The Love We Long For – Week 2
“More Than a Feeling : The Beauty of Covenant Love”
Ps. Michael Chrisdion

BACAAN : MALEAKHI 2:13-14
2:13 Dan inilah yang kedua yang kamu lakukan: Kamu menutupi mezbah TUHAN dengan air mata, dengan tangisan dan rintihan, oleh karena Ia tidak lagi berpaling kepada persembahan dan tidak berkenan menerimanya dari tanganmu.
2:14 Dan kamu bertanya: "Oleh karena apa?" Oleh sebab TUHAN telah menjadi saksi antara engkau dan isteri masa mudamu yang kepadanya engkau telah tidak setia, padahal dialah teman sekutumu dan isteri seperjanjianmu.
Mari kita bayangkan suasana di depan altar pada hari pernikahan. Anda mengenakan gaun yang paling indah atau jas yang paling gagah, menggenggam erat tangan pasangan, menatap matanya, dan bersiap mengucapkan janji. Tentu kita mengharapkan kalimat kalimat yang mengharukan. Namun, bayangkan jika janji yang keluar justru bersyarat, seperti berjanji setia hanya selama belum menemukan orang yang lebih cocok, atau berjanji mengasihi hanya selama pasangan membuat Anda bahagia.
Tentu tidak ada yang ingin mengucapkan atau menerima janji semacam itu. Kita semua menginginkan komitmen untuk terus bersama dalam suka maupun duka, waktu sehat maupun sakit, serta dalam keadaan baik maupun buruk. Kita membutuhkan kepastian bahwa kita akan terus didampingi dan diterima meskipun kehidupan sedang tidak berjalan baik.
Namun pada kenyataannya, banyak hubungan tidak berjalan seperti itu. Meskipun janji yang diucapkan berlaku seumur hidup, pasangan sering kali merasa seperti sedang menjalani masa percobaan kerja setiap hari. Jika pasangan menyenangkan, kita bersikap hangat, tetapi jika ia mengecewakan, kita menjadi dingin. Kita mungkin tidak menghukumnya dengan kata kata, melainkan dengan sikap diam dan cuek. Kita menuntut untuk dikasihi saat kita lemah, namun kita sering lupa bertanya pada diri sendiri apakah kita memberikan ruang penerimaan yang sama kepada pasangan kita di saat mereka sedang lemah.
Romansa memang sangat indah dan patut untuk dipelihara. Namun, kehidupan ini tidak selalu romantis karena akan selalu ada cicilan, tagihan, pekerjaan berat, maupun pertengkaran. Pertanyaan pentingnya adalah, bagaimana kasih itu bisa bertahan ketika suasana yang mendukung segala romansa tersebut sudah tidak ada lagi?
Banyak orang menyadari bahwa mereka sebenarnya tidak sungguh sungguh jatuh cinta pada pasangannya, melainkan hanya mencintai perasaan nyaman yang diberikan oleh orang tersebut. Sangat menyedihkan jika cinta kita hanya bergantung pada apa yang bisa kita dapatkan. Bagaimana jika orang yang biasanya selalu ceria itu tiba tiba sedang berduka? Bagaimana jika ia kehilangan pekerjaan sehingga rasa percaya dirinya runtuh? Apakah Anda tetap bisa mengasihi saat semua perasaan bahagia yang biasa Anda dapatkan dari orang itu hilang sepenuhnya?
Sekarang mari kita balik pertanyaannya. Bagaimana jika orang yang berubah itu adalah Anda? Apakah pasangan Anda akan tetap memilih untuk mengasihi Anda jika dia sungguh sungguh mengetahui segala hal di dalam hati Anda?
Di sinilah kita belajar bagaimana kasih harus tetap dihidupi meskipun perasaan romantis itu mungkin sudah hilang. Ada tiga poin utama mengenai covenant ini:
1. Covenant mengikat kasih melalui janji.
2. Covenant memelihara kasih melalui tindakan.
3. Kasih covenant dari Kristus memampukan kita untuk menghidupi kedua hal tersebut.

COVENANT MENGIKAT KASIH MELALUI JANJI
Maleakhi menyebut pernikahan sebagai suatu covenant, dan konsep ikatan ini sebenarnya sudah terlihat sejak penciptaan. Kejadian 2:24 menyatakan, "Sebab itu seorang laki laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya menjadi satu daging." Ada proses melepaskan dan bersatu yang diikat oleh covenant ini.
Jika kita memperhatikan kembali Maleakhi 2:14, ada tiga hal penting tentang covenant ini, yaitu:
1. Tuhan sebagai saksi (witness).
2. Pasangan adalah teman sekutu (companion).
3. Pasangan adalah istri seperjanjian (covenant).
Ternyata, Tuhan tidak hanya melihat seberapa aktif kita beribadah atau melayani di gereja. Ia juga ingin melihat apakah kita memegang teguh janji kita terhadap pasangan hidup kita. Mengapa hal ini penting? Karena covenant antara suami dan istri sebenarnya mencerminkan covenant antara Kristus dan gerejaNya. Saat mengucapkan janji di altar, kita sedang memperagakan Injil. Oleh karena itu, ketidaksetiaan terhadap pasangan berarti kita gagal memahami dan mencerminkan esensi dari covenant yang Tuhan miliki dengan kita.
Jadi, apa definisi covenant atau perjanjian dalam pernikahan? Covenant dalam pernikahan adalah janji di hadapan Allah dan para saksi untuk menghidupi kasih yang setia, eksklusif, dan seumur hidup.
Covenant jauh lebih dari sekadar romansa atau mencintai perasaan nyaman saat bersama pasangan. Ini adalah komitmen mendalam untuk memperlakukan pasangan dengan setia dan penuh kasih, dari hari ini hingga maut memisahkan. Itulah sebabnya covenant memiliki bobot yang besar, janji tersebut dapat diingat, dan tanggung jawab di dalamnya dapat ditagih. Meskipun janji ini tidak otomatis membuat kita mampu dan kita tetap membutuhkan pertolongan Tuhan, covenant memberikan arah yang jelas bagi kehidupan bersama.
Perbedaan utama antara perasaan dan covenant adalah perasaan bisa berubah-ubah, sedangkan covenant berkaitan dengan komitmen untuk masa depan. Perasaan mungkin berkata, "Aku sangat mencintaimu hari ini," tetapi apa yang terjadi besok jika pasangan berubah, baik secara fisik, finansial, atau karakter? Di sinilah covenant mengambil peran dengan menyatakan, "Aku akan terus mengasihimu, ketika masa masa susah itu tiba, kita akan menghadapinya bersama sama." Sama seperti Tuhan yang terus mengasihi kita dengan kasih karuniaNya meskipun kita sering kali tidak layak.
Pentingnya saksi dalam pernikahan juga bukan sekadar formalitas. Saat kita mengucap janji di hadapan publik, baik itu Tuhan, hamba Tuhan, keluarga, dan jemaat, kita seolah olah berkata, "Jika aku lupa akan janji ini, ingatkan aku. Aku bersedia dimintai pertanggungjawaban untuk menghidupinya." Cincin pernikahan yang dikenakan adalah lambang jasmani dari kasih karunia rohani, berfungsi untuk mengingatkan kita akan covenant kita terhadap pasangan dan juga covenant Tuhan terhadap kita.
Tuhan memberikan wadah covenant ini karena Ia mengerti kelemahan manusia yang sering kali didorong oleh ego, ketakutan untuk terikat, dan mentalitas transaksional. Mentalitas konsumer seperti ini bahkan ada di dalam gereja, selalu menghitung untung rugi dan berpikir, "Apa untungnya bagiku?" Dunia mungkin mengajarkan untuk mencari keuntungan pribadi tanpa komitmen penuh, tetapi Tuhan menggunakan pernikahan untuk menguduskan dan memproses kita, agar kita belajar berkorban dan meninggalkan ego kita. Apalagi ketika memiliki anak, proses pengudusan itu akan semakin nyata.
Bagi mereka yang masih lajang, duda, atau janda yang ingin menikah lagi, ada sebuah pesan penting: Jangan jadikan chemistry sebagai satu satunya alasan untuk memilih pasangan.Perhatikan apakah orang tersebut sungguh sungguh takut akan Tuhan, memiliki kerendahan hati untuk bertobat, dan bersedia dikoreksi saat melakukan kesalahan. Orang yang pandai membuat Anda merasa istimewa belum tentu bisa memegang janjinya dalam covenant. Selain itu, Anda juga harus menilai diri sendiri, apakah Anda sudah memproses diri untuk bisa memegang komitmen tersebut.
Untuk yang sedang berpacaran atau bertunangan, ingatlah bahwa Anda belum terikat oleh covenant. Jika terdapat banyak red flag atau tanda peringatan dalam hubungan Anda, pertimbangkanlah kembali secara matang. Jangan mengambil keputusan untuk menikah hanya karena tekanan lingkungan atau rasa sayang terhadap biaya pre wedding yang sudah dikeluarkan. Uang masih bisa dicari, namun keputusan menikah mengikat Anda seumur hidup.
Mungkin Anda bertanya, "Jika saya mengasihi pasangan karena terikat janji covenant, bukankah itu terpaksa dan tidak tulus?" Apakah kasih harus selalu disertai dengan perasaan nyaman agar bisa disebut tulus?
Mari kita lihat ilustrasi tentang kasih orang tua kepada anak. Suatu malam, di saat lelah dan harus mengurus dua anak yang sakit dan muntah di tempat tidur sendirian, tanpa bantuan siapa pun, apakah orang tua membersihkan kotoran tersebut dengan perasaan berbunga bunga dan bahagia? Tentu tidak. Mungkin ada rasa kesal dan lelah, namun orang tua tetap merawat anak anaknya. Apakah karena tidak ada perasaan bahagia lalu kasih itu dianggap tidak tulus? Tentu saja kasih itu tetap tulus.
Ketulusan tidak mengharuskan seluruh emosi kita selaras sebelum melakukan hal yang benar. Dalam pernikahan, saat terjadi konflik dan ego terluka, tentu rasanya tidak nyaman. Namun, kita harus tetap memilih untuk memaafkan, mengejar, dan mengerti. Perasaan memang penting, tetapi covenant menolong kita untuk tetap memilih tindakan yang benar ketika perasaan kita sedang lemah. Rasa marah tidak memberi hak untuk menghina pasangan, dan rasa lelah tidak membenarkan sikap tidak peduli.
Lalu, jika cinta hanya bertahan karena komitmen, apakah ia hanya menjadi sekedar kewajiban tanpa perasaan? Pertanyaan ini akan kita telusuri lebih lanjut.

COVENANT MEMELIHARA KASIH MELALUI TINDAKAN
Beberapa orang mungkin berpendapat, "Kasihan ya orang Kristen, kalau sudah tidak cinta tidak boleh cerai." Mereka menganggap pernikahan tanpa perasaan cinta hanyalah keterpaksaan belaka. Memang benar ada pernikahan yang seperti itu, di mana pasangan masih tinggal serumah dan memakai cincin kawin, namun mereka tidak lagi saling mendengarkan dan berjalan sendiri sendiri. Ini tentu sangat menyedihkan.
Namun, perhatikan anggapan keliru di balik pemikiran tersebut: jika perasaan sudah hilang, pilihannya hanyalah berpisah atau tetap bersama tapi berpura pura. Hal ini sama sekali tidak benar.
Mari kita renungkan kembali gambaran kasih menurut Rasul Paulus dalam 1 Korintus 13:4-7:
"Kasih itu sabar. Kasih itu murah hati. Ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi ia bersukacita karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu."
Meskipun Paulus berbicara kepada jemaat, prinsip kasih ini juga berlaku sebagai pondasi cara kita hidup di dalam pernikahan. Kita tidak selalu bisa memunculkan perasaan kasih itu setiap saat, namun kita dipanggil untuk tetap melakukan tindakan kasih.
Coba kita perhatikan perintah Yesus untuk mengasihi musuh dalam Matius 5:44, "Tetapi Aku berkata kepadamu, kasihilah dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu."
Perintah ini menunjukkan bahwa kasih tidak selalu harus bergantung pada perasaan atau kenyamanan kita. Saat kita memilih untuk mendoakan musuh, mengusahakan kebaikan, dan menolak membalas kejahatan, secara perlahan perasaan benci kita bisa berubah menjadi empati. Tentu saja, ini bukan berarti kita membiarkan diri kita terus disakiti atau mengalami Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), namun ini menunjukkan bahwa kasih adalah sebuah tindakan.
Kesimpulannya: Perasaan memang mempengaruhi tindakan, namun tindakan juga dapat mempengaruhi perasaan. Sering kali kita hanya menunggu perasaannya muncul sebelum bertindak. Namun, bagaimana jika perasaannya tak kunjung datang? Di sinilah covenant mengingatkan kita: Lakukanlah tindakan yang benar terlebih dahulu, maka perasaannya akan mengikuti.
Mari kita lihat sebuah contoh skenario tentang apa yang terjadi jika kita menolak melakukan tindakan kasih. Bayangkan pasangan suami istri yang sama sama keras kepala dan menjunjung tinggi gengsi. Sang istri merasa kurang diperhatikan dan akhirnya berhenti memberikan perhatian. Sang suami, yang merasa istrinya semakin dingin, ikut menjaga jarak. Akhirnya, sang istri berpikir, "Tuh kan, dia memang tidak peduli." Di sisi lain, sang suami merasa ditolak dan menunggu istrinya yang mendekat terlebih dahulu. Kedua orang yang sebenarnya sangat ingin dikasihi ini akhirnya saling menunggu dan justru semakin menjauh satu sama lain.

Dalam situasi seperti inilah, covenant mengajak kita untuk introspeksi dan memeriksa hati kita. Tindakan apa yang kita tunda hanya karena gengsi dan menunggu pasangan yang bertindak lebih dulu? Apakah Kristus menunggu kita bertobat dan siap terlebih dahulu sebelum Dia mengasihi kita?
Mari kita lihat skenario lain tentang pasangan fiktif bernama John dan Mira. Dulu saat pacaran, mereka sangat perhatian satu sama lain, sering menanyakan perasaan dan kekhawatiran pasangannya. Namun, setelah bertahun tahun menikah, percakapan mereka hanya seputar tagihan listrik, belanja beras, atau urusan rumah tangga lainnya. Mereka mulai merasa berjarak.
Suatu malam, Mira mengumpulkan keberanian dan berkata, "John, aku merasa kamu sudah tidak peduli dan tidak perhatian lagi padaku. Aku merasa kita semakin menjauh." Saat itu, John sedang sibuk bermain handphone. Reaksi instingnya mungkin ingin membela diri dan marah, merasa tidak dihargai setelah bekerja keras untuk keluarga. Namun, tiba tiba ia mengingat covenant.
Alih alih bersikap defensif, John meletakkan teleponnya, menatap mata istrinya, dan membelai rambutnya seperti yang sering ia lakukan dulu. Ia berkata, "Maafkan aku, mungkin aku terlalu sibuk dan kurang memperhatikan hubungan kita. Tolong ceritakan padaku, apa yang membuatmu merasa seperti itu? Aku ingin belajar berubah."
Apakah saat itu Mira langsung tersenyum? Belum tentu. Ia mungkin masih berhati hati, namun setidaknya ada kelegaan karena suaminya bersedia mendengarkan. Malam itu, John memberikan ruang bagi Mira untuk mencurahkan perasaannya tanpa menyela.
Apakah perubahan terjadi seketika? Tidak. Mereka mungkin masih membutuhkan waktu, proses, bahkan konseling. Namun, malam itu John telah mulai menghidupi covenantnya melalui tindakan konkret: belajar mendengarkan tanpa bersikap defensif, dan memberikan perhatian.
Covenant memang merupakan janji besar yang diucapkan di altar, namun ia harus disuarakan melalui tindakan kasih kecil setiap harinya. Tindakan tindakan sederhana seperti mengakui kesalahan ("Aku salah"), meminta penjelasan dengan sabar ("Aku belum paham, tolong jelaskan"), atau menahan diri untuk tidak membalas ketika diserang. Ketika kita terus melakukan tindakan kasih ini secara konsisten, maka perasaan yang tadinya hilang lambat laun akan kembali muncul karena tindakan kasih tersebut meneguhkan perjanjian yang telah dibuat.
Apakah Anda masih hadir dalam covenant yang telah Anda buat? Kita dipanggil untuk terus hadir dalam kehidupan pasangan kita. Jika Anda merasa lelah, komunikasikanlah dengan baik: "Aku tahu ini penting bagimu, tapi aku sedang sangat lelah. Bisakah kita bicarakan ini nanti saat aku bisa benar benar fokus?" Ini adalah bentuk tanggung jawab dalam covenant.
Lalu, bagaimana jika pasangan sangat sulit diajak bicara dan selalu terpancing emosi? Ada dua godaan ekstrem dalam situasi ini. Ekstrem pertama adalah pembiaran: "Sudahlah, maklumi saja demi kedamaian," sehingga kesalahan dan masalah penting tidak pernah terselesaikan. Ekstrem kedua adalah pembalasan dendam: "Aku akan membalas perbuatanmu agar kamu merasakan apa yang aku rasakan."
Kasih tanpa kebenaran adalah kepalsuan, namun kebenaran tanpa kasih adalah kekejaman. Di sinilah pentingnya Injil dalam covenant kita. Kristus mengasihi kita, tetapi Dia tidak membiarkan kita hidup dalam dosa. Kasih covenant dalam pernikahan berarti berani menghadapi isu dan masalah demi kebaikan bersama, di mana kebenaran disampaikan, pertanggungjawaban dituntut, namun pemulihan tetap menjadi tujuan utama. Seperti yang dinyatakan dalam 1 Korintus 13:6, "Kasih bersukacita karena kebenaran."
Anugerah memberi kita keberanian untuk mengakui kesalahan, dan kebenaran memanggil kita untuk berubah. Mulailah melangkah untuk menghidupi covenant ini. Ajak pasangan berdiskusi di waktu yang tenang. Tanyakan padanya, "Dalam hal apa kamu merasa sendirian akhir akhir ini?" dan dengarkan baik baik jawabannya tanpa menyela.
Bagi Anda yang masih lajang, Anda pun bisa mulai menghidupi prinsip kesetiaan ini dari sekarang. Tepatilah janji, akui kesalahan dalam persahabatan, dan belajarlah untuk hadir sepenuhnya bagi orang orang di sekitar Anda. Karakter yang dapat dipercaya akan terus bertumbuh melalui kehidupan sehari hari, sehingga Anda akan siap menghidupi covenant saat waktunya tiba.

KASIH COVENANT KRISTUS MEMAMPUKAN KITA MENGHIDUPI KEDUANYA
Saya memahami bahwa kasih memang membutuhkan komitmen dan tindakan, tetapi mungkin ada yang mengeluh dan merasa lelah. Seorang suami mungkin merasa selalu disalahkan meski sudah berusaha keras, sementara seorang istri mungkin merasa kelelahan memperhatikan semua orang tanpa ada yang memperhatikannya kembali. Bagi Anda yang berstatus single, baik pria maupun wanita, pertanyaannya mungkin berbeda: bagaimana bisa memberi kasih jika merasa tidak ada orang yang mengasihi Anda?
Firman Tuhan hari ini menjumpai kita semua tepat di titik tersebut. Kita membutuhkan kasih yang meneguhkan hati agar kita dapat mengasihi tanpa menjadikan orang lain sebagai alat untuk membuktikan bahwa diri kita berharga.
Mari kita perhatikan Efesus 5:25 yang berbunyi, "Hai suami, kasihilah istrimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diriNya baginya."
Sekilas ayat ini memang ditujukan langsung kepada para suami atau pria yang akan menjadi suami, panggilan untuk memandang kepada Kristus yang menyerahkan diriNya. Namun, ayat ini juga berbicara kepada para istri dan Anda yang berstatus single. Perhatikan siapa yang dikasihi Kristus dalam ayat tersebut: jemaatNya, yang berarti termasuk Anda dan kita semua.
Bagi para istri, sebelum ayat ini menjadi standar tuntutan untuk suami, ayat ini telah lebih dahulu menyatakan kasih yang Anda terima dari Kristus. Kristus tahu Anda lelah, butuh didengar, dan butuh diperhatikan. KasihNya meneguhkan Anda sehingga Anda tidak perlu takut merasa sendirian, karena Ia adalah Imanuel yang selalu menyertai Anda. Bagi para suami, kasih Kristus ini bukanlah alasan untuk melalaikan tanggung jawab, melainkan justru menjadi kekuatan yang memampukan Anda untuk berkorban dan menjalankan covenant ini.
Bagi Anda yang single, ayat ini membawa pesan yang sangat personal. Anda telah menerima penyerahan diri Kristus sepenuhnya. Anda utuh di dalam Kristus dan tidak membutuhkan pasangan untuk merasa berharga. Kasih Kristus itulah yang mendampingi, memulihkan, dan memberi nilai pada hidup Anda saat ini.
Sering kali, demi menjaga sebuah hubungan, kita menyembunyikan sisi terburuk dari diri kita karena takut pasangan kita tidak akan mencintai kita lagi jika mereka mengetahuinya. Namun, tahukah Anda? Yesus mengetahui segalanya tentang Anda. Dia tahu segala kelemahan, kebobrokan, kelicikan hati, hingga ketidaksetiaan kita, tetapi Dia tetap memilih untuk mengasihi dan menebus kita.
Hal ini ditegaskan dalam Roma 5:8, Allah menunjukkan kasihNya ketika kita masih berdosa. Kita bisa datang kepada Tuhan dengan segala keberantakan tanpa perlu pura pura. Pengorbanan Kristus di kayu salib menunjukkan betapa seriusnya dosa kita, sekaligus betapa besarnya kasih Allah. Harga yang harus dibayar untuk kasih itu adalah kematianNya sendiri.
Pada malam perjamuan terakhir dalam Lukas 22:20, Yesus memberikan cawan dan berkata, "Cawan ini adalah perjanjian baru oleh darahKu, yang ditumpahkan bagi kamu." Yesus tahu persis bahwa Yudas akan mengkhianatiNya, Petrus akan menyangkalNya, Thomas akan ragu, dan semua murid muridNya akan meninggalkanNya. Namun, segala fakta tentang kebobrokan mereka tidak membatalkan niat Yesus untuk mencurahkan darahNya demi memenuhi covenant tersebut. Melalui kematian dan kehinaan di kayu salib, Ia menanggung hukuman agar di dalam Dia kita menerima pengampunan, kehormatan, dan kehidupan.

Jika terus direnungkan, kasih Kristus yang luar biasa ini akan melelehkan gengsi dan menghancurkan tembok tembok kekerasan hati kita. Anda akan memiliki keberanian untuk mengakui kesalahan dan meminta maaf dalam hubungan Anda, karena Anda tahu bahwa Anda telah diterima oleh Kristus bahkan di saat Anda masih berdosa.
Tentu saja kita tidak bisa melakukannya sendiri, kita sangat membutuhkan pertolongan Roh Kudus. Saat Anda merasa tersinggung, marah, atau ingin membela diri, mintalah pertolongan Roh Kudus agar Anda mampu menahan diri, mendengarkan, dan menyampaikan kekecewaan dengan jujur tanpa harus melukai hati pasangan.
Saya ingin membagikan sedikit kesaksian pribadi. Saya dan istri saya, Novie, sudah mengarungi pernikahan selama 25 tahun berjalan 26 tahun. Sebagai kombinasi kepribadian "pria macho" dan "gadis tangguh", kami memiliki potensi konflik yang eksplosif. Meski belasan tahun pernikahan kami berjalan lancar tanpa pertengkaran berarti, namun saat saya memasuki usia 50 tahun dan anak anak mulai merantau, kami tiba tiba menjadi sangat sering bertengkar.
Setelah mencari tahu, kami baru menyadari bahwa saya ternyata memiliki kondisi ADHD dan autisme ringan tingkat satu, sementara istri saya sedang memasuki fase premenopause yang mempengaruhi hormonnya. Kami sedang berada di sebuah musim baru di mana covenant kami sangat diuji. Kami tidak bisa saling menyembunyikan kondisi ini, melainkan harus terus belajar, berproses, dan saling mendengarkan.
Apakah saya selalu mampu menghadapinya? Terkadang saya mampu, namun sering juga saya lupa dan gagal. Saat saya gagal, saya kembali merenungkan kasih Kristus, karena kasih itulah yang memampukan saya terus berjalan. Seperti yang tertulis dalam 1 Yohanes 4:19, kita mengasihi karena Allah lebih dahulu mengasihi kita. Prinsip inilah yang memampukan siapa pun, baik yang menikah, berstatus single, maupun yang pernah mengalami luka perceraian, untuk terus mengalami pemulihan dan menghidupi covenant.
Saya memiliki kenalan sepasang suami istri di Los Angeles bernama Gordon dan Jen. Pada tahun 2012, mereka merayakan 55 tahun pernikahan, dan tahun lalu mereka telah menikah selama 68 tahun. Saya pernah menyaksikan langsung pemandangan yang begitu manis, bagaimana Gordon dengan sabar membukakan botol minum untuk Jen yang kesulitan, serta bagaimana Jen terus bergelayut merangkul suaminya sepanjang khotbah di gereja.
Ketika saya bertanya apa rahasia pernikahan yang manis selama itu, mereka menjawab bahwa hubungan mereka tidak selalu manis. Mereka bisa saling menyebalkan, tetapi kuncinya adalah: selalu memaafkan seperti Tuhan memaafkan, terus mengupayakan, memperjuangkan, dan terus memilih satu sama lain. Bayangkan berapa banyak kata maaf, pengakuan salah, dan kesediaan untuk mendengar yang telah mereka lewati untuk bisa sampai di titik itu. Kapan terakhir kali Anda melakukan hal yang sama? Saya berdoa agar melalui pesan ini, pernikahan pernikahan yang terasa dingin dapat dihangatkan kembali.

Orang Berinjil
● Setia meskipun perasaannya bisa berubah-ubah, karena kesetiaan kasih Kristus kepadanya tidak pernah berubah.
● Mampu mengasihi bahkan sebelum merasa dikasihi, karena di dalam Kristus dia sudah lebih dahulu menerima Kasih sejati.
● Tidak malu untuk mengaku salah dan bertobat karena di dalam Kristus dia diterima dan dosanya sudah diampuni.

Reflektif
● Saat aku kecewa, apakah aku masih mau mengasihi atau sengaja bersikap dingin supaya dia ikut terluka?
● Apa yang sebenarnya perlu aku lakukan, tetapi terus aku tunda karena "belum merasa ingin"?
● Kalau Kristus tetap mengasihiku saat aku salah, mengapa begitu susah untuk berkata, "Maaf, aku yang salah"?
