Kita masih berada di dalam seri khotbah Reading the Times Through the Lands of Genesis. Pada minggu yang keenam ini, tema yang akan kita renungkan bersama adalah pilihanmu menyingkapkan hatimu. Kita akan belajar dari kisah kejatuhan manusia ke dalam dosa. Setelah berjalan melalui pasal kedua kitab Kejadian, sekarang kita melangkah masuk ke dalam pasal yang ketiga.
BACAAN: Kejadian 3:1-7
3:1 Adapun ular ialah yang paling cerdik dari segala binatang di darat yang dijadikan oleh TUHAN Allah. Ular itu berkata kepada perempuan itu: "Tentulah Allah berfirman: Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan?"
3:2 Lalu sahut perempuan itu kepada ular itu: "Buah pohon-pohonan dalam taman ini boleh kami makan,
3:3 tetapi tentang buah pohon yang ada di tengah-tengah taman, Allah berfirman: Jangan kamu makan ataupun raba buah itu, nanti kamu mati."
3:4 Tetapi ular itu berkata kepada perempuan itu: "Sekali-kali kamu tidak akan mati,
3:5 tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat."
3:6 Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminyapun memakannya.
3:7 Maka terbukalah mata mereka berdua dan mereka tahu, bahwa mereka telanjang; lalu mereka menyemat daun pohon ara dan membuat cawat.

Kejadian pasal 3 ini sebetulnya bukan sekadar kisah tentang apa yang pernah terjadi di Taman Eden. Bagian ini adalah sebuah cermin yang jujur tentang apa yang terjadi di dalam hati manusia. Ketika membaca kisah ini, kita tidak sedang menonton sebuah adegan dari jarak yang aman, seolah-olah peristiwa ini hanya milik Adam dan Hawa. Sebaliknya, pasal ini membawa kita berdiri di depan sebuah cermin yang memaksa kita berhadapan dengan diri kita sendiri.
Intinya sederhana. Kejatuhan Adam dan Hawa bukan hanya kisah masa lalu, melainkan gambaran tentang manusia masa kini. Ini adalah potret tentang kita yang masih terus bergumul dengan pola yang sama sampai sekarang. Selama kita membaca Kejadian pasal 3 dengan posisi sebagai penonton, kita akan keliru memahami teks ini dan keliru memahami dosa. Namun ketika kita membacanya sebagai cermin, barulah kita melihat akar persoalan yang sebenarnya dan mengerti mengapa hanya Injil yang sungguh-sungguh menjadi jawabannya.
SALAH DIAGNOSIS
Kejadian pasal 3 dimulai dengan kalimat, “Ular merupakan binatang yang paling licik di antara semua binatang liar yang diciptakan Tuhan Allah.” Ular bertanya kepada perempuan, “Apakah benar Allah berkata bahwa kalian tidak boleh makan buah dari pohon mana pun di taman ini?” Kalimat ini krusial, karena iblis tidak menyuruh melanggar, melainkan mempertanyakan firman Tuhan. Ia tidak menyangkal, tetapi mereposisi ulang firman, menggeser otoritasnya di dalam hati manusia. Dosa pun tidak dimulai dari tindakan salah, melainkan dari pergeseran otoritas firman Tuhan, dari kebenaran final menjadi sesuatu yang bisa ditimbang dan dipertanyakan.
Karena itu, dosa tidak dimulai ketika seseorang melakukan hal yang salah, melainkan ketika firman Tuhan tidak lagi menjadi penentu utama di dalam hidup. Begitu firman Tuhan tidak lagi diterima sebagai kebenaran yang final, dosa mulai bekerja secara halus. Inilah cara kerja dosa.
Hari ini, kita mungkin tidak melanggar firman Tuhan secara langsung. Namun sering kali kita mulai menimbang firman Tuhan. Kita memilih mana yang cocok dengan perasaan kita, mana yang bisa ditunda, mana yang terasa berat untuk ditaati. Kita pilah-pilih semuanya. Kadang-kadang, dalam kehidupan bergereja pun, kita bisa bersikap demikian. Kita mulai memilih-milih, siapa yang berkhotbah, topik apa yang dibahas, mana yang terasa menarik, mana yang terasa berat. Karena itulah di Gibeon tidak pernah di-highlight siapa pembicaranya, supaya ketika datang, yang dicari bukan siapa yang berkhotbah, tetapi Injil yang didengarkan. Hati manusia memiliki kecenderungan untuk memilah dan memilih.
Mungkin tidak pernah terucap kalimat, “Saya tidak percaya firman Tuhan.” Namun di dalam hati bisa muncul suara, “Saya tahu ayatnya, tetapi konteksnya berbeda dengan konteks saya.” Atau mungkin terdengar lebih halus, “Tuhan pasti mengerti situasiku.” Kita tahu firman Tuhan memanggil untuk hidup dalam kesetiaan, kejujuran, penyangkalan diri, tetapi kita bertanya, apakah masih relevan? Bukankah situasi Alkitab berbeda dengan situasi masa kini? Kita tahu firman Tuhan berbicara tentang pengampunan, tetapi kita berkata, “Aku mengerti, Tuhan, tetapi situasi yang kualami sangat berbeda.”
Tanpa sadar, kita sedang mengulang Kejadian pasal 3. Bukan dengan menolak firman Tuhan, tetapi dengan menundukkan firman Tuhan di bawah logika, perasaan, dan pengalaman pribadi. Inilah kelicikan iblis. Salah diagnosis yang pertama adalah ketika kita berpikir bahwa dosa hanya berbicara tentang perilaku yang salah dan tindakan yang keliru, padahal masalah utamanya adalah ketika firman Tuhan mulai dinegosiasikan dan disesuaikan dengan keinginan pribadi. Kita mulai menimbang mana yang cocok. Ketika membuka Alkitab dan menemukan ayat tentang berkat, kita bersukacita. Namun ketika membaca tentang kutuk, kita menolaknya. Kita mulai memilah. Bahkan di dalam berkat pun kita memilih mana yang lebih menarik. Inilah kecenderungan hati manusia.
Jika membaca Kejadian pasal 3 ayat 1 dengan teliti, Musa sebagai penulis memberikan sebuah narasi penting. Ia menulis, “Adapun ular ialah yang paling cerdik dari segala binatang yang dijadikan oleh Tuhan Allah.” Namun di dalam percakapan antara ular dan perempuan, penyebutan Tuhan Allah itu hilang. Ular berkata, “Apakah Allah benar berfirman?” Sekilas, kalimat ini tampak biasa saja. Namun sebenarnya terjadi sebuah pergeseran yang halus tetapi sangat menentukan.

Richard Philips dalam tafsirannya tentang Kejadian menjelaskan bahwa sepanjang relasi Allah dengan manusia dalam Kejadian pasal 2, nama yang digunakan adalah Tuhan Allah, yang menggabungkan nama Allah sebagai pribadi perjanjian dan sebagai pencipta. Namun ular dengan sengaja menghilangkan nama perjanjian itu dan hanya berkata, “Apakah Allah benar berkata?” Ketika Hawa merespons, ia pun mengikuti arah yang diberikan iblis, sehingga mulai memandang Allah sebagai pribadi yang jauh, terlepas dari relasi, sehingga kepedulian-Nya diperkecil dan otoritas-Nya direndahkan.
Dalam Alkitab, kata Tuhan dengan huruf besar berasal dari kata Ibrani YHWH, Yahwe, yang menunjukkan nama Tuhan yang personal, dekat, intim, setia, dan terikat dalam relasi dengan umat-Nya. Sementara kata Allah atau Elohim lebih menekankan kemahakuasaan-Nya sebagai pencipta. Karena itu, detail penyebutan nama Tuhan Allah di dalam Kejadian pasal 3 sangat penting. Ketika ular hanya berkata, “Apakah Allah benar berfirman?” dan Hawa merespons dengan cara yang sama, di situlah hubungan pribadi yang dekat dengan Tuhan mulai digeser.
Dengan kata lain, Tuhan Allah di-framing bukan lagi sebagai pribadi yang dekat dan berelasi, melainkan sebagai pribadi yang jauh, tidak terlibat secara personal, bahkan layak untuk dinilai dan dipertanyakan. Celakanya, Hawa merespons dengan cara yang sama. Di titik inilah dosa mulai masuk secara perlahan. Dosa diremehkan, bukan karena dosa terlihat kecil, tetapi karena Tuhan yang dilanggar tidak lagi dipandang besar dan dekat. Ketika Allah dianggap jauh, dosa tidak lagi dirasakan sebagai pengkhianatan relasional, melainkan sekadar kesalahan teknis, seolah-olah tidak ada relasi yang sungguh-sungguh dilukai.
Kesalahan diagnosis kedua adalah ketika dosa dianggap sepele. Kita mulai mengategorikan dosa, membandingkan besar kecilnya, dan meremehkan dampaknya. Kebohongan kecil dianggap biasa. Ketidakadilan dianggap tidak serius. Pelanggaran komitmen dianggap wajar. Kita terbiasa mengabaikan orang lain demi kenyamanan diri. Perlahan, dosa menjadi sesuatu yang normal, bukan lagi sesuatu yang menggetarkan hati.
Dua kesalahan diagnosis ini sangat relevan dengan keadaan zaman ini dan sebenarnya juga relevan sepanjang masa. Inilah yang membuat kisah kejatuhan manusia pertama begitu dekat dengan kehidupan kita. Dosa sering tidak dimulai dari tindakan besar, melainkan dari cara kita mendengarkan firman sesuai dengan keinginan pribadi, menilai kebaikan Tuhan dengan kacamata keinginan diri, dan menganggap tindakan yang salah sebagai sesuatu yang dapat diterima.
Selama kita mendiagnosis dosa hanya sebagai masalah perilaku dan hal yang sepele, kita hanya akan sibuk memperbaiki gejala-gejalanya. Jika diagnosis terhadap dosa salah, maka solusinya pun akan meleset.
Karena itu, marilah berhenti sejenak dan menanyakan dua pertanyaan reflektif ini. Apakah kita lebih sering berfokus memperbaiki perilaku daripada memeriksa hati, apakah kita sungguh percaya kepada Tuhan? Apakah kita cenderung meremehkan dosa, menganggapnya sebagai kesalahan kecil yang tidak mengganggu kehidupan rohani?

AKAR MASALAH
Sekarang kita masuk ke poin yang kedua, melihat lebih dalam akar masalahnya. Akar masalah dosa terlihat sangat jelas di dalam ayat keempat dan kelima. Mari kita perhatikan ayat ini bersama. Tetapi ular itu berkata kepada perempuan itu, “Sekali-kali kamu tidak akan mati. Tetapi Allah mengetahui bahwa pada waktu kamu memakannya, matamu akan terbuka dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat.”
Ketika saya membaca dan merenungkan ayat ini dalam persiapan khotbah, saya membaca sebuah buku karya Sydney Gridanus yang berjudul Preaching Christ from Genesis. Ia mengomentari ayat ini dengan berkata bahwa iblis menyarankan seolah-olah Tuhan tidak begitu murah hati kepada Adam dan Hawa. Mereka hanya diciptakan menurut gambar-Nya, padahal sebenarnya mereka bisa lebih dari itu. Mereka bisa menjadi seperti Tuhan.
Di sini iblis mengarahkan Hawa untuk merasa bahwa Tuhan sedang membatasi potensi mereka. Ia menawarkan sebuah janji bahwa mereka bisa menjadi lebih, bahkan bisa menjadi seperti Tuhan, mengetahui yang baik dan yang jahat. Pada saat itu, hanya Tuhan yang memiliki pengetahuan tersebut. Iblis membuat seolah-olah Tuhan menciptakan mereka dalam keadaan buta, tidak bisa melihat, sehingga ia berkata bahwa ketika mereka memakan buah itu, mata mereka akan terbuka. Inilah tawaran iblis.
Saya tertarik dengan komentar Tim Keller dalam sebuah khotbah berjudul Paradise in Crisis. Ia mengatakan bahwa apa yang iblis tanamkan dalam hati manusia adalah keyakinan bahwa jika kita taat kepada Tuhan, kita akan kehilangan sesuatu. Jika kita taat, kita tidak akan bahagia. Jika kita mengikuti kehendak Tuhan, kita akan terputus dari banyak pilihan lain, terhalang untuk menjadi segala yang kita inginkan, dan tidak akan berkembang serta berhasil.
Inilah yang dunia modern tawarkan kepada kita. Jangan terlalu rohani, nanti dijauhi. Jangan terlalu injil, kita ini masih manusia. Santai saja, biasa saja. Inilah pola yang terus diulang. Jika kamu taat, hidupmu tidak bahagia. Iblis tahu persis apa yang harus diserang. Ia tidak berkata bahwa Tuhan tidak ada, dan ia tidak berkata bahwa Tuhan tidak peduli. Ia tidak meniadakan perintah Tuhan. Yang ia serang adalah kebaikan Tuhan. Seolah-olah ia berkata, memang Tuhan ada, memang Dia berfirman, tetapi kamu tidak bisa mempercayai bahwa apa yang Dia katakan sungguh-sungguh untuk kebaikanmu.
Dengan kata lain, iblis menanamkan kecurigaan dan keraguan di dalam hati manusia. Ia membuat manusia berpikir bahwa ketaatan akan merampas kebahagiaan dan membatasi hidup. Karena itu, ia menggoda manusia untuk mengambil kendali atas hidupnya sendiri, menentukan arah hidupnya sendiri, dan percaya bahwa dirinya lebih tahu apa yang terbaik bagi dirinya. Dosa semakin dalam bukan karena manusia ingin melanggar aturan, tetapi karena manusia mulai tidak mempercayai kebaikan Tuhan.

Di zaman ini, metode iblis tidak jauh berbeda. Iblis membisikkan kebohongan yang dibalut kenikmatan dunia yang sementara. Kita tahu firman Tuhan berkata jangan berzina, tetapi ada bisikan yang berkata bahwa itu menyenangkan dan tidak ada yang tahu. Kita tahu kita harus mengampuni, tetapi ada suara yang berkata bahwa menyimpan dendam lebih memuaskan. Kita tahu kita dipanggil hidup dalam kekudusan, tetapi ada bisikan bahwa hidup bebas membuat kita diterima. Kita tahu ibadah itu penting, tetapi ada suara yang berkata bahwa rekreasi dan hiburan lebih menenangkan. Media sosial pun sering membuat kita tergoda untuk menampilkan sisi terbaik agar mendapat pengakuan dan perhatian.
Semua ini adalah cara iblis membuat kita meragukan kebaikan Tuhan dan mempercayai bahwa kita lebih tahu daripada Tuhan tentang apa yang paling kita butuhkan. Jika dirangkum, semuanya ini dapat disebut sebagai penyembahan berhala. Penyembahan berhala bukan sekadar menyembah patung, melainkan ketika kita mengejar dan menyembah keinginan diri sendiri. Kita ingin kontrol, kenyamanan, dan pengakuan.
Seorang pendeta bernama Joby Martin dalam khotbahnya “What’s My Problem?” berkata bahwa dosa bukan hanya sesuatu yang kita lakukan, tetapi sesuatu yang kita inginkan di dalam hati. Itulah sebabnya hati manusia adalah pabrik berhala. Kita perlu bertobat setiap hari karena setiap hari kita lupa kepada Tuhan.
Ayat 6 menunjukkan tiga komponen idolatri yang sangat jelas. Perempuan itu melihat bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya. Lagi pula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan memakannya, dan memberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminya pun memakannya.
Tiga komponen ini adalah keinginan daging, keinginan mata, dan keangkuhan hidup. Keinginan daging berbicara tentang pencarian kepuasan jasmani yang mengalihkan kita dari ketaatan. Keinginan mata menggambarkan ketidakpuasan dan kerinduan untuk memiliki lebih dari yang Tuhan sediakan. Keangkuhan hidup mencerminkan keinginan untuk mengambil posisi Tuhan sebagai penentu kebenaran.
Ketiga hal ini sejalan dengan 1 Yohanes 2:16 yang mengatakan bahwa semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging, keinginan mata, dan keangkuhan hidup, bukan berasal dari Bapa, melainkan dari dunia. Keinginan daging tampak dalam pencarian kepuasan fisik di luar kehendak Tuhan. Keinginan mata terlihat dalam ketidakpuasan terhadap harta, posisi, dan status. Keangkuhan hidup muncul ketika manusia ingin hidup tanpa aturan, mengontrol kebenaran menurut caranya sendiri, dan menyingkirkan firman yang terasa tajam.

Dalam ayat 6, catatan tentang iblis tiba-tiba menghilang. Hawa seolah-olah sendirian dengan pikirannya sendiri, sementara suaminya diam. Adam ada bersama Hawa, tetapi ia tidak berkata apa-apa. Pola ini terulang dalam kisah Abraham di Kejadian pasal 12. Ketika Sarah berkata agar Abraham mengambil Hagar, Abraham diam dan melakukannya. Ini adalah pola dosa yang sama.
Musa menuliskan peristiwa ini dengan sangat sederhana dan tanpa drama. Gerhard von Rad mengatakan bahwa hal yang mengerikan dan tak terbayangkan itu ditulis dengan sangat santai. Dari perspektif manusia, semuanya terlihat biasa, tetapi dampaknya bersifat kosmik dan abadi.
Sekilas, konsekuensi dosa Adam dan Hawa tampak hanya bersifat pribadi. Mereka sadar bahwa mereka telanjang dan membuat cawat dari daun pohon ara. Namun perubahan ini hanyalah bagian kecil dari dampak besar yang mereka bawa. Akibat sebenarnya adalah rusaknya relasi dengan Tuhan dan jatuhnya seluruh ciptaan. Paulus menegaskan bahwa tidak ada seorang pun yang benar dan bahwa dosa masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu maut menjalar kepada semua orang.
Dampak dosa Adam dan Hawa merusak seluruh ciptaan dan relasi manusia dengan Tuhan. Lalu apa solusi terhadap konsekuensi kosmik dan abadi ini?
JAWABAN INJIL
Ketika kita berhadapan dengan dosa, sering kali kita mencoba menyelesaikannya dengan menciptakan aturan baru, komitmen baru, resolusi baru, dan disiplin yang lebih ketat. Kita berkata, kamu harus ini, kamu harus itu. Ada sebuah komentar yang mengatakan bahwa orang legalis pertama di dunia ini adalah Hawa. Ketika ia jatuh ke dalam dosa, hal pertama yang ia lakukan adalah membuat cawat. Inilah yang sering manusia lakukan. Saat jatuh ke dalam dosa, kita berusaha menutupinya dengan cara-cara kita sendiri, bukan datang dengan pengakuan dan pertobatan. Kita menyambung daun-daun pohon ara untuk menutupi ketelanjangan dan dosa kita, lalu berpikir bahwa semua itu sudah menyelesaikan masalah.
Sering kali orang Kristen melakukan berbagai hal supaya rasa bersalahnya berkurang. Ada yang memberi persembahan lebih banyak supaya rasa bersalahnya tidak terlalu besar. Ada yang rajin melayani supaya terlihat lebih baik dari orang lain, padahal ada sesuatu yang sedang disembunyikan. Kejadian pasal 3 menunjukkan bahwa akar masalah manusia jauh lebih dalam dari yang kita bayangkan, karena keputusan kita selalu lahir dari hati yang mencintai sesuatu lebih daripada Tuhan. Mengubah perilaku dan penampilan luar tanpa mengubah hati tidak akan menyelesaikan masalah yang sesungguhnya, yaitu hati itu sendiri.
Karena itu, mari kita melanjutkan bacaan dari ayat 7 sampai ayat 9. Dalam terjemahan bahasa Indonesia masa kini, dikatakan bahwa pada waktu petang mereka mendengar Tuhan Allah berjalan di dalam taman. Mereka berdua bersembunyi di antara pohon-pohon supaya tidak dilihat oleh Tuhan Allah. Tetapi Tuhan Allah berseru kepada laki-laki itu, “Di manakah engkau?”
Di dalam percakapan ayat 1 sampai ayat 7, iblis menggeser segalanya dan menghilangkan sebutan Tuhan. Namun di sini Musa mengembalikannya, bahkan tiga kali diulang dalam ayat yang berdekatan. Ini menunjukkan bahwa Tuhan bukan pribadi yang jauh dan tak terjangkau, melainkan pribadi yang mencari dan mendekat kepada manusia ketika manusia bersembunyi. Ketika Tuhan berseru, “Di manakah engkau?”, Ia tidak membutuhkan informasi. Tuhan tahu persis apa yang terjadi. Pertanyaan ini adalah ungkapan kasih. Saat manusia bersembunyi, Tuhan justru mencari.

Tim Keller pernah berkata bahwa kita menemukan Tuhan karena Tuhan lebih dulu menemukan kita. Kita tidak bisa menyombongkan diri seolah-olah kita yang mencari Tuhan. Jika hari ini kita ada di sini, itu semata-mata karena Tuhan lebih dulu menemukan kita. Puncak kasih Allah yang mencari manusia dinyatakan dalam pribadi Yesus Kristus. Di dalam Kejadian pasal 3 terlihat sebuah pola Injil yang sangat jelas. Ketika manusia ingin menempatkan diri di posisi Allah, Allah di dalam Kristus justru menempatkan diri di posisi manusia.
Filipi pasal 2:6-8 mengatakan bahwa Kristus Yesus, walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan mengosongkan diri, mengambil rupa seorang hamba, menjadi sama dengan manusia, dan taat sampai mati di kayu salib. Sementara manusia ingin menjadi seperti Allah, Kristus yang adalah Allah justru melepaskan hak-Nya.
Yesus menjalani hidup dengan ketaatan sempurna. Ia mengalahkan keinginan daging, keinginan mata, dan keangkuhan hidup. Di padang gurun, iblis mencobai-Nya dengan roti, kemuliaan dunia, dan pembuktian diri. Tetapi Yesus menolak semuanya dan memilih taat kepada firman dan kehendak Bapa.
Di Taman Eden, Adam dan Hawa menuruti keinginan daging dan mengabaikan firman. Di padang gurun, Yesus menundukkan keinginan daging-Nya di bawah otoritas firman. Di Taman Eden, Adam dan Hawa tergoda oleh apa yang terlihat indah. Di padang gurun, Yesus menolak kemuliaan yang tidak berasal dari kehendak Bapa. Di Taman Eden, Adam dan Hawa ingin mengontrol kebenaran. Di padang gurun, Yesus mempercayakan diri sepenuhnya kepada kehendak Bapa.
Jika Adam dan Hawa jatuh karena ingin mengambil apa yang bukan haknya, Yesus menang karena rela melepaskan hak-Nya. Jika di taman yang terang Adam dan Hawa gagal, di taman Getsemani yang gelap Yesus taat. Ia berkata, “Bukan kehendakku, melainkan kehendak-Mulah yang jadi.” Di sanalah Injil dinyatakan.
Injil tidak memberitahu kita untuk memperbaiki diri, tetapi memberitahu kita bahwa Yesus telah melakukan apa yang tidak bisa kita lakukan. Ketika kita bergumul dan menemui jalan buntu, itu karena hati kita belum diperbarui. Dan satu-satunya yang sanggup memberi hati yang baru adalah Yesus.
Karena itu, arahkan pandangan kepada salib. Di sanalah dosa diselesaikan dan kasih Allah dinyatakan. Di sanalah kita melihat betapa rusaknya hidup kita, tetapi sekaligus betapa jauhnya Allah bersedia pergi untuk menebus kita. Salib mengubah hati kita, bukan oleh kekuatan kita, melainkan oleh karya Kristus yang sempurna.
Kita semua adalah manusia yang gagal jika bercermin pada Kejadian pasal 3. Namun kabar baik Injil menyatakan bahwa ada seorang Pribadi bernama Yesus yang berkata, “Bukan kehendakku, melainkan kehendak-Mulah yang jadi.”

PERTANYAAN REFLEKTIF
• Bagaimana saya dapat lebih mempercayai Tuhan tanpa meragukan kebaikan-Nya, terutama ketika saya menghadapi kesulitan atau penderitaan dalam hidup? Atau apakah ada area dalam hidup saya, seperti pekerjaan, hubungan, atau pengelolaan keuangan, dimana saya merasa kesulitan mempercayai Tuhan?
• Apakah saya sudah hidup dalam identitas baru yang diberikan Kristus dan mengingat bahwa pengampunan-Nya lebih besar dari kegagalan saya, sehingga saya dimampukan berkata tidak pada dosa dan menerima pemulihan-Nya dengan ucapan syukur?
ORANG BERINJIL
Tidak meremehkan dosa, karena dosa adalah pemberontakan terhadap Tuhan yang kudus.
Mempercayai Tuhan tanpa meragukan kebaikan-Nya karena kasih-Nya sudah terbukti di atas kayu salib.
Dimampukan berkata tidak pada dosa karena Kristus memberi hidup baru, dan tidak terpuruk olehnya karena pengampunan Tuhan lebih besar dari segala kegagalan.