The Thirst Of The Human Heart

When Jesus Gets Personal – Week 2 

“The Thirst of The Human Heart”

Ps. Erich Huwae

Hari ini kita kembali melanjutkan perenungan dalam seri When Jesus Gets Personal, dengan mengangkat tema The Thirst of the Human Heart.Minggu lalu, Ps Dave telah mengingatkan kita tentang tokoh Nikodemus. Ia datang kepada Tuhan sebagai seorang yang religius, taat, beragama, bermoral, dan terpandang. Namun, Yesus melihat ada satu kebutuhan yang tidak dapat dipenuhi oleh seluruh ketaatan, kesalehan, ritual, dan kehidupan agamanya. Karena itulah Yesus menegaskan bahwa ia harus dilahirkan kembali.

Hari ini, Yohanes membawa kita pada seorang tokoh yang sangat berbeda. Bukan seorang guru Taurat, bukan orang Farisi, dan bukan pula pemimpin agama, melainkan seorang perempuan Samaria. Ia adalah pribadi yang ditolak oleh masyarakat, memiliki masa lalu yang rumit, dan datang menimba air pada tengah hari. 

BACAAN : YOHANES 4:5-26

4:5 Maka sampailah Ia ke sebuah kota di Samaria, yang bernama Sikhar dekat tanah yang diberikan Yakub dahulu kepada anaknya, Yusuf. 

4:6 Di situ terdapat sumur Yakub. Yesus sangat letih oleh perjalanan, karena itu Ia duduk di pinggir sumur itu. Hari kira-kira pukul dua belas. 

4:7 Maka datanglah seorang perempuan Samaria hendak menimba air. Kata Yesus kepadanya: "Berilah Aku minum." 

4:8 Sebab murid-murid-Nya telah pergi ke kota membeli makanan. 

4:9 Maka kata perempuan Samaria itu kepada-Nya: "Masakan Engkau, seorang Yahudi, minta minum kepadaku, seorang Samaria?" (Sebab orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria.) 

4:10 Jawab Yesus kepadanya: "Jikalau engkau tahu tentang karunia Allah dan siapakah Dia yang berkata kepadamu: Berilah Aku minum! niscaya engkau telah meminta kepada-Nya dan Ia telah memberikan kepadamu air hidup." 

4:11 Kata perempuan itu kepada-Nya: "Tuhan, Engkau tidak punya timba dan sumur ini amat dalam; dari manakah Engkau memperoleh air hidup itu? 

4:12 Adakah Engkau lebih besar dari pada bapa kami Yakub, yang memberikan sumur ini kepada kami dan yang telah minum sendiri dari dalamnya, ia serta anak-anaknya dan ternaknya?" 

4:13 Jawab Yesus kepadanya: "Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi, 

4:14 tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal." 

4:15 Kata perempuan itu kepada-Nya: "Tuhan, berikanlah aku air itu, supaya aku tidak haus dan tidak usah datang lagi ke sini untuk menimba air." 

4:16 Kata Yesus kepadanya: "Pergilah, panggillah suamimu dan datang ke sini." 

4:17 Kata perempuan itu: "Aku tidak mempunyai suami." Kata Yesus kepadanya: "Tepat katamu, bahwa engkau tidak mempunyai suami, 

4:18 sebab engkau sudah mempunyai lima suami dan yang ada sekarang padamu, bukanlah suamimu. Dalam hal ini engkau berkata benar." 

4:19 Kata perempuan itu kepada-Nya: "Tuhan, nyata sekarang padaku, bahwa Engkau seorang nabi. 

4:20 Nenek moyang kami menyembah di atas gunung ini, tetapi kamu katakan, bahwa Yerusalemlah tempat orang menyembah." 

4:21 Kata Yesus kepadanya: "Percayalah kepada-Ku, hai perempuan, saatnya akan tiba, bahwa kamu akan menyembah Bapa bukan di gunung ini dan bukan juga di Yerusalem. 

4:22 Kamu menyembah apa yang tidak kamu kenal, kami menyembah apa yang kami kenal, sebab keselamatan datang dari bangsa Yahudi. 

4:23 Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian. 

4:24 Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran."

4:25 Jawab perempuan itu kepada-Nya: "Aku tahu, bahwa Mesias akan datang, yang disebut juga Kristus; apabila Ia datang, Ia akan memberitakan segala sesuatu kepada kami." 

4:26 Kata Yesus kepadanya: "Akulah Dia, yang sedang berkata-kata dengan engkau."

Kisah perempuan Samaria mungkin sudah sangat familiar, tetapi menyimpan keindahan Injil yang luar biasa. Berbeda dengan Nikodemus, perempuan ini memikul beban identitas yang berat. Ia adalah seorang perempuan, yang pada masa itu dipandang lebih rendah dari laki laki, sekaligus orang Samaria, kelompok yang dianggap sesat dan dipandang rendah oleh orang Yahudi akibat sejarah permusuhan.

Beban itu semakin berat karena masa lalunya yang kelam. Ia telah memiliki lima suami dan kini hidup bersama laki laki yang bukan suaminya. Dibandingkan Nikodemus, ia seolah tidak memiliki apa apa. Namun justru Yesus memilih berjumpa dengannya.

Yohanes mencatat bahwa ketika Yesus pergi dari Yudea ke Galilea, Ia harus melewati Samaria. D. A. Carson menjelaskan bahwa kata dei (harus) menunjuk pada keharusan ilahi (divine necessity). Jadi, Yesus bukan sekadar memilih rute geografis, melainkan datang untuk mencari seorang perempuan yang dipandang rendah karena gender, agama, dan kegagalan hidupnya.

Yesus datang mencari seorang perempuan yang selama ini mencari makna hidup di tempat yang salah. Ia mengira datang ke sumur hanya untuk menimba air, padahal Sang Air Hidup telah lebih dahulu datang menunggunya.

Jika Nikodemus mewakili orang yang mencari hidup melalui rutinitas agama, maka perempuan Samaria mewakili orang yang mencarinya melalui relasi. Meski berada di dua ujung yang berbeda, Yesus melihat bahwa keduanya memiliki kebutuhan yang sama: mereka sama sama haus.

Bukankah hal ini juga merupakan cerminan pengalaman hidup kita? Kita semua selalu mencari sesuatu dan merasa belum puas. Hati kita terus berkata bahwa masih ada yang kurang. Saat sudah lulus kita ingin bekerja, lalu ingin naik jabatan, menikah, memiliki anak, dan ingin anak berhasil. Bahkan saat pensiun, orang mulai menyesali masa lalu dan membayangkan bahwa hidup mungkin akan lebih baik jika dulu mengambil keputusan atau tawaran pekerjaan yang berbeda.

Dosa sering kali menciptakan sebuah utopia di pikiran kita. Utopia itu berbunyi: muda senang senang, tua kaya raya, mati masuk surga. Banyak orang berpikir untuk menikmati segalanya selagi muda, lalu mengumpulkan banyak aset dan perusahaan agar kaya raya di masa tua, hingga akhirnya mati masuk surga. Bukankah itu terdengar sangat ideal?

Namun, kita harus menyadari bahwa itu hanyalah sebuah utopia semu karena kita tidak akan pernah menemukan kepuasan di sana. Yesus sudah menegaskan kenyataan ini sejak dua ribu tahun yang lalu dengan berkata, "Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi."

Jadi, persoalan utamanya bukanlah karena kita terlalu banyak menginginkan sesuatu, melainkan karena kita sering mencari makna hidup pada sesuatu yang tidak pernah dirancang untuk menjadi juruselamat. Di situlah letak persoalan yang sesungguhnya.

Karena itu, melalui percakapan di tepi sumur ini, Yesus mengajak kita menjawab tiga pertanyaan besar untuk direnungkan bersama: Pertama, mengapa hati manusia selalu haus? Kedua, ke mana manusia mencari air? Ketiga, siapakah yang sebenarnya kita butuhkan?

MENGAPA HATI MANUSIA SELALU HAUS?

4:6 Di situ terdapat sumur Yakub. Yesus sangat letih oleh perjalanan, karena itu Ia duduk di pinggir sumur itu. Hari kira-kira pukul dua belas. 

4:7 Maka datanglah seorang perempuan Samaria hendak menimba air. Kata Yesus kepadanya: "Berilah Aku minum." 

4:13 Jawab Yesus kepadanya: "Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi, 

4:14 tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal." 

Kita masuk pada poin yang pertama. Mari kita perhatikan Yohanes 4:6-7,13-14. Di sana diceritakan bahwa Yesus sangat letih dari perjalanan dan duduk di pinggir sumur Yakub sekitar pukul dua belas siang. Ketika seorang perempuan Samaria datang menimba air, Yesus berkata, "Berilah Aku minum." Namun yang menarik, Yesus kemudian menyambung, "Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi. Tetapi barangsiapa minum air yang Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama lamanya..."

Terdengar aneh, bukan? Yesus yang meminta minum justru menyatakan bahwa air dari sumur itu tidak akan memuaskan. Sesungguhnya, Yesus sedang memakai kebutuhan fisik untuk menjelaskan kebutuhan terdalam di dalam hati manusia.

Lebih dari itu, kita perlu memahami konteks zamannya. Sebagai seorang rabi, Yesus terikat aturan ketat yang melarang seorang rabi menyapa perempuan di depan umum, bahkan istri atau keluarganya sendiri. Namun di sinilah divine necessity (keharusan ilahi) itu menjadi semakin jelas. Yesus sengaja menerobos sekat budaya, batas agama, dan norma moral masyarakat. Berbeda dengan Nikodemus yang datang mencari Yesus diam diam pada malam hari, perempuan Samaria yang memiliki latar belakang kelam ini justru dicari dan didatangi langsung oleh Yesus di tempat terbuka pada siang hari.

Yesus memakai rasa haus untuk membuka percakapan tentang jiwa karena semua orang tahu bahwa haus hanya dapat dipuaskan oleh air. Melalui pengalaman sederhana ini, Yesus mengajarkan bahwa kehausan hati menunjukkan untuk siapa kita diciptakan.

Sebagaimana mata diciptakan untuk cahaya dan paru paru untuk udara, hati manusia diciptakan untuk Allah. Kerinduan akan kasih, makna, identitas, sukacita, dan kepenuhan bukanlah kesalahan, melainkan bukti bahwa tidak ada satu pun ciptaan yang mampu memuaskan dahaga jiwa selain Allah.

Agustinus dari Hippo dalam Confessions menggambarkan hal ini dengan jelas. Setelah mencari kebahagiaan melalui kenikmatan, kehormatan, dan pengetahuan, ia tetap gelisah hingga akhirnya berjumpa dengan Kristus dan menulis, "Hati kami gelisah sampai beristirahat di dalam Engkau."

Karena itu, rasa haus bukanlah bukti Allah gagal menciptakan manusia, melainkan tanda bahwa kita diciptakan untuk-Nya. Itulah sebabnya Yesus tidak memulai dengan menghakimi dosa perempuan Samaria, tetapi dengan membicarakan rasa haus, agar ia memahami tujuan penciptaannya sebelum melihat ke mana dosa telah membawanya.

Selama belum menemukan Allah, hati manusia akan terus mengejar berbagai bentuk kepuasan. Saya mengalaminya sendiri. Setelah dikaruniai tiga anak perempuan, orang sering bertanya, "Enggak mau tambah satu lagi?" Maksudnya tentu agar memiliki anak laki laki.

Kerinduan itu memang wajar, tetapi pertanyaan tersebut mencerminkan anggapan bahwa kebahagiaan selalu belum lengkap. Jika tidak waspada, bahkan anak dapat berubah menjadi sarana kebanggaan atau pemuas obsesi. Inilah kondisi hati manusia yang telah jatuh ke dalam dosa: terus berpindah dari satu harapan ke harapan berikutnya.

Karena itu Yesus berkata, "Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi." Ini bukan hukuman, melainkan undangan untuk berhenti mencari kepuasan pada hal hal yang tidak pernah dirancang memuaskan jiwa.

Hal yang sama terlihat pada Tom Brady. Setelah meraih tiga gelar Super Bowl, ia tetap bertanya mengapa masih merasa ada yang kurang. Pencapaian tertinggi pun tidak mampu menghilangkan dahaga hati.

Jika manusia memang diciptakan untuk Allah, mengapa kita terus datang kepada sumur sumur lain? Mengapa kita mencari kepuasan melalui anak, prestasi, atau berbagai pencapaian, padahal semuanya tidak pernah dapat memuaskan jiwa?

Pertanyaan ini mengantarkan kita pada poin yang kedua: Ke mana manusia mencari air?

KE MANA MANUSIA MENCARI AIR?

4:16 Kata Yesus kepadanya: "Pergilah, panggillah suamimu dan datang ke sini." 

4:17 Kata perempuan itu: "Aku tidak mempunyai suami." Kata Yesus kepadanya: "Tepat katamu, bahwa engkau tidak mempunyai suami, 

4:18 sebab engkau sudah mempunyai lima suami dan yang ada sekarang padamu, bukanlah suamimu. Dalam hal ini engkau berkata benar." 

Berikut versi yang lebih ringkas, tetapi tetap mempertahankan alur dan penekanan aslinya.

Dalam Yohanes 4:16-18, Yesus baru saja menawarkan air hidup yang membuat seseorang tidak akan haus lagi. Ketika perempuan itu menginginkannya, Yesus tidak langsung memberikannya. Sebaliknya, Ia menyuruh perempuan itu memanggil suaminya. Sekilas percakapan ini terasa tidak nyambung, tetapi sebenarnya Yesus sedang menyingkapkan sumur hati perempuan itu. Ia menunjukkan bahwa persoalannya bukan terletak pada siapa yang ia miliki, melainkan di mana ia selama ini mencari makna dan kepuasan hidup.

Yesus sengaja membawa percakapan ke inti persoalan, sebab sebelum seseorang menerima air hidup, ia perlu menyadari dari mana selama ini ia berusaha memuaskan dahaga jiwanya. Selama hati belum menemukan sumber yang sejati, ia akan terus menggali sumur sumur yang baru.

Hal yang sama terjadi pada kita. Kita sering berpikir bahwa pasangan, pencapaian, anak, atau hal lain akan memberikan kebahagiaan yang utuh. Tanpa sadar, kita menjadikan berkat dan anugerah Tuhan sebagai "juruselamat". Namun setelah semuanya diraih, hati tetap merasa ada yang kurang. Mengapa? Karena kita sedang menuntut ciptaan melakukan pekerjaan yang hanya dapat dilakukan oleh Sang Pencipta.

Relasi, keluarga, pekerjaan, dan pelayanan adalah anugerah Allah yang baik, tetapi semuanya tidak pernah dirancang untuk menjadi sumber hidup kita. Sejak manusia jatuh ke dalam dosa di taman Eden, manusia terus mencari kehidupan di luar Allah. Dosa bukan hanya membuat manusia melanggar perintah Tuhan, tetapi juga menggantikan Allah sebagai sumber makna, kebenaran, dan kepuasan hidup.

Cornelius Van Til menyebut kondisi ini sebagai autonomous man, yaitu manusia yang ingin menjadi penentu terakhir bagi hidupnya sendiri. Kita mungkin tetap beribadah dan mendengarkan firman Tuhan, tetapi sering kali tetap memegang kendali atas keputusan akhir. Ketika firman memerintahkan mengampuni, kita menolak karena belum siap. Ketika Tuhan memanggil kita untuk tidak khawatir, kita lebih percaya pada perhitungan dan ketakutan kita sendiri. Akhirnya, kita hanya menginginkan Tuhan sebagai pemberi nasihat, sementara kitalah yang tetap menjadi pengambil keputusan.

Sangat menarik bahwa Yohanes menempatkan kisah Nikodemus berdampingan dengan perempuan Samaria. Keduanya mewakili dua sisi dosa: dosa yang tampak rapi dan religius serta dosa yang tampak berantakan secara moral. Meski berbeda, akar persoalannya sama, yaitu keinginan untuk menentukan sendiri jalan menuju hidup.

Yesus melihat menembus hati mereka, dan Ia juga melihat pergumulan yang sama dalam diri kita. Kita mudah menjadikan karier, keberhasilan, keluarga, reputasi, bahkan pelayanan sebagai sumber identitas dan kepuasan. Saya teringat ketika anak perempuan saya ingin memakai anting agar terlihat cantik seperti teman temannya. Kesempatan itu saya pakai untuk mengajarkannya bahwa nilai dirinya tidak ditentukan oleh apa yang ia kenakan, melainkan oleh siapa yang menciptakannya. Ia berharga dan cantik karena diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (image of God).

Bukankah kita sering berlaku serupa? Kita mencari identitas, rasa aman, dan makna hidup melalui pencapaian duniawi, seolah olah tanpa hal tersebut hidup kita tidak berharga. Padahal, Tuhan memberikan semua itu sebagai anugerah agar kita dapat mengelola kehidupan demi kemuliaan Yesus, bukan untuk digantungi sebagai sumber hidup.

Dosa tidak membuat manusia berhenti menyembah, melainkan membuat manusia memindahkan penyembahannya dari Sang Pencipta kepada ciptaan. Ketika hati kita merasa bahwa hidup kehilangan makna tanpa karier, keberhasilan, atau keluarga, pada saat itulah anugerah Tuhan berubah menjadi berhala.

Jika demikian kondisinya, masih adakah harapan bagi orang orang seperti kita? Jika semua sumur dunia pada akhirnya membuat kita haus lagi, dan jika agama maupun relasi tidak sanggup memberikan kepuasan sejati, lalu siapakah yang sebenarnya kita butuhkan?

SIAPAKAH YANG SEBENARNYA KITA BUTUHKAN?

4:25 Jawab perempuan itu kepada-Nya: "Aku tahu, bahwa Mesias akan datang, yang disebut juga Kristus; apabila Ia datang, Ia akan memberitakan segala sesuatu kepada kami." 

4:26 Kata Yesus kepadanya: "Akulah Dia, yang sedang berkata-kata dengan engkau."

Mari kita perhatikan Yohanes 4:25-26. Setelah seluruh percakapan yang panjang itu, perempuan Samaria akhirnya berkata bahwa ia tahu Mesias akan datang. Yesus pun menjawabnya dengan sebuah penegasan, "Akulah Dia yang sedang berkata kata dengan engkau."

Sepanjang percakapan, perempuan ini masih berpikir bahwa jawaban atas hidupnya berada pada sesuatu yang lain di luar sana. Mungkin ia membayangkan air ajaib, cara ibadah yang benar, atau menantikan sosok Mesias di masa depan. Namun, Yesus mengarahkan seluruh perhatiannya kepada satu Pribadi. Yang dibutuhkan perempuan ini bukanlah sumur yang baru atau suami yang baru, melainkan Sang Juruselamat, karena hatinya memang diciptakan untuk Kristus.

Bukankah hal yang sama juga sering terjadi dalam hidup kita? Kita datang kepada Tuhan membawa daftar kebutuhan yang sangat panjang, memohon agar Tuhan memperbaiki pekerjaan, keluarga, kesehatan, atau pelayanan kita. Semua itu adalah doa doa yang baik. Namun seringkali kita lupa bahwa pemberian terbesar dari Allah bukanlah hidup yang lebih mudah, melainkan Kristus itu sendiri.

Merujuk pada Yohanes 4:10, perempuan Samaria itu memiliki dua kesalahan besar yang belum ia mengerti: ia belum memahami apa itu karunia Allah, dan ia belum mengenal siapa yang sedang berbicara dengannya. Padahal kedua hal ini tidak dapat dipisahkan. Karunia terbesar Allah bukanlah sebuah benda, melainkan seorang Pribadi, yaitu Kristus yang datang menyerahkan diriNya bagi kita.

Inilah divine necessity (keharusan ilahi) yang dikerjakan Kristus. Di sinilah letak perbedaan mencolok antara Injil dan agama. Agama menuntut manusia berbuat sebaik mungkin agar layak. Sebaliknya, Injil membuktikan bahwa Allah turun mencari manusia yang tidak layak. Yesus mendatangi perempuan Samaria yang dipandang hina dan memiliki masa lalu yang berantakan, tanpa menyuruhnya memperbaiki hidup terlebih dahulu.

Memang begitulah Injil bekerja; kasih karunia selalu datang lebih dahulu. Timothy Keller pernah menyatakan bahwa Injil bukanlah sekadar doktrin untuk masuk surga, melainkan kekuatan yang mengubah hidup kita saat ini juga, dari atas ke bawah dan dari dalam ke luar. Yesus adalah perwujudan Injil itu sendiri.

Jika kisah ini hanya berhenti pada terbongkarnya berhala hati perempuan Samaria, ini hanyalah kisah tentang kegagalan manusia. Namun Injil selalu bergerak lebih jauh dengan menghadirkan ironi kasih karunia yang sangat menyentuh. Pada awal cerita Yesus meminta, "Berilah Aku minum." Namun pada akhir Injil Yohanes, tepatnya dalam Yohanes 19:28, dari atas kayu salib Yesus berseru, "Aku haus."

Mengapa Sang Mesias, Sang Air Hidup itu, justru menjadi haus? Jawabannya sangat indah: Sang Air Hidup menjadi haus supaya hati manusia yang haus dapat dipuaskan untuk selama lamanya di dalam Dia. Di atas kayu salib, Yesus masuk ke dalam kekeringan manusia yang paling dalam akibat dosa. Ia dikosongkan supaya kita dipenuhi, dan Ia ditolak supaya kita dibawa pulang kepada Bapa. Keindahan Injil bukanlah tentang kepintaran kita menemukan sumur yang benar, melainkan Sang Air Hidup yang lebih dahulu datang menemukan kita.

Undangan keselamatan ini terus bergema dalam Yohanes 7:37-38, di mana Yesus berseru, "Barangsiapa haus, baiklah ia datang kepada-Ku dan minum." Undangan ini bukan hanya untuk perempuan Samaria, tetapi bagi kita semua yang letih mencari makna hidup, yang kecewa, sakit, gagal, maupun yang sukses tetapi tetap merasa kosong di dalam hati.

Yesus tidak mensyaratkan kita untuk menjadi baik atau membereskan hidup lebih dulu. Ia hanya meminta kita datang membawa kehausan, kegagalan, dan tempayan kita yang kosong. Hanya orang yang menyadari dirinya haus yang akan menghargai air hidup itu, dan hanya di dalam Kristus kita akan menemukan apa yang selama ini kita cari di berbagai sumber dunia.

PERTANYAAN REFLEKTIF

1. Apa yang selama ini paling saya harapkan dapat memberi rasa aman, berharga, dan utuh? Apakah saya sungguh percaya bahwa hanya Kristus yang mampu memuaskan dahaga hati saya?

2. Dalam bagian hidup apa saya masih lebih mengandalkan kehendak dan penilaian sendiri daripada tunduk kepada Kristus sebagai Tuhan?

3. Jika Kristus rela menjadi haus di kayu salib supaya saya menerima Air Hidup, respons apa yang akan saya berikan kepada-Nya melalui hidup saya saat ini?

ORANG BERINJIL

1. Berhenti mencari kepuasan sejati pada hal hal yang diciptakan, karena hanya Kristus yang memuaskan dahaga hati.

2. Tidak lagi menentukan sendiri jalan menuju hidup, tetapi tunduk kepada pemerintahan Kristus sebagai Tuhan.

3. Menyadari bahwa Air Hidup yang kita terima tidak berhenti pada kita, tetapi mengalir melalui kita untuk membawa orang lain kepada Kristus.