The Love We Long For – Week 1
“Why Love is So Hard”
Ps. Lius Erik

Hari ini kita memulai seri khotbah baru berjudul The Love We Long For. Selama beberapa minggu ke depan, kita akan membahas topik seputar pernikahan, keluarga, masa lajang, relasi, dan terutama bagaimana Injil membentuk cara kita memahami semua hal tersebut.
Bagi Anda yang lajang, pernah bercerai, kehilangan pasangan, atau sedang terluka dalam sebuah relasi, firman Tuhan dalam seri ini berbicara kepada kita semua di musim hidup apa pun. Di balik semua pembicaraan tentang pernikahan dan relasi, kita sebenarnya sedang membahas satu hal utama, yaitu hati manusia. Kita akan merenungkan bagaimana kita mengasihi, mengapa kasih yang awalnya indah bisa berubah menjadi tuntutan, dan mengapa orang terdekat justru sering menjadi sasaran luka. Pernikahan mungkin menjadi salah satu sudut pandangnya, tetapi kasih Kristus tetap menjadi poros utamanya.
BACAAN: Efesus 5:18-21
5:18 Dan janganlah kamu mabuk oleh anggur, karena anggur menimbulkan hawa nafsu, tetapi hendaklah kamu penuh dengan Roh,
5:19 dan berkata-katalah seorang kepada yang lain dalam mazmur, kidung puji-pujian dan nyanyian rohani. Bernyanyi dan bersoraklah bagi Tuhan dengan segenap hati.
5:20 Ucaplah syukur senantiasa atas segala sesuatu dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus kepada Allah dan Bapa kita
5:21 dan rendahkanlah dirimu seorang kepada yang lain di dalam takut akan Kristus.

Beberapa tahun lalu, ada sebuah kisah unik di Amerika Serikat tentang seorang kakek berusia 70 tahun bernama Lawrence Ripple yang merampok bank sendirian. Ia mendatangi teller, memberikan kertas berisi ancaman bahwa ia membawa senjata, dan meminta uang. Teller yang ketakutan akhirnya memberikan uang sebesar tiga ribu dolar. Anehnya, Lawrence tidak melarikan diri. Ia justru duduk manis di lobi bank dan sengaja menunggu polisi menangkapnya. Alasannya sangat mengejutkan, ia sengaja ingin ditangkap karena ia lebih memilih masuk penjara daripada harus tinggal bersama istri yang sudah dinikahinya selama 32 tahun. Pertengkaran di antara mereka tampaknya membuat ia sangat gerah dan mengambil keputusan nekat tersebut.
Kisah ironis ini mungkin membuat kita tertawa atau heran, tetapi faktanya, ini hanyalah satu dari sekian banyak contoh relasi yang bermasalah. Kita sering melihat pernikahan yang dimulai dengan janji setia berujung pada konflik, perselingkuhan, hingga perceraian. Saat menikah, kita mengucapkan janji indah di depan altar untuk saling mengasihi dalam suka, duka, sehat, sakit, kaya, maupun miskin sampai maut memisahkan. Ironisnya, kepada orang yang pernah kita janjikan kasih sebesar itu, kita justru sering mengeluarkan kata-kata yang tajam.
Masalah ini tidak hanya terjadi pada suami istri. Dalam keluarga, relasi orang tua dan anak bisa semakin menjauh hingga tidak saling bicara. Orang tua bisa menyakiti anak lewat perkataannya, dan anak bisa menyimpan luka bertahun-tahun. Saudara kandung bisa bermusuhan karena harta warisan, dan persahabatan erat bisa hancur berantakan. Pertanyaannya, mengapa orang yang paling dekat dan paling kita kasihi justru menjadi orang yang paling mudah kita lukai?
Biasanya kita menyalahkan perbedaan karakter, cara komunikasi, latar belakang, atau ekspektasi. Hal hal itu memang bisa menjadi bagian dari masalah, tetapi Alkitab membawa kita pada akar yang lebih dalam. Masalah terbesar dalam relasi bukanlah apa yang terjadi di antara kita, melainkan apa yang terjadi di dalam hati kita, dan akar terdalamnya adalah dosa. Dosa membuat manusia menggeser posisi Tuhan dan menjadikan diri sendiri sebagai pusat. Inilah yang disebut kehidupan yang berpusat pada diri sendiri.
John MacArthur menjelaskan bahwa kehidupan yang berpusat pada diri sendiri selalu berjuang untuk berada di puncak dan menjatuhkan orang lain dengan kesombongan. Semua hal harus tentang diri sendiri, diprioritaskan, dan dimengerti. Ketika hidup mulai berpusat pada diri sendiri, kita berhenti bertanya tentang bagaimana cara mengasihi dan mulai menuntut apa yang bisa diberikan orang lain kepada kita. Timothy Keller dalam bukunya The Meaning of Marriage juga menegaskan bahwa kehidupan yang berpusat pada diri sendiri adalah perusak banyak pernikahan sekaligus musuh utama yang selalu ada di dalam setiap relasi.
Akibatnya, pernikahan dan keluarga yang seharusnya menjadi tempat paling aman justru berubah menjadi tempat di mana kita saling melukai. Pola ini sudah ada sejak zaman Adam dan Hawa. Ketika mereka memilih untuk bebas dan tidak tunduk kepada Tuhan, segalanya hancur. Relasi dengan Tuhan dan sesama menjadi rusak. Adam menyalahkan Hawa, dan Hawa menyalahkan ular. Tidak ada yang berani bertanggung jawab, dan semua sibuk mencari siapa yang bisa disalahkan.
Berikut adalah teks dengan sudut pandang orang pertama menggunakan kata "saya":

Kecenderungan menempatkan diri sebagai pusat ini juga saya alami di dalam pernikahan saya. Sebelum menikah, saya sangat mengagumi ketegasan istri saya yang merupakan seorang wanita tangguh. Saya sendiri adalah sosok yang pendiam dan orang rumahan. Saat melihat istri saya berkhotbah dengan penuh keyakinan, saya merasa sangat kagum. Namun, sesuatu yang ajaib terjadi setelah kami menikah. Kekaguman itu berubah menjadi pertanyaan. Ketegasan yang dulu saya puji justru mulai mengganggu saya. Saya merasa tersinggung, tidak dihormati, dan tidak dihargai saat istri saya berbicara dengan nada tertentu. Tuhan akhirnya menyadarkan saya bahwamasalah utamanya ada pada ego dan kebutuhan diri saya sendiri untuk dihargai. Pernikahan tidak menciptakan sifat egois itu, melainkan justru menyingkapnya.
Semakin dekat kita dengan seseorang, semakin terlihat jelas apa yang sebenarnya ada di dalam hati kita dan siapa yang sedang menjadi pusat di hidup kita. Lalu, bagaimana kita bisa belajar mengasihi dengan cara yang benar? Rasul Paulus memberikan arahan yang sangat berlawanan dengan kecenderungan hati manusia. Dalam Efesus 5:21, Paulus memerintahkan, Rendahkanlah dirimu seorang kepada yang lain di dalam takut akan Kristus.
Ini adalah kebalikan mutlak dari sifat egois yang selalu ingin berada di atas dan diutamakan. Lalu, bagaimana mungkin hati yang selalu ingin menjadi pusat ini bisa belajar merendahkan diri? Jawabannya ada pada beberapa ayat sebelumnya. Dalam Efesus 5:18, Paulus menegaskan agar kita tidak mabuk oleh anggur yang menimbulkan hawa nafsu, melainkan hendaklah kita penuh dengan Roh. Kesimpulannya, persoalan relasi ternyata bukan hanya tentang bagaimana kita harus hidup, tetapi siapa yang sedang memegang kendali atas hidup kita.

SIAPA YANG SEDANG MEMEGANG KENDALI HIDUP KITA?
Jika membaca Efesus 5:18 secara sekilas, kita mungkin bertanya mengapa Rasul Paulus tiba tiba membahas hal mabuk oleh anggur dan kepenuhan Roh. Untuk memahaminya, kita perlu melihat alur dari surat Efesus secara keseluruhan. Dalam Efesus 1-3, Paulus menjelaskan status dan identitas kita di dalam Kristus, yaitu bagaimana Allah telah memilih, mengangkat kita menjadi anak, menebus, mengampuni, serta menyelamatkan kita oleh kasih karunia.
Selanjutnya, dalam Efesus 4-6, Paulus beralih pada ranah tindakan dan perilaku. Ia menunjukkan bagaimana identitas yang telah diterima di dalam Kristus seharusnya terlihat dalam cara hidup sehari hari. Perbuatan Kristus bagi kita menjadi dasar utama dalam menjalani kehidupan. Paulus berulang kali memperbandingkan hidup lama di luar Kristus dengan hidup baru di dalam Kristus, seperti meninggalkan dusta untuk berkata benar, mengganti kepahitan dan kemarahan dengan pengampunan, serta melangkah sebagai anak anak terang.
Perubahan hidup tersebut kemudian dibawa Paulus ke ranah yang paling dekat dengan keseharian kita, yaitu lingkungan rumah tangga. Setelah Efesus 5:21, Paulus mulai menguraikan secara spesifik tentang relasi antara suami dan istri, serta anak dan orang tua. Hal ini menegaskan bahwa Injil tidak hanya mengubah identitas diri kita, tetapi juga mengubah cara kita menjalankan peran dalam relasi terdekat.
Lalu, mengapa Paulus membandingkan situasi mabuk anggur dengan kepenuhan Roh? Paulus sedang menunjukkan sebuah kontras yang jelas tentang apa yang mempengaruhi dan mengarahkan kehidupan seseorang. Pada masa itu, masyarakat Efesus hidup di tengah budaya Yunani dan Romawi yang kental dengan penyembahan berhala, termasuk penyembahan kepada Dewa Bakus yang identik dengan anggur dan pesta pora. Mereka percaya bahwa kondisi mabuk dapat membawa mereka mengalami kedekatan dengan dewa tersebut. Gambaran ini sangat relevan bagi jemaat Efesus yang sebagian besar memiliki latar belakang kehidupan tersebut.
Ketika seseorang mabuk, terjadi perubahan perilaku dalam dirinya. Orang yang pendiam bisa menjadi banyak bicara, yang pemalu menjadi sangat percaya diri, dan yang penakut merasa menjadi jagoan. Orang mabuk mungkin merasa sedang menikmati kebebasan, padahal ia justru sedang kehilangan kendali karena alkohol mengambil alih cara berpikir, berkata kata, dan bertindak yang akhirnya merusak kehidupan. Karena itulah Paulus menegaskan agar jemaat tidak mabuk oleh anggur, melainkan hendaklah penuh dengan Roh. Fokus Paulus bukan sekadar pada apa yang diminum, melainkan pada apa yang menguasai dan memberi arah bagi hidup seseorang.
Istilah dipenuhi oleh Roh sering kali dibayangkan sebagai pengalaman rohani yang spektakuler atau sangat emosional. Namun, dalam konteks ini, Paulus sebenarnya sedang berbicara tentang kehidupan praktis sehari hari sebagai orang percaya. Kata ‘penuh’ berarti sesuatu yang memenuhi pikiran seseorang hingga mengambil alih dan memberikan pengaruh yang sangat kuat atas hidupnya.
Secara tata bahasa Yunani, kata yang digunakan adalah plēroō yang berbentuk present, pasif, dan imperatif. Formasi present menunjukkan bahwa kepenuhan ini harus terjadi sekarang dan terus berlangsung secara berkesinambungan, bukan sekadar pengalaman masa lalu. Formasi pasifmenandakan bahwa kepenuhan ini bukan hasil kekuatan diri sendiri, melainkan hasil karya Roh Kudus yang memenuhi dan memimpin. Sementara itu, formasi imperatif menegaskan bahwa ini adalah perintah wajib bagi setiap orang percaya, bukan pilihan bagi sebagian orang saja.
Meskipun bersifat pasif, bukan berarti manusia pasif tanpa tindakan. Bagian kita adalah menyerahkan diri pada pekerjaan Roh Kudus, membuka diri terhadap firman Nya, serta berjalan dalam ketaatan pada pimpinan Nya. Sebagaimana disampaikan oleh John MacArthur, dipenuhi Roh Kudus berarti dipenuhi oleh firman Nya. Ketika firman Allah memenuhi dan mengendalikan pikiran serta tindakan kita, hidup kita secara otomatis berada di bawah kendali Roh Kudus.
Kepenuhan Roh tidak pernah terpisah dari firman Allah, dan bukan pula sekadar menimbun pengetahuan firman. Roh Kudus bekerja melalui firman untuk membentuk hati dan mengarahkan hidup kita kepada satu pribadi utama, yaitu Kristus. Roh Kudus membukakan mata hati kita untuk melihat siapa Kristus dan apa yang telah dilakukan Nya. Oleh karena itu, dipenuhi oleh Roh berarti seluruh hidup, pikiran, hati, kehendak, dan tindakan kita terus menerus dibentuk serta dipimpin oleh Roh Kudus melalui firman Nya dengan Kristus sebagai pusatnya. Pertanyaan utamanya bukanlah seberapa banyak Roh Kudus di dalam diri kita, melainkan sejauh mana hidup kita sungguh berada di bawah pimpinan Roh Kudus.

SEJAUH MANA HIDUP KITA SUNGGUH BERADA DI BAWAH PIMPINAN ROH KUDUS?
Algoritma di dalam telepon genggam dirancang dengan sangat canggih hingga mampu memahami hal yang paling disukai penggunanya. Ketika saya membuka telepon genggam, konten yang sering muncul berupa makanan tidak sehat dari masa kecil, mainan jadul, lagu nostalgia tahun 90 an, hingga tayangan bola basket era 90 an. Semua itu muncul karena paling sering saya lihat. Lama kelamaan, algoritma belajar dan mengenali kesukaan saya, bahkan seolah lebih mengenal saya dibanding pasangan sendiri.
Demikian pula dengan hati manusia. Apa yang terus kita beri ruang, kita pikirkan, dan kita nikmati secara perlahan akan membentuk cara kita melihat serta menjalani hidup. Gambaran ini membantu kita memahami bahwa kehidupan yang dipenuhi Roh adalah kehidupan yang semakin dibentuk dan diarahkan oleh Roh Kudus. Singkatnya, penuh dengan Roh berarti hidup di bawah pengaruh Nya dan berjalan di bawah pimpinan Nya.
Saat ini mungkin bukan anggur yang menguasai hidup kita, melainkan hal lain yang perlahan mengambil tempat di hati, seperti keinginan untuk dihormati, berhasil, diterima, atau mencari kenyamanan. Dalam sebuah relasi, hal itu bisa berupa keinginan untuk selalu dimengerti, dihargai, dan diperlakukan sesuai keinginan pribadi. Tanpa disadari, semua hal tersebut mulai memegang kendali atas hidup.
Ketika pasangan mengecewakan, orang tua tidak memberi teladan, atau diri sendiri merasa tidak dihargai, siapakah yang sebenarnya memimpin respons hati kita? Saat relasi bermasalah, doa favorit yang sering diucapkan adalah meminta Tuhan mengubah hati pasangan atau orang lain. Mereka mungkin memang perlu berubah, tetapi instruksi Paulus dalam Efesus 5:18 menegaskan agar kita sendiri yang penuh dengan Roh. Bukan orang lain, melainkan kita yang perlu diubahkan terlebih dahulu. Kita memang tidak bisa mengubah hati orang lain, tetapi kita bisa menyerahkan hati sendiri kepada pekerjaan Roh Kudus untuk diubahkan. Kita membutuhkan Roh Kudus terutama untuk mengasihi dengan benar setiap hari.
Jika Roh Kudus sungguh memenuhi dan memimpin hidup, hasilnya akan terlihat nyata karena pihak yang memegang kendali menentukan arah hidup seseorang. Paulus menunjukkan gambaran kehidupan yang dipenuhi Roh dalam Efesus 5:19-21. Di sana terlihat adanya hati yang diarahkan kepada Tuhan dalam penyembahan, hati yang merespons Tuhan dengan ucapan syukur, serta hati yang diarahkan kepada sesama dalam kerendahan hati. Kepenuhan Roh bukan sekadar pengalaman rohani yang dirasakan, melainkan membentuk cara kita menyembah, melihat hidup, dan memperlakukan orang lain.
Prinsip ini sangat selaras dengan surat Paulus kepada jemaat Kolose. Jika dalam Efesus dikatakan penuhlah dengan Roh, maka dalam Kolose disampaikan agar perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya di antara kamu. Hal ini menunjukkan bahwa pekerjaan Roh Kudus tidak pernah terpisah dari kebenaran tentang Kristus. Roh Kudus membawa kebenaran tersebut semakin dalam ke dalam hati, hingga Kristus bukan hanya diketahui tetapi menjadi pribadi yang dinikmati.
Timothy Keller menggambarkan bahwa salah satu pekerjaan Roh Kudus adalah membuat kebenaran tentang Kristus di kepala menjadi nyata di hati, hingga tercipta musik batin di dalam jiwa. Sumber sukacita sejati bukanlah keadaan yang berubah, melainkan Kristus dan kasih karunia Nya yang tidak pernah berubah. Ketika Kristus semakin nyata di hati, kita memiliki alasan untuk menyembah. Ketika kasih karunia Nya disadari, hati memiliki alasan untuk bersyukur di tengah keadaan yang tidak selalu baik, karena kita tahu Tuhan tetap baik.
Musik yang memenuhi hati pada akhirnya akan terdengar keluar melalui cara bicara, nada suara, dan respons sehari hari, terutama di hadapan orang orang terdekat. Hal ini mengingatkan pada seekor burung kakak tua peliharaan yang pintar menirukan suara. Burung tersebut tidak hanya menirukan apa yang diajarkan, tetapi menirukan apa yang paling sering didengarnya. Bayangkan jika setiap orang membawa burung kakak tua peliharaan di rumah, apakah yang akan diucapkannya? Apakah ucapan terima kasih dan permohonan maaf, ataukah amarah dan tuntutan?

Orang terdekat seperti pasangan, orang tua, teman, dan terutama anak anak setiap hari mendengar serta menyerap apa yang keluar dari hidup kita. Anak anak belajar tentang pernikahan bukan dari seminar, melainkan dari cara orang tua saling memperlakukan. Mereka belajar tentang relasi, penyelesaian konflik, dan penggunaan otoritas dari apa yang mereka saksikan di rumah. Tanda kehidupan yang dipenuhi Roh terutama terlihat saat kita pulang dan hidup bersama orang orang terdekat. Ketika kasih karunia memenuhi hati, ucapan syukur menggantikan tuntutan dan penyembahan menggantikan keakuan.
Hati yang diarahkan kepada Tuhan akan membawa kehidupan yang dipenuhi Roh masuk ke dalam relasi dengan sesama. Sering kali hal tersulit bukanlah menghadapi orang lain, melainkan melepaskan keinginan untuk selalu menjadi yang utama. Dalam banyak konflik, hal yang dipertahankan sering kali bukanlah pendapat, melainkan ego pribadi.
Paulus menegaskan dalam Efesus 5:21 untuk merendahkan diri seorang kepada yang lain di dalam takut akan Kristus. Di sinilah kepenuhan Roh menjadi nyata. Roh Kudus mengubah cara kita menempatkan diri terhadap sesama, dari ingin selalu menjadi yang utama menjadi rela merendahkan diri dan menghamba. Kata hypotassō yang digunakan bermakna dengan sadar menempatkan diri di bawah suatu tatanan yang telah ditetapkan. Merendahkan diri bukan berarti kehilangan nilai diri, melainkan kerelaan untuk tidak menjadikan diri sebagai yang utama. Pertanyaan kita berubah dari apa yang didapat menjadi bagaimana saya bisa mengasihi dan melayani.
Prinsip ini juga dituliskan kepada jemaat Galatia, bahwa orang percaya dipanggil untuk merdeka, tetapi kemerdekaan itu digunakan untuk melayani satu sama lain oleh kasih. Sebagaimana dinyatakan oleh Martin Luther dalam karyanya, orang Kristen adalah orang yang sungguh bebas namun sekaligus menjadi pelayan bagi semua. Injil membebaskan kita dari kebutuhan untuk selalu menjadikan diri sebagai pusat. Di dalam Kristus kita adalah orang merdeka, namun sekaligus menjadi pelayan bagi semua.
Paulus membawa prinsip ini langsung ke dalam rumah tangga, yaitu pada relasi suami istri serta orang tua dan anak. Dalam relasi terdekat, sering kali muncul dorongan untuk menuntut orang lain mengalah, meminta maaf, atau berubah terlebih dahulu. Hal ini seperti kisah sebuah kapal di malam hari yang melihat cahaya di jalurnya. Kapten kapal memerintahkan agar arah diubah 10 derajat, tetapi pesan balasan meminta sang kapten yang mengubah arah. Kapten yang merasa tidak dihormati menegaskan bahwa ia adalah kapten kapal besar dan menuntut pihak lawan pindah, hingga akhirnya jawaban terakhir datang bahwa cahaya tersebut berasal dari sebuah mercusuar yang tidak mungkin berpindah.
Sikap manusia sering kali seperti kapten kapal tersebut, menuntut orang lain berubah sementara tabrakan semakin dekat karena sibuk membuktikan diri benar. Kehidupan yang dipenuhi Roh membuat seseorang berani bertanya apakah egonya sendiri yang harus ditundukkan. Dalam keluarga, peran setiap anggota memang berbeda. Istri dipanggil untuk tunduk, suami dipanggil mengasihi dan menyerahkan diri, anak dipanggil taat, dan orang tua dipanggil membangun. Namun, semua berangkat dari fondasi yang sama yaitu merendahkan diri seorang kepada yang lain.
Martin Lloyd Jones menyatakan bahwa hanya mereka yang hidupnya dikuasai oleh Roh Kudus yang dapat hidup damai seorang dengan yang lain. Kuasa untuk mengasihi bukan berasal dari kemampuan relasi atau keterampilan komunikasi yang baik, melainkan dari hati yang semakin dipenuhi dan dipimpin oleh Roh Kudus.
APA YANG HARUS KITA LEPASKAN?
Pertanyaannya kemudian, apa yang membuat kita bersedia melepaskan ego, berhenti menjadikan diri sebagai pusat, serta mulai mengasihi dan melayani orang lain?Jawabannya terdapat pada bagian akhir Efesus 5:21, yaitu hanya di dalam takut akan Kristus.
Rasa takut akan Kristus di sini bukanlah ketakutan seorang budak yang takut dihukum, ketakutan yang membuat kita lari menjauh dan bersembunyi dari Tuhan, atau anggapan bahwa Tuhan selalu siap menghukum setiap kali kita berbuat salah. Ketakutan yang dimaksud adalah rasa hormat, kagum, dan takjub ketika melihat siapa Kristus yang sebenarnya. Timothy Keller menjelaskan bahwa takut akan Tuhan terjadi saat hati kita diliputi kekaguman di hadapan kebesaran dan kasih Nya. Kekudusan Nya yang bercahaya dan kasih Nya yang mulia menjadi keindahan yang menggentarkan jiwa.
Ketika Kristus menjadi kecil di dalam hati, ego kita akan membesar. Sebaliknya, ketika Kristus kembali menjadi besar di dalam hati, kebutuhan untuk selalu menjadi yang utama secara perlahan akan memudar. Di sinilah Roh Kudus bekerja. Roh Kudus tidak hanya memerintahkan kita untuk mengasihi seperti Kristus, tetapi terlebih dahulu membuka mata hati kita untuk melihat bagaimana Kristus telah terlebih dahulu mengasihi kita.
Dalam Roma 5:5 tertulis bahwa kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus. Roh Kudus membuat kasih Allah yang telah dinyatakan di dalam Kristus menjadi semakin nyata, dari sekadar pengetahuan di kepala menjadi sesuatu yang diyakini, dinikmati, dan dihidupi. Selanjutnya dalam Roma 5:8 ditegaskan bahwa Allah menunjukkan kasih Nya karena Kristus telah mati untuk kita ketika kita masih berdosa. Kasih Allah tersebut bukanlah hal yang abstrak, melainkan nyata di dalam pribadi Yesus Kristus.
Hal ini selaras dengan ajaran Paulus dalam Efesus 5:1-2, agar kita menjadi penurut penurut Allah sebagai anak anak yang dikasihi dan hidup di dalam kasih sebagaimana Kristus telah mengasihi serta menyerahkan diri Nya bagi kita. Kehidupan seorang Kristen tidak dimulai dari kasih yang harus kita berikan, melainkan dari kasih yang sudah kita terima bahkan ketika kita masih menjadi musuh Allah. Ini adalah magnificent love, sebuah kasih yang sangat besar dan tidak masuk akal.
Yesus tidak sekadar memerintahkan kita merendahkan diri, melainkan Dia terlebih dahulu merendahkan diri Nya. Sebagai Tuhan, Dia datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani, berlutut membasuh kaki murid murid Nya, mendekati yang dijauhi, dan menerima mereka yang ditolak. Puncaknya, Dia merendahkan diri Nya hingga mati di kayu salib. Yesus yang tidak bersalah menanggung hukuman kita yang bersalah, yang layak menerima kemuliaan justru menerima hinaan. Salib menunjukkan bahwa kasih Kristus datang kepada kita justru ketika kita tidak memiliki alasan untuk merasa layak.
Karena Kristus telah terlebih dahulu melayani, memberikan diri Nya, dan merendahkan diri Nya bagi kita, maka kita pun dimampukan untuk melakukan hal yang sama. Kita tidak harus selalu menang untuk merasa berharga, tidak harus selalu dihormati untuk merasa aman, dan tidak harus selalu menjadi pusat untuk merasa penting, karena kita sudah tahu identitas kita sebagai anak yang dikasihi oleh Bapa di dalam Kristus.

Di sinilah kita mulai memahami alasan utama mengapa mengasihi itu begitu sulit (why love is so hard). Sering kali kita menuntut manusia memberikan sesuatu yang hanya sanggup diberikan oleh Kristus, seperti kasih yang sempurna, penerimaan yang utuh, dan rasa aman yang tidak pernah berubah.
Padahal tidak ada seorang pun, baik pasangan, anak, orang tua, maupun relasi apa pun yang mampu menjadi jawaban terdalam bagi jiwa kita. Kristus adalah kekasih sejati bagi jiwa kita (the lover of our soul). Dia mengenal seluruh kebobrokan kita namun tetap mengasihi, melihat dosa dan kegagalan kita namun tidak pernah meninggalkan, bahkan menyerahkan diri Nya bagi kita. Ketika kasih seperti itu memenuhi hati, kita tidak lagi menuntut orang lain menjadi sumber kasih.
Saat ini, mari kita merenungkan beberapa hal penting dalam diri kita masing masing:
● Ketika terluka atau kecewa, siapakah yang sedang memegang kendali atas respons kita, apakah Roh Kudus ataukah ego pribadi?
● Hal apa yang paling banyak mengalir dari hidup kita kepada orang orang terdekat, apakah ucapan syukur dan kasih karunia, ataukah keluhan, tuntutan, dan kritik?
● Dalam relasi manakah Tuhan sedang meminta kita untuk berhenti menunggu orang lain berubah terlebih dahulu, dan mulai menjalankan bagian kita di hadapan Kristus?
Alasan love is so hard bukan hanya karena kita hidup bersama orang orang yang tidak sempurna, tetapi juga karena orang orang tersebut hidup bersama kita yang juga tidak sempurna. Ketika diri sendiri menjadi pusatnya, mengasihi akan terasa sangat sulit. Namun, ketika Kristus yang menjadi pusatnya, kita dimampukan untuk mengasihi.
Sebagai orang berinjil, hendaknya kita mengasihi bukan untuk mendapatkan kasih, melainkan karena kita sudah terlebih dahulu hidup di dalam kasih Kristus. Kita tidak mengandalkan kekuatan diri sendiri untuk mengasihi, melainkan terus belajar hidup dipenuhi dan dipimpin oleh Roh Kudus. Kita juga tidak lagi menjadikan diri sebagai pusat, melainkan mengarahkan hati kepada Kristus sehingga kita belajar bersyukur, merendahkan diri, dan saling melayani satu sama lain.