Beyond Romance

The Love We Long For – Week 5

“Beyond Romance"

Ps. Natanael Thamrin

 

BACAAN:

Kidung Agung 5:16b

Demikianlah kekasihku, demikianlah temanku, hai puteri-puteri Yerusalem.

Efesus 5:28-30

5:28 Demikian juga suami harus mengasihi isterinya sama seperti tubuhnya sendiri: Siapa yang mengasihi isterinya mengasihi dirinya sendiri. 5:29 Sebab tidak pernah orang membenci tubuhnya sendiri, tetapi mengasuhnya dan merawatinya, sama seperti Kristus terhadap jemaat, 5:30 karena kita adalah anggota tubuh-Nya.

Amsal 18:24

Ada teman yang mendatangkan kecelakaan, tetapi ada juga sahabat yang lebih karib dari pada seorang saudara.

 

Tema hari ini mengangkat sebuah topik menarik yaitu Beyond Romance, yang membahas secara mendalam mengenai mengapa persahabatan merupakan jantung dari pernikahan. Untuk memahami hal ini, ada tiga bagian Alkitab yang menjadi landasan utama, dimulai dari Kidung Agung 5:16 yang menyatakan tentang sosok kekasih sekaligus teman di hadapan putri putri Yerusalem. Selanjutnya dalam Efesus 5:28-30, dijelaskan bahwa suami harus mengasihi istrinya sama seperti tubuhnya sendiri, karena tidak pernah orang membenci tubuhnya sendiri, melainkan mengasuh dan merawatnya sama seperti Kristus terhadap jemaat. Terakhir, Amsal 18:24 mengingatkan bahwa meskipun ada teman yang mendatangkan kecelakaan, ada juga sahabat yang lebih karib daripada seorang saudara. Berbahagialah setiap orang yang membaca, merenungkan, dan dimampukan untuk melakukan firman Tuhan tersebut setiap hari.

Perenungan ini diawali dengan sebuah kutipan bermakna dari Timothy Keller dan Kathy Keller dalam buku mereka yang berjudul The Meaning of Marriage. Mereka menuliskan bahwa kebanyakan orang memasuki pernikahan dengan berbekal pengalaman jatuh cinta yang pada puncaknya menghadirkan rasa euforia, di mana dua orang bisa menjadi hampir terobsesi satu sama lain. Namun, pengalaman jatuh cinta itu pada akhirnya berlalu ketika seseorang mulai menyadari kekurangan pasangannya. Hal hal yang tadinya tampak sepele dan tidak berarti kini terasa begitu besar, hingga memunculkan perasaan bahwa ternyata kita tidak benar benar mengenal sosok tersebut. Kondisi ini menghadirkan tantangan tersendiri untuk mencintai seseorang yang pada saat itu justru terasa lebih seperti orang asing, dan bukan lagi sosok yang diingat saat hari pernikahan dulu.

Pernyataan bahwa pasangan bisa terasa seperti orang asing membawa pada satu kesimpulan penting, yaitu pernikahan tidak bisa dibangun hanya di atas romansa. Pada awalnya mungkin memang terasa ada kecocokan, ketertarikan, dan euforia perasaan jatuh cinta. Namun setelah menikah, seseorang akan mulai melihat keseluruhan diri pasangannya, termasuk kelemahan, kebiasaan, dan berbagai perbedaan yang sebelumnya tidak disadari.

Perubahan sudut pandang ini sangat sering terjadi. Sebagai contoh, saat masih berpacaran dan melihat pasangan berantakan, hal itu mungkin dianggap lucu dan tidak menjadi masalah. Namun setelah menikah, kebiasaan menaruh barang barang sembarangan tersebut bisa menjadi keluhan. Contoh lainnya, saat berpacaran melihat pasangan sibuk bekerja keras, sosok tersebut dianggap sebagai pria atau wanita idaman. Tetapi setelah menikah, pandangan itu bisa berubah menjadi anggapan bahwa pasangannya lebih mementingkan pekerjaan daripada hubungannya.

Meskipun pasangan mungkin tidak banyak berubah, proses pernikahan membuat seseorang mulai sungguh sungguh mengenalnya secara utuh. Itulah sebabnya kita membutuhkan lebih daripada sekadar romansa, kita membutuhkan persahabatan. Hal ini mungkin terdengar tidak romantis untuk sebuah bahasan pernikahan, namun kebenarannya adalah di balik romansa yang bertahan lama, selalu ada persahabatan yang lebih dalam.

Untuk memahami prinsip ini, terdapat tiga poin utama yang akan dipelajari bersama sama, yaitu persahabatan yang dirancang, persahabatan yang dirawat, dan persahabatan yang diuji. Mari kita mulai dengan melihat secara mendalam mengenai persahabatan yang dirancang.

 

PERSAHABATAN YANG DIRANCANG

Sebelum menggali lebih dalam, terdapat dua narasi tentang pernikahan yang sering ditemui dalam kehidupan sehari hari maupun ruang konseling. Narasi pertama adalah narasi romantis, yang sering kali diserap dari drama, sinetron, atau media sosial. Pandangan ini meyakini bahwa pernikahan ada untuk membuat seseorang bahagia, dengan prinsip mencari belahan jiwa dan mengikuti kata hati. Narasi kedua adalah narasi pragmatis, yang biasanya berasal dari budaya keluarga atau lingkungan. Pandangan ini berfokus pada pencarian pasangan yang mapan, disetujui orang tua, dan memiliki latar belakang yang baik demi masa depan keturunan. Pasangan dilihat murni sebagai rekan dalam proyek membangun keluarga. Menariknya, tidak satu pun dari kedua narasi ini yang memandang pasangan sebagai sahabat.

Padahal, Alkitab menunjukkan konsep persahabatan ini dengan sangat jelas. Dalam Kidung Agung 5:16, tertulis sebuah pengakuan: “Demikianlah kekasihku, demikianlah temanku, hai putri putri Yerusalem.” Sangat menarik bahwa di dalam kitab yang paling romantis dan penuh bahasa cinta di Alkitab ini, justru ditemukan kata sahabat.

Untuk memahami maknanya, kita perlu melihat konteksnya. Dalam Kidung Agung 4, suasana digambarkan sangat puitis dan penuh cinta layaknya masa bulan madu. Namun, suasana berubah drastis di Kidung Agung 5. Pada suatu malam, sang suami pulang dengan kepala basah oleh embun setelah lama berdiri di luar. Ia mengetuk pintu dan memanggil istrinya dengan lembut. Namun, sang istri enggan membukakan pintu dengan alasan sudah bersiap tidur dan lelah. Ketika akhirnya sang istri membuka pintu, suaminya sudah pergi.

Di tengah kepanikan mencari suaminya, putri putri Yerusalem bertanya tentang apa keistimewaan pria tersebut dibandingkan kekasih yang lain. Sang istri kemudian memberikan pujian luar biasa tentang sosok suaminya, lalu menutupnya dengan kalimat: “Demikianlah kekasihku, demikianlah temanku.” Kalimat ini diucapkan bukan di tengah suasana bulan madu, melainkan setelah sebuah malam yang renggang. Saat ia harus menjelaskan siapa suaminya, kata terakhir yang ia pilih bukan hanya kekasih, melainkan teman. Menariknya lagi, sang suami juga menyapa istrinya dengan sebutan manisku berulang kali, yang akar katanya memiliki makna literal teman atau sahabat. Jadi, suami dan istri ini saling memanggil dengan sebutan yang sama.

Konsep ini menantang narasi romantis yang selama ini kita kenal. Alkitab tidak mempertentangkan gairah dan persahabatan, karena romansa yang sehat justru tumbuh di atas persahabatan. Bahkan ketika cinta sedang diuji, persahabatanlah yang membuat sang istri bangkit mencari suaminya.

Dari kebenaran ini, terdapat tiga implikasi penting:

Pertama, pasangan bukan hanya seseorang yang kita inginkan, tetapi seseorang yang kita nikmati kehadirannya. Gairah fisik memang penting, tetapi kita juga harus menikmati percakapan dan kebersamaan dengannya.

Kedua, keintiman bukan hanya soal kedekatan fisik, melainkan juga kedekatan emosional. Pernikahan adalah tentang berbagi cerita dan pergumulan, bukan sekadar berbagi tempat tidur atau bertanya tentang jadwal makan.

Ketiga, cinta yang dewasa terus belajar mengasihi ketika realitas pasangan tidak sesuai dengan ekspektasi. Setelah menikah, kebiasaan yang dahulu terasa lucu mungkin berubah menjadi menjengkelkan, namun cinta sejati akan terus belajar menerimanya.

Nasihat ini sangat aplikatif bagi berbagai tahapan kehidupan. Bagi yang masih lajang, belajarlah memilih pasangan lebih dari sekadar berbekal ketertarikan fisik. Carilah seseorang yang membuat Anda merasa diterima, bisa diajak berbicara jujur tentang kelemahan, dan menjadi sahabat untuk bertumbuh bersama. Bagi yang sudah menikah, jadilah sahabat bagi pasanganmu dan teruslah mengenalnya. Jangan sampai Anda hanya hafal jadwal hariannya tetapi sama sekali tidak mengetahui isi hatinya. Dan bagi yang sedang bergumul dalam pernikahan, berhentilah sekadar mengejar perasaan masa lalu. Ingatlah bahwa romansa mungkin membuat kita jatuh cinta, tetapi persahabatanlah yang menolong kita terus berjalan bersama.

Rancangan persahabatan ini sebenarnya sudah ada sejak awal penciptaan. Dalam Kejadian 2:18, Tuhan berfirman, “Tidak baik kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya yang sepadan dengan dia.” Untuk pertama kalinya Tuhan menyatakan ada sesuatu yang tidak baik, dan itu terjadi bukan karena dosa, melainkan karena kesendirian. Kata penolong di sini merujuk pada sosok yang setara, yang bisa dipandang mata dengan mata. Allah tidak memberikan tenaga kerja tambahan untuk mengurus taman, melainkan menghadirkan seorang teman hidup. Hal ini menegaskan bahwa dalam pernikahan, kita tidak hanya bekerja sama menjalani kehidupan, tetapi juga perlu menikmati kehidupan bersama sebagai sahabat.

Joel Beeke dalam bukunya menuliskan sebuah pengakuan indah bahwa persahabatan yang erat dalam pernikahan adalah anugerah terbesar di dalam hidup, bahkan jauh lebih berharga daripada seluruh pelayanannya. Hal ini meninggalkan sebuah pertanyaan reflektif: apa yang sebenarnya kita cari dalam pernikahan? Sekadar teman serumah atau sahabat sehidup?Tolok ukurnya bisa dilihat dari seberapa banyak waktu yang kita habiskan untuk membicarakan isi hati dan pergumulan, alih alih sekadar membahas urusan anak, uang, atau jadwal.

Namun, mewujudkan hal ini tentu tidak mudah. Jawabannya ada dalam Kejadian 3, yaitu karena dosa asal. Karena dosa, masalah utama dalam pernikahan bukanlah sekadar perbedaan karakter, melainkan hati yang berpusat pada diri sendiri. Setelah jatuh ke dalam dosa, Adam yang sebelumnya setara dan berhadapan muka dengan Hawa, justru berbalik menyalahkan istrinya di hadapan Tuhan. Posisi yang tadinya saling berhadapan seolah berubah menjadi saling membelakangi.

Meskipun Tuhan memberikan pengharapan penebusan dalam Kejadian 3:15, realitasnya dosa telah merusak ikatan persahabatan antara laki laki dan perempuan. Itulah sebabnya, persahabatan dalam pernikahan tidak akan pernah bisa tumbuh dengan sendirinya; persahabatan itu harus selalu dirawat dan diusahakan.

 

PERSAHABATAN YANG DIRAWAT

Memasuki poin kedua, kita akan membahas tentang persahabatan yang dirawat. Mengacu pada Efesus 5:28-30, Rasul Paulus mengulang kata mengasihi sebanyak tiga kali, seolah olah sedang mengetuk hati jemaat secara berulang. Penggunaan kata harus dalam ayat ini pada bahasa aslinya sering digunakan untuk urusan utang, yang menyiratkan bahwa mengasihi pasangan adalah utang yang tidak pernah lunas. Kita tidak akan pernah selesai mengasihi pasangan, karena kita pun tidak pernah berhenti menerima kasih Yesus.

Lebih lanjut, perintah untuk mengasihi pasangan sama seperti tubuhnya sendiri merupakan gema dari Imamat 19 tentang mengasihi sesama manusia. Menariknya, kata sesama memiliki akar kata yang sama dengan temanku dalam Kidung Agung 5:16. Ini menegaskan bahwa pasangan adalah sesamamu dan sahabatmu yang paling dekat. Oleh karena itu, kita dipanggil untuk memperlakukan pasangan bukan sebagai alat pemenuh kebutuhan, melainkan sebagai pribadi yang kebaikan dan kesejahteraannya perlu selalu diperhatikan.

Cara mempraktikkannya dijelaskan dalam ayat 29 melalui kata mengasuh yang berarti memberi makan supaya bertumbuh (seperti peran ayah dalam Efesus 6:4), dan merawati yang berarti memberi kehangatan (seperti peran ibu dalam 1 Tesalonika 2:7). Hal ini menunjukkan bahwa kasih dalam pernikahan bukan hanya tentang bertahan bersama, tetapi juga menolong pasangan bertumbuh. Pola persahabatan ini meneladani Kristus yang tidak hanya berkorban satu kali, tetapi terus memelihara jemaat Nya agar bertumbuh dalam kekudusan. Sebagai pasangan, kita dipanggil untuk mencerminkan kasih Kristus dengan menolong pasangan kita menjadi makin serupa dengan Nya.

Dalam realitas sehari hari, merawat persahabatan ini sering kali memudar. Saat masa pacaran, seseorang rela menembus kemacetan berjam jam atau mengobrol lewat telepon sampai tertidur. Namun setelah bertahun tahun menikah, percakapan sering kali menyusut menjadi sekadar urusan rutinitas rumah tangga seperti jadwal makan atau membeli air galon. Jika dibiarkan tanpa disadari, suami istri bisa hidup masing masing dan kehilangan persahabatan mereka. Persahabatan tidak bisa bertahan dan bertumbuh dengan sendirinya tanpa usaha sengaja untuk merawatnya.

Banyak orang menunda merawat pernikahan dengan alasan menunggu keuangan mapan atau anak anak besar. Padahal, waktu yang ideal itu sering kali tidak pernah datang. Kita harus merawat persahabatan itu sekarang. Sebagai langkah praktis, sediakan waktu khusus berdua secara rutin setiap minggu tanpa gangguan gawai maupun anak anak. Ingatlah bahwa bertambah tua itu pasti, tetapi bertambah dekat tidak. Hadiah terbaik yang bisa diberikan orang tua kepada anak anak bukanlah barang mahal atau les berlimpah, melainkan teladan saat mereka melihat ayah dan ibunya bersahabat erat.

Richard Baxter dalam tulisannya memaparkan keindahan memiliki sahabat sejati yang dapat memikul beban bersama. Dari pandangan ini, terdapat empat dimensi persahabatan dalam pernikahan yang perlu dihidupi secara nyata:

1. Berbagi hati: Memiliki keterbukaan untuk membagikan pikiran, perasaan, kelelahan, dan pergumulan hidup sehari hari.

2. Berbagi sukacita: Melakukan hal hal yang dinikmati bersama sama, seperti berolahraga atau sekadar tertawa bersama.

3. Berbagi kehadiran: Sengaja menyediakan waktu dan perhatian penuh untuk saling mendengarkan.

4. Berbagi iman: Mendiskusikan firman Tuhan, berdoa bersama, dan saling mengingatkan kebenaran Injil. Sebuah kebiasaan baik yang bisa ditiru adalah saling bertanya tentang berkat firman dan pertobatan apa yang didapatkan sehabis mengikuti ibadah gereja.

 

Keempat hal ini sangat indah jika bisa diterapkan secara konsisten. Namun, kita harus menyadari bahwa mempraktikkan persahabatan yang sedemikian rupa tidak akan pernah lepas dari berbagai tantangan. Hal inilah yang membawa kita pada poin ketiga, yaitu persahabatan yang diuji.

 

PERSAHABATAN YANG DIUJI

Memasuki poin ketiga, kita dihadapkan pada realitas tentang persahabatan yang diuji. Dalam Amsal 18:24, dikontraskan dua jenis relasi. Kategori pertama adalah teman yang mendatangkan kecelakaan. Di era media sosial saat ini, kita mungkin memiliki ratusan hingga ribuan teman atau pengikut, tetapi sangat sedikit yang benar benar menjadi sahabat. Relasi semacam ini sangat banyak dan ramai, namun sangat dangkal serta bisa menghancurkan.

Kategori kedua adalah sahabat yang lebih karib daripada seorang saudara. Kata sahabat di sini bermakna orang yang mengasihi, sedangkan kata lebih karib menggunakan istilah Ibrani dabaq yang berarti melekat atau berpaut. Menariknya, kata yang sama persis digunakan dalam Kejadian 2:24 saat menjelaskan laki laki yang bersatu dan melekat dengan istrinya, serta digunakan saat Rut menunjukkan kesetiaannya yang berpaut pada Naomi. Melalui hal ini, penulis Amsal sesungguhnya sedang melukiskan sahabat sejati dengan menggunakan bahasa pernikahan. Prinsip ini selaras dengan Amsal 17:17 yang menegaskan bahwa seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu dan menjadi saudara dalam kesukaran.

Sebuah kisah nyata dari Robertson McQuilkin, mantan rektor Columbia Bible College, memberikan gambaran indah mengenai kasih yang melekat ini. Ketika berada di puncak karier akademiknya, sang istri, Muriel, didiagnosis menderita Alzheimer yang merenggut ingatan dan kemampuan bicaranya. Namun, Muriel akan selalu gelisah dan berjalan mencari suaminya hingga kakinya berdarah jika suaminya tidak ada. Pada tahun 1990, Robertson mengambil keputusan yang bagi banyak orang tidak masuk akal: ia mengundurkan diri dari jabatannya demi merawat sang istri sepenuh waktu. Ia mengingat kembali janjinya 42 tahun silam di hadapan Tuhan, dan merasa bahwa kesetiaan istrinya merawat dirinya selama puluhan tahun adalah utang kasih yang tidak akan pernah selesai ia bayar, sekalipun ia harus merawatnya 40 tahun lagi. Inilah wujud nyata sahabat yang tetap melekat sekalipun tidak ada lagi yang bisa ia dapatkan dari pasangannya. Yang tersisa hanyalah persahabatan perjanjian, dan itu sudah cukup kuat.

Dalam kehidupan sehari hari, saat pasangan tidak bisa memberikan apa apa, persahabatan kita akan diuji oleh dua godaan besar. Godaan pertama adalah teman yang mendatangkan kecelakaan, yaitu ketika relasi dari luar perlahan lahan menyusup masuk ke lingkaran terdalam pernikahan. Tes sederhananya: apakah Anda merasa perlu menghapus sebuah percakapan sebelum pasangan melihat gawai Anda? Jika ada rasa tidak nyaman saat pasangan membacanya, itu adalah tanda bahaya. Godaan kedua justru sebaliknya, yaitu menuntut terlalu banyak dari pasangan. Kita terbuai narasi romantis lalu menjadikan pasangan sebagai sumber kebahagiaan dan juru selamat kita. Padahal, persahabatan dalam pernikahan adalah anugerah Allah, yang tidak boleh menggantikan posisi Sang Pemberi. Pesan ini juga krusial bagi yang masih lajang: hidup Anda tidak tertunda sampai Anda menikah, karena hidup Anda sudah utuh di dalam Kristus.

Saat merenungkan standar ini, sering kali muncul respons keliru berupa kesombongan rohani atau justru rasa frustrasi karena merasa gagal. Jika kita jujur pada diri sendiri, karena dosa, kita semua adalah sahabat yang gagal. Kita sering mulai menghitung hitung pengorbanan, mengeluarkan kata kata kasar, dan mudah menjauh. Karena itu, yang kita butuhkan hari ini bukanlah sekadar nasihat pernikahan, melainkan kabar baik Injil. Semua teks firman Tuhan tadi sesungguhnya bermuara pada satu Pribadi: Yesus, sahabat yang lebih karib daripada seorang saudara.

Jika dalam Kidung Agung 5 sang kekasih pergi ketika pintunya tidak dibukakan, Yesus justru memberikan respons berbeda. Dalam Wahyu 3:20, Ia berfirman kepada jemaat Laodikia yang suam suam kuku: "Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetuk." Sang Mempelai Sejati tidak pernah pergi. Ia rela meninggalkan surga untuk mengetuk pintu hati orang orang yang berulang kali menutup pintu bagi Nya, demi bisa masuk dan makan bersama sama, sebuah lambang persahabatan yang intim. Namun sebagai balasan, Yesus justru dibiarkan sendirian. Seperti dicatat dalam Markus 14:50, semua murid Nya meninggalkan Nya. Bahkan di kayu salib, Ia menanggung kesendirian terdalam saat ditinggalkan oleh Bapa demi memikul murka dosa kita. Yesus menanggung kesendirian itu supaya kita tidak pernah lagi seorang diri, menggenapi janji Nya dalam Ibrani 13:5.

Di kayu salib, Kristus telah melunasi utang dosa kita (Kolose 2:14). Dengan lunasnya utang tersebut, satu satunya utang yang tersisa bagi kita adalah utang untuk saling mengasihi, seperti tertulis dalam Roma 13:8 dan Imamat 19:18. Hari ini kita mengasihi pasangan bukan demi melunasi utang kepada Allah, melainkan karena utang kita sudah lebih dahulu dilunasi oleh Kristus. Yesus adalah teladan sahabat sejati yang melekat. Dalam Yohanes 15:13-15, Ia menyebut kita sahabat, bukan hamba. Ia setia dan memberikan nyawa Nya justru ketika kita masih berdosa dan tidak bisa memberikan apa apa kepada Nya (Roma 5). Ia bahkan tidak malu menyebut kita saudara (Ibrani 2:11).

Singkatnya, Yesus adalah Mempelai Sejati yang terus mengetuk, Adam terakhir yang ditinggalkan agar kita tidak sendirian, Penebus yang membebaskan kita untuk mengasihi, dan Sahabat Sejati yang melekat tanpa syarat. Pernikahan kita di dunia hanyalah cerminan dari kisah agung ini, sebuah pemenuhan janji Allah sejak Kejadian 3:15. Seperti yang dikatakan Timothy Keller, dikenal sepenuhnya dan sungguh sungguh dikasihi membebaskan kita dari kepura puraan dan menguatkan kita menghadapi kesulitan.

Dari kebenaran Injil ini, terdapat tiga implikasi nyata:

Pertama, pada persahabatan yang dirancang, kita dimampukan untuk berhenti memperlakukan pasangan sekadar sebagai pemuas perasaan atau rekan proyek, melainkan menerima mereka sepenuhnya sebagai sahabat yang setara.

Kedua, pada persahabatan yang dirawat, kita kini mengasihi dari kepenuhan kasih Kristus, bukan dari kekurangan. Kita bisa memberi tanpa menghitung hitung dan mengampuni karena sudah lebih dahulu diampuni.

Ketiga, pada persahabatan yang diuji, kita dimampukan untuk bertahan saat pasangan tidak bisa memberi apa apa, sekaligus membebaskan pasangan dari tuntutan mustahil untuk menjadi juru selamat kita.

 

 

PERTANYAAN REFLEKTIF 1. PERSAHABATAN YANG DIRANCANG

 

● Narasi mana yang paling membentuk cara saya memandang pasangan: narasi romantis, narasi pragmatis, atau Firman Tuhan?

● Apakah saya menikmati pasangan saya sebagai sahabat, atau hanya membutuhkannya untuk perasaan atau urusan saya?

 

Bagi yang single: apa yang sebenarnya saya cari dalam diri seorang calon pasangan: debaran hati, kemapanan, atau seorang sahabat untuk bertumbuh dalam iman?

 

 

PERTANYAAN REFLEKTIF 2. PERSAHABATAN YANG DIRAWAT

 

● Di bagian mana saya mulai "menghitung utang" dalam pernikahan saya?

● Satu langkah konkret apa yang akan saya lakukan minggu ini untuk "memberi makan" dan "menghangatkan" persahabatan kami?

 

Bagi yang single: persahabatan mana yang sedang Tuhan percayakan untuk saya rawat dengan setia hari ini?

 

 

PERTANYAAN REFLEKTIF 3. PERSAHABATAN YANG DIUJI

 

● Adakah relasi yang perlahan bergeser ke lingkaran tengah, yang akan membuat saya tidak nyaman jika pasangan saya mengetahuinya?

● Apa yang sedang saya tuntut dari pasangan, yang sebenarnya hanya dapat diberikan oleh Kristus?

 

Bagi yang single: apakah saya sedang menunggu pernikahan untuk "melengkapi" hidup saya, padahal hidup saya sudah utuh di dalam Kristus?