Why We Keep Hiding

Reading The Times Through The Lens of Genesis – Week 7 “Why We Keep Hiding?”

Ps. Michael Chrisdion

 

Hari ini kita akan membahas tema Why We Keep Hiding, mengapa kita terus bersembunyi. Adam dan Hawa pertama kali jatuh dalam dosa, dan hal pertama yang mereka lakukan bukan bertobat, melainkan bersembunyi. Sejak saat itu, hidup manusia pun mencerminkan pola yang sama. Kita suka bersembunyi. Kita akan membaca dan mempelajarinya supaya kita tidak terus hidup dalam persembunyian, tetapi keluar dari sana dan hidup secara transparan serta bebas.

BACAAN: Kejadian 3:8-15, 21-24

3:8 Ketika mereka mendengar bunyi langkah TUHAN Allah, yang berjalan-jalan dalam taman itu pada waktu hari sejuk, bersembunyilah manusia dan isterinya itu terhadap TUHAN Allah di antara pohon-pohonan dalam taman. 

3:9 Tetapi TUHAN Allah memanggil manusia itu dan berfirman kepadanya: "Di manakah engkau?" 

3:10 Ia menjawab: "Ketika aku mendengar, bahwa Engkau ada dalam taman ini, aku menjadi takut, karena aku telanjang; sebab itu aku bersembunyi." 

3:11 Firman-Nya: "Siapakah yang memberitahukan kepadamu, bahwa engkau telanjang? Apakah engkau makan dari buah pohon, yang Kularang engkau makan itu?" 

3:12 Manusia itu menjawab: "Perempuan yang Kautempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan." 

3:13 Kemudian berfirmanlah TUHAN Allah kepada perempuan itu: "Apakah yang telah kauperbuat ini?" Jawab perempuan itu: "Ular itu yang memperdayakan aku, maka kumakan." 

3:14 Lalu berfirmanlah TUHAN Allah kepada ular itu: "Karena engkau berbuat demikian, terkutuklah engkau di antara segala ternak dan di antara segala binatang hutan; dengan perutmulah engkau akan menjalar dan debu tanahlah akan kaumakan seumur hidupmu. 

3:15 Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya." 

3:21 Dan TUHAN Allah membuat pakaian dari kulit binatang untuk manusia dan untuk isterinya itu, lalu mengenakannya kepada mereka. 

3:22 Berfirmanlah TUHAN Allah: "Sesungguhnya manusia itu telah menjadi seperti salah satu dari Kita, tahu tentang yang baik dan yang jahat; maka sekarang jangan sampai ia mengulurkan tangannya dan mengambil pula dari buah pohon kehidupan itu dan memakannya, sehingga ia hidup untuk selama-lamanya." 

3:23 Lalu TUHAN Allah mengusir dia dari taman Eden supaya ia mengusahakan tanah dari mana ia diambil. 

3:24 Ia menghalau manusia itu dan di sebelah timur taman Eden ditempatkan-Nyalah beberapa kerub dengan pedang yang bernyala-nyala dan menyambar-nyambar, untuk menjaga jalan ke pohon kehidupan.

Minggu lalu kita belajar dari Kejadian 3 ayat 1 sampai 7 dengan tema Pilihanmu Menyingkapkan Hatimu. Kita melihat bahwa dosa tidak dimulai dari tindakan, melainkan dari hati yang meragukan kebaikan Tuhan, sehingga firman-Nya dinegosiasikan. Minggu lalu kita menyoroti aspek vertikalnya. Hari ini kita akan melihat aspek horizontalnya, sebab Kejadian 3 tidak berhenti di ayat 7. Setelah kejatuhan, respons pertama manusia bukan pertobatan atau janji berubah, melainkan bersembunyi. Sejak saat itu, bersembunyi menjadi kebiasaan manusia, dan kita melakukannya setiap hari.

Mungkin kita berpikir tidak lagi bermain petak umpet, tetapi mengapa kita selalu defensif saat dikritik? Mengapa kita merasa perlu membenarkan diri? Ketika kegagalan terbongkar, identitas kita terasa terancam, lalu muncul kemarahan dan penolakan. Mengakui kesalahan terasa sulit, dan kita lebih cepat menyalahkan orang lain. Kita mudah melihat kekurangan sesama, tetapi lambat melihat diri sendiri.

Mengapa keberhasilan orang lain terasa mengancam? Mengapa kita sibuk membangun citra dan takut orang melihat siapa kita sebenarnya? Jika Adam dan Hawa bersembunyi di balik daun ara, hari ini kita bersembunyi di balik prestasi, jabatan, kesuksesan, aset, pelayanan, bahkan gelar rohani. Selama semua itu aman, kita merasa tenang. Namun ketika terganggu, kegelisahan muncul. Di dalam hati ada suara yang berkata ada yang salah, dan kita takut Tuhan serta orang lain melihatnya. Karena itu kita membandingkan diri, membuktikan diri, dan menyalahkan orang lain agar merasa aman.

Kejadian 3:8-24 adalah momen pertama manusia bersembunyi dan memberikan diagnosis mengapa dunia dipenuhi konflik, perang, korupsi, dan kerusakan relasi. Tanpa diagnosis yang benar, tidak mungkin ada solusi yang benar.

Seorang filsuf Inggris abad ke-20, C. E. M. Joad, pernah percaya bahwa masalah dunia terletak pada sistem, bukan manusia. Namun setelah kembali kepada iman Kristen, ia menyadari bahwa penolakan terhadap doktrin dosa asal membuat manusia terus gagal memahami realitas dunia yang rusak. Itulah sebabnya orang baik bisa menjadi korup ketika berkuasa, dan orang tulus bisa berubah menjadi penindas. Jika kita tidak jujur melihat akar masalah ini, kita akan terus salah mendiagnosis kondisi dunia.

Poin khotbah hari ini ada tiga. Pertama, natur dosa dan mengapa kita semua terkena dampaknya serta mengapa kita semua bersembunyi. Kedua, apa yang dosa lakukan kepada kita dan apa yang Tuhan lakukan bagi kita untuk memulihkan kita.

          NATUR DOSA DAN MENGAPA KITA SEMUA TERKENA?

Di ayat 11, Allah datang mencari manusia dan bertanya, “Adam, di manakah engkau?” Adam menjawab, “Aku takut karena aku telanjang, sebab itu aku bersembunyi.” Allah lalu bertanya, “Siapakah yang memberitahu engkau bahwa engkau telanjang? Apakah engkau makan dari buah yang Kularang itu?” Di ayat 12, jawaban Adam sangat menarik. Sebelumnya, perempuan dipuji sebagai tulang dari tulangku, dipandang dengan kekaguman. Namun setelah jatuh dalam dosa, responsnya berubah. “Perempuan yang Kau tempatkan di sisiku, dialah yang memberi buah itu kepadaku.” Seolah berkata, yang memberi perempuan itu Engkau yang menempatkannya. Jadi ini bukan salahku. 

Di sinilah kita melihat kecenderungan manusia untuk melempar kesalahan dan mencari kambing hitam. Inilah jantung dosa. Jantung dosa adalah membenarkan diri dengan mengorbankan orang lain. Untuk merasa aman, manusia harus merasa lebih baik, lebih unggul, daripada sesamanya.

Timothy Keller dalam Counterfeit Gods menulis bahwa seringkali kebahagiaan bukan berasal dari menjadi kaya, tetapi dari menjadi lebih kaya daripada orang lain. Aku merasa superior karena kamu inferior, inilah akar konflik. Dari hati seperti ini lahir keinginan menjatuhkan dan membandingkan diri. Pernahkah melihat seseorang yang tampak lebih keren, lalu mood kita langsung turun? Untuk merasa cukup, kita harus melihat orang lain kurang. Untuk merasa aman, kita harus merasa superior. Inilah problem hati manusia.

Philip Roth, seorang penulis yang tidak percaya Tuhan, menyebut kejahatan sebagai human stain, noda batin yang ada dalam setiap manusia, mendahului tindakan, dan membentuk cara hidup. Bahkan ia berkata bahwa ketika seseorang berusaha menghilangkan noda itu dengan menjadi beragama, bermoral, dan terlihat baik, justru upaya pemurnian diri itu bisa membuatnya semakin tidak murni. Mengapa? Karena ketika seseorang berkata, lihat aku lebih bersih darimu, saat itu ia sedang memperbesar nodanya sendiri. Inilah yang disebut self righteousness, merasa diri benar, merasa lebih benar daripada orang lain. Ini adalah noda yang terdalam.

Usaha menjadi lebih baik tanpa Injil justru memperparah masalah ini. Karena itu kita sering menjumpai orang yang sangat agamis tetapi sombong dan berkarakter buruk. C. S. Lewis, dalam The Screwtape Letters, menggambarkan strategi iblis: tanamkan perasaan “aku sama baiknya dengan kamu.” Tidak perlu berkata aku lebih baik darimu, cukup berkata aku sama baiknya. Dari situ akan muncul hasrat untuk menjadi lebih unggul, tidak mau kalah, ingin lebih hebat, lebih kaya, tidak mau ada orang yang lebih maju.

Lewis berkata bahwa inilah yang membuat iblis menjadi iblis. Ketika Lucifer berkata kepada Tuhan, aku mau menjadi seperti Engkau. Ketika makhluk ciptaan berkata kepada Sang Pencipta, aku sama baiknya dengan Engkau, dari situlah kejatuhan kosmis dimulai. Inilah akar konflik sosial, rasisme, iri hati, kompetisi tidak sehat, bahkan pembunuhan. Aku baik karena kamu tidak baik. Itulah jantung dosa.

Dosa menghancurkan kasih dan menggantikannya dengan kekuasaan. Kasih berkata, hidupku untukmu. Kasih melayani, memberi, dan berkorban. Tetapi dosa berkata, hidupmu untukku. Dosa memanfaatkan, memanipulasi, mempertahankan kontrol. Inilah keadaan manusia. Inilah sebabnya dunia tidak pernah damai. Inilah sebabnya kita mengalami begitu banyak masalah keluarga. Setiap pertemuan keluarga, hari raya, atau momen kebersamaan sering diwarnai drama batin. Di luar terlihat rukun, saling memberi, saling tersenyum, tetapi di dalam hati ada banyak pergumulan. Itulah realitas kita.

Namun ini bukan hanya salah Hawa. Adam dan Hawa sama-sama bersalah. Keduanya bersembunyi, saling menyalahkan, dan menerima konsekuensi. Tidak ada yang lebih berdosa. Dosa adalah masalah universal. Jangan pernah berkata, mereka orang jahat, sedangkan kita tidak. Kita semua sama. Roma 3:23 berkata, karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah. Tanpa doktrin ini, kita selalu menunjuk ke luar, menyalahkan orang lain, sistem, budaya, atau keadaan. Padahal sumbernya ada di dalam diri kita. Semua orang telah berbuat dosa.

Doktrin dosa asal meratakan semua manusia. Semua kelas, latar belakang, dan status sama-sama berdosa. Tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah. Inilah demokrasi radikal bagi para pendosa. Benih kejahatan yang sama yang ada dalam diri seorang pembunuh juga ada di dalam diri kita. Karena itu semua membutuhkan anugerah Tuhan dan Juruselamat. Namun sebelum sampai ke sana, kita perlu melihat apa yang telah dirusak oleh dosa, sebab dosa bukan hanya jahat, tetapi merusak sesuatu yang sangat dalam.

          APA YANG DOSA LAKUKAN KEPADA KITA?

Manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah Tritunggal yang sangat relasional. Bahkan sebelum dunia ada, Bapa, Putra, dan Roh Kudus sudah hidup dalam persekutuan sempurna. Karena itu manusia dibangun untuk berelasi. Namun ketika dosa masuk, relasi-relasi itu dihancurkan.

Ada beberapa relasi yang dirusak oleh dosa. Yang pertama, dosa menghancurkan relasi kita dengan Allah. Jika kita membaca ayat 8, ketika manusia mendengar Tuhan berjalan dalam taman, mereka bersembunyi di antara pepohonan. Dalam bahasa Ibrani, ungkapan Allah berjalan di dalam taman adalah sebuah idiom untuk persahabatan. Allah datang untuk relasi, Allah datang untuk persekutuan. Namun respons manusia adalah bersembunyi.

Manusia tidak mau rekonsiliasi demi relasi. Mereka tahu bahwa mereka bersalah, ada rasa malu, tetapi bukannya bertobat dan mencari pemulihan, mereka justru bersembunyi. Dosa membuat kita lari dari pribadi Allah yang sedang mencari kita. Allah datang untuk relasi, tetapi manusia menolaknya. Itulah sebabnya manusia terputus dari Allah.

Mengapa demikian? Karena dosa terutama berkaitan dengan kontrol. Dosa adalah tentang memegang kendali. Makhluk yang terbatas tidak mungkin berjalan bersama Allah yang tak terbatas tanpa kehilangan kendali. Saya berikan sebuah ilustrasi. Saya punya seekor anjing kecil, beratnya hanya sekitar empat kilo. Ketika ia berjalan sendiri, ia bebas menentukan ke mana ia mau pergi. Namun ketika ia berjalan bersama saya di jalan raya, saya memasang tali pengikat. Mengapa? Karena saya tidak mau ia tertabrak mobil atau memakan sesuatu yang berbahaya. Ketika berjalan bersama saya, makhluk yang lebih tinggi membatasi makhluk yang lebih rendah demi kebaikannya. Ia kehilangan kendali, tetapi justru itu menyelamatkannya.

Demikian juga manusia. Kita dipanggil untuk percaya kepada Tuhan, menyerahkan kendali hidup kepada-Nya. Namun karena kita terperangkap dalam ruang, waktu, dan keterbatasan, hal itu terasa tidak nyaman. Itulah sebabnya kita sering tidak mau percaya kepada Tuhan. Kita menciptakan Allah versi kita sendiri, Allah yang tidak menuntut, tidak mengganggu hidup kita, tidak meminta perubahan, tidak meminta komitmen. Kita menyembah Allah yang bisa kita kontrol. Bahkan di dalam kekristenan, kita bisa menciptakan versi iman kita sendiri, Yesus versi kita sendiri. Kita pikir kita percaya, padahal sesungguhnya kita sedang bersembunyi di balik agama dan doktrin palsu. Dosa menghancurkan relasi kita dengan Tuhan.

Kedua, dosa merusak relasi kita dengan diri sendiri. Ayat 10 berkata, “Aku takut karena aku telanjang, sebab itu aku bersembunyi.” Sebelumnya, manusia telanjang tanpa malu. Kini, ketelanjangan melambangkan rasa malu eksistensial: kesadaran bahwa ada yang rusak, kurang, dan salah di dalam diri. Itulah sebabnya manusia langsung berusaha menutupi diri dengan daun ara.

Kita hidup dengan rasa malu eksistensial. Kita hidup dalam penyangkalan. Kita tidak mau mengakui bahwa kita rapuh, terbatas, dan membutuhkan kasih karunia. Kita lebih suka mendengar bahwa kita mampu, kita kuat, kita berkuasa. Kita senang dipuji, tetapi tidak suka diingatkan akan kelemahan kita. Kita selalu berusaha terlihat kuat, sempurna, dan baik-baik saja. Ketika ketahuan lemah, ketika ketahuan tidak baik-baik saja, kita malu dan enggan mengakui ketergantungan total kita kepada Allah. 

Ketiga, dosa merusak relasi dengan sesama. Ayat 7 mencatat bahwa sebelum Tuhan datang, mereka menutupi diri satu sama lain. Relasi tidak lagi dilandasi kasih, melainkan kuasa. Menyalahkan orang lain menjadi cara mempertahankan harga diri. Orang lain dipandang sebagai ancaman, saingan, atau alat. Karena itu Adam langsung menyalahkan Hawa. 

Kita tidak tahan dilihat apa adanya. Relasi setelah dosa bukan lagi relasi kasih, melainkan relasi kuasa. Menyalahkan orang lain adalah mekanisme mempertahankan kuasa. Jika saya bisa menyalahkan kamu, saya merasa lebih baik, lebih unggul, dan lebih aman. Karena itu kita melihat orang lain sebagai cermin validasi, tangga untuk naik, ancaman untuk dikalahkan, atau alat untuk mendapatkan keuntungan.

Itulah sebabnya Adam langsung menyalahkan Hawa. Jika ia mengakui kesalahannya, harga dirinya runtuh. Demikian juga kita. Kita sangat defensif, sulit meminta maaf, dan sulit berkata, “Aku salah, aku berdosa.” Dalam relasi suami istri pun, mengakui kesalahan sering kali terasa sangat berat karena ego. Sejak dosa masuk, kita tidak lagi melihat orang lain sebagai sesama yang dikasihi Tuhan, melainkan sebagai saingan. Manusia hidup dalam kompetisi eksistensial. Semua relasi melenceng karena pusatnya salah. Seharusnya Tuhan menjadi pusat, tetapi kita menggantikan-Nya dengan diri sendiri. Ketika pusatnya salah, semua relasi menjadi rusak.

Keempat, dosa merusak relasi manusia dengan ciptaan. Tanah terkutuk, muncul duri, kerja menjadi jerih payah, tubuh menjadi fana, dan alam tidak lagi bersahabat. Paulus berkata bahwa seluruh ciptaan mengeluh, seolah mengingat Eden yang sempurna. Inilah konsekuensi kejatuhan kosmis. Jika berhenti di sini, hidup tampak suram. Namun puji Tuhan, Kejadian 3 tidak berakhir pada duri dan debu. Di tengah kehancuran, Allah memberi petunjuk tentang kabar baik Injil.

          APA YANG TUHAN LAKUKAN?

Jika kita melihat ayat 9, Tuhan melakukan sesuatu yang sangat penting. Sejak awal Tuhan memanggil manusia dan berfirman kepadanya, “Di manakah engkau?” Perhatikan sesuatu yang luar biasa di sini. Manusia sudah berdosa, sudah jatuh, dan sedang bersembunyi, tidak mau bertemu dengan Tuhan. Namun siapa yang bergerak lebih dulu? Siapa yang mencari? Bukan manusia, melainkan Tuhan. Tuhan tidak datang dengan kemarahan, melainkan dengan panggilan, “Di manakah engkau?” Inilah yang Tuhan lakukan, dan sampai hari ini Tuhan masih melakukan hal yang sama di dalam hidup kita. Tuhan datang mencari kita.

Allah bertanya bukan karena Ia tidak tahu, melainkan karena Ia mencari hati yang mau kembali. Ia tidak bertanya kepada ular, melainkan kepada manusia, menunjukkan kasih-Nya kepada orang berdosa tanpa berkompromi dengan dosa. Ini adalah intervensi kasih. Tuhan tidak langsung menghukum, tetapi mengundang Adam dan Hawa untuk bertobat dan dipulihkan.

A.W. Pink dalam The Sovereignty of God menulis bahwa bukan Adam yang mencari Tuhan, melainkan Tuhan yang mencari Adam. Jika hari ini firman menyentuh hati kita, itu bukan kebetulan, melainkan karya Roh Kudus. Tuhan mungkin sedang bertanya kepada kita, “Di mana engkau?” Ia mencari kita bukan untuk menghukum, melainkan untuk memulihkan.

Kedua, Kejadian 3 ayat 21 menyatakan bahwa Tuhan membuat pakaian dari kulit binatang dan mengenakannya kepada manusia. Ini berarti ada korban, ada darah tercurah. Tuhan bukan hanya mencari kita, tetapi juga menutupi kita. God covers. Inilah petunjuk pertama tentang korban penebusan. Pengampunan menuntut pengorbanan. Harus ada yang menanggung supaya pemulihan terjadi. 

Derek Kidner dalam komentarinya tentang Kejadian mengatakan bahwa pakaian dari kulit itu adalah tanda pertama bahwa karena dosa, manusia membutuhkan pemulihan yang utuh, baik rohani maupun fisik, dan kepedulian Tuhan terhadap kesejahteraan manusia secara menyeluruh dimulai di Taman Eden. Sejak pasal ketiga Alkitab, Allah sudah peduli terhadap penderitaan dan pemulihan manusia.

Karena itu kita tidak boleh memisahkan Injil dari kepedulian Tuhan terhadap penderitaan manusia. Dunia yang sudah jatuh membuat penderitaan menjadi tidak terelakkan. Kita semua mengalaminya. Namun di dalam Injil, kita memiliki pengharapan di tengah penderitaan. Tidak ada satu pun yang sia sia. Allah sendiri yang pertama kali menjahit pakaian bagi manusia yang rapuh dan berdosa. Manusia mencoba menutupi diri dengan daun pohon ara, tetapi justru semakin melukai. Ini menunjukkan bahwa usaha manusia dengan kekuatannya sendiri untuk memperbaiki keadaan justru seringkali memperburuk keadaan. Tetapi ketika Tuhan turun tangan, manusia keluar dari persembunyiannya, dan disanalah keindahan pemulihan itu terlihat.

Ketiga, Kejadian 3 ayat 15 memuat janji Injil pertama. Akan datang keturunan perempuan yang terluka, namun melalui luka itu meremukkan kepala ular. Inilah protoevangelium, nubuat tentang Kristus. Ribuan tahun kemudian, Yesus datang, darah-Nya tercurah, dan melalui penderitaan-Nya, kuasa dosa dan maut dikalahkan. Ini bukan rencana cadangan, melainkan rancangan sejak semula. Jika Adam pertama bersembunyi, Adam kedua, Kristus, maju dengan taat dan menanggung keadilan Allah bagi kita.

Pedang keadilan yang menjaga jalan ke pohon kehidupan akhirnya dijatuhkan ke atas Kristus di kayu salib. Tirai Bait Suci terbelah, dan jalan kepada Allah terbuka. Kini kita boleh datang dengan penuh keberanian kepada tahta kasih karunia.

Karena itu Paulus berkata, berbahagialah orang yang dosanya diampuni dan kesalahannya ditutupi. Dahulu manusia ditutupi kulit binatang, sekarang kita ditutupi darah dan kebenaran Kristus. Ia ditolak supaya kita diterima, Ia terluka supaya kita disembuhkan.

Tanggalkan daun ara kita, entah itu prestasi, kesuksesan, kekayaan, penampilan, atau reputasi. Biarlah Kristus melingkupi hidup kita. Ketika kasih dan kebenaran-Nya menyelubungi kita, kita tidak perlu lagi membuktikan diri. Kita telah diterima sepenuhnya di dalam Kristus.

Kita semua pernah bersembunyi, termasuk saya. Ada masa ketika satu kritik kecil saja membuat saya gelisah semalaman. Saya menyadari bahwa identitas saya bertumpu pada performa dan pengakuan manusia. Tetapi ketika saya merenungkan salib dan memahami bahwa keadilan Allah telah dipuaskan di dalam Kristus, saya belajar melepaskan kebutuhan untuk membuktikan diri. Proses ini masih berlangsung, namun Injil terus mengkalibrasi hati.

          REFLEKTIF

Apa “daun ara” saya saat ini? Apa yang saya pakai untuk menutupi rasa malu atau rasa tidak cukup dalam diri saya?

Di area mana saya lebih memilih membenarkan diri daripada mengasihi? Relasi mana yang rusak karena saya ingin menang, bukan berdamai?

Jika pedang itu sudah jatuh atas Kristus, mengapa saya masih terus hidup untuk membuktikan diri?

          ORANG BERINJIL

Tidak lagi malu dan bersembunyi di balik “daun pohon ara” karena paham hidupnya berharga ditebus oleh kristus.

Tidak lagi membenarkan diri karena sadar ia sudah dibenarkan oleh allah.

Tidak lagi hidup untuk membuktikan diri karena menghayati penerimaan dan identitas yang baru di dalam yesus kristus.