Masih Bisa Percaya Di Saat Semua Tidak Masuk Akal ?

The Gospel After Genesis – Week 8 “Masih Bisa Percaya Di Saat Semua Tidak Masuk Akal”

Ps. Dave R. Hatoguan

 

Hari ini kita berbicara tentang tetap percaya saat keadaan terasa tidak masuk akal. Biasanya kita baru berani percaya jika ada data yang jelas, hasil yang terlihat, dan semuanya terasa aman. Itu wajar, karena manusia cenderung takut pada ketidakpastian.

Delapan tahun lalu, saat saya dan Vania sedang mempersiapkan pernikahan, kami mulai menghitung kondisi keuangan. Saat itu Vania mendapat tiga tawaran kerja dari bank dengan gaji yang menarik. Kami tentu memilih opsi yang paling masuk akal: gaji terbaik dan lokasi yang paling efisien. Setelah melalui proses interview, satu bank bahkan sudah memastikan penerimaan, offering letter ditandatangani, dokumen selesai, dan dua tawaran lain sudah ditolak.

Namun beberapa hari kemudian semuanya berubah. Mereka menelepon dan mengatakan penerimaan dibatalkan karena perubahan regulasi dari pusat. Kami sangat kecewa. Saat mencoba kembali menghubungi dua bank lain, posisi itu sudah terisi. Enam bulan menjelang menikah, kami bingung memikirkan masa depan dan merasa seolah Tuhan sedang bercanda.

Akhirnya kami berbicara dengan Pastor Mike. Ia berkata, “Kalau Tuhan menginterupsi rencanamu, mungkin Tuhan sedang mengekspos isi hatimu.” Kalimat itu menegur kami. Kami sadar terlalu mengandalkan apa yang terlihat di depan mata, lalu belajar kembali percaya kepada firman Tuhan.

Dari situ saya belajar: ketidakpastian tidak menciptakan sandaran hidup kita, tetapi menyingkapkan di mana sebenarnya hati kita bersandar. Jika hari ini doa Anda belum dijawab, mungkin Tuhan sedang memberi ruang untuk proses, sekaligus menunjukkan tempat hati Anda bertumpu.

BACAAN : Roma 4:9-25

4:9 Adakah ucapan bahagia ini hanya berlaku bagi orang bersunat saja atau juga bagi orang tak bersunat? Sebab telah kami katakan, bahwa kepada Abraham iman diperhitungkan sebagai kebenaran. 

4:10 Dalam keadaan manakah hal itu diperhitungkan? Sebelum atau sesudah ia disunat? Bukan sesudah disunat, tetapi sebelumnya. 

4:11 Dan tanda sunat itu diterimanya sebagai meterai kebenaran berdasarkan iman yang ditunjukkannya, sebelum ia bersunat. Demikianlah ia dapat menjadi bapa semua orang percaya yang tak bersunat, supaya kebenaran diperhitungkan kepada mereka, 

4:12 dan juga menjadi bapa orang-orang bersunat, yaitu mereka yang bukan hanya bersunat, tetapi juga mengikuti jejak iman Abraham, bapa leluhur kita, pada masa ia belum disunat. 

4:13 Sebab bukan karena hukum Taurat telah diberikan janji kepada Abraham dan keturunannya, bahwa ia akan memiliki dunia, tetapi karena kebenaran, berdasarkan iman. 

4:14 Sebab jika mereka yang mengharapkannya dari hukum Taurat, menerima bagian yang dijanjikan Allah, maka sia-sialah iman dan batallah janji itu. 

4:15 Karena hukum Taurat membangkitkan murka, tetapi di mana tidak ada hukum Taurat, di situ tidak ada juga pelanggaran. 

4:16 Karena itulah kebenaran berdasarkan iman supaya merupakan kasih karunia, sehingga janji itu berlaku bagi semua keturunan Abraham, bukan hanya bagi mereka yang hidup dari hukum Taurat, tetapi juga bagi mereka yang hidup dari iman Abraham. Sebab Abraham adalah bapa kita semua, -- 

4:17 seperti ada tertulis: "Engkau telah Kutetapkan menjadi bapa banyak bangsa" --di hadapan Allah yang kepada-Nya ia percaya, yaitu Allah yang menghidupkan orang mati dan yang menjadikan dengan firman-Nya apa yang tidak ada menjadi ada. 

4:18 Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Abraham berharap juga dan percaya, bahwa ia akan menjadi bapa banyak bangsa, menurut yang telah difirmankan: "Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu." 

4:19 Imannya tidak menjadi lemah, walaupun ia mengetahui, bahwa tubuhnya sudah sangat lemah, karena usianya telah kira-kira seratus tahun, dan bahwa rahim Sara telah tertutup. 

4:20 Tetapi terhadap janji Allah ia tidak bimbang karena ketidakpercayaan, malah ia diperkuat dalam imannya dan ia memuliakan Allah, 

4:21 dengan penuh keyakinan, bahwa Allah berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah Ia janjikan. 

4:22 Karena itu hal ini diperhitungkan kepadanya sebagai kebenaran. 

4:23 Kata-kata ini, yaitu "hal ini diperhitungkan kepadanya," tidak ditulis untuk Abraham saja, 

4:24 tetapi ditulis juga untuk kita; sebab kepada kitapun Allah memperhitungkannya, karena kita percaya kepada Dia, yang telah membangkitkan Yesus, Tuhan kita, dari antara orang mati, 

4:25 yaitu Yesus, yang telah diserahkan karena pelanggaran kita dan dibangkitkan karena pembenaran kita.

KEGAGALAN TIDAK MEMBATALKAN ANUGERAH

Mari kita perhatikan ayat 10. Kapankah Abraham dibenarkan oleh Allah? Apakah sebelum atau sesudah ia disunat? Jawabannya jelas: Abraham dibenarkan dan disebut benar bahkan sebelum ia disunat. Artinya, pembenaran terjadi bukan karena ritual, bukan karena usaha, dan bukan karena ketaatan lahiriah manusia.

Tentu, ini bukan berarti kita boleh hidup anti-moral atau seenaknya. Namun, faktanya adalah Tuhan memperhitungkan Abraham sebagai orang benar jauh sebelum ia melakukan hukum Taurat. Ironisnya, di saat Abraham sudah dibenarkan, ia masih sering terjebak dalam pola kegagalannya sendiri. Di Kejadian 12, ia berbohong dan menyerahkan Sara. Ia juga mengambil jalan pintas dengan memperistri Hagar karena tidak sabar menanti janji Allah. Bahkan di Kejadian 20, ia mengulangi kesalahan yang sama dengan kembali berbohong soal Sara.

Kenyataan ini menunjukkan bahwa Abraham dibenarkan bukan karena ketaatannya yang sempurna. Roma 4:20 justru mencatat, "Tetapi terhadap janji Allah ia tidak bimbang karena ketidakpercayaan, malah ia diperkuat dalam imannya dan ia memuliakan Allah." Ada satu kesimpulan yang sangat indah di sini: Sebelum Abraham taat, ia sudah diterima. Bahkan saat ia gagal, ia tetap diterima.

Doktrin pembenaran oleh iman ini adalah pesan utama yang sangat kuat. Melalui hal ini, kita diingatkan bahwa pembenaran yang Tuhan berikan tidak bergantung pada kontribusi manusia, melainkan sepenuhnya inisiatif Allah.

Agama-agama di dunia selalu mengajarkan bahwa kebenaran itu harus dicapai—kita harus hidup benar supaya bisa diterima oleh Allah. Namun, kekristenan mengajarkan sebaliknya: kebenaran itu diterima sebagai anugerah. Sayangnya, kita sering kali tanpa sadar kembali menggunakan pola pikir agama, pola masa lalu, atau nilai-nilai budaya duniawi. Kita sibuk membangun citra dan menumpuk perbuatan baik semata-mata untuk menutupi hati kita yang sebenarnya belum beres. Kita sibuk membenarkan diri di permukaan.

Apa buktinya? Kita bisa melihat banyak orang yang melayani Tuhan secara aktif, tetapi hatinya hampa; mereka melayani hanya sekadar rutinitas kesibukan. Ada juga yang berbuat baik hanya untuk menutupi rasa bersalah. Di media sosial sering ada candaan, "Hati-hati kalau pasanganmu tiba-tiba bersikap sangat baik, jangan-jangan dia sedang menutupi perselingkuhan." Tentu ini bukan untuk membuat kita saling curiga, tetapi realitanya, orang yang sadar dirinya bersalah seringkali tiba-tiba melakukan banyak hal baik sebagai kompensasi.

Contoh lainnya adalah kebiasaan menjaga citra di depan orang lain, atau membandingkan diri agar merasa lebih suci. Kita sering bergumam, "Ah, aku lebih baik dari dia. Aku tidak mencuri seperti dia." Bahkan di kalangan anak muda atau Gen Z, ada candaan bernada sarkas: "Kalau mau terlihat cantik, berfotolah dengan orang yang kurang cantik. Kalau mau terlihat langsing, berfotolah dengan orang yang lebih gemuk." Meski terdengar sepele, ini adalah cerminan pola dosa. Kita selalu berusaha menutupi kelemahan diri dengan cara-cara manipulatif seperti itu.

Akibatnya, ketika kita mengandalkan kekuatan sendiri demi terlihat benar, kita menjadi sosok yang sangat defensif saat diberi masukan ("Siapa kamu berani menasihati aku?"). Kita merasa diri paling benar dan orang lain selalu salah. Kita menjadi mudah tersinggung saat ada perbedaan pendapat, insecure saat tidak dihargai, bersikap ramah hanya kepada orang yang menguntungkan kita, atau sibuk menyalahkan keadaan dan orang lain atas kegagalan kita.

Oleh karena itu, kita perlu mengidentifikasi kembali kondisi hati kita. Jika kita masih hidup dalam standar ganda (double standard)—berpura-pura baik di luar padahal rapuh di dalam—kita perlu bertobat dan memohon ampun kepada Tuhan.

Mari renungkan identitas sejati kita. Kita adalah orang percaya. Menjadi orang percaya bukan berarti kita tidak bisa berdosa lagi; kita adalah orang yang sudah ditebus, tetapi masih memiliki kecenderungan untuk jatuh. Karena kita sadar bahwa kita adalah orang berdosa yang telah menerima pembenaran Kristus, kita tidak perlu lagi hidup dalam kepura-puraan. Kita tahu kita berdosa, namun di saat yang sama, kita tahu bahwa kita sangat dikasihi oleh Tuhan.

Tokoh Reformasi, Martin Luther, menyebut konsep ini dengan istilah Simul Justus et Pecator. Artinya, kita adalah orang yang sudah dibenarkan, namun di saat yang bersamaan kita juga adalah orang berdosa yang terus-menerus dipulihkan. Inilah keunikan iman Kristen: kita sudah benar di hadapan Allah secara status, tetapi di dalam praktek kehidupan sehari-hari, kita masih terus berjuang menghidupi Injil dan melawan dosa.

Timothy Keller pernah berkata, "Semua agama dan filosofi dunia berkata bahwa kamu harus melakukan sesuatu supaya bisa berkenan kepada Tuhan. Tetapi kekristenan berkata, Yesus Kristus datang ke dunia untuk menyelesaikan sesuatu yang tidak bisa kita selesaikan dengan kekuatan kita sendiri."

Kita adalah orang berdosa yang telah dibenarkan. Sebab itu, kita harus terus bergantung pada anugerah-Nya agar dimampukan untuk menghidupi status tersebut. Bukan hanya terlihat baik di permukaan, tetapi memiliki hati yang sungguh-sungguh diubahkan.

Sebagai penutup bagian ini, mari kita tanyakan pada diri sendiri: 

  • Apakah saya masih percaya bahwa Tuhan menerima saya karena performa rohani saya? 
  • Ketika saya gagal, apakah saya datang kepada kasih karunia-Nya, atau saya justru berusaha menebus kegagalan itu dengan berbuat lebih banyak hal baik?

Marilah kita berhenti hitung-hitungan dengan Tuhan. Kita tahu kita memiliki kelemahan. Kita sering jatuh dan sangat mirip dengan Abraham. Oleh karena itu, mari kita sungguh-sungguh bersandar hanya pada anugerah-Nya.

KELEMAHAN IMAN TIDAK MENGHALANGI RENCANA ALLAH

Jika kita membaca Roma 4:20, dikatakan, "Tetapi terhadap janji Allah ia tidak bimbang karena ketidakpercayaan, malah ia diperkuat dalam imannya." Namun, jika kita mundur sedikit ke ayat 19, situasinya sangat logis untuk diragukan. Usia Abraham sudah seratus tahun dan rahim Sara sudah mati. Seperti candaan para teolog, ini bukan lagi sekadar menopause, tetapi "menu-stop". Kalau di-pause masih bisa di-play lagi, tetapi ini sudah stop—sudah benar-benar tertutup dan mustahil secara medis.

Ini adalah posisi yang sangat tidak masuk akal bagi Abraham untuk tetap percaya. Namun, ayat 20 menegaskan bahwa imannya "tidak menjadi bimbang." Menarik, bukan? Tetapi mari kita evaluasi lagi. Apakah rekam jejak Abraham benar-benar menunjukkan imannya tidak bimbang? Faktanya: dia bimbang! Ketika kita membaca Kejadian 12, 16, dan 20, Abraham berkali-kali mengalami keraguan, bertindak manipulatif, dan mengulangi kesalahan yang sama.

Dalam dunia teologi, ini disebut exegetical tension (ketegangan penafsiran): mana yang benar, catatan kelemahan di Kejadian atau pujian iman di Roma? Jawabannya ada pada sikap batin Abraham. Ia tidak menyangkal fakta bahwa tubuhnya sudah lemah. Ia sadar Sara tidak mungkin lagi melahirkan. Ia persis seperti kita—ragu dan sering gagal. Namun, Abraham tidak mau dikuasai oleh realita tersebut. Terhadap janji Allah, ia memilih untuk tidak bimbang. Ia tahu dirinya lemah, tetapi ia terus mengingat janji Allah dalam hidupnya.

Iman bukanlah konsistensi tanpa kegagalan. Iman adalah keputusan untuk terus kembali kepada Tuhan walaupun kita sering jatuh bangun. Saya tahu kita semua—termasuk saya yang berbicara di depan Anda saat ini—terus berjuang menghidupi Injil.

Iman bukan berarti tanpa keraguan, melainkan menolak untuk tinggal di dalam keraguan. Iman bukan menyangkal realita, tetapi menolak menjadikan realita sebagai dasar kebenaran utama. Firman Tuhan selalu lebih tinggi daripada realita apa pun yang kita alami.

Mungkin realita Anda hari ini terasa buntu: "Tuhan, keluargaku berantakan, ekonomiku hancur, anakku menjauh dari-Mu, kesehatanku memburuk. Bagaimana dengan masa depanku?" Saya mengajak kita semua untuk lebih mempercayai janji Tuhan daripada kenyataan pahit hari ini.

Atau mungkin Anda lelah dan mulai mempertanyakan penyertaan Tuhan: "Aku sudah lama berdoa, tapi tidak ada perubahan dramatis. Aku masih jatuh dalam kecanduan yang sama, masih sering overthinking, insomnia, dan takut akan masa depan. Apakah hidupku benar-benar ada dalam genggaman Tuhan?"

Pahamilah ini: akar masalahnya bukan karena Tuhan berhenti bekerja, melainkan karena kita sering mengukur karya Tuhan hanya dari perubahan instan yang terlihat. Kita menuntut keajaiban dramatis. Padahal, justru ketika keadaan terasa biasa saja atau bahkan berat, Tuhan sedang bekerja di kedalaman hati kita. Pergumulan panjang Anda melawan dosa bukanlah tanda Tuhan meninggalkan Anda, melainkan dorongan (conviction) dari-Nya agar Anda terus merindukan kebenaran.

Terkadang, Tuhan membiarkan kita merasa lelah dengan diri kita sendiri, agar kita tidak pernah lelah datang kepada kasih karunia-Nya. Ia mengizinkan kita menyadari bahwa mengandalkan kekuatan sendiri selalu berujung pada kegagalan. Ingatlah, anugerah Tuhan justru bersinar paling terang ketika keadaan kita benar-benar berantakan.

Objek Iman Lebih Penting Daripada Besarnya Iman

Iman Kristen tidak bergantung pada seberapa besar iman Andamelainkan siapa yang menjadi objek iman Anda. Kristuslah yang menyelamatkan kita. Ibaratkan iman seperti pijakan kaki:

  • Meskipun kaki Anda sangat kuat (mungkin karena rajin leg day setiap hari), jika Anda berpijak di atas ranting yang rapuh, Anda pasti akan jatuh.
  • Sebaliknya, meskipun kaki Anda gemetar dan lemah, jika Anda berpijak di atas batu karang yang kokoh, Anda akan tetap bertahan.

Batu karang yang kokoh itu adalah Kristus. Iman yang kecil tetapi diarahkan kepada Kristus jauh lebih menyelamatkan daripada iman yang besar tetapi diarahkan pada kekuatan diri sendiri.

Dari manakah datangnya iman ini? Jika hari ini Anda percaya Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat, Anda sudah memilikinya! Tidak ada yang bisa percaya kepada Yesus tanpa iman, dan iman itu dimungkinkan murni oleh pekerjaan Roh Kudus. Pada dasarnya kita mati secara rohani—dan orang mati tidak bisa merespons apa pun. Namun, anugerah Allahlah yang melahirkanbarukan kita dan membangkitkan iman itu di dalam hati kita.

Di dunia teologi, ada perdebatan antara sinergisme dan monergisme:

  • Sinergisme beranggapan Allah dan manusia bekerja sama menghasilkan keselamatan.
  • Monergisme meyakini hanya Allah yang mengerjakannya.

Jika kita konsisten pada Alkitab, Allahlah yang mengerjakan keselamatan itu di dalam dan melalui diri kita. Namun, sering terjadi salah kaprah. Pemahaman sinergisme yang keliru membuat orang sombong ("Aku diselamatkan karena usahaku!"). Sebaliknya, fatalisme membuat orang pasif ("Toh semua dari Tuhan, buat apa aku repot-repot bertobat? Tuhan Yesus tidak pernah berubah, jadi aku juga tidak usah berubah."). Ini pemikiran yang menghancurkan!

Solusinya ada pada Injil. Injil menghancurkan kedua kesesatan itu. Injil mengingatkan bahwa keselamatan adalah murni tanpa usaha kita, tetapi pasti akan menghasilkan transformasi. Tanpa kontribusi kita di awal, namun membuahkan ketaatan di akhir. Anugerah yang diberikan itulah yang menghidupkan kerinduan kita untuk menghidupi Injil setiap hari. 

Sebagai penutup, mari kita merenung:

  • Saat saya jatuh berulang kali, apakah saya menyerah pada dosa dan keadaan, atau saya memilih kembali kepada kasih karunia Kristus?
  • Apakah saya lebih percaya pada kuatnya iman saya sendiri, atau pada kuatnya Kristus?

Saat terjatuh, Anda dipanggil untuk kembali pada kasih karunia. Saat iman melemah, Anda diingatkan bahwa Anda memiliki Kristus yang kuat sebagai tumpuan.

Segelap apapun masa depan terlihat hari ini, ingatlah bahwa hidup Anda berada di dalam genggaman Allah yang berdaulat dan penuh kasih. Iman bukan hanya menolong kita bertahan hari ini, tetapi juga menopang harapan kita menghadapi hari esok yang tidak pasti. Janji manusia bisa gagal dan mengecewakan, tetapi kita memiliki Allah yang janji-Nya tidak akan pernah gagal di dalam hidup kita.

 

MASA DEPAN YANG DITOPANG JANJI ALLAH

Mari kita perhatikan Roma 4:21, "Dengan penuh keyakinan bahwa Allah berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah Ia janjikan." Jika kita perhatikan saksama, Abraham tidak sedang meyakinkan dirinya sendiri atas kemampuannya, kualitas imannya, atau kondisi kesehatannya secara biologis. Keyakinannya bertumpu sepenuhnya pada Allah yang sanggup melakukan apa pun yang telah Ia janjikan.

Jika hari ini banyak mimpi Anda yang gagal, rencana berantakan, atau hidup berjalan di luar ekspektasi, ketahuilah bahwa Tuhan mungkin sedang memproses Anda. Tujuannya? Agar Anda terus bersandar pada anugerah-Nya dan percaya kepada janji-Nya. Sekali lagi saya ingatkan: kebenaran janji Tuhan itu jauh lebih tinggi daripada realita pahit yang sedang kita alami. Mungkin ada yang mengeluh, "Tuhan, kondisiku masih belum enak. Aku tidak bisa kebut-kebutan lagi karena harga BBM makin mahal." Ya, mungkin memang Tuhan sedang memproses Anda supaya tidak kebut-kebutan! Ingatlah, jika sebuah janji terasa belum sempurna digenapi saat ini, bukan berarti janji itu batal. Masa depan kita tidak ditentukan oleh apa yang terlihat hari ini, melainkan oleh Allah yang berjanji. Oleh sebab itu, kita bisa memiliki pengharapan yang sangat kokoh.

Lihatlah betapa tidak masuk akalnya janji Tuhan kepada Abraham di ayat 17: "Engkau telah Kutetapkan menjadi bapa banyak bangsa." Usianya sudah sangat tua dan rahim Sara sudah tertutup. Ketika Tuhan akhirnya menggenapi janji itu, Ia memberikan Ishak—hanya satu anak. Bayangkan ketimpangannya: dijanjikan menjadi bapa banyak bangsa, tetapi realitanya hanya mendapat satu anak.

Namun, Ishak bukanlah bukti kegagalan janji Tuhan; ia justru adalah awal dari penggenapannya. Bahkan lebih dari itu, keberadaan Ishak bukanlah tujuan akhir. Kisah Ishak di Gunung Moria hanyalah bayangan dari Injil. Suatu hari, Tuhan meminta Abraham membawa Ishak ke atas gunung untuk dikorbankan. Namun, tepat sebelum pisau itu diayunkan, Allah menghentikan tangan Abraham dan menyediakan seekor anak domba sebagai pengganti Ishak.

Ribuan tahun kemudian, ada Bapa lain dan Anak lain di Bukit Kalvari. Namun kali ini, pisau itu tidak dihentikan. Tidak ada domba pengganti bagi Anak itu. Abraham disuruh mengorbankan anaknya, tetapi dihentikan oleh Allah; sementara Allah Bapa sungguh-sungguh mengorbankan Putra Tunggal-Nya demi kita.

Lihatlah kontras yang luar biasa indah ini:

  • Pisau di atas Ishak dihentikan, tetapi murka Allah atas Kristus benar-benar ditumpahkan.
  • Ishak hampir dikorbankan, tetapi Kristus sungguh-sungguh dikorbankan.
  • Ishak diselamatkan oleh anak domba pengganti, tetapi Kristuslah Sang Anak Domba Allah yang menjadi pengganti itu.
  • Melalui satu anak bernama Ishak, janji besar Allah dimulai. Namun melalui satu Anak bernama Kristus, seluruh janji Allah diselesaikan dan digenapi! Mari berikan kemuliaan bagi Tuhan Yesus Kristus! Amin.

Ishak adalah tanda kehidupan dari janji Allah di masa lalu, tetapi Kristus adalah jaminan mutlak kita. Jika di masa lalu Allah telah membuktikan kesetiaan-Nya dengan mengorbankan dan membangkitkan Kristus, maka untuk masa depan—apa pun yang kita khawatirkan hari ini—kita memiliki pengharapan kekal yang jauh melampaui realita kita.

Inilah janji puncak (ultimate promise) bagi kehidupan kita: Kelak, di langit yang baru dan bumi yang baru, semua yang rusak, yang mati, dan yang hilang akan dipulihkan serta ditebus dengan sempurna.

Pengharapan iman Kristen bukanlah sekadar pelarian (escapism) dari realita dunia yang hancur atau kondisi geopolitik yang tidak stabil. Kita memiliki future hope: jaminan bahwa masa depan kita aman, karena di dalam Kristus, Allah sedang membawa seluruh ciptaan menuju pembaruan. Abraham mungkin bersukacita melihat Ishak, tetapi kita jauh lebih bersukacita karena kita memiliki Kristus yang telah menggenapi segalanya. Rencana-Nya tidak akan pernah gagal.

Pertanyaan Reflektif

  1. Apakah pengharapan saya berdasar pada perbaikan hidup sekarang atau pada Kristus yang menjamin masa depan kekal?
  2. Jika Kristus adalah penggenapan seluruh janji Allah, apakah saya sering mencari rasa aman di tempat lain?

GOSPEL PEOPLE

Tidak perlu membuktikan diri, terlihat benar dan taat di permukaan supaya diterima Allah, karena Allah sudah menerima kita bahkan belum berhasil taat sempurna.

Berhenti menjadikan kelemahan iman dan realita sebagai pusat, dan mulai memandang Kristus. Karena yang terpenting bukan besarnya iman kita, tetapi objek iman.

Tidak kehilangan harapan di tengah dunia yang rusak, karena Allah berjanji akan memulihkan dengan sempurna keadaan kita di langit baru dan bumi baru.