Kekuatuan Yang Menulis Ulang Cerita Hidup Kita

The Gospel After Genesis – Week 1 “Kekuatan yang Menulis Ulang Cerita Hidup Kita”

Ps. Lius Erik

 

Kita sudah memasuki sermon series yang baru, The Gospel After Genesis. Melalui sermon series ini kita akan belajar melihat segala sesuatu bukan dari lensa optimisme manusia, melainkan dari lensa Injil yang menebus dan memulihkan segalanya. Tema khotbah hari ini adalah kekuatan yang menulis ulang cerita hidup kita

Bacaan: Roma 1:1-7, 4-17

1:1 Dari Paulus, hamba Kristus Yesus, yang dipanggil menjadi rasul dan dikuduskan untuk memberitakan Injil Allah. 

1:2 Injil itu telah dijanjikan-Nya sebelumnya dengan perantaraan nabi-nabi-Nya dalam kitab-kitab suci, 

1:3 tentang Anak-Nya, yang menurut daging diperanakkan dari keturunan Daud, 

1:4 dan menurut Roh kekudusan dinyatakan oleh kebangkitan-Nya dari antara orang mati, bahwa Ia adalah Anak Allah yang berkuasa, Yesus Kristus Tuhan kita. 

1:5 Dengan perantaraan-Nya kami menerima kasih karunia dan jabatan rasul untuk menuntun semua bangsa, supaya mereka percaya dan taat kepada nama-Nya. 

1:6 Kamu juga termasuk di antara mereka, kamu yang telah dipanggil menjadi milik Kristus. 

1:7 Kepada kamu sekalian yang tinggal di Roma, yang dikasihi Allah, yang dipanggil dan dijadikan orang-orang kudus: Kasih karunia menyertai kamu dan damai sejahtera dari Allah, Bapa kita, dan dari Tuhan Yesus Kristus. 

1:14 Aku berhutang baik kepada orang Yunani, maupun kepada orang bukan Yunani, baik kepada orang terpelajar, maupun kepada orang tidak terpelajar. 

1:15 Itulah sebabnya aku ingin untuk memberitakan Injil kepada kamu juga yang diam di Roma.

Injil itu kekuatan Allah

1:16 Sebab aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani. 

1:17 Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: "Orang benar akan hidup oleh iman."

Dalam sermon series sebelumnya kita melihat bagaimana segala sesuatu bermula dari ketiadaan. Melalui firman-Nya yang berkuasa, Allah menciptakan langit dan bumi dengan segala keteraturan dan keindahannya. Pada akhirnya Allah menciptakan manusia menurut gambar dan rupa-Nya. Firman Tuhan menyatakan bahwa seluruh ciptaan itu sungguh amat baik.

Namun kisah yang dimulai dengan kebaikan dan keindahan itu tidak berlangsung lama. Manusia pertama memilih mengikuti kehendaknya sendiri. Mereka lebih mempercayai perkataan iblis daripada firman Allah. Akibatnya dosa masuk ke dalam dunia dan merusak relasi yang indah antara Allah dan manusia. Sejak saat itu dunia dan seluruh isinya tidak pernah sama lagi.

John McArthur menjelaskan bahwa dosa membawa serangkaian kabar buruk yang tidak terhindarkan bagi manusia. Setidaknya ada empat dampak dari dosa:

  • Pertama, dosa menanamkan keegoisan di dalam hati manusia. Manusia mulai melihat segala sesuatu dari sudut kepentingannya sendiri. Yang terutama bukan lagi kehendak Tuhan, melainkan kehendaknya sendiri.
  • Kedua, dosa menimbulkan rasa bersalah. Seberapa keras manusia mencoba membenarkan diri, hati tetap menyadari bahwa ada sesuatu yang salah. Rasa bersalah itu seperti alarm yang terus berbunyi di dalam hati.
  • Ketiga, dosa melahirkan kehampaan. Manusia terus mengejar kesuksesan, uang, dan pengakuan dengan harapan semua itu memberi arti bagi hidup.
  • Keempat, dosa membawa manusia pada keputusasaan. Semua itu berakar pada satu hal, yaitu dosa.

Dosa bukan hanya mengubah keadaan, tetapi juga membelokkan arah kehidupan. Inilah kabar buruk bagi semua manusia. Tidak seorang pun luput dari kondisi ini. Lalu muncul pertanyaan: apakah Allah tinggal diam? Apakah kejatuhan manusia mengejutkan Allah? Apakah Allah harus merevisi rencana-Nya?

Sebagian orang berpikir bahwa Allah baru merencanakan keselamatan setelah manusia jatuh dalam dosa, seolah-olah tindakan Allah hanyalah respons terhadap kegagalan manusia. Seakan-akan pada awalnya Allah memiliki rencana yang indah, tetapi manusia mengacaukannya sehingga Allah harus mencari solusi baru.

Namun Allah tidak seperti itu. Allah tidak seperti manusia. Ia bukan seperti pemerintah yang baru bertindak saat krisis terjadi, dan bukan seperti ilmuwan yang terus bereksperimen untuk melihat apakah percobaannya berhasil atau gagal.

Rencana Allah berbeda dari rencana manusia.

Ketika seseorang berkata, “Besok kita bertemu dan makan bersama,” sebenarnya ada banyak syarat tersembunyi di balik kalimat itu: jika kita masih hidup, jika tidak ada rapat mendadak, jika restorannya buka. Rencana manusia selalu mengandung kemungkinan.

Rencana Allah tidak demikian.

Ketika manusia jatuh dalam dosa, Allah tidak terkejut atau panik lalu membuat rencana cadangan. Sejak semula Ia telah merancang karya keselamatan itu. Salib bukan kecelakaan, dan keselamatan bukan rencana cadangan. Semua adalah rancangan kekal Allah. Ketika rancangan kekal itu dinyatakan dalam sejarah melalui Yesus Kristus, Alkitab menyebutnya dengan satu kata: Injil.

Kata Injil tentu tidak asing. Kita mendengarnya hampir setiap minggu, tetapi sering kali maknanya dipersempit. Dalam kehidupan sehari hari, Injil kerap dipahami hanya sebagai dorongan untuk menjadi lebih baik, lebih rajin ke gereja, atau lebih suci. Semua itu baik, tetapi bukan inti Injil. Injil bukan sekadar ajaran agar manusia menjadi lebih religius atau memperbaiki diri. Injil adalah apa yang Allah telah lakukan bagi manusia di dalam Kristus. Injil bukan sekadar saran untuk hidup lebih baik, melainkan kekuatan Allah yang menyelamatkan dan sanggup menulis ulang cerita hidup manusia.

Paulus menyatakan hal ini dalam Roma 1:16–17. Menurut Timothy Keller, kedua ayat tersebut merupakan ringkasan Injil menurut Paulus sekaligus tesis utama dari seluruh surat Roma. Di situlah inti dari pesan yang ingin ia sampaikan. Surat ini kemungkinan ditulis sekitar tahun 56–57 M, kira kira dua puluh tahun setelah penyaliban Yesus, saat Paulus berada di Korintus. Menariknya, ia belum pernah mengunjungi jemaat di Roma. Kemungkinan besar komunitas itu mulai terbentuk sejak peristiwa Pentakosta ketika sekitar tiga ribu orang bertobat, termasuk orang-orang dari Roma.

Sejak awal suratnya, Paulus langsung memperkenalkan Injil yang ia beritakan. Ia menyebut dirinya “hamba Kristus Yesus,” memakai kata doulos, yang berarti budak milik tuannya. Ia juga menegaskan bahwa dirinya “dipanggil menjadi rasul,” menunjukkan bahwa kerasulannya bukan hasil inisiatif pribadi, melainkan panggilan Yesus sendiri. Selain itu, ia mengatakan bahwa dirinya “dikuduskan untuk Injil Allah,” artinya dipisahkan khusus untuk memberitakan Injil.

Dari pembuka ini jelas bahwa hidup dan pelayanan Paulus bukan tentang dirinya. Ia hanyalah hamba yang dipanggil dan dipisahkan untuk satu tujuan: memberitakan Injil Allah.

Lalu apa yang dimaksud Paulus dengan Injil Allah?

Kata Injil berasal dari bahasa Yunani euangelion yang berarti kabar baik atau berita sukacita. Pada masa itu istilah ini bukan istilah rohani, melainkan istilah umum yang sering dipakai dalam konteks kerajaan. Kata ini digunakan ketika terjadi peristiwa besar seperti kemenangan perang, naiknya seorang raja ke takhta, atau kelahiran pewaris kerajaan. Dalam momen seperti itu seorang pemberita akan berdiri di tengah kota dan berseru, “Euangelion, kabar sukacita.”

Paulus memakai istilah yang sama, tetapi dengan makna yang jauh lebih besar. Ia menyebutnya Injil Allah. Dengan itu ia menegaskan bahwa kabar yang ia bawa bukan berasal dari dirinya dan bukan hasil pemikirannya. Ini adalah kabar baik milik Allah sendiri, jauh lebih besar daripada kabar kemenangan seorang raja.

Ayat 2-4 juga menjelaskan bahwa Injil ini telah dijanjikan sebelumnya melalui para nabi dalam Kitab Suci. Artinya apa yang diberitakan Paulus bukan sesuatu yang baru. Ini adalah rencana Allah yang telah dinyatakan sejak dahulu.

John McArthur menekankan bahwa hal paling penting tentang Injil adalah asalnya: Injil berasal dari Allah. Allah adalah sumbernya. Ini bukan kabar baik manusia, melainkan kabar baik dari Allah bagi manusia. Karena berasal dari Allah, Injil pasti benar, entah manusia menyukainya atau tidak. Dan karena berasal dari Allah, Injil berkuasa, entah manusia menerimanya atau menolaknya.

Injil ini juga berpusat pada satu pribadi, yaitu Yesus Kristus. Injil tidak dapat dipisahkan dari Dia. Timothy Keller mengatakan bahwa Injil berpusat pada pribadi, bukan sekadar konsep. Injil adalah tentang Dia, bukan tentang kita. Dengan demikian, sejak awal suratnya Paulus menegaskan satu hal: Injil adalah kabar baik dari Allah yang telah dijanjikan sejak semula dan digenapi di dalam Yesus Kristus.

Ada pengalaman sederhana ketika saya masih sekolah. Saat itu saya pernah menjadi ketua kelas, meskipun saya bukan siswa yang menonjol dan sering mengalami perundungan. Ketika pemungutan suara justru memberi saya suara terbanyak, saya merasa kaget sekaligus bangga.

Namun saya punya satu kelemahan: berbicara di depan orang membuat saya sangat gugup. Tangan gemetar, kata-kata terbata, dan tubuh berkeringat. Anehnya, ada satu situasi ketika saya bisa berbicara dengan tenang, yaitu saat menyampaikan pesan dari wali kelas. Ketika saya berkata, “Teman teman, ada pesan dari Pak Guru,” kelas yang biasanya ribut langsung diam. Saya bisa menyampaikan pesan itu tanpa gugup, bukan karena saya berani, tetapi karena pesan itu bukan berasal dari saya.

Pengalaman sederhana ini menggambarkan apa yang Paulus alami. Ia tidak membawa pesannya sendiri, melainkan pesan dari Allah. Karena itu ia memiliki keyakinan yang kuat ketika memberitakan Injil. Dari bagian ini kita melihat kebenaran mendasar: Injil berasal dari Allah dan berpusat pada Yesus Kristus—bukan sekadar konsep, melainkan kabar tentang karya Allah bagi manusia.

Sering kali kekristenan dipahami hanya sebagai usaha menjadi orang yang lebih baik. Injil dianggap sekadar dorongan untuk mencoba lebih keras, lebih disiplin, dan lebih suci. Akibatnya, ketika gagal kita merasa bersalah dan putus asa, karena Injil dipersempit menjadi saran moral. Padahal Injil bukan saran, melainkan kabar kemenangan. Injil adalah berita bahwa Allah telah bertindak melalui Anak-Nya untuk menyelamatkan manusia. Kekristenan tidak dimulai dari usaha manusia menuju Allah, tetapi dari karya Allah yang datang kepada manusia.

Jika Injil berasal dari Allah dan berpusat pada Kristus, pertanyaannya adalah: untuk siapa Injil ini? Dalam Roma 1:6–7, Paulus mengingatkan jemaat di Roma bahwa mereka “dikasihi Allah, dipanggil menjadi milik Kristus, dan dijadikan orang kudus.” Meskipun latar belakang mereka beragam—Yahudi dan Yunani, terdidik maupun sederhana—Paulus menegaskan kebenaran yang sama: identitas mereka ditentukan oleh panggilan Allah, bukan masa lalu mereka. Injil tidak dibatasi oleh budaya atau latar belakang; Injil adalah untuk setiap orang.

Karena itu Paulus berkata dalam Roma 1:14–15 bahwa ia “berhutang” kepada semua orang, baik Yunani maupun bukan Yunani, terpelajar maupun tidak. Bukan karena hubungan pribadi, tetapi karena Injil yang ia terima adalah titipan dari Allah. Seperti seseorang yang menerima pesan untuk disampaikan kepada orang lain, Paulus merasa berkewajiban memberitakan Injil. Hidupnya sendiri telah diubahkan—dari penganiaya gereja menjadi hamba Kristus—dan karena itu ia tidak dapat menyimpan kabar baik itu untuk dirinya sendiri.

Ketika seseorang menemukan sesuatu yang sangat berharga, ia biasanya ingin segera membagikannya. Buku yang bagus direkomendasikan, pemandangan indah dibagikan. Terlebih lagi jika seseorang menemukan obat yang menyembuhkan penyakit mematikan dan ia sendiri telah disembuhkan olehnya, tentu ia tidak akan menyembunyikannya dari orang lain.

Demikian juga dengan Injil. Jika Injil membawa keselamatan, pengampunan dosa, damai dengan Allah, dan identitas baru di dalam Kristus, kabar sebesar itu tidak mungkin disimpan sendiri. Karena itulah Paulus berkata bahwa ia berhutang: Injil yang telah menyelamatkannya terlalu indah untuk tidak diberitakan.

Hal yang sama berlaku bagi kita. Kita dibenarkan, dijadikan anak Allah, dan diselamatkan bukan karena kelayakan kita, tetapi karena anugerah. Justru karena itu Injil tidak boleh berhenti pada diri kita. Setiap orang yang telah menerimanya dipanggil untuk membagikannya, bukan sebagai beban, melainkan sebagai respons kasih kepada Kristus. Seperti dikatakan dalam ESV Gospel Transformation Bible, detak jantung orang yang mengenal Allah adalah membuat Dia dikenal.

Injil yang sungguh dipahami tidak hanya menyelamatkan dan memberi identitas baru, tetapi juga menggerakkan hidup. Dan keyakinan kita akan Injil bukan bertumpu pada semangat atau pengalaman kita, melainkan pada Injil itu sendiri.

Dalam Roma 1:16 Paulus membuat deklarasi yang kuat: ia tidak malu akan Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya—pertama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani. Ini bukan sekadar pernyataan teologis, melainkan pengakuan iman yang menjadi dasar hidupnya.

Ungkapan “tidak malu” (sering diterjemahkan I am not ashamed) adalah gaya bahasa litotes, yaitu bentuk negatif yang menegaskan sikap yang sangat kuat. Paulus bukan hanya tidak malu, tetapi berdiri teguh dan bermegah di dalam Injil.

Pada zamannya banyak orang memang memandang Injil sebagai sesuatu yang memalukan. Budaya Romawi mengagungkan kekuatan dan kejayaan, sementara budaya Yunani mengagungkan filsafat dan kecerdasan. Di tengah dunia seperti itu, Injil justru memberitakan seorang Juruselamat yang lahir sederhana dan mati disalibkan—hukuman paling hina bagi seorang penjahat. Bagi orang Romawi itu tampak seperti kelemahan, dan bagi orang Yunani terdengar tidak masuk akal.

Dunia masa kini pun serupa. Manusia membanggakan kesuksesan dan kemampuan diri, sementara Injil menyatakan bahwa manusia tidak dapat menyelamatkan dirinya sendiri dan keselamatan hanya ada di dalam Kristus.

Namun justru di situlah kekuatannya. Injil bukan sekadar nasihat moral agar manusia menjadi lebih baik, melainkan berita bahwa Yesus telah melakukan apa yang manusia tidak mampu lakukan. Karena itu Paulus tidak malu akan Injil, sebab Injil adalah kuasa Allah yang menyelamatkan.

Pertanyaan yang perlu kita renungkan adalah apakah kita memiliki keyakinan yang sama. Apakah kita benar benar percaya bahwa Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan? Sering kali orang percaya hidup seperti “orang Kristen tersembunyi.” Kita ingin berbicara tentang iman tanpa menyebut dosa, memperkenalkan Yesus tanpa salib, dan membuat Injil terdengar menarik tanpa menyinggung siapa pun. Di tempat kerja, di kampus, atau dalam pertemanan, kita memilih kata kata yang paling aman agar tidak dianggap terlalu rohani.

Di titik inilah kita perlu bertanya dengan jujur: apakah kita sungguh yakin bahwa Injil adalah kuasa Allah? Jika kita benar benar percaya akan hal itu, kita tidak perlu menyembunyikan Injil atau memolesnya agar lebih mudah diterima. Kita bukan agen rahasia. Kita adalah utusan kerajaan Allah.

Lalu bagaimana Injil menyelamatkan manusia? Jawabannya terdapat dalam ayat tujuh belas: “Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: orang benar akan hidup oleh iman.” Sering kali ketika mendengar istilah “kebenaran Allah,” orang memikirkan karakter Allah yang kudus dan sempurna. Memang Allah demikian adanya. Namun Paulus berbicara lebih dari itu. Ia juga berbicara tentang kebenaran yang berasal dari Allah dan diberikan kepada manusia.

Dalam kehidupan sehari-hari seseorang dianggap benar ketika tidak ada pelanggaran yang dapat dibuktikan terhadap dirinya. Dalam hukum seseorang dinyatakan benar ketika tidak ada dasar untuk menghukumnya. Namun jika manusia berdiri di hadapan Allah yang kudus dengan standar itu, tidak ada seorang pun yang dapat bertahan. Alkitab berkata bahwa semua orang telah berbuat dosa dan kehilangan kemuliaan Allah. Manusia bukan hanya tidak cukup baik, tetapi benar benar gagal mencapai standar kekudusan Allah.

Di sinilah Injil menjadi kabar yang luar biasa. Manusia berdosa dapat berdiri di hadapan Allah karena kebenaran itu diberikan kepada mereka. Status benar yang tidak dimiliki manusia dianugerahkan oleh Allah.

Seorang teolog bernama Anders Nygren menjelaskan bahwa kebenaran Allah adalah kebenaran yang bersumber dari Allah, disediakan oleh Allah, dinyatakan melalui Injil, dan dianugerahkan kepada manusia. Pemahaman ini pernah mengubah hidup Martin Luther. Pada awalnya ia menganggap kebenaran Allah sebagai standar kesempurnaan yang harus ia capai. Ia berpuasa, mengaku dosa berjam jam, dan menjalani berbagai disiplin rohani, tetapi semakin ia berusaha semakin ia sadar bahwa ia tidak pernah cukup.

Ia bahkan pernah berkata bahwa ia membenci ungkapan “kebenaran Allah” karena baginya itu hanya berarti murka Allah yang menuntut kesempurnaan dari manusia berdosa. Namun ketika ia merenungkan Roma 1:17, ia menyadari bahwa kebenaran Allah bukan hanya karakter Allah, tetapi juga kebenaran yang diberikan oleh Allah. Bukan standar yang harus dicapai manusia, tetapi status yang dianugerahkan melalui Kristus.

Agama sering mengajarkan bahwa manusia harus berusaha menjadi lebih baik untuk memperoleh kebenaran. Injil mengatakan sesuatu yang sangat berbeda. Kebenaran yang menyelamatkan tidak berasal dari manusia, tetapi dari Allah dan diberikan melalui Yesus Kristus.

Seperti yang sering ditekankan oleh Timothy Keller, pembenaran berasal dari Allah dan dianugerahkan kepada manusia melalui Anak-Nya. Inilah Injil: pembenaran oleh iman. Keselamatan ini telah dijanjikan sejak dahulu dan digenapi di dalam Yesus Kristus. Yesus datang bukan hanya untuk mengajarkan kebenaran, tetapi Ia sendiri adalah kebenaran itu. Ia hidup tanpa dosa di tengah dunia yang rusak oleh dosa.

Namun justru karena kebenaran-Nya, dunia membenci-Nya. Ia ditangkap, difitnah, dan diadili dengan tuduhan palsu. Yang tidak bersalah diperlakukan sebagai pelanggar, dan yang kudus dihukum seperti penjahat. Di atas salib kebenaran Allah dinyatakan. Allah tidak menurunkan standar keadilan-Nya, tetapi memenuhinya. Yesus yang benar dihukum supaya manusia yang bersalah dapat dibenarkan.

2 Korintus 5:21 berkata bahwa Dia yang tidak mengenal dosa dibuat menjadi dosa karena kita supaya di dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah. Inilah pertukaran yang ajaib: dosa manusia diperhitungkan kepada Yesus, dan kebenaran Kristus diperhitungkan kepada manusia. Bukan karena manusia layak, tetapi semata mata karena anugerah. Inilah Injil. Inilah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya.

Jika Allah tidak malu mengasihi manusia sampai mati di kayu salib, bagaimana mungkin manusia malu akan Injil itu? Karena itu setiap orang perlu bertanya: apakah Injil hanya sebuah ajaran yang dipahami, atau kabar baik yang sungguh mengubah hidup?

Ada sebuah kisah tentang seorang remaja bernama Rachel Joy Scott. Ia tidak hanya menjadi seorang Kristen secara nominal. Ia sungguh menghidupi imannya, bahkan ketika harus menghadapi ejekan dan perundungan dari teman temannya di sekolah.

Pada usia tujuh belas tahun ia sedang makan bersama temannya di taman sekolah. Tiba tiba dua orang siswa datang dengan senjata dan mulai menembak secara membabi buta. Beberapa orang terluka, termasuk Rachel. Rachel masih hidup saat itu. Salah satu pelaku mendekatinya, menjambak rambutnya, lalu bertanya apakah ia masih percaya kepada Tuhannya. Rachel menatap orang itu dan berkata bahwa ia tetap percaya.

Pelaku itu kemudian berkata agar ia menemui Tuhannya, lalu menembaknya. Rachel menjadi salah satu korban dalam peristiwa penembakan massal tahun 1999. Setelah kematiannya, keluarganya menemukan catatan pribadinya yang berisi doa doa, pergumulan hidup, dan kerinduannya untuk hidup bagi Kristus.

Kisah hidupnya menyentuh banyak orang. Pada tahun 2016 kisah hidup Rachel Joy Scott diangkat menjadi sebuah film berjudul I’m Not Ashamed. Rachel meninggal sebagai seseorang yang tetap percaya kepada Tuhan. Ia tidak malu akan Injil yang telah menyelamatkannya.

Kisah Rachel hanyalah satu kisah kecil dari begitu banyak kisah tentang bagaimana Injil menulis ulang kehidupan manusia. Sepanjang sejarah Injil telah mengubah hidup begitu banyak orang.

Karena itu pertanyaannya bukan lagi apakah Injil memiliki kuasa. Pertanyaannya adalah apakah hidup kita menunjukkan bahwa cerita hidup kita telah ditulis ulang oleh Injil. Jika Injil telah menulis ulang hidup kita, kita tidak lagi hidup untuk membuktikan diri. Kita hidup untuk memuliakan Tuhan yang telah menyelamatkan kita.

Dunia mungkin menulis banyak cerita tentang siapa kita. Masa lalu mungkin mencoba mendefinisikan kita. Kegagalan mungkin mencoba menuduh kita. Namun Injil menyatakan bahwa di dalam Kristus cerita hidup kita telah ditulis ulang oleh Tuhan sendiri.

REFLEKTIF

• Apa arti Injil bagi saya hari ini? kabar baik yang mengubahkan, atau sekadar ajaran yang saya pahami?

• Apa yang membuat saya masih ragu atau malu akan Injil, jika saya percaya itu adalah kuasa Allah?

• Bagaimana hidup saya mencerminkan bahwa Injil bukan sekadar saya pahami, tetapi sungguh saya percayai?

ORANG BERINJIL

• Menghidupi identitas yang baru sebagai orang yang telah dibenarkan di dalam Kristus.

• Tidak lagi digerakkan oleh rasa takut kehilangan nilai, karena Kristus telah memberikan status yang kekal.

• Rindu untuk bersaksi, karena Injil yang menyelamatkan adalah kabar baik yang tidak mungkin kita simpan untuk diri sendiri.