Two Become One

The Love We Long For – Week 5

“Beyond Romance"

Ps. Natanael Thamrin

 

BACAAN:

Kejadian 2:18-25

2:18 TUHAN Allah berfirman: "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia."

2:19 Lalu TUHAN Allah membentuk dari tanah segala binatang hutan dan segala burung di udara. Dibawa-Nyalah semuanya kepada manusia itu untuk melihat, bagaimana ia menamainya; dan seperti nama yang diberikan manusia itu kepada tiap-tiap makhluk yang hidup, demikianlah nanti nama makhluk itu.

2:20 Manusia itu memberi nama kepada segala ternak, kepada burung-burung di udara dan kepada segala binatang hutan, tetapi baginya sendiri ia tidak menjumpai penolong yang sepadan dengan dia.

2:21 Lalu TUHAN Allah membuat manusia itu tidur nyenyak; ketika ia tidur, TUHAN Allah mengambil salah satu rusuk dari padanya, lalu menutup tempat itu dengan daging.

2:22 Dan dari rusuk yang diambil TUHAN Allah dari manusia itu, dibangun-Nyalah seorang perempuan, lalu dibawa-Nya kepada manusia itu.

2:23 Lalu berkatalah manusia itu: "Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki."

2:24 Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging.

2:25 Mereka keduanya telanjang, manusia dan isterinya itu, tetapi mereka tidak merasa malu.

Efesus 5:25,28-31

5:25 Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya

5:28 Demikian juga suami harus mengasihi isterinya sama seperti tubuhnya sendiri: Siapa yang mengasihi isterinya mengasihi dirinya sendiri.

5:29 Sebab tidak pernah orang membenci tubuhnya sendiri, tetapi mengasuhnya dan merawatinya, sama seperti Kristus terhadap jemaat,

5:30 karena kita adalah anggota tubuh-Nya.

5:31 Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging.

 

Setiap dari kita, baik yang sudah menikah maupun yang belum, pasti memiliki pertanyaan dan kerinduan yang mendalam di dalam hati. Siapa di antara kita yang sampai hari ini merindukan seseorang yang sungguh sungguh mengasihi dan menerima kita apa adanya?

Sebuah kesaksian pribadi dari perjalanan hubungan selama 21 tahun dan pernikahan selama 13 tahun memberikan gambaran nyata tentang kerinduan ini. Pada masa pacaran, ada momen di mana hubungan tersebut harus terhenti sementara selama sekitar satu tahun dua bulan. Ketika akhirnya bertemu kembali, ternyata masih ada percikan perasaan di dalam hati. Namun, ada hal yang berubah. Respons dan perhatian dari istri saya pada saat itu tidak lagi sama seperti dahulu. Dalam usaha untuk kembali memenangkan hatinya dan terhubung kembali, sebuah lagu pun tercipta dengan lirik yang menuntut, "Bila nanti ku di sampingmu, cintai aku sepenuhnya. Bila nanti aku di sampingmu, sayangi aku sepenuhnya."

Ketika melihat kembali lirik lagu tersebut saat ini, hal itu menjadi sesuatu yang menggelikan. Mengapa? Karena sebelum mengenal Injil, ada kecenderungan untuk menuntut pasangan agar mengasihi melebihi kapasitasnya sebagai manusia berdosa. Kita sering meminta pasangan kita menjadi sesuatu yang sebenarnya tidak mungkin mereka lakukan, karena kasih yang sempurna dan penerimaan yang utuh sesungguhnya hanya bisa dilakukan oleh Yesus. Pada dasarnya, kita semua memiliki kebutuhan eksistensial untuk dikasihi, diterima, dikenal, dan hidup dalam relasi yang bermakna. Sayangnya, kerinduan ini sering kita bebankan secara tidak realistis ke dalam setiap relasi kita, terutama dalam pernikahan.

Kisah perjalanan pernikahan Erwin Lutzer dan istrinya, Rebecca Lutzer, yang merayakan 50 tahun kebersamaan mereka, memberikan pelajaran berharga. Keduanya datang dari latar belakang yang sangat bertolak belakang. Erwin dibesarkan dalam keluarga Kristen yang penuh kasih dan saling mendukung, sedangkan Rebecca lahir dalam kemiskinan, mengalami masa kecil yang sulit penuh kekerasan, dan harus bekerja keras demi pendidikan adik adiknya.

Dua orang dengan pengalaman hidup yang begitu berbeda ini dipersatukan dalam pernikahan, dan tentunya mereka membawa harapan serta cara pandang yang tidak sama. Setiap orang membawa bagasinya sendiri, pola asuhnya sendiri, dan karakter yang terbentuk dari keluarganya masing masing. Sepanjang 50 tahun pernikahan, Erwin dan Rebecca harus terus belajar untuk saling mengenal, menerima, dan menghargai. Mereka menyadari bahwa pernikahan dijalani dengan berbagai kesulitan, dan mereka berdua adalah dua pribadi yang perlu saling memberikan ruang untuk terus bertumbuh menjadi serupa dengan Kristus.

 

Hal serupa juga sering terjadi dalam kehidupan kita sehari hari. Kita membawa pengalaman masa lalu, pola asuh, dan harapan pribadi ke dalam bahtera pernikahan. Kita berharap pasangan dapat langsung memahami kita, namun kita lupa bahwa dia memiliki sudut pandang yang berbeda akibat latar belakangnya yang juga berbeda. Menjadi satu bukan berarti kita tidak lagi memiliki perbedaan, melainkan kita belajar menjalani perbedaan itu bersama sama tanpa berhenti mengasihi dan menghargai satu sama lain.

Namun, mengapa mengasihi seseorang yang begitu dekat dengan kita terkadang terasa sangat sulit? Jawabannya terletak pada akibat dosa asal, di mana manusia hidup dengan berpusat pada dirinya sendiri. Hal ini memunculkan sebuah paradoks di dalam hati manusia. Di satu sisi, kita ingin dikenal dan diterima sepenuhnya, tetapi di sisi lain, kita takut terlihat apa adanya di hadapan pasangan. Kita takut gagal, takut terlihat lemah, dan takut untuk sekadar mengambil keputusan. Kita menginginkan kesatuan, namun kita tetap ingin mempertahankan ego dan mengontrol relasi tersebut. Kita menuntut pasangan menerima kita tanpa syarat, tetapi kita sendiri sangat sulit menerima pasangan kita tanpa syarat.

Lalu, bagaimana dua orang dapat sungguh sungguh menjadi satu? Apakah cukup dengan saling mencintai, atau adakah hal yang lebih dalam dari sekadar kecocokan?

Sebagai catatan penting untuk meluruskan pandangan kita, ketika firman Tuhan mengatakan bahwa tidak baik manusia seorang diri, ayat ini tidak semata mata berbicara tentang pernikahan. Bukan berarti orang yang tidak menikah adalah manusia yang tidak lengkap. Pernikahan adalah salah satu bentuk kesatuan yang Allah berikan, sementara mereka yang mengambil keputusan untuk melajang juga dapat mengalami kehidupan persekutuan yang utuh dan bermakna dalam keluarga Allah sebagai tubuh Kristus.

Untuk memahami bagaimana kesatuan ini dapat sungguh sungguh terjadi, ada tiga poin penting yang menjadi landasan pembelajaran kita: Pertama, One Flesh is God's Design (Satu Daging adalah Rancangan Allah). Kedua, Self Centeredness Fractures Our Oneness (Sikap Berpusat pada Diri Sendiri Menghancurkan Kesatuan Kita). Ketiga, One Flesh Is Formed by the Gospel(Kesatuan Dibentuk oleh Injil).

 

ONE FLESH IS GOD’S DESIGN

Kita masuk pada poin yang pertama, yaitu One Flesh Is God's Design (Satu daging adalah rencana Allah). Ketika Allah melihat bahwa tidak baik manusia seorang diri, Allah tidak sekadar merancang dua orang untuk tinggal bersama, melainkan merancang mereka untuk menjadi satu daging. Menjadi satu daging bukanlah sekadar menemukan seseorang yang dapat membuat kita merasa dicintai, melainkan tentang sebuah kesatuan yang mengubah cara kita memandang dan memperlakukan orang yang telah Allah persatukan dengan kita.

Kalau kita kembali mengamati kitab Kejadian pasal 1, setelah menyelesaikan setiap tahapan penciptaan, berulang kali Allah melihat bahwa apa yang diciptakan Nya itu baik. Namun, ada hal yang sangat berbeda di dalam Kejadian pasal 2. Untuk pertama kalinya, muncul pernyataan bahwa tidak baik kalau manusia seorang diri saja. Perlu diingat bahwa pada masa itu belum ada dosa, konflik rumah tangga, pengkhianatan, atau luka di dalam relasi. Semuanya masih berada dalam keadaan yang sempurna. Ini menunjukkan bahwa manusia memang tidak diciptakan untuk hidup terasing, melainkan untuk hidup dalam relasi yang mencerminkan bagaimana Trinitas itu sendiri berelasi.

Ketika Allah membawa perempuan itu, Adam merespons dengan berkata, "Inilah dia tulang dari tulangku dan daging dari dagingku." Menjadi satu daging berarti memasuki sebuah kesatuan hidup, di mana dua pribadi terikat untuk bersama sama menjalani kehidupan, mengambil keputusan, mengelola tanggung jawab, dan membangun masa depan. Hal ini ditegaskan dalam Kejadian 2:24, yang menyatakan bahwa laki laki akan meninggalkan ayah ibunya dan bersatu dengan istrinya. Kata "bersatu" berasal dari bahasa asli dabaq, yang berarti melekat atau berpegang erat. Tafsiran Pulpit Commentary menjelaskan bahwa ini adalah suatu kesatuan pribadi secara utuh, bukan sekadar penyatuan tubuh atau kesamaan kepentingan.

Prinsip ini dibawa kembali oleh Paulus dalam Efesus 5:28, yang mengajarkan para suami untuk mengasihi istrinya sama seperti tubuhnya sendiri, karena siapa yang mengasihi istrinya berarti mengasihi dirinya sendiri. Paulus secara langsung merujuk pada konsep penciptaan awal. Semenjak menikah, kita tidak bisa lagi memperlakukan pasangan seolah olah ia adalah orang asing. Setiap keputusan yang kita buat baik terkait keuangan, karier, urusan bisnis, investasi, hingga pelayanan akan membawa dampak dan risiko yang harus ditanggung bersama oleh seluruh isi rumah tangga.

Paulus menggunakan gambaran tubuh manusia untuk menjelaskan eratnya ikatan ini. Kalau kaki kita terantuk tangga, seluruh tubuh ikut berteriak kesakitan dan secara alami akan merawatnya, bukan menyalahkannya. Begitu pula saat kita sedang demam, tubuh seakan kehilangan tenaga untuk merawat dirinya sendiri. Dalam relasi pernikahan, ketika kita mulai tidak peka dan hubungan mulai terasa rusak, itu adalah tanda bahwa ada sesuatu yang "sakit" dan perlu segera dirawat. Kesejahteraan pasangan tidak dapat dipisahkan dari kesejahteraan kita. Semuanya menjadi milik dan perhatian bersama.

Namun, kesatuan ini juga mencakup area yang sering kali sulit dibicarakan secara terbuka, yaitu seksualitas. Seksualitas adalah karunia suci di dalam pernikahan. Paulus dalam 1 Korintus 6:16menggunakan istilah "satu daging" ketika berbicara mengenai bahaya percabulan, yang membuktikan eratnya kaitan antara seksualitas dan kesatuan. Walaupun demikian, kita tidak boleh mempersempit seluruh makna pernikahan hanya menjadi sekedar hubungan seksual.

Alkitab mencatat dalam Kejadian 2:25 bahwa laki laki dan istrinya itu telanjang tetapi tidak merasa malu. Mereka dapat hadir di hadapan satu sama lain secara transparan tanpa rasa takut, tanpa manipulasi, dan tanpa eksploitasi. Setidaknya ada empat dimensi penting untuk memahami seksualitas dari perspektif Alkitab. Pertama, dimensi fisik, di mana seksualitas adalah bagian tubuh yang suci dan dirancang Allah sebagai sistem prokreasi, bukan sekadar pemuas hawa nafsu akibat kejatuhan dosa. Kedua, dimensi relasional, di mana seksualitas berfungsi membangun pengenalan dan keintiman timbal balik. Ketiga, dimensi perjanjian, yang menempatkan seksualitas di dalam komitmen dan kesetiaan eksklusif. Keempat, dimensi spiritual, di mana seksualitas dijalani di hadapan Allah sebagai cara kita menghormati Nya dan mengasihi pasangan.

Seksualitas adalah bentuk ringkas dari relasi pernikahan dalam seluruh kepenuhannya. Jika kita gagal memahaminya, seksualitas hanya akan berubah menjadi keterpaksaan, sebuah tugas wajib yang kehilangan keindahan dan keintimannya. Pemahaman kita sering dirusak oleh dua pandangan ekstrim saat ini. Ada budaya permisif yang meremehkan pernikahan hanya sebagai secarik kertas dan memisahkan seks dari komitmen, serta budaya legalistik yang berfokus pada aturan larangan, membuat seks menjadi tabu sehingga kerap memicu tuntutan buta tanpa memedulikan kondisi pasangan. Keduanya keliru. Hubungan seksual tidak boleh digunakan sebagai alat pembuktian cinta sebelum menikah ini merupakan sebuah jebakan yang berada di luar rancangan Allah. Di dalam pernikahan, keintiman fisik yang dilakukan tanpa kelembutan dan tanpa menghargai kondisi emosional pasangan sama halnya dengan merusak tubuh sendiri. Berdasarkan 1 Korintus 7:3-5, tanggung jawab timbal balik dalam pernikahan sama sekali bukanlah izin untuk melakukan pemaksaan seksual.

Sebagai persiapan pernikahan yang kudus, sangat penting untuk membicarakan prinsip prinsip esensial dengan pasangan. Ada tiga hal utama yang patut disepakati: Pertama, tentang penghasilan, di mana pasangan sepakat untuk berjalan bersama dalam iman dan panggilan pelayanan Tuhan, tak peduli ke mana mereka diarahkan. Kedua, tentang keturunan, dengan pemahaman mendasar bahwa keutuhan pribadi sudah dipenuhi melalui penebusan Kristus. Sekalipun Tuhan tidak memberikan keturunan kelak, hal tersebut tidak boleh menjadi alasan untuk saling merendahkan atau menyalahkan. Ketiga, mengenai seksualitas. Seksualitas diikat dalam perjanjian suci, bukan sarana pemenuhan ego biologis semata. Apabila di kemudian hari salah satu pihak mengalami disfungsi atau kondisi medis tertentu, komitmen yang dipegang adalah datang kepada Tuhan untuk memohon kekuatan agar tetap setia, karena kesetiaan berakar pada janji di hadapan Allah, bukan pada kepuasan fisik belaka.

Prinsip mengasihi orang lain sebagai bagian dari diri sendiri ini tidak hanya berlaku bagi mereka yang sudah menikah. Bagi yang belum menikah, prinsip yang sama berlaku dalam cara berelasi. Kita dipanggil untuk terus menghormati orang orang di sekitar kita sebagai Imago Dei(gambar dan rupa Allah), tanpa mengeksploitasi mereka untuk kebutuhan emosional pribadi. Melajang bukanlah tanda bahwa kehidupan seseorang belum lengkap. Status pernikahan sama sekali tidak menentukan nilai dan makna utuh hidup seseorang di mata Tuhan.

Pertanyaannya sekarang, jika kesatuan pernikahan yang dirancang Allah ini begitu indah untuk saling mengasihi dan memelihara, mengapa pernikahan justru kerap menjadi tempat di mana kita bisa terluka paling dalam? Jawabannya bukan karena rancangan Allah yang buruk, melainkan karena manusia yang masuk ke dalam rancangan tersebut adalah manusia yang telah jatuh ke dalam dosa.

 

SELF CENTEREDNESS FRACTURES OUR ONENESS

Jika kita perhatikan, kitab Kejadian 2 diakhiri dengan gambaran relasi yang begitu indah di mana Adam dan Hawa telanjang namun tidak merasa malu. Akan tetapi, ada pergeseran tragis ketika kita masuk ke dalam Kejadian 3. Pemberontakan manusia terhadap Allah membuat dosa masuk ke dalam dunia, dan hal pertama yang menjadi rusak adalah relasi mereka.

Dalam Kejadian 3:12, ketika Allah menuntut pertanggungjawaban Adam atas dosanya, Adam tidak segera mengakui kesalahannya. Ia justru memutarbalikkan keadaan dengan menjawab, "Perempuan yang Kau tempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka aku makan." Sungguh sebuah perubahan yang drastis. Perempuan yang sebelumnya ia sambut dengan penuh sukacita sebagai bagian dari dirinya sendiri, kini justru dijadikan alat bela diri untuk lari dari konsekuensi perbuatannya. Kesatuan satu daging yang awalnya dirancang Allah untuk membawa manusia keluar dari ego pribadi, kini dirusak oleh dosa yang mengembalikan manusia pada keberpusatan diri sendiri.

Tim Keller dalam bukunya The Meaning of Marriage menegaskan bahwa penghalang utama untuk bertumbuh memiliki hati yang melayani dalam pernikahan adalah keegoisan, yaitu keberpusatan diri yang sangat mendalam di dalam hati manusia berdosa. Sejak kejatuhan manusia, kita tidak lagi secara alami mengupayakan kebaikan dalam relasi, melainkan mengubah relasi tersebut menjadi sesuatu yang transaksional. Kita sibuk menghitung kesalahan pasangan dan bertanya, "Apa yang saya dapatkan? Mengapa saya yang harus mengalah?" daripada memeriksa kedalaman hati kita sendiri.

Itulah sebabnya kesatuan pernikahan yang dirancang begitu indah bisa berubah menjadi medan konflik dan luka. Persoalan utamanya bukan sekadar menyatukan dua orang yang berbeda, melainkan menyatukan dua orang berdosa yang sama sama ingin menjadikan dirinya sebagai pusat. Kita menuntut pasangan memahami kita, tetapi kita enggan memahami mereka. Kita ingin pasangan mengakui kesalahannya, tetapi kita selalu punya seribu alasan pembenaran saat kita sendiri bersalah. Kita menginginkan sebuah kesatuan, namun kita ingin kesatuan itu tetap berpusat pada diri kita masing masing.

Hal yang paling menyedihkan adalah kedekatan yang seharusnya menumbuhkan kasih justru sering kita jadikan senjata untuk saling melukai. Karena kita sangat mengenal pasangan kita, kita tahu persis perkataan apa yang paling menyakitkan, kelemahan apa yang membuatnya merasa rendah diri, dan masa lalu apa yang paling sensitif baginya. Saat marah, pengetahuan itu kita jadikan amunisi. Tujuan kita bukan lagi mencari jalan keluar bersama, melainkan mencari siapa yang benar dan memenangkan perdebatan. Kita rela relasi hancur asalkan ego kita menang. Pada titik inilah satu daging berubah menjadi kedagingan, dan masalah diubah menjadi ajang mencari kesalahan.

Bahkan, kita sangat pandai menggunakan bahasa kasih untuk menutupi keegoisan kita sendiri. Kita menuntut pasangan untuk berubah dengan dalih "demi kebaikan hubungan", padahal motif aslinya adalah karena kenyamanan diri kita sedang terganggu. Hal hal yang baik seperti pernikahan, relasi, dan seksualitas pun berubah menjadi berhala ketika kita menuntutnya untuk memberikan kepuasan tertinggi yang sebenarnya hanya dapat ditemukan di dalam Allah. Kita menuntut pasangan memenuhi seluruh kebutuhan kita dan menjadikan keintiman sekadar sarana memuaskan hasrat, bukan ruang untuk saling mengasihi dan menghormati.

Kita sering lupa bahwa pasangan kita bukanlah juruselamat kita. Ia memang dapat mengasihi kita, tetapi ia tidak akan pernah bisa memberikan penerimaan sempurna yang selama ini kita cari hanya Kristus yang sanggup melakukannya. Membebani pasangan dengan tuntutan sebagai penyelamat hanya akan berujung pada kekecewaan dan secara tidak sadar mengubah pasangan menjadi sekadar alat untuk memenuhi kebutuhan ego kita.

Oleh karena itu, masalah utama dalam pernikahan bukanlah sekadar kurangnya teknik komunikasi atau kegagalan memahami kebutuhan pasangan. Walaupun faktor kondisi kesehatan dan trauma masa lalu perlu diperhatikan secara bijaksana, kita tidak boleh mengabaikan fakta bahwa dosa telah merusak hati manusia. Kita membutuhkan lebih dari sekadar usaha untuk menjadi pasangan yang lebih baik; kita membutuhkan perubahan hati agar tidak lagi hidup berpusat pada diri sendiri. Kita membutuhkan anugerah dan Injil yang membentuk ulang cara kita mengasihi.

Lalu, bagaimana Injil Kristus dapat membentuk hati kita sehingga kita berhenti menjadikan diri sebagai pusat dan mulai belajar mengasihi seperti Kristus? Jawabannya akan kita temukan pada poin yang ketiga, yaitu One Flesh Is Formed by the Gospel (Kesatuan Dibentuk oleh Injil).

 

ONE FLESH IS FORMED BY THE GOSPEL

Dalam Efesus 5:28-30, setelah Paulus berbicara tentang bagaimana suami harus mengasihi, mengasuh, dan merawat istrinya seperti merawat tubuhnya sendiri, ada sebuah penekanan yang sangat penting. Paulus menyatakan bahwa kita adalah anggota tubuh Kristus. Artinya, dasar dan ukuran dari kasih seorang suami kepada istrinya adalah bagaimana Kristus telah mengasihi jemaat Nya. Kasih Kristus bukanlah kasih yang mencari keuntungan pribadi, melainkan kasih yang sepenuhnya memberikan diri.

Namun, ada satu hal yang harus dipahami secara mendalam. Kristus bukan sekadar teladan moral yang harus kita tiru, melainkan Ia adalah Juru Selamat yang menyelamatkan kita. Mengapa penekanan ini sangat esensial? Karena jika Kristus hanya dijadikan teladan, kita hanya akan pulang membawa daftar tuntutan baru. Seorang suami akan merasa dituntut untuk harus lebih sabar, dan seorang istri akan merasa dituntut untuk lebih memahami kesibukan suaminya. Pada akhirnya, beban tuntutan moral itu akan terasa terlalu berat dan membuat keduanya kembali jatuh pada pola kesalahan yang sama. Kita sering kali tahu apa yang seharusnya dilakukan, tetapi tidak memiliki kekuatan untuk melakukannya.

Di sinilah letak perbedaannya. Injil membawa kita jauh lebih dalam dari sekadar tuntutan untuk berubah, karena Injil mengarahkan pandangan kita kepada Kristus. Roma 5:8 mengingatkan bahwa Allah menunjukkan kasih Nya justru ketika kita masih berdosa. Kristus tidak menunggu kita menjadi layak atau membereskan seluruh hidup kita terlebih dahulu. Lalu, apa yang Ia kerjakan? Efesus 5:25 mencatat bahwa Kristus menyerahkan diri Nya bagi jemaat. Lebih dari itu, Yesaya 53:5 menyatakan bahwa Dia tertikam dan diremukkan oleh karena kejahatan kita. Markus 10:45 juga menegaskan bahwa Ia datang memberikan nyawa Nya menjadi tebusan, dan 2 Korintus 5:21 menyatakan bahwa Dia yang tidak mengenal dosa dibuat menjadi dosa supaya kita dibenarkan oleh Allah.

Nasihat moral hanya akan menyuruh kita menjadi orang yang lebih baik, tetapi Injil mengajak kita melihat apa yang telah Kristus kerjakan bagi kita, orang orang berdosa. Di kayu salib, Kristus bukan sekadar memberi contoh seperti apa kasih itu. Ia menanggung hukuman kita, menebus kita, dan mempersatukan kita dengan diri Nya. Sekalipun Kristus tahu persis betapa buruknya kelemahan dan kegagalan kita, Ia tidak pernah membuang kita. Ia terus memelihara dan merawat kita sebagai anggota tubuh Nya.

Kasih anugerah inilah yang harus menjadi fondasi utama dalam pernikahan. Firman Tuhan menantang hati kita yang sering kali menuntut perlakuan baik dari pasangan tanpa mau mengoreksi diri sendiri. Kita ingin dipahami saat lelah, tetapi sering mengabaikan pasangan saat ia membutuhkan kita. Kita menuntut pasangan memperlakukan kita dengan kasih, tetapi kita sendiri mengasihinya dengan syarat. Padahal, Kristus tidak pernah memperlakukan kita berdasarkan kelayakan kita. Oleh karena itu, seorang suami dipanggil untuk melihat istrinya sebagai pribadi yang kehidupannya harus benar benar diperhatikan dan dirawat, bukan sebagai orang asing pemuas kebutuhan.

Pernikahan Kristen bukanlah ajang kompetisi tentang siapa yang paling benar atau siapa yang harus berubah lebih dulu, melainkan tempat di mana kita belajar mengasihi karena kita telah lebih dahulu dikasihi oleh Kristus. Pernikahan adalah sarana anugerah dari Tuhan agar kita terus dikuduskan menjadi semakin serupa dengan Nya.

Jika hari ini masih ada luka yang belum pulih, kebiasaan buruk yang sulit diubah, atau komunikasi yang penuh kekecewaan, jangan pernah menunggu pasangan menjadi sempurna untuk mulai belajar mengasihinya. Jangan pula menjadikan kebenaran firman Tuhan sebagai senjata untuk menghakimi kesalahan pasangan sementara kita menolak untuk mengoreksi hati sendiri. Pernikahan adalah perjalanan panjang dua orang berdosa yang terus menerus membutuhkan anugerah Tuhan. Akan ada saatnya kita harus meminta maaf, belajar mendengarkan, dan memberi ruang bagi pasangan untuk bertumbuh.

Tentu saja, kasih tidak berarti membiarkan dosa atau mengabaikan luka. Kasih sejati berani bersikap jujur, mencari pertolongan, dan membangun kembali apa yang telah rusak. Karena itu, ubahlah fokus kita. Daripada terus mengeluh dan bertanya mengapa pasangan belum juga berubah, mulailah bertanya, "Tuhan, apa yang ingin Engkau bentuk dalam diri saya melalui pernikahan ini?"

Meskipun perjalanan ke depan tidak ada yang tahu pasti, kita tidak pernah berjalan sendirian karena Kristus selalu merawat anggota tubuh Nya. Kiranya pernikahan kita bukan sekadar tempat mencari kebahagiaan, melainkan menjadi tempat di mana kasih Kristus semakin nyata melalui cara kita berbicara, memberikan pengampunan, menghadapi perbedaan, dan kesediaan kita untuk terus saling hadir di tengah segala ketidaksempurnaan.

 

PERTANYAAN REFLEKTIF

1. Keputusan apa yang masih saya ambil sendiri, tanpa menyadari bahwa dampaknya juga dirasakan pasangan saya?

2. Ketika pasangan sedang lemah dan membutuhkan saya, apakah saya hadir untuk menguatkannya, atau justru merasa terbebani?

3. Masalah apa yang selama ini masih saya anggap sebagai masalahmu, padahal seharusnya kita hadapi bersama pasangan?

 

ORANG BERINJIL

1. Berhenti Menuntut Pasangan Menjadi Juruselamat. Pasangan adalah anugerah Allah, bukan pengganti Allah. Di dalam Kristus, kita menemukan identitas dan kepenuhan sehingga tidak membebani pasangan dengan tuntutan untuk memenuhi segala kebutuhan kita.

2. Bertobat Tanpa Membela Diri. Karena Kristus telah menanggung dosa kita, kita tidak perlu terus membenarkan diri. Belajarlah mengakui kesalahan, meminta maaf, dan tidak menggunakan kelemahan pasangan sebagai senjata untuk melukainya.

3. Merawat Pasangan seperti Tubuh Sendiri. Kristus mengasihi dan merawat kita sebagai anggota tubuh-Nya. Karena itu, jangan hanya menuntut pasangan berubah, tetapi belajarlah memperhatikan, menguatkan, dan mengusahakan kebaikannya, sebagaimana Kristus merawat jemaat-Nya.