Kegelapan Hati Manusia

The Gospel After Genesis – Week 2 “Kegelapan Hati Manusia”

Ps. Erich Huwae

 

BACAAN: Roma 1:18-32 

1:18 Sebab murka Allah nyata dari sorga atas segala kefasikan dan kelaliman manusia, yang menindas kebenaran dengan kelaliman. 

1:19 Karena apa yang dapat mereka ketahui tentang Allah nyata bagi mereka, sebab Allah telah menyatakannya kepada mereka. 

1:20 Sebab apa yang tidak nampak dari pada-Nya, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat nampak kepada pikiran dari karya-Nya sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih. 

1:21 Sebab sekalipun mereka mengenal Allah, mereka tidak memuliakan Dia sebagai Allah atau mengucap syukur kepada-Nya. Sebaliknya pikiran mereka menjadi sia-sia dan hati mereka yang bodoh menjadi gelap. 

1:22 Mereka berbuat seolah-olah mereka penuh hikmat, tetapi mereka telah menjadi bodoh. 

1:23 Mereka menggantikan kemuliaan Allah yang tidak fana dengan gambaran yang mirip dengan manusia yang fana, burung-burung, binatang-binatang yang berkaki empat atau binatang-binatang yang menjalar. 

1:24 Karena itu Allah menyerahkan mereka kepada keinginan hati mereka akan kecemaran, sehingga mereka saling mencemarkan tubuh mereka. 

1:25 Sebab mereka menggantikan kebenaran Allah dengan dusta dan memuja dan menyembah makhluk dengan melupakan Penciptanya yang harus dipuji selama-lamanya, amin. 

1:26 Karena itu Allah menyerahkan mereka kepada hawa nafsu yang memalukan, sebab isteri-isteri mereka menggantikan persetubuhan yang wajar dengan yang tak wajar. 

1:27 Demikian juga suami-suami meninggalkan persetubuhan yang wajar dengan isteri mereka dan menyala-nyala dalam berahi mereka seorang terhadap yang lain, sehingga mereka melakukan kemesuman, laki-laki dengan laki-laki, dan karena itu mereka menerima dalam diri mereka balasan yang setimpal untuk kesesatan mereka.

1:28 Dan karena mereka tidak merasa perlu untuk mengakui Allah, maka Allah menyerahkan mereka kepada pikiran-pikiran yang terkutuk, sehingga mereka melakukan apa yang tidak pantas: 

1:29 penuh dengan rupa-rupa kelaliman, kejahatan, keserakahan dan kebusukan, penuh dengan dengki, pembunuhan, perselisihan, tipu muslihat dan kefasikan. 

1:30 Mereka adalah pengumpat, pemfitnah, pembenci Allah, kurang ajar, congkak, sombong, pandai dalam kejahatan, tidak taat kepada orang tua, 

1:31 tidak berakal, tidak setia, tidak penyayang, tidak mengenal belas kasihan. 

1:32 Sebab walaupun mereka mengetahui tuntutan-tuntutan hukum Allah, yaitu bahwa setiap orang yang melakukan hal-hal demikian, patut dihukum mati, mereka bukan saja melakukannya sendiri, tetapi mereka juga setuju dengan mereka yang melakukannya.

Sebelum masuk lebih jauh, ada satu hal yang perlu direnungkan: apa yang terbayang ketika mendengar kata murka? Bagi sebagian orang, murka seperti kemarahan yang memuncak, bahkan melampaui akal sehat. Namun perlu hati-hati, karena pemahaman ini lahir dari manusia berdosa. Lalu, apakah konsep ini bisa diterapkan kepada Allah? Hal itu akan dilihat lebih lanjut.

Minggu lalu telah dipelajari bahwa Injil bukan sekadar ajakan menjadi baik atau hidup lebih rapi. Injil adalah kabar baik tentang apa yang Allah kerjakan di dalam Kristus bagi orang berdosa. Karena itu, Paulus menyebut Injil sebagai kekuatan Allah yang menyelamatkan.

Hari ini kita akan melihat mengapa hanya Injil yang dapat menyelamatkan dari murka. Zaman ini gemar berbicara tentang kasih, penerimaan, dan berkat, tetapi semakin alergi terhadap kekudusan, dosa, hukuman, dan penghakiman. Banyak yang berkata Allah itu kasih, tetapi jarang bertanya: jika Allah adalah kasih, mengapa perlu salib? Manusia diselamatkan dari apa?

Manusia menginginkan Allah yang menghibur, tetapi menolak Allah yang menuntut dan mengadili. Akibatnya, salib menjadi biasa, anugerah menjadi murah, dan Injil terdengar seperti nasihat moral yang manis.

Kitab Roma tidak menyajikan Injil yang manis tetapi kosong. Dalam Roma 1:17 kebenaran Allah dinyatakan, dan di ayat 18 murka Allah juga dinyatakan. Satu Injil, satu realitas. Injil bersinar karena latar belakang kegelapan. Manusia tidak dapat menyelamatkan dirinya dari murka Allah, sehingga Injil menjadi berkuasa.

Surat ini ditujukan kepada jemaat di Roma, pusat peradaban yang maju, bukan kepada orang barbar. Ini menunjukkan bahwa kemajuan budaya, moralitas, dan agama tidak menyelesaikan masalah dosa. Tanpa Kristus, manusia tetap berada di bawah murka Allah.

Karena itu, sebelum mengagumi kasih Allah, Paulus membawa pembacanya melihat realitas ini: murka Allah dinyatakan dari surga atas kefasikan dan kelaliman manusia.

Ada tiga poin yang akan dipelajari: hati manusia yang gelap, dua ilusi besar hati manusia, dan Injil yang terang.

HATI MANUSIA YANG GELAP

Di dalam ayat 18 Paulus memulai dengan pernyataan, “Sebab murka Allah nyata dari surga atas segala kefasikan dan kelaliman manusia yang menindas kebenaran dengan kelaliman.” Kata “menindas” berasal dari bahasa Yunani katecho, yang berarti memegang dengan kuat, menahan, atau menekan.

Dalam Pulpit Commentary dijelaskan bahwa katecho menunjuk pada pegangan yang erat, bukan longgar. Kata ini juga muncul dalam 1 Tesalonika 5:21, “berpegang teguhlah pada apa yang baik,” sehingga bisa memiliki konotasi positif. Namun makna lainnya adalah menahan atau menekan, seperti dalam Lukas 4:42 ketika orang-orang menahan Yesus. Dalam Roma 1:18, makna inilah yang dipakai: manusia tidak memegang kebenaran dengan benar, tetapi justru menekannya.

Dengan demikian, lebih tepat dikatakan bahwa manusia menekan kebenaran dengan kelaliman. Lalu kebenaran apa yang ditekan? Dalam ayat 19–25 Paulus membongkar isi hati manusia, lalu ayat 26–31 menunjukkan buahnya dalam berbagai dosa. Artinya, perilaku rusak itu berakar dari kebenaran yang lebih dulu ditekan.

Masalah manusia bukan sekadar kurang baik atau kurang religius, tetapi mengenal Allah tanpa memuliakan Dia. Mereka tidak bersyukur, hati menjadi gelap, lalu menukar kemuliaan Allah dengan ciptaan dan menyembah ciptaan, bukan Pencipta.

John Piper menjelaskan bahwa kebenaran yang ditekan adalah fakta bahwa Allah ada, Ia Pencipta, berdaulat, dan kekal. Karena itu manusia seharusnya hidup untuk kemuliaan-Nya. Namun ketika kebenaran ini ditekan, manusia justru hidup bersaing dengan Allah.

Timothy Keller menambahkan bahwa seseorang tidak mungkin menekan sesuatu yang tidak dimilikinya. Artinya, manusia memang memiliki kebenaran tentang Allah. Jauh di dalam hati, manusia tahu keberadaan dan kuasa-Nya, tetapi tetap menolaknya.

Akar masalahnya adalah penyembahan yang rusak karena hati yang gelap. Penolakan terhadap Allah bukan karena kurang bukti, tetapi karena manusia mencintai dosa. Karena itu murka Allah nyata atas penolakan ini.

Paulus menegaskan bahwa sama seperti kebenaran Allah dinyatakan dalam Injil (ayat 17), murka Allah juga dinyatakan (ayat 18). Namun murka Allah bukan seperti amarah manusia. Ia bukan kehilangan kontrol, melainkan respons kudus, benar, dan adil terhadap dosa.

John MacArthur menekankan bahwa murka Allah sepenuhnya benar dan tidak berubah-ubah. Allah tidak mungkin kudus tanpa murka terhadap kejahatan, karena kekudusan tidak dapat mentolerir dosa.

Masalah manusia bukan sekadar kelemahan moral atau kurang informasi, tetapi penolakan aktif terhadap terang. Manusia tidak netral, melainkan secara sadar menekan kebenaran agar tidak mengganggu dosa mereka.

Karena itu Paulus terlebih dahulu menyingkapkan akar hati sebelum membahas perilaku. Inilah yang dikenal sebagai total depravity. Manusia tidak mencintai kebenaran, tetapi menekannya.

Paulus lalu mengulang frasa “Allah menyerahkan mereka” (ayat 24, 26, 28). Ini menunjukkan bahwa murka Allah bukan hanya di masa depan, tetapi sudah bekerja sekarang. John Stott melihat bahwa daftar dosa dalam ayat 26–31 bertujuan menuduh semua orang secara universal.

Kata “menyerahkan” berasal dari paradidomi, istilah hukum untuk menyerahkan seorang penjahat kepada hukuman. John MacArthur menjelaskan bahwa ini adalah bahasa pengadilan: Allah menyerahkan manusia kepada konsekuensi dosa mereka sebagai bentuk penghakiman.

R. C. Sproul menyebutnya sebagai judicial abandonment, yaitu ketika Allah membiarkan manusia mengikuti dosa mereka sendiri. Ini bukan belas kasihan, melainkan bentuk murka, karena manusia dibiarkan menghancurkan dirinya melalui dosa.

Pengabaian ini terjadi ketika Allah melepaskan kekangan anugerah umum, sehingga manusia menuai akibat dari pemberontakannya. Allah tidak menciptakan dosa, tetapi membiarkan dosa menampakkan buahnya.

Perumpamaan anak yang hilang menggambarkan hal ini. Sang ayah membiarkan anaknya pergi, hingga ia jatuh dalam kehancuran dan akhirnya sadar lalu kembali. Tujuannya adalah menyingkapkan kondisi hati dan membawa kesadaran.

Demikian juga, pengabaian yudisial bertujuan membuka kondisi hati manusia. Selama anugerah umum masih menahan, manusia merasa dirinya baik. Namun ketika Allah menyerahkan mereka, dosa yang tersembunyi menjadi nyata.

Pengabaian ini tidak menciptakan hati yang rusak, tetapi menyingkapkan kerusakan yang sudah ada. Hati yang gelap tidak pernah berhenti menyembah. Ia hanya berhenti menyembah Allah yang hidup dan menggantinya dengan ilah lain.

Manusia tidak pernah netral secara rohani. Hati yang gelap tetap aktif, mencari, dan menyembah, hanya saja objeknya bukan lagi Allah. Bahkan yang mengejutkan, kegelapan ini tidak selalu tampak jelas. Ia bisa terlihat tertib, religius, dan tersembunyi di balik penampilan yang sopan.

DUA ILUSI BESAR HATI MANUSIA

Itulah sebabnya hati yang gelap melahirkan dua ilusi besar. Dalam Roma 1:25 Paulus berkata bahwa manusia menggantikan kebenaran Allah dengan dusta, lalu menyembah ciptaan dan bukan Pencipta. Artinya, pusat hidup manusia bergeser. Lewis Jensen menggambarkan hal ini dengan tajam: Tuhan menciptakan manusia menurut gambar-Nya, tetapi manusia justru menciptakan “allah-allah” menurut gambar mereka sendiri. Hati yang berdosa bukan hanya memberontak, tetapi juga menipu diri, menciptakan rasa aman palsu agar tidak merasa perlu bertobat.

Roma 1:18–32 bukan sekadar daftar dosa, melainkan seperti ruang operasi yang membedah hati manusia. Timothy Keller bahkan mengatakan bahwa hal-hal yang tampak baik seperti gereja, hukum Tuhan, atau moralitas pun bisa menjadi berhala jika menggantikan Allah sebagai sumber harapan dan rasa aman. Penyembahan berhala terjadi ketika sesuatu mengambil tempat yang seharusnya hanya dimiliki oleh Allah.

Dari sini muncul dua ilusi. Pertama adalah ilusi moralitas. Berhala bukan terutama soal apa yang dilakukan, tetapi apa yang diandalkan. Bahayanya muncul ketika seseorang membaca Roma 1 dan merasa dirinya tidak termasuk, karena hidupnya lebih baik. Di situlah ilusi ini bekerja. Ketika moralitas dipakai untuk membenarkan diri, merasa lebih layak, atau menutupi kebutuhan akan belas kasihan, maka moralitas itu berubah menjadi berhala. Seseorang bisa hidup rapi, disiplin, bahkan terlihat saleh, tetapi tetap jauh dari Allah. Pada titik ini, ketaatan berubah menjadi “juru selamat” fungsional.

Ilusi kedua adalah religiusitas. Jika ilusi moralitas membuat seseorang merasa cukup baik, ilusi religiusitas membuatnya merasa cukup dekat dengan Tuhan. Ini lebih halus karena tidak menjauhkan dari aktivitas rohani. Seseorang tetap beribadah, melayani, berdoa, bahkan aktif dalam komunitas. Namun di balik semua itu, hatinya tidak sungguh tunduk kepada Allah. Aktivitas rohani perlahan menggantikan Allah sebagai pusat hidup.

Religiusitas membuat seseorang sibuk dengan Tuhan tanpa benar-benar menyerahkan hidup kepada Tuhan. Bahkan hal yang tampak rohani, seperti merasa aman karena dilayani atau didoakan oleh orang tertentu, bisa menunjukkan bahwa kepercayaan telah bergeser dari Allah kepada manusia.

Kedua ilusi ini memiliki akar yang sama, yaitu berhala diri—keinginan untuk tetap memegang kendali. Ilusi moralitas berkata, “aku cukup baik,” sedangkan ilusi religiusitas berkata, “aku masih cukup dekat.” Keduanya sama-sama menjauhkan manusia dari pertobatan yang sejati.

Paulus menunjukkan realitas yang tidak bisa dihindari: hati manusia gelap, kebenaran ditekan, dan murka Allah nyata. Karena itu pertanyaannya sederhana: siapa yang bisa selamat dari kondisi ini? Tidak ada. Manusia membutuhkan terang yang sanggup menghancurkan ilusi tersebut dan memulihkan relasi dengan Allah. Dan itulah yang Allah kerjakan melalui Injil.

INJIL YANG TERANG

Hanya Injil yang dapat menyelamatkan. Di sinilah puncaknya. Injil adalah kuasa Allah yang menyelamatkan, dan di dalamnya nyata kebenaran Allah. Artinya, Injil bukan sekadar alternatif religius, tetapi satu-satunya terang bagi hati yang gelap. Injil berdiri sangat kontras dengan dua ilusi sebelumnya. Ketika ilusi moralitas berkata “aku cukup baik” dan ilusi religiusitas berkata “aku cukup rohani,” Injil justru membukakan bahwa kita tidak cukup baik, tidak cukup rohani, tidak mampu menyelamatkan diri, dan sepenuhnya membutuhkan anugerah.

Kontras ini sangat jelas. Moralitas bersandar pada performa, religiusitas bersandar pada aktivitas, tetapi Injil mengajarkan untuk bersandar kepada Kristus. Moralitas berkata lihat dirimu. Religiusitas berkata perbaiki dirimu. Injil berkata pandanglah kepada Kristus. Dua ilusi ini membuat manusia merasa masih bisa datang kepada Allah dengan membawa sesuatu di tangannya. Namun Injil berkata datanglah dengan tangan kosong, karena Kristus sudah melakukan semuanya. Injil meruntuhkan semua dasar rasa aman yang palsu dan membawa kepada satu-satunya tempat aman yang sejati, yaitu Kristus.

Karena itu, moralitas tanpa Kristus bukan keselamatan, melainkan pembenaran diri. Seseorang bisa hidup tertib, memiliki standar, dan terlihat baik di hadapan orang lain, tetapi hatinya tetap tidak memuliakan Allah dan masih berpusat pada diri sendiri. Itu bukan kekudusan, melainkan bentuk rapi dari pemberontakan. Demikian juga religiusitas tanpa Kristus. Seseorang bisa aktif beribadah, melayani, dan terlihat rohani, tetapi hidupnya tetap bertumpu pada performa dan identitas diri, bukan pada Kristus. Itu bukan penyembahan sejati, melainkan topeng rohani.

Injil menghancurkan semua itu. Di sinilah koneksi kepada Kristus menjadi jelas. Dalam Roma 4:23–25 Paulus mengatakan bahwa Kristus telah diserahkan karena pelanggaran kita dan dibangkitkan untuk pembenaran kita. Kata “diserahkan” di sini sama dengan yang dipakai dalam Roma 1 ketika Allah menyerahkan manusia kepada dosa mereka. Di Roma 1 itu adalah murka, tetapi di Roma 4 itu menjadi anugerah. Kristus masuk ke dalam realitas penghukuman yang seharusnya kita tanggung.

Ia tidak menyelamatkan dari jauh. Ia berdiri di tempat kita. Ia masuk ke dalam murka Allah, masuk ke dalam penghakiman, dan mengalami apa yang seharusnya menjadi bagian kita. Karena itu salib bukan sekadar kisah orang baik yang mati secara tragis. Di salib, Anak Allah sedang meminum cawan murka yang seharusnya diminum oleh manusia. Ketika Ia berseru, “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku,” itu adalah momen ketika Ia masuk ke dalam kegelapan dan mengalami pengabaian menggantikan manusia.

Di salib, Kristus menanggung murka supaya manusia menerima pengampunan. Ia mengalami pengabaian supaya manusia diterima oleh Bapa. Ia dihukum supaya manusia diperdamaikan dengan Allah. Jika Kristus benar-benar telah melakukan itu, maka tidak mungkin lagi kita bersandar pada moralitas atau religiusitas. Jika moralitas cukup, Kristus tidak perlu mati. Jika religiusitas cukup, Kristus tidak perlu masuk ke dalam kegelapan. Namun Ia benar-benar mati dan bangkit, dan melalui itu Ia memberikan status yang baru bagi orang percaya.

Karena itu ilusi bahwa diri cukup baik dan cukup rohani harus ditinggalkan. Datang kepada Kristus bukan dengan pembenaran diri, tetapi dengan pertobatan. Bukan dengan topeng, tetapi dengan hati yang hancur. Bukan dengan sesuatu untuk dibanggakan, tetapi dengan pengakuan bahwa tidak ada yang dapat diandalkan selain Dia. Ketika dua ilusi itu runtuh, yang terjadi bukan kehampaan, melainkan perjumpaan dengan anugerah.

Injil juga mengundang untuk refleksi yang jujur. Apakah selama ini rasa aman dibangun di atas moralitas atau pada Kristus? Apakah kedekatan dengan aktivitas rohani benar-benar diiringi hati yang tunduk kepada Tuhan? Jika semua hal itu diambil, apakah Kristus tetap menjadi satu-satunya dasar pengharapan?

Akhirnya, hidup dalam Injil berarti berhenti membuktikan diri dan mulai beristirahat dalam anugerah. Pembenaran tidak lagi berdiri di atas performa, tetapi di atas karya Kristus yang sempurna. Ketaatan bukan lagi usaha untuk diterima, tetapi respons karena sudah diterima. Injil memampukan untuk melihat berhala hati dengan jujur, bertobat dengan sungguh, dan kembali memuliakan Allah sebagai pusat hidup.

REFLEKTIF

  1. Apakah selama ini saya lebih merasa aman karena saya “cukup baik,” daripada karena Kristus sungguh cukup bagi saya?
  2. Apakah saya sedang dekat dengan hal-hal rohani, tetapi sebenarnya hati saya belum sungguh-sungguh tunduk kepada Tuhan?
  3. Jika orang terdekat, moralitas saya, reputasi rohani saya, dan semua aktivitas pelayanan saya diambil, apakah Kristus tetap menjadi satu-satunya dasar pengharapan saya?

ORANG BERINJIL

Berhenti membuktikan diri dan mulai beristirahat dalam anugerah. Karena pembenaran kita tidak lagi berdiri di atas performa kita, tetapi di atas karya Kristus yang sempurna.

Taat sebagai respons kasih, bukan sebagai usaha menyelamatkan diri. Kita tidak lagi taat supaya diterima, tetapi taat karena sudah diterima.

Sadar bahwa Injil memampukan kita untuk jujur melihat berhala hati, datang dengan pertobatan yang sungguh, dan kembali memuliakan Allah sebagai pusat hidup kita.