When Jesus Gets Personal – Week 6
“When Failure Meets Grace”
Ps. Michael Chrisdion

Seandainya seluruh hidup dinilai berdasarkan momen terburuk yang pernah dilakukan, nama apa yang akan tersemat pada diri kita? Mungkin tidak ada orang lain yang meneriakkan label seperti pembohong atau pengecut, tetapi pikiran kita sendiri yang terus menggemakan rasa malu tersebut. Meskipun di luar tampak baik baik saja saat beribadah, saat suasana sepi, selalu ada rasa malu dan beban kegagalan masa lalu yang membuat seseorang merasa tidak berharga.
Kisah Petrus hari ini berbicara secara tajam kepada dua golongan manusia:
● Mereka yang merasa gagal dan terus dihantui oleh rasa malu karena menyadari kelemahannya.
● Mereka yang merasa kuat dan sukses, yang sering kali menjadi defensif saat dikritik karena mereka mengukur harga diri dari pencapaian belaka.
Sebelum menangisi kegagalannya, Petrus pernah dengan sombong mengklaim bahwa ia tidak akan pernah jatuh meskipun yang lain jatuh. Hal ini membuktikan bahwa bersandar pada kekuatan sendiri sangatlah rapuh. Bagi mereka yang merasa sukses, kegagalan bisa menghancurkan identitas. Bagi mereka yang pernah jatuh, kegagalan sering kali dianggap sebagai akhir dari cerita hidup, padahal sebenarnya tidak.
BACAAN: YOHANES 21:9-19
21:9 Ketika mereka tiba di darat, mereka melihat api arang dan di atasnya ikan dan roti.
21:10 Kata Yesus kepada mereka: "Bawalah beberapa ikan, yang baru kamu tangkap itu."
21:11 Simon Petrus naik ke perahu lalu menghela jala itu ke darat, penuh ikan-ikan besar: seratus lima puluh tiga ekor banyaknya, dan sungguhpun sebanyak itu, jala itu tidak koyak.
21:12 Kata Yesus kepada mereka: "Marilah dan sarapanlah." Tidak ada di antara murid-murid itu yang berani bertanya kepada-Nya: "Siapakah Engkau?" Sebab mereka tahu, bahwa Ia adalah Tuhan.
21:13 Yesus maju ke depan, mengambil roti dan memberikannya kepada mereka, demikian juga ikan itu.
21:14 Itulah ketiga kalinya Yesus menampakkan diri kepada murid-murid-Nya sesudah Ia bangkit dari antara orang mati.
21:15 Sesudah sarapan Yesus berkata kepada Simon Petrus: "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada mereka ini?" Jawab Petrus kepada-Nya: "Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau." Kata Yesus kepadanya: "Gembalakanlah domba-domba-Ku."
21:16 Kata Yesus pula kepadanya untuk kedua kalinya: "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?" Jawab Petrus kepada-Nya: "Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau." Kata Yesus kepadanya: "Gembalakanlah domba-domba-Ku."
21:17 Kata Yesus kepadanya untuk ketiga kalinya: "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?" Maka sedih hati Petrus karena Yesus berkata untuk ketiga kalinya: "Apakah engkau mengasihi Aku?" Dan ia berkata kepada-Nya: "Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau." Kata Yesus kepadanya: "Gembalakanlah domba-domba-Ku.
21:18 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ketika engkau masih muda engkau mengikat pinggangmu sendiri dan engkau berjalan ke mana saja kaukehendaki, tetapi jika engkau sudah menjadi tua, engkau akan mengulurkan tanganmu dan orang lain akan mengikat engkau dan membawa engkau ke tempat yang tidak kaukehendaki."
21:19 Dan hal ini dikatakan-Nya untuk menyatakan bagaimana Petrus akan mati dan memuliakan Allah. Sesudah mengatakan demikian Ia berkata kepada Petrus: "Ikutlah Aku."
Dalam Yohanes 21:9-19, kita melihat sebuah momen perjumpaan yang luar biasa pasca kebangkitan Yesus. Petrus yang merasa gagal telah kembali pada profesi lamanya sebagai nelayan. Di tepi pantai, Yesus secara pribadi menyambut murid muridNya dengan sarapan sederhana berupa roti dan ikan di atas api arang.
Setelah sarapan, Yesus bertanya kepada Petrus sebanyak tiga kali, "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?" Ketiga pertanyaan ini secara sengaja menyentuh luka dari tiga kali penyangkalan Petrus sebelumnya. Meskipun hati Petrus sedih saat ditanya untuk ketiga kalinya, ia berserah dan menjawab, "Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu. Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau." Setiap kali Petrus menjawab, Yesus membalasnya dengan sebuah pemulihan dan panggilan baru: "Gembalakanlah domba dombaKu."
Yesus kemudian menubuatkan masa depan Petrus, bahwa di masa tuanya ia akan mengulurkan tangannya dan dibawa ke tempat yang tidak ia kehendaki. Hal ini merujuk pada akhir hidup Petrus yang akan mati terentang disalib untuk memuliakan Allah. Perjumpaan itu lalu ditutup dengan satu perintah tegas dari Yesus: "Ikutlah Aku."
Dari keseluruhan peristiwa ini, ada tiga kebenaran utama yang bisa dihidupi:
● Kegagalan membongkar identitas palsu yang selama ini dibangun hanya dengan kekuatan dan kesombongan diri sendiri.
● Kasih karunia secara sengaja menyentuh luka terdalam bukan untuk menghakimi, melainkan untuk menyembuhkannya.
● Kasih karunia Tuhan tidak hanya memulihkan, tetapi juga membentuk seorang murid yang hancur menjadi seorang gembala yang lembut.
KEGAGALAN, MEMBONGKAR IDENTITAS PALSU
Kita masuk pada poin pertama: kegagalan membongkar identitas palsu yang sering kita bangun dengan kekuatan sendiri. Dalam Yohanes 21:15, Yesus bertanya kepada Petrus apakah ia mengasihiNya lebih daripada yang lain. Kata “lebih” ini menarik karena seakan Yesus sedang mengingatkan Petrus pada perkataannya sendiri. Dalam Matius 26:33, Petrus pernah berkata bahwa sekalipun semua orang tergoncang, ia tidak akan goyah. Dalam Yohanes 13:37, ia bahkan berani berkata akan memberikan nyawanya bagi Yesus. Petrus memang mengasihi Yesus, tetapi kasihnya bercampur dengan keyakinan berlebihan terhadap dirinya sendiri. Ia merasa lebih radikal, lebih setia, dan lebih dapat diandalkan daripada murid murid lainnya.
Terkadang Tuhan perlu membongkar hati kita karena masalah kita bukan hanya ketika melakukan hal buruk, tetapi ketika kita merasa lebih baik daripada orang lain karena melakukan hal baik. Kita bisa bangga karena rutin memberi, melayani, belajar teologi, menjadi sukarelawan, atau bahkan merintis gereja. Semua itu baik, tetapi dapat berubah menjadi kesombongan ketika dijadikan pencapaian rohani. Kesombongan bahkan bisa terdengar sangat rohani, seolah Tuhan sangat bergantung pada kehebatan kita.
Karena itu, jangan terlalu cepat menertawakan Petrus. Komitmen, kesetiaan, dan tanggung jawab adalah hal baik, tetapi menjadi berbahaya ketika membuat kita merasa lebih berharga daripada orang lain. Saat kita bersandar pada performa diri, keberhasilan akan membuat kita sombong, sedangkan kegagalan akan terasa seperti kematian karena keberhasilan telah menjadi sumber identitas kita.
Seorang ayah dapat tanpa sadar menggunakan prestasi anak untuk membuktikan bahwa dirinya adalah ayah yang hebat. Akibatnya, ketika anak gagal, ia bukan hanya sedih, tetapi marah karena identitasnya ikut terancam. Demikian juga seorang pengusaha yang mendedikasikan bisnisnya bagi Tuhan, tetapi menjadikan kesuksesan bisnis sebagai sumber harga diri. Ketika bisnis terguncang, yang runtuh bukan hanya omzet, melainkan juga harga dirinya.
Inilah yang dialami Petrus ketika menghadapi kegagalan dalam Yohanes 18:15 27. Ketika Yesus ditangkap, Petrus mengikutiNya secara sembunyi sembunyi. Saat berada di dekat api arang, seorang perempuan mengenalinya sebagai murid Yesus dan Petrus langsung menyangkalnya. Ia menyangkal Yesus sampai tiga kali. Setelah penyangkalan ketiga, ayam berkokok. Lukas 22 bahkan mencatat bahwa Yesus menoleh dan memandang Petrus. Petrus teringat perkataan Tuhan, lalu keluar dan menangis dengan sangat sedih.
Mengapa Petrus yang awalnya begitu berani berubah menjadi pengecut? Tekanan menyingkapkan tempat di mana kita bersandar. Petrus ternyata bersandar pada kekuatannya sendiri. Ketika Yesus yang ia banggakan ditangkap dan diadili, tekanannya membongkar kesombongan Petrus dan menunjukkan bahwa ia bersandar di tempat yang salah. Karena itu kita perlu bertanya: Apa yang paling kita butuhkan untuk merasa berharga, dan ketika hal itu terancam, apa yang rela kita korbankan?
Ketika Yesus kemudian bertanya kepada Petrus di tepi pantai, tidak ada lagi kesombongan atau pembelaan diri. Tiga kali ia menjawab, “Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu.” Postur hati Petrus berubah dari keangkuhan menjadi ketundukan, dari kesombongan menuju kejujuran yang utuh. Ia menyadari ketidakmampuannya, mengakui dosanya, dan tidak lagi membela diri.
Hal ini menjadi teguran bagi kita. Ketika ditegur, kita sering mencari alasan: menyalahkan kemacetan ketika marah, kondisi psikologis atas kelemahan, atau pasangan dan lingkungan atas kesalahan kita. Kita merasa sedang menjelaskan tindakan, padahal sebenarnya sedang bersembunyi. Konteks dapat menjelaskan tindakan kita, tetapi tidak pernah membenarkan dosa. Jika itu dosa, kita harus mengakuinya sebagai dosa. Sikap mencari alibi ini sama seperti Adam yang menyalahkan perempuan yang Tuhan berikan kepadanya. Selama kita terus mencari alasan, kita akan sulit mengalami pemulihan.
Pada akhirnya, di tengah kegagalan dan perjalanan iman, pertanyaannya adalah: Maukah kita bertobat, berhenti mempertahankan kesan bahwa kita sempurna, dan mengakui kesalahan tanpa mencari kambing hitam? Mengakui kesalahan memang menyakitkan, tetapi kita hanya dapat sungguh sungguh mengalami kasih karunia ketika berani jujur dan mengakui bahwa kita sangat membutuhkan pertolongan Tuhan.

KASIH KARUNIA, MENYEMBUHKAN LUKA
Kita masuk pada poin kedua: kasih karunia menyentuh luka untuk menyembuhkannya.Yohanes 21:9 secara spesifik menyebut bahwa ketika murid murid tiba di darat, mereka melihat api arang dengan ikan dan roti di atasnya. Mengapa Yohanes perlu menyebut jenis api tersebut?
Manusia memiliki lima panca indra yang dapat membawa kembali nostalgia dan pengalaman masa lalu. Suara, aroma, atau suasana tertentu dapat langsung mengingatkan kita pada pengalaman yang pernah terjadi. Demikian pula api arang dalam Yohanes 21 menjadi pemicu ingatan Petrus. Api arang yang sama muncul dalam Yohanes 18:18, ketika Petrus menghangatkan diri sesaat sebelum menyangkal Yesus. Pada api arang pertama, Petrus dikuasai ketakutan dan menyangkal Yesus. Kini, pada api arang kedua, Yesus sengaja menghadirkan suasana yang serupa, tetapi bukan untuk menghukum Petrus, melainkan untuk menghampiri dan memulihkannya.
Tuhan tidak berpura pura lupa terhadap masa lalu, kebobrokan, kesombongan, atau kegagalan kita. Ia mengetahui kegagalan kita, tetapi Ia tidak menolak kita. Ia justru datang menyentuh kelemahan kita untuk memulihkan kita.
Perhatikan urutannya: Yesus memberikan sarapan terlebih dahulu sebelum memulai percakapan yang menyakitkan. Petrus tidak dihukum atau disingkirkan. Ia tetap menerima makanan yang Yesus sediakan. Setelah makan, barulah Yesus membicarakan masalah penyangkalan dan kesombongannya. Seolah Yesus berkata bahwa Ia tetap peduli kepada Petrus, tetapi masalahnya juga harus dibereskan.
Di sini terlihat bahwa kasih dan kebenaran Tuhan tidak pernah terpisahkan. Yesus tidak menjadikan kegagalan Petrus sebagai alasan untuk berhenti mengasihinya, tetapi Ia juga tidak menggunakan kasih sebagai alasan untuk membiarkan kegagalannya. Luka, kemarahan, kepahitan, dan kegagalan harus berani dihadapi. Waktu saja tidak menyembuhkan jika masalah tidak pernah dibereskan.
Karena itu, mengasihi seseorang bukan berarti tidak boleh menegur. Sebaliknya, menegur juga bukan berarti harus kehilangan kasih. Kasih yang sejati justru berani menyatakan kebenaran dengan kelembutan. Yesus tidak pernah terlalu lembut untuk menyatakan kebenaran, dan ketika menyatakan kebenaran dengan tegas, Ia tidak pernah berhenti mengasihi.
Setelah makan, Petrus harus menghadapi pertanyaan Yesus sebanyak tiga kali, sesuai dengan tiga kali penyangkalannya. Ada tafsiran yang membedakan kata agape dan phileo dalam percakapan ini, tetapi kedua kata tersebut dalam Alkitab sering digunakan secara bergantian sesuai konteks, sehingga tidak tepat membangun seluruh penafsiran hanya berdasarkan perbedaan kata tersebut.
Lalu, mengapa Yesus bertanya tiga kali hingga Petrus merasa sangat sedih? Tim Keller menggambarkannya seperti pisau seorang ahli bedah yang menyentuh luka, bukan pisau seorang pembunuh. Keduanya sama sama menyakitkan, tetapi tujuannya berbeda. Pisau pembunuh menghancurkan, sedangkan pisau ahli bedah menyakitkan untuk menyembuhkan.Pengulangan pertanyaan Yesus menunjukkan bahwa Ia sedang membawa Petrus menghadapi kegagalannya secara tuntas agar luka tersebut dapat disembuhkan.
Yang indah adalah setiap pertanyaan Yesus tidak berakhir dengan penolakan, melainkan selalu berakhir dengan penegasan panggilan. Ketika Petrus mengaku mengasihi Yesus, Ia berkata, “Gembalakanlah domba dombaKu.” Yesus menyentuh luka Petrus sekaligus menegaskan bahwa kegagalan manusia tidak pernah menggagalkan rencana Tuhan.
Mungkin kita juga pernah gagal, jatuh dalam dosa, dan berusaha menutupi rasa malu. Bawalah semuanya kepada Tuhan. Ia tidak berpura pura lupa terhadap kejatuhan kita, tetapi telah menanggung dosa kita di kayu salib. Ia lebih dahulu mengasihi dan menanggung dosa dosa kita.
Pada pertanyaan ketiga, Petrus tidak lagi mampu membela dirinya. Ia hanya berkata, “Tuhan, Engkau mengetahui segala sesuatu.” Ia mengakui bahwa Tuhan mengetahui seluruh ketakutan dan kegagalannya, tetapi Tuhan juga mengetahui bahwa jauh di dalam hatinya ia tetap mengasihiNya, meskipun tidak sehebat yang dahulu ia sombongkan. Kasih Tuhan yang tetap menerima kita justru membuat kita berani mengakui dosa dan bertobat.
Panggilan pemulihan Petrus adalah panggilan bagi kita juga. Belas kasihan di dalam Kristus jauh lebih besar daripada dosa di dalam diri kita. Ini bukan undangan untuk terus berbuat dosa, melainkan undangan untuk berhenti bersembunyi ketika dosa kita terbongkar. Berhentilah berpura pura, berhentilah mencari alasan, bertobatlah, dan datanglah kepada Kristus.

MURID YANG HANCUR MENJADI GEMBALA YANG LEMBUT
Kita masuk pada poin ketiga: kasih karunia bukan hanya menyembuhkan, tetapi juga memberikan sebuah panggilan. Yesus mengulang tiga kali kalimat, “Gembalakanlah domba dombaKu.” Seakan Yesus berkata kepada Petrus, jika ia sungguh mengasihiNya, ia harus merawat mereka yang berharga bagi Yesus. Petrus diberi kesempatan untuk mengasihi dan menggembalakan.
Namun, perlu diingat bahwa domba domba itu milik Yesus, bukan milik Petrus. Prinsip ini berlaku bagi pemimpin grup kecil, pembina, koordinator tim, hamba Tuhan, gembala sidang, maupun setiap orang dalam perannya masing masing. Orang yang Tuhan percayakan kepada kita bukan sarana untuk membangun kemuliaan diri, mencari nama besar, atau membuktikan keberhasilan. Mereka adalah domba Kristus yang harus dikasihi dan dirawat. Dalam keluarga pun demikian. Suami menerima istri sebagai titipan Tuhan, istri menerima suami, orang tua menerima anak, dan sahabat menerima sahabat. Kita semua mungkin tidak dipanggil menjadi pendeta, tetapi kita semua dipanggil untuk mengasihi orang yang Tuhan percayakan dalam hidup kita.
Kita tidak akan mampu mengasihi dan bersabar terhadap orang lain dengan benar jika belum mengalami kasih yang menerima dan memulihkan kita dalam kegagalan. Petrus dipulihkan agar kasih karunia yang ia terima dapat disalurkan kepada orang lain. Jika Petrus tidak pernah gagal, ia mungkin akan menjadi rasul yang sombong dan menghakimi, menjadikan kehebatannya sendiri sebagai standar kesetiaan. Namun karena ia sadar bahwa sekuat apa pun dirinya tetap bisa jatuh, ia menyadari bahwa hidupnya semata mata karena kasih karunia. Kesadaran inilah yang melahirkan empati.
Kegagalan saja tidak otomatis membuat seseorang bijaksana. Hanya perjumpaan antara kegagalan dan kasih karunia Kristus yang menghasilkan kerendahan hati. Ketika kita tahu bahwa keberhasilan kita murni karena kasih karunia, kita dapat memandang orang yang bergumul dengan empati. Petrus yang dahulu membangun identitas dengan merasa lebih hebat kini dipanggil untuk berada di tengah mereka yang lemah dan menolong saudara saudaranya. Orang yang tahu betapa sabarnya Kristus terhadap dirinya akan memiliki lensa baru untuk bersabar terhadap sesamanya.
Hal ini terlihat dalam kehidupan komunitas gereja. Ada orang yang awalnya sangat bertumbuh melalui khotbah, tetapi setelah beberapa tahun merasa bosan karena tema yang terus berulang tentang uang, seks, hikmat, dan kalibrasi hati kepada Kristus. Masalahnya ternyata bukan kurangnya pengajaran, melainkan ia tidak mau berproses dalam komunitas karena merasa prosesnya terlalu lama. Injil yang hanya dipahami secara intelektual belum tentu sungguh sungguh dihidupi.

Para pemimpin grup kecil mungkin tidak sehebat orang yang telah mengikuti banyak seminar apologetika atau sekolah teologi, tetapi mereka tidak mudah bosan karena mereka mempraktikkan firman dengan berbagi, mendampingi orang yang bermasalah, berempati, dan belajar bersabar seperti Kristus telah bersabar terhadap mereka. Menghadapi masalah yang terus berulang memang sulit. Namun gereja bukan komunitas yang sempurna. Gereja dapat hidup karena kesabaran Kristus, sehingga kita pun dapat mengasihi dan menggembalakan domba Kristus dari berbagai latar belakang tanpa merasa bosan.
Karena itu, kita perlu bertanya: Apakah ada orang yang tetap kita kasihi dan pedulikan meskipun mereka tidak lagi memberi keuntungan bagi kita? Kita sering hidup dengan pola pikir transaksional yang mencari keuntungan pribadi. Padahal Yesus tidak memperoleh keuntungan apa pun ketika menyelamatkan kita. Galatia 6:1 mengingatkan kita untuk menuntun orang yang bersalah dengan roh lemah lembut sambil menjaga diri agar tidak jatuh dalam pencobaan. Kita bersikap lemah lembut karena Kristus telah lebih dahulu lemah lembut kepada kita, dan kita menjaga diri karena kita sama sama membutuhkan kasih karunia.Gereja yang sehat adalah gereja yang terus memuridkan sekaligus bersedia dimuridkan.
Yohanes 21:18-19 menunjukkan bahwa pemulihan Petrus tidak berarti hidup yang mudah. Yesus menubuatkan bahwa Petrus kelak akan mati sebagai martir. Kasih karunia tidak menjanjikan masa depan yang mudah, tetapi memberikan kekuatan untuk tetap setia mengikuti Yesus di masa depan. Pemulihan Injil bukan berarti bisnis pasti kembali berlipat ganda, penyakit pasti sembuh, atau keluarga yang rusak langsung menjadi bahagia. Petrus justru menjadi martir setelah dipulihkan.
Harapan sejati Injil adalah bahwa sekalipun hidup tidak berjalan seperti yang kita harapkan, hidup di dalam Kristus pada akhirnya tetap memuliakan Allah. Kita tidak dipanggil untuk mengharapkan akhir bahagia instan karena dunia tidak akan menjadi semakin baik. Namun Kristus yang baik terus mendampingi kita dan bekerja dalam segala keadaan untuk mendatangkan kebaikan yang memuliakanNya. Karena itu, kesulitan bukan berarti Tuhan meninggalkan kita. Bahkan ketika seseorang mengalami kebangkrutan lalu bertobat dan percaya kepada Tuhan, ia sedang menerima berkat yang luar biasa.
Bagaimana Petrus yang dahulu pengecut akhirnya rela mati sebagai martir? Kontrasnya terlihat jelas. Dalam Yohanes 13, Petrus dengan sombong menyatakan siap memberikan nyawanya bagi Yesus. Namun Yesus menubuatkan bahwa Petrus akan menyangkalNya tiga kali. Petrus kemudian berada di dekat api arang dan menyangkal Yesus demi keselamatan dirinya. Sebaliknya, Kristus berada di kayu salib dan rela kehilangan keamanan serta memberikan hidupNya demi menebus Petrus dan kita. Petrus diselamatkan bukan karena keberaniannya mati bagi Yesus, melainkan karena Kristus lebih dahulu rela mati baginya.
Ketika Petrus kelak mengulurkan tangannya untuk disalib, itu hanyalah respons. Sebelum Petrus merentangkan tangannya, Yesus telah lebih dahulu merentangkan tanganNya di kayu salib. Demikian pula pelayanan dan ketahanan iman kita hanyalah respons terhadap kasih Tuhan yang menjadi pusat dan fondasi hidup kita.
Dalam 1 Petrus 2, Petrus menggambarkan Yesus yang tidak membalas ketika dicaci dan tidak mengancam ketika menderita, tetapi menyerahkan diri kepada Hakim yang adil. Yesus memikul dosa kita di kayu salib agar kita sembuh oleh bilur bilurNya. Petrus berkata bahwa dahulu kita sesat seperti domba, tetapi sekarang telah kembali kepada Gembala dan Pemelihara jiwa kita.Sebelum menggembalakan orang lain, Petrus sadar bahwa ia sendiri adalah domba yang membutuhkan Sang Gembala. Hal ini menggenapi Yohanes 10 bahwa Yesus adalah Gembala yang baik yang memberikan nyawaNya bagi domba dombaNya. Dalam Yohanes 21, Sang Gembala yang telah bangkit itu kemudian mempercayakan domba dombaNya kepada Petrus.
Keindahan ini semakin jelas dalam Lukas 22. Sebelum Petrus menyadari betapa dalam ia akan jatuh, Yesus telah berkata bahwa Ia berdoa agar iman Petrus tidak gugur dan setelah ia insaf, ia harus menguatkan saudara saudaranya. Kegagalan manusia tidak pernah menggagalkan rencana Tuhan. Hidup Petrus dapat berakhir dengan baik bukan karena kekuatannya atau eratnya genggamannya kepada Yesus, melainkan karena genggaman kasih Kristus yang tidak pernah melepaskannya.

ORANG BERINJIL
Tahu bahwa dirinya bisa gagal, namun kegagalan tidak menentukan siapa dirinya, karena identitasnya berakar di dalam Kristus.
Sadar dosanya sudah diampuni dan dibayar lunas oleh Karya Salib Kristus, namun tidak menjadikannya alasan untuk terus hidup dalam dosa.
Tahu bahwa dirinya masih bisa lemah, namun Kasih Karunia Tuhan memampukannya untuk dapat menguatkan sesama.

PERTANYAAN REFLEKTIF
Kegagalan apa yang masih saya tutupi dengan pembelaan diri? Apa yang perlu saya akui dan bereskan sebagai respons terhadap kasih karunia yang memulihkan?
Ketika saya gagal, identitas palsu apa yang terbongkar? Apakah selama ini saya lebih bersandar pada keberhasilan saya daripada kasih karunia Kristus?
Apakah pengalaman dipulihkan membuat saya lebih lembut kepada orang yang gagal?Siapa yang Tuhan percayakan untuk saya rawat, bukan saya hakimi?