lain yang menanggung biayanya. Atau ketika seseorang menyakiti hati, lalu yang mengampuni harus menanggung rasa sakit itu. Semua itu adalah bentuk kecil dari penebusan.

Dari sini terlihat sebuah pola. Setiap kerusakan memiliki harga. Dan kerusakan terbesar berasal dari dosa. Dosa merusak jiwa, merusak dunia, merusak relasi dengan Allah. Jika setiap kerusakan memiliki biaya, maka dosa menciptakan hutang yang tidak mungkin dibayar oleh manusia. Hutang itu membuat manusia diperbudak.

Karena itu muncul pertanyaan, siapa yang akan menebus dan menanggung biaya tersebut. Di sinilah makna Paskah dan Jumat Agung menjadi sangat indah. Itulah sebabnya manusia membutuhkan redemption.

PROPITIATION - ADA JALAN PENDAMAIAN

Lalu bagaimana redemption itu terjadi? Di sini masuk ke poin kedua, yaitu propitiation. Ini adalah istilah yang penting untuk dipahami. Dalam Roma 3:25 dikatakan bahwa Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian. Kata ini dalam bahasa Inggris disebut propitiation. Jadi cara Allah menebus manusia adalah melalui jalan pendamaian.

Namun arti kata ini lebih dalam dari sekadar jalan. Di dalamnya terkandung makna korban pendamaian. Propitiation berarti ada murka yang dialihkan, ada hutang terhadap keadilan yang dibayar supaya keadilan tetap ditegakkan. Ketika berbicara tentang murka, banyak orang merasa tidak nyaman. Ada yang berkata bahwa Allah itu kasih, sehingga tidak perlu berbicara tentang murka. Tetapi perlu dipahami bahwa Allah adalah kasih, namun kasih itu bukan berarti meniadakan murka.

Ada tiga kebenaran penting tentang propitiation. Yang pertama, jika Allah benar-benar penuh kasih, justru Dia harus murka. Banyak orang mengatakan lebih suka Allah yang kasih daripada Allah yang murka, tetapi pernyataan itu sebenarnya menunjukkan bahwa kasih belum dipahami dengan benar. Seorang teolog bernama Miroslav Volf dalam bukunya Exclusion and Embrace mengatakan bahwa jika Tuhan tidak marah terhadap ketidakadilan, penipuan, dan kejahatan, maka Tuhan justru menjadi bagian dari kejahatan itu sendiri. Murka Tuhan bukanlah lawan dari kasih, melainkan ketidakpedulian lah yang menjadi lawannya.

Dalam kehidupan sehari-hari pun terlihat bahwa ketika seseorang benar-benar mengasihi, ia tidak akan diam ketika sesuatu yang dikasihinya dirusak. Jika seseorang yang dikasihi perlahan hancur karena pilihan yang salah, tidak mungkin hanya diam tanpa melakukan apa-apa. Akan ada dorongan untuk menolong, menyelamatkan, dan bahkan marah terhadap hal yang merusak tersebut. Demikian juga dengan Allah. Ia murka terhadap dosa karena Ia mengasihi manusia dan seluruh ciptaan. Semakin besar kasih, semakin besar kemarahan terhadap apa yang menghancurkan yang dikasihi itu. Karena itu kasih Allah tidak bisa dipisahkan dari murka-Nya.

Kebenaran kedua adalah bahwa setiap kesalahan menciptakan hutang, dan hutang selalu menuntut pembayaran. Ketika seseorang disakiti, ada dua pilihan. Membalas atau mengampuni. Jika membalas, orang lain yang menderita, tetapi hati menjadi pahit dan keras, dan siklus kejahatan terus berlanjut. Jika mengampuni, maka yang mengampuni harus menanggung rasa sakit itu. Ia yang menyerap luka tersebut.

Ini menunjukkan bahwa setiap kesalahan tidak pernah hilang begitu saja. Selalu ada yang menanggung. Hutang tidak bisa dihapus tanpa pembayaran, dan pembayaran itu selalu melibatkan penderitaan. Entah pelaku yang menanggung, atau orang yang memilih untuk mengampuni yang menanggung. Ini baru dalam relasi manusia, bahkan belum berbicara tentang Allah.

Jika demikian, apakah mungkin Allah yang sempurna dan adil hanya berkata bahwa semuanya tidak apa-apa tanpa ada konsekuensi? Tidak mungkin. Karena Ia adalah Allah yang adil. Itulah sebabnya Ibrani 9:22 mengatakan bahwa tanpa penumpahan darah tidak ada pengampunan dosa. Keadilan menuntut pembayaran, dosa menuntut konsekuensi. Tidak ada pemulihan tanpa harga, tidak ada penebusan tanpa pengorbanan, dan pengorbanan itu selalu melibatkan darah. Selalu ada yang berkorban atau dikorbankan.

Lalu pertanyaannya, siapa yang membayar harga itu? Di sinilah kebenaran ketiga. Roma 3:25 menyatakan bahwa Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian, bahkan lebih tepatnya korban pendamaian, melalui iman dalam darah-Nya. Inilah yang membuat Injil unik dan berbeda dari semua agama. Allah sendiri yang membayar harganya.

Bagi sebagian orang, konsep ini dianggap primitif, seperti agama kuno yang membutuhkan korban untuk menenangkan dewa. Dalam banyak kepercayaan kuno, manusia memberikan persembahan untuk menenangkan kekuatan ilahi, entah agar gunung tidak meletus, laut tidak mengamuk, atau supaya terhindar dari malapetaka. Manusia berusaha menenangkan ilah dengan korban.

Namun Injil justru menunjukkan hal yang berbeda. Bukan manusia yang memberi kepada Allah, melainkan Allah yang memberi diri-Nya sendiri bagi manusia. Di dalam salib, bukan manusia yang menenangkan Allah, tetapi Allah sendiri yang datang dalam Yesus Kristus untuk menanggung murka itu. Ini bukan sesuatu yang primitif atau barbar, karena Yesus melakukannya dengan sukarela, bukan karena dipaksa. Ia melakukannya dalam kasih.

Di dalam peristiwa ini terlihat kasih yang paling tinggi dan keadilan yang paling sempurna. Yesus Kristus menjadi korban pendamaian, menyerap murka Allah, dan membayar lunas hutang manusia. Karena itulah manusia bisa ditebus. Inilah Injil. Karena itu, setiap orang yang datang kepada Tuhan datang bukan karena usahanya sendiri, tetapi karena ada yang telah membayar harganya, yaitu Yesus.

Namun Injil tidak berhenti di sini. Masih ada satu hal lagi yang membuatnya menjadi sangat personal, yaitu poin ketiga, demonstration.

DEMONSTRATION - PERNYATAAN KASIH TUHAN

Artinya begini, salib bukan hanya transaksi hukum. Salib bukan hanya soal hutang yang dibayar atau keadilan yang dipuaskan. Salib bukan sekadar mengubah status dari budak menjadi orang bebas. Lebih dari itu, salib adalah pernyataan hati Allah kepada manusia.

Roma 5:8 mengatakan bahwa Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, bahwa Kristus telah mati untuk kita ketika kita masih berdosa. Salib Kristus menyatakan siapa Allah itu, bagaimana Dia mengasihi, dan apa yang rela Dia lakukan. Di dalam salib, Allah tidak memilih antara kasih atau keadilan, melainkan menunjukkan keduanya secara sempurna pada saat yang sama.

Kebenaran ini bukan hanya untuk dimengerti, tetapi perlu didaratkan di hati. Ini perlu direnungkan dan menjadi sesuatu yang memperbarui hidup. Ketika benar-benar dipahami, ini menjadi sesuatu yang indah, yang membawa kebahagiaan, dan membuat hati tersentuh. Ini adalah kisah kasih yang selama ini didambakan. Ini adalah penerimaan tertinggi yang sering dicari dari orang lain, tetapi sebenarnya diberikan oleh Tuhan. Ini adalah kekayaan yang jauh lebih besar daripada apa pun yang diperjuangkan untuk mendapatkan pengakuan.

Karena itu firman Tuhan terus diulang untuk mengingatkan dan mengkalibrasi hati. Pelayanan pun seharusnya lahir dari kesadaran bahwa seseorang sudah dikasihi. Namun hati manusia mudah sekali melenceng, sehingga kebenaran ini perlu terus diingatkan. Salib tidak boleh berhenti menjadi konsep, tetapi harus menjadi realitas yang hidup di dalam hati.

Seluruh Perjanjian Lama sebenarnya menunjuk kepada Kristus. Salah satu gambaran yang indah adalah konsep Goel, yaitu penebus dari keluarga. Seorang penebus harus satu darah, bertindak dengan sukarela, dan menanggung biaya sendiri. Kisah yang menggambarkan ini dengan jelas adalah kisah Rut.

Rut adalah seorang perempuan Moab, seorang asing, yang menikah dengan pria Israel. Namun suaminya meninggal, demikian juga semua laki-laki dalam keluarga itu. Tinggallah Rut bersama Naomi dalam keadaan tanpa perlindungan, tanpa masa depan, miskin, dan rentan. Untuk bertahan hidup, Rut harus memungut sisa-sisa gandum di ladang, sebuah pekerjaan yang berbahaya bagi seorang perempuan asing.

Di ladang itu, Rut bertemu dengan Boas. Boas menunjukkan kebaikan, melindungi Rut, dan memberikan kesempatan baginya untuk memperoleh lebih banyak gandum. Ketika Naomi mengetahui bahwa Boas adalah kerabat, muncul harapan bahwa ia bisa menjadi penebus.

Rut kemudian datang dengan kerendahan hati kepada Boas dan meminta perlindungan. Boas menerima permintaan itu. Ia menebus mereka dengan membayar harga, memulihkan keadaan mereka, dan bahkan menikahi Rut. Hidup Rut bukan hanya dipulihkan, tetapi dipenuhi kasih. Identitasnya diubahkan, kehormatannya dipulihkan.

Kisah ini mencerminkan keadaan manusia. Manusia seperti Rut dan Naomi, hidup dalam keterasingan, kehilangan, kepahitan, dan tanpa harapan. Namun Boas menunjuk kepada penebus yang sejati, yaitu Yesus Kristus.

Yesus menjadi penebus dengan cara mengosongkan diri-Nya, menjadi manusia, dan taat sampai mati di kayu salib. Jika Boas membayar dengan hartanya, Yesus membayar dengan darah-Nya sendiri. Ia mengambil posisi manusia, memberikan identitas-Nya, dan menjadikan manusia milik-Nya.

Ini bukan sekadar transaksi hukum, melainkan kisah kasih terbesar. Inti dosa adalah manusia ingin menjadi Tuhan, tetapi inti penebusan adalah Tuhan yang menggantikan manusia. Di dalam salib, Allah tidak mengabaikan dosa dan tidak meninggalkan manusia, tetapi membayar harga itu sendiri.

Yesus datang bukan hanya untuk memperbaiki hidup, tetapi untuk menjadikan manusia ciptaan yang baru. Identitas yang baru diberikan bukan berdasarkan pencapaian atau penerimaan manusia, tetapi berdasarkan karya Kristus.

Karena itu, jika hidup sudah ditebus, tidak perlu lagi hidup dalam ketakutan, tekanan, dan perasaan tidak cukup. Tidak perlu lagi membuktikan nilai diri melalui pencapaian atau pengakuan. Hidup sudah dibayar lunas.

Sekalipun keadaan hidup terasa sulit dan masa depan tidak pasti, ada kepastian yang lebih tinggi, yaitu bahwa Tuhan yang menciptakan segala sesuatu berada di pihak kita. Dia menjadikan manusia milik-Nya dan mengasihi dengan kasih yang tidak berubah.

Di kayu salib, Yesus bukan hanya mati, tetapi membayar harga. Semua yang rusak, hilang, dan tidak bisa dipulihkan telah ditebus. Injil memberikan kepastian, penerimaan, dan kasih yang tidak berubah.

Karena itu perlu menyadari bahwa manusia tidak membayar harga untuk mengikut Tuhan. Semua harga telah dibayar oleh Kristus. Jika ada pengorbanan dalam hidup, itu bukan untuk membayar harga, tetapi untuk menghidupi iman atas harga yang sudah dibayar.

Seperti Rut yang ditebus, tidak ada alasan untuk sombong. Dari seorang asing menjadi bagian dari keluarga, bahkan masuk dalam garis keturunan yang besar. Ini adalah gambaran kasih karunia. Karena itu tidak perlu lagi hidup dalam ketakutan akan masa depan atau kekurangan. Hati perlu diarahkan kepada Dia yang telah menebus.

REFLEKTIF

Apa satu hal dalam hidupmu yang kalau hilang... kamu langsung merasa hidupmu hancur atau tidak berarti? Itulah tuan palsumu..

Kalau mengampuni orang yang menyakitimu saja terasa mahal... menurutmu berapa mahal harga yang Yesus bayar untuk mengampuni kamu?

Jika Yesus sudah membayar penuh hidupmu, mengapa kamu masih hidup seolah-olah kamu harus membayar sendiri untuk diterima, berarti, dan aman?

ORANG BERINJIL

Merasa secure, aman dan bebas di dalam Kristus karena tidak terus terjebak dalam usaha untuk membuktikan nilai dirinya.

Tidak malu mengaku dosa dan bertobat, karena sadar hutang dosanya sudah dibayar mahal dan lunas.

Memiliki confidence tapi tetap rendah hati, karena tahu hidupnya dibayar dengan harga yang tak ternilai.