Better Isn't Enough

When Jesus Gets Personal – Week 1 

“Better Isn’t Enough”

Ps. Dave Rindy H.

BACAAN : YOHANES 3:1-21

3:1 Adalah seorang Farisi yang bernama Nikodemus, seorang pemimpin agama Yahudi. 

3:2 Ia datang pada waktu malam kepada Yesus dan berkata: "Rabi, kami tahu, bahwa Engkau datang sebagai guru yang diutus Allah; sebab tidak ada seorangpun yang dapat mengadakan tanda-tanda yang Engkau adakan itu, jika Allah tidak menyertainya." 

3:3 Yesus menjawab, kata-Nya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah." 

3:4 Kata Nikodemus kepada-Nya: "Bagaimanakah mungkin seorang dilahirkan, kalau ia sudah tua? Dapatkah ia masuk kembali ke dalam rahim ibunya dan dilahirkan lagi?" 

3:5 Jawab Yesus: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah. 

3:6 Apa yang dilahirkan dari daging, adalah daging, dan apa yang dilahirkan dari Roh, adalah roh. 

3:7 Janganlah engkau heran, karena Aku berkata kepadamu: Kamu harus dilahirkan kembali. 

3:8 Angin bertiup ke mana ia mau, dan engkau mendengar bunyinya, tetapi engkau tidak tahu dari mana ia datang atau ke mana ia pergi. Demikianlah halnya dengan tiap-tiap orang yang lahir dari Roh." 

3:9 Nikodemus menjawab, katanya: "Bagaimanakah mungkin hal itu terjadi?" 

3:10 Jawab Yesus: "Engkau adalah pengajar Israel, dan engkau tidak mengerti hal-hal itu? 

3:11 Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kami berkata-kata tentang apa yang kami ketahui dan kami bersaksi tentang apa yang kami lihat, tetapi kamu tidak menerima kesaksian kami. 

3:12 Kamu tidak percaya, waktu Aku berkata-kata dengan kamu tentang hal-hal duniawi, bagaimana kamu akan percaya, kalau Aku berkata-kata dengan kamu tentang hal-hal sorgawi? 

3:13 Tidak ada seorangpun yang telah naik ke sorga, selain dari pada Dia yang telah turun dari sorga, yaitu Anak Manusia. 

3:14 Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, 

3:15 supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal. 

3:16 Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. 

3:17 Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia. 

3:18 Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah. 

3:19 Dan inilah hukuman itu: Terang telah datang ke dalam dunia, tetapi manusia lebih menyukai kegelapan dari pada terang, sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat. 

3:20 Sebab barangsiapa berbuat jahat, membenci terang dan tidak datang kepada terang itu, supaya perbuatan-perbuatannya yang jahat itu tidak nampak; 

3:21 tetapi barangsiapa melakukan yang benar, ia datang kepada terang, supaya menjadi nyata, bahwa perbuatan-perbuatannya dilakukan dalam Allah."

Hari ini kita akan membahas sebuah prinsip penting, yaitu menjadi lebih baik itu tidak cukup atau Better Isn't Enough. Dulu, saya memiliki pengalaman pribadi di mana saya merasa sudah menjadi orang yang begitu baik dan sangat mencintai Tuhan. Sejak masa SMA, saya menyadari panggilan untuk suatu hari nanti menjadi hamba Tuhan penuh waktu. Karena itu, setelah lulus SMA saya memutuskan untuk pergi ke seminari dan belajar di sekolah Alkitab. Saya juga meminta restu kepada pendiri gereja, yaitu Almarhum Pendeta Daniel dan Ibu Meity, yang kemudian mendoakan saya dan berpesan agar saya kembali melayani setelah masa kuliah selesai. Semangat saya begitu berkobar, tidak hanya dalam menempuh pendidikan di kampus, tetapi juga dalam mengikuti berbagai seminar dan pelatihan mengenai penginjilan.

Namun semangat itu berubah ketika dalam sebuah pelatihan penginjilan, seorang pelatih bertanya, "Apakah kamu yakin akan masuk surga?" Saya menjawab dengan yakin. Ketika ditanya mengapa Tuhan Yesus mengizinkan saya masuk surga, saya menyebutkan semua pencapaian rohani saya: rajin melayani, setia saat teduh, tidak pernah absen ke gereja, melayani sejak muda, bahkan sering berdoa semalam suntuk setelah ibadah remaja. Mendengar jawaban itu, pelatih tersebut berkata, "Sebenarnya sebelum kamu belajar penginjilan, kamu harus diinjili terlebih dahulu."

Perkataan itu membuat saya terkejut, tersinggung, dan sangat terganggu. Ego saya benar benar terpukul. Saya merasa sudah mengikut Tuhan sejak kelas lima SD, mengajar sekolah minggu, dan melayani dengan sungguh sungguh. Saya bertanya dalam hati mengapa orang yang begitu mencintai Tuhan seperti saya justru dinilai masih perlu diinjili. Pengalaman yang menghancurkan ego ini ternyata sangat relevan dengan kisah salah satu tokoh Alkitab yang luar biasa, yaitu Nikodemus.

Berdasarkan Yohanes 3:1–21, Nikodemus adalah seorang Farisi dan pemimpin agama Yahudi yang datang kepada Yesus. Ia mengakui Yesus sebagai guru yang diutus Allah karena tanda tanda yang dilakukan Nya. Namun Yesus langsung menyatakan sebuah kebenaran mendasar, "Sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah." Nikodemus kebingungan memahaminya secara logika, sehingga Yesus menegaskan bahwa seseorang harus dilahirkan dari air dan Roh untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah. Apa yang lahir dari daging adalah daging, sedangkan yang lahir dari Roh adalah roh.

Yesus kemudian menjelaskan bahwa Anak Manusia turun dari surga dan siapa pun yang tidak percaya kepada Nya berada di bawah hukuman. Hukuman itu terjadi karena terang telah datang ke dunia, tetapi manusia lebih menyukai kegelapan untuk menyembunyikan perbuatan jahat mereka. Sebaliknya, orang yang melakukan kebenaran akan datang kepada terang supaya nyata bahwa perbuatannya dilakukan dalam Allah.

Kisah ini menunjukkan bahwa Nikodemus bukan orang biasa. Ia adalah pemimpin agama, guru Israel, ahli Taurat, dan anggota Sanhedrin, sosok yang dapat disamakan dengan seorang profesor teologi pada masa kini. Ia memiliki reputasi, moral, dan pemahaman teologi yang sangat baik. Singkatnya, Nikodemus memiliki CV rohani yang nyaris sempurna.

Namun Allah tidak tertarik pada CV rohani kita. Tuhan tidak menilai seberapa baik perilaku, seberapa luas pengetahuan teologi, atau seberapa fasih kita menjelaskan doktrin. Tuhan melihat hati kita. Karena itu, ketika berbicara tentang Injil, fokus utamanya selalu pada hati. Yang paling penting bukanlah seberapa baik kita di mata manusia, melainkan apakah hati kita sungguh telah diubahkan melalui kelahiran baru.

Melalui kebenaran firman Tuhan ini, ada tiga poin penting yang harus kita renungkan:

Pertama, lebih baik tak cukup membuatmu hidup.

Kedua, bukan usahamu yang membawa kepada Allah.

Dan ketiga, perlunya memiliki hidup yang tak lagi bersembunyi.

Firman Tuhan yang kita dengar bukanlah sekadar rentetan perintah yang harus dilakukan, melainkan sebuah proses untuk mendiagnosis masalah di dalam diri kita, menemukan solusinya, dan pada akhirnya memunculkan buah yang nyata dalam perjalanan iman.

LEBIH BAIK TAK CUKUP UNTUK MEMBUATMU HIDUP

Memasuki poin pertama, kita melihat perkataan Yesus dalam ayat 3, "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah." Dalam bahasa Yunani digunakan frasa amen amen lego soi. Terjemahan Indonesia hanya menuliskan "sesungguhnya", padahal pengulangan "sesungguhnya, sesungguhnya" menunjukkan penekanan yang sangat kuat.

Frasa "dilahirkan kembali" berasal dari gennēthē anōthen, yang sengaja ditulis ambigu oleh Yohanes. Maksud Yesus bukan lahir kembali secara fisik, melainkan dilahirkan dari atas. Teks ini juga menunjukkan arti "tidak mampu", bukan sekadar "tidak bisa". Artinya, manusia sama sekali tidak memiliki kemampuan untuk dilahirkan kembali tanpa karya dari atas. Yesus sedang menyatakan sebuah kebenaran mutlak, bukan membuka ruang perdebatan.

Nikodemus gagal memahaminya karena menafsirkan perkataan Yesus secara harfiah. Ia bertanya bagaimana mungkin seseorang yang sudah tua dapat lahir kembali. Karena itu, Yesus menegaskan bahwa jika seseorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah, meskipun penjelasan ini masih membingungkan Nikodemus.

Selanjutnya Yesus berkata, "Apa yang lahir dari daging adalah daging." Ini menunjuk pada doktrin kerusakan total (total depravity). Tanpa kelahiran baru, manusia secara alami cenderung memberontak kepada Allah dan tidak memiliki kemampuan rohani untuk memperoleh keselamatan. Buktinya, anak kecil tidak perlu diajari berbohong atau memukul, tetapi harus diajari berbuat baik seperti berbagi. Hal ini menunjukkan bahwa manusia sejak lahir telah mewarisi natur dosa, sehingga teori tabula rasa tidak sesuai dengan kesaksian Alkitab.

Karena itulah manusia harus dilahirkan dari air dan Roh. Ungkapan ini mengacu pada nubuatan Yehezkiel 36:25–27, ketika Tuhan berjanji menyucikan umat Nya dengan air yang jernih dan memberikan Roh Nya agar mereka mampu hidup menurut ketetapan Nya. Nikodemus gagal memahami bahwa kelahiran baru dan penyucian bukanlah hasil usaha atau rekam jejak rohani manusia, melainkan sepenuhnya karya Roh Kudus. Air di sini juga tidak menunjuk pada baptisan air yang menyelamatkan, melainkan pada nubuatan tentang penyucian dari Tuhan.

Penekanan ini sangat penting karena banyak orang menganggap kelahiran baru hanya sebagai pencapaian moral atau perbuatan baik. Moral yang baik memang penting, tetapi kelahiran baru jauh melampaui sekadar perbaikan moral. Jika kita gagal memahaminya, ada tiga bahaya utama.

Bahaya pertama, Injil direduksi menjadi sekadar self improvement, yang berujung pada kesombongan rohani atau keputusasaan. Ketika merasa berhasil memenuhi standar moral, seseorang akan merendahkan dan menghakimi orang lain. Sebaliknya, saat gagal mencapainya, ia akan putus asa dan menyerah pada dosa. Identitas rohani tidak boleh dibangun di atas pengetahuan, pelayanan, pengorbanan, atau kesalehan diri, melainkan hanya pada Kristus. Bahkan perbuatan baik seperti melayani, berdoa, dan berkorban akan menjadi rusak jika berpusat pada diri sendiri. Satu satunya Pribadi yang layak menjadi pahlawan bagi umat Nya hanyalah Kristus.

Bahaya kedua, kita menjadi Farisi modern yang menguasai Injil tetapi gemar menghakimi. Kita mungkin sibuk mengkritik ajaran yang menyimpang, padahal tidak ada orang yang bertobat hanya karena kalah berdebat. Pertanyaannya, apakah kita mau hadir, peduli, mendoakan, dan membangun relasi dengan mereka yang belum mengenal Injil? Jika tidak, kita hanya memakai nama Injil sementara hati kita jauh dari kebenarannya.

Bahaya ketiga, kita jatuh ke dalam legalisme berkedok anugerah. Ironis jika kita mengaku diselamatkan oleh kasih karunia, tetapi terus membebani orang lain dengan tuntutan yang kita sendiri tidak sanggup penuhi. Sikap self righteous ini pada akhirnya menciptakan agama baru atas nama Injil. Agama atau aturan moral mungkin dapat mengubah perilaku luar, tetapi tidak mampu mengubah hati manusia. Hanya kelahiran baru yang sanggup menghasilkan perubahan hidup yang sejati.

Sebagai penutup poin pertama ini, mari ajukan sebuah pertanyaan reflektif ke dalam batin masing masing: ketika melihat orang lain yang melayani atau berbuat baik tidak sebanyak yang kita lakukan, apakah kita merasa diri kita lebih baik, lebih rohani, dan lebih layak di hadapan Tuhan? 

Biarlah ini menjadi bahan perenungan yang mendalam. Jika masih ada secuil kecenderungan kesombongan tersebut, di situlah kita harus sadar bahwa sesungguhnya kita pun sangat rapuh, tidak berdaya, dan mutlak membutuhkan anugerah Tuhan yang sama besarnya.

BUKAN USAHAMU YANG MEMBAWA KEPADA ALLAH

Di dalam ayat 9, Nikodemus sempat bertanya kepada Tuhan Yesus mengenai bagaimana mungkin hal itu terjadi. Pertanyaan ini sebenarnya sangat mewakili kebingungan kita semua. Jika keselamatan bukanlah soal usaha, bukan perbuatan baik, atau bukan berdasarkan moral yang baik, lalu bagaimana caranya? Jika kita dituntut untuk berubah, apa yang harus kita lakukan dan seberapa keras kita harus berusaha?

Jawaban atas kebingungan tersebut dapat kita temukan saat membaca ayat 13 bersama sama. Ditegaskan di sana bahwa tidak ada seorang pun yang telah naik ke surga selain Dia yang telah turun dari surga, yaitu Anak Manusia. Artinya, jawabannya bukan tentang seberapa keras usaha kita, melainkan tentang Pribadi yang ada di surga lalu turun menjadi manusia sejati. Keselamatan sama sekali tidak berbicara mengenai kekuatan atau usaha kita, melainkan tentang solusi yang murni datang dari atas.

Tuhan Yesus menjawab pertanyaan ini secara implisit dengan mengutip peristiwa dalam Perjanjian Lama. Pada ayat 14 Ia berkata, "Sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan." Pernyataan ini merujuk pada Bilangan 21:8.

Dalam kisah itu, bangsa Israel bersungut sungut dan memberontak kepada Tuhan sehingga dihukum dengan ular-ular berbisa yang menyebabkan banyak orang mati. Namun di tengah penghukuman, Tuhan menyediakan jalan keselamatan. Musa diperintahkan membuat ular tembaga, dan setiap orang yang dipatuk ular akan tetap hidup jika memandang ular yang ditinggikan itu.

Melalui kisah ini, Yesus mengajarkan bahwa sebagaimana bangsa Israel diselamatkan dengan memandang ular tembaga, demikian juga setiap orang yang ingin memperoleh kelahiran baru dan hidup yang kekal harus memandang Anak Manusia yang ditinggikan, yaitu Yesus sendiri.

Korelasi ini sangat jelas. Dalam Bilangan 21, memandang ular tembaga membawa keselamatan secara fisik, sedangkan dalam Yohanes 3, percaya kepada Yesus membawa keselamatan kekal. Hal ini menunjukkan bahwa keselamatan sepenuhnya merupakan inisiatif Allah, bukan hasil usaha manusia. Sekalipun bangsa Israel harus memandang ular tembaga, tindakan itu tidak memiliki kuasa pada dirinya sendiri. Mereka diselamatkan karena Allah terlebih dahulu menyediakan jalan keselamatan. Tanpa penyediaan dari Tuhan, memandang ular tembaga tidak akan membawa kesembuhan. Keselamatan selalu berasal dari Allah.

Relevansinya bagi kita sangat nyata. Ketika bergumul dengan dosa seperti kecanduan, kemarahan, kebencian, sifat pelit, atau dendam, berhentilah memandang diri sendiri. Alkitab tidak pernah memerintahkan kita berusaha lebih keras agar layak diselamatkan. Sebaliknya, Allah memanggil kita untuk berhenti berpusat pada diri sendiri karena solusi keselamatan hanya ada di dalam Kristus. Keselamatan bukan ditentukan oleh moral atau banyaknya perbuatan baik, melainkan oleh Kristus saja.

Keselamatan bukanlah manusia yang berusaha naik mencapai Allah, tetapi Kristus yang turun menghampiri manusia. Ia ditinggikan di kayu salib supaya setiap orang yang percaya kepada Nya memperoleh keselamatan. Dengan demikian, keselamatan selalu dimulai dari inisiatif Allah, bukan manusia.

Seringkali kita keliru memandang Yesus hanya sebagai Guru moral yang memberi teladan hidup. Padahal, Yesus bukan sekadar mengajarkan apa yang benar, tetapi datang melakukan apa yang tidak sanggup dilakukan manusia. Karena natur manusia cenderung kepada dosa, kita membutuhkan Kristus sebagai satu satunya Pribadi yang menolong, memampukan, dan menyelamatkan.

Kita tidak boleh melihat Yesus hanya sebagai Guru moral, sebab salib membuktikan bahwa usaha manusia tidak pernah cukup. Yesus menyerahkan nyawa Nya menggantikan kita agar kita dapat hidup di dalam Dia. Kebenaran ini dirangkum dalam Yohanes 3:16: karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, Ia mengaruniakan Anak Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Inilah solusi penyelamatan sejati dari Allah.

Sebagai penutup poin ini, mari renungkan pertanyaan reflektif berikut: apakah saat ini saya sedang memandang kepada Kristus, atau justru sedang memandang kepada prestasi rohani saya sendiri? Apakah saya masih menganggap diri saya sebagai pribadi yang layak dan terus mengandalkan perbuatan baik demi mendapatkan perkenanan Allah? Jawabannya tentu seharusnya tidak, karena sekali lagi, satu satunya solusi keselamatan semata mata berasal dari Allah.

HIDUP YANG TAK LAGI BERSEMBUNYI

Memasuki poin yang ketiga, apabila kita sudah menyadari bahwa segala sesuatunya berasal dari Allah, maka kita akan melihat bahwa orang yang mengalami perjumpaan dengan Kristus tidak akan lagi hidup dalam persembunyian. Hal ini ditegaskan dalam ayat 21 yang menjadi penutup percakapan antara Nikodemus dan Tuhan Yesus. Dikatakan bahwa barang siapa melakukan yang benar, ia akan datang kepada terang supaya menjadi nyata bahwa perbuatan-perbuatannya dilakukan di dalam Allah. Ketika seseorang mengalami perjumpaan dengan Tuhan, ia pasti akan datang kepada terang.

Sebaliknya, ayat 19 dan 20 menggambarkan secara sangat kontras keadaan orang yang belum mengalami terang Kristus dan belum mengalami kelahiran baru. Terang telah datang ke dalam dunia, tetapi manusia lebih menyukai kegelapan daripada terang sebab perbuatan perbuatan mereka jahat. Mereka membenci terang dan menolak datang kepadanya supaya perbuatan perbuatannya yang jahat tidak nampak. Itulah gambaran nyata dari orang yang belum mengalami Tuhan.

Jika hari ini Anda percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat, maka Roh Kudus tinggal di dalam diri Anda. Bagi yang baru pertama kali mendengar berita ini, percayalah bahwa Anda bukan sekadar mendengar suara manusia, melainkan panggilan Sang Gembala Agung yang mengundang Anda datang kepada terang.

Ironisnya, kita yang sudah hidup dalam terang sering kali masih memilih hidup dalam kegelapan. Kita mengetahui kebenaran, tetapi terus menutupi kelemahan, tidak berani datang kepada Tuhan apa adanya, dan mengandalkan prestasi serta kekuatan sendiri. Akibatnya, kita memakai topeng rohani untuk menyembunyikan kegelapan hati. Karena itu, kita perlu bertobat.

Hari ini adalah panggilan untuk merespons terang Kristus. Terang Nya bukan hanya menyingkap dosa, tetapi juga memulihkan hati. Kita tidak perlu hidup dalam kepura puraan. Tidak ada gunanya berpuasa Daniel jika kita masih hidup dalam penyangkalan terhadap kelemahan sendiri. Ingatlah, manusia hidup bukan dengan pura pura, tetapi dengan paru paru. Karena itu, datanglah kepada Tuhan apa adanya.

Memang, kelahiran baru tidak membuat seseorang langsung sempurna, tetapi pasti mengubah arah hidupnya, dari hidup dalam kegelapan menjadi berjalan menuju terang. Perjalanan Nikodemus menggambarkan hal ini. Walaupun Alkitab tidak secara eksplisit mencatat bahwa ia mengalami kelahiran baru, kita dapat melihat transformasi hidupnya. Dalam Yohanes 3, ia datang kepada Yesus pada malam hari dengan penuh pertanyaan dan kebingungan tentang kelahiran baru.

Beberapa teolog berpendapat Nikodemus datang pada malam hari karena malu sebagai tokoh agama yang harus belajar kepada Yesus. Ada juga yang melihatnya sebagai kebiasaan para ahli Taurat berdiskusi hingga larut malam. Namun secara teologis, malam melambangkan kegelapan hati Nikodemus yang belum memahami kebenaran. Dalam Yohanes 7, ia mulai menunjukkan perubahan dengan berani membela Yesus di hadapan Mahkamah Agama.

Puncak transformasinya terlihat dalam Yohanes 19. Ketika Yesus disalibkan dan para murid melarikan diri, Nikodemus justru datang merempahi dan mengurus jenazah Yesus. Sebagai anggota Sanhedrin dan tokoh terpandang, tindakan itu sangat berani dan tidak lazim, karena mengurus jenazah umumnya dilakukan oleh para wanita. Melalui tindakannya, Nikodemus seakan menyatakan, "Aku adalah murid Yesus."

Perubahan ini membuktikan bahwa tidak ada orang yang sungguh bertemu Yesus tetapi hidupnya tidak berubah. Sekalipun masih jatuh bangun dalam dosa, orang yang mengalami perjumpaan dengan Kristus akan memiliki kerinduan untuk hidup bagi kemuliaan Tuhan dan berjalan dalam kebenaran.

Orang yang telah mengalami kelahiran baru memang masih dapat jatuh ke dalam dosa, tetapi ia tidak akan merasa nyaman hidup di dalamnya. Ia akan terus berseru kepada Tuhan memohon anugerah untuk diubahkan, dilepaskan dari kecanduan, sifat pelit, amarah, iri hati, kepahitan, dan dimampukan mengampuni orang lain. Hidupnya akan selalu ditandai oleh kerinduan untuk terus diubahkan.

Respons iman membawa kepada pembaruan sejati. Ini bukan sekadar kepura puraan atau perubahan perilaku lahiriah, melainkan membuat kita berhenti bersembunyi, datang kepada terang Kristus, dan membiarkan anugerah Nya terus mengubahkan hidup. Anugerah yang melahirbarukan tidak berhenti pada pengakuan, tetapi menghasilkan karakter yang semakin serupa dengan Yesus. Namun, kita juga harus berhati hati agar tidak kembali terjebak pada moral dan perbuatan baik semata.

Moral dan perbuatan baik bukanlah tolok ukur utama, sekalipun orang yang telah dilahirkan baru pasti akan menghasilkan keduanya. Jika hanya berfokus pada moral, kita akan kembali jatuh ke dalam legalisme dan kehidupan agamawi yang kaku, sehingga kehilangan keindahan Injil. Kekristenan bukan sekadar tentang moralitas, tetapi tentang perjumpaan dengan Kristus yang melahirbarukan, sehingga dari sanalah lahir kehidupan yang benar.

Kelahiran baru hanya dimungkinkan karena Kristus telah mati menggantikan kita. Sang Terang rela masuk ke dalam kegelapan supaya kita dapat hidup di dalam terang Nya. Seperti bangsa Israel yang diselamatkan dengan memandang ular tembaga, demikian juga ketika hidup kita diracuni dosa, moralitas, agama, dan kesibukan pelayanan tidak dapat menyelamatkan kita. Hanya Kristus yang sanggup memberikan kehidupan.

Di atas kayu salib, Yesus Kristus telah menerima hukuman yang seharusnya menjadi bagian kita, supaya hari ini kita bisa menerima hidup baru yang tidak mungkin bisa kita hasilkan sendiri. Ia mengambil dosa kita supaya kita menerima kebenaran Nya, dan Ia mengambil kematian kita supaya kita menerima kehidupan. Ia menanggung segala kutuk kita supaya kita bisa menerima berkat keselamatan yang jauh melebihi kesehatan jasmani ataupun harta benda apa pun di dunia ini. 

Semuanya menjadi mungkin semata mata karena Yesus rela turun ke dunia untuk mengampuni dosa dosa kita, menebus hidup kita, dan dihukum sebagai orang berdosa supaya hari ini kita semua boleh hidup merdeka di dalam terang Allah.

Pertanyaan reflektif bagi kita dari bagian terakhir ini: ketika Kristus menyingkapkan kegelapan dalam hidup saya, apakah saya memilih untuk tetap bersembunyi, atau datang kepada Nya dalam iman dan membiarkan anugerah Nya mengubahkan saya?

ORANG BERINJIL PERCAYA

Kristus telah turun
 Karena itu, kita tidak perlu lagi berusaha naik kepada Allah dengan kekuatan kita sendiri.

Kristus telah ditinggikan
 Karena itu, kita tidak perlu lagi meninggikan diri untuk membuktikan nilai kita.

Kristus telah mati
 Karena itu, kita tidak lagi harus hidup sebagai budak dosa, rasa bersalah, dan masa lalu.

Kristus telah bangkit
 Karena itu, kita tidak lagi dipanggil untuk sekadar menjadi versi lebih baik yang dalam kegelapan, tetapi hidup dalam terang Kristus.