You Can Serve Jesus and Still Miss Jesus

When Jesus Gets Personal – Week 5 

“You Can Serve Jesus and Still Miss Jesus”

Ps. Michael Chrisdion

 

Fokus utama kisah hari ini adalah seorang karakter perempuan bernama Marta. Marta sama sekali bukan orang jahat atau orang yang hidupnya jauh dari Tuhan. Sebaliknya, ia sangat mengasihi Yesus, membuka rumahnya untuk Yesus, dan memberikan pelayanan yang terbaik bagi Nya. Namun, di sanalah letak bahaya tersembunyinya. Marta hampir kehilangan Yesus bukan karena ia melakukan sesuatu yang kelihatannya berdosa, melainkan karena ia terlalu disibukkan dengan banyak hal penting, bahkan hal yang bersifat rohani.

Kisah ini menjadi sangat relevan karena banyak dari kita yang mungkin memiliki hati gelisah seperti Marta. Sering kali kita terlihat rajin beribadah di gereja dan tampak selalu berbuat baik, tetapi sebenarnya hati kita lelah dan percuma kita berlelah karena tidak lagi bersandar kepada Yesus.

Pada dasarnya, ada dua cara seseorang bisa kehilangan Yesus.

Pertama, terang terangan menolak Tuhan: hidup bertentangan dengan firman Nya, enggan membaca Alkitab dan beribadah, tidak peduli pada hal rohani, hingga hidup seolah olah Tuhan tidak ada.

Kedua, dan yang lebih berbahaya, adalah terlalu sibuk bekerja bagi Yesus. Kita bisa aktif melayani, rajin membaca Alkitab, disiplin beribadah, dan menjalankan tanggung jawab dengan baik, tetapi perlahan kehilangan kenikmatan akan kehadiran Yesus. Yesus hanya menjadi bagian dari rutinitas. Tubuh hadir dalam ibadah, tetapi pikiran sibuk dengan target, masalah, hutang, atau cicilan. Ini berbahaya karena terlihat sangat rohani dari luar.

Kisah Marta bukan hanya teguran bagi mereka yang aktif melayani, tetapi bagi setiap hati yang terlalu sibuk dengan hal baik hingga kehilangan Pribadi yang paling berharga. Kita tidak perlu meninggalkan Yesus untuk kehilangan Dia; kita hanya perlu menjadi terlalu sibuk dengan hal-hal baik sampai tidak lagi menikmati kehadiran Nya. Kesibukan itu bisa berupa membangun bisnis, membesarkan anak, mengejar prestasi, menjaga citra diri, atau berusaha mengendalikan segala sesuatu.

Karena itu, tanyakan pada diri sendiri: Apa yang begitu menyita perhatian, energi, dan hati saya sampai tidak ada lagi ruang untuk Tuhan? Pertanyaan terpenting bukan sekadar apakah kita melayani Tuhan, melainkan: Apa yang sebenarnya sedang kita layani dengan hidup kita saat ini?

BACAAN: LUKAS 10:38-42 

10:38 Ketika Yesus dan murid-murid-Nya dalam perjalanan, tibalah Ia di sebuah kampung. Seorang perempuan yang bernama Marta menerima Dia di rumahnya. 

10:39 Perempuan itu mempunyai seorang saudara yang bernama Maria. Maria ini duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya, 

10:40 sedang Marta sibuk sekali melayani. Ia mendekati Yesus dan berkata: "Tuhan, tidakkah Engkau peduli, bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri? Suruhlah dia membantu aku." 

10:41 Tetapi Tuhan menjawabnya: "Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, 

10:42 tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya."

Terdapat sebuah ironi besar dalam kisah ini. Yesus berada di ruang tamu, Martha di dapur, dan Maria mendengarkan di kaki Yesus. Jarak fisik mereka hanya beberapa meter, tetapi hati Martha sangat jauh dari ketenangan Yesus.

Ini adalah peringatan yang mengganggu bahwa kita bisa terlihat sangat dekat dengan Yesus, bisa berbicara banyak hal tentang Yesus, dan melakukan banyak hal baik untuk Yesus, tetapi kita tidak pernah benar benar mendengarkan dan menikmati pribadi Nya.

Sebagai kesimpulan, kita dapat menjadi begitu sibuk dengan banyak hal baik, penting, dan bahkan rohani, sampai akhirnya kita kehilangan satu Pribadi yang paling kita perlukan, yaitu Yesus sendiri.

Dari kisah ini, ada tiga poin utama yang menjadi perenungan kita:

  1. Kesibukan dapat menyembunyikan hati kita yang gelisah.
  2. Kita harus menerima terlebih dahulu sebelum kita dapat memberi.
  3. Kita harus menemukan bagian yang terbaik.

KESIBUKAN DAPAT MENYEMBUNYIKAN HATI YANG GELISAH

Berdasarkan ayat 40, kita melihat bagaimana Marta sibuk sekali melayani. Dalam bahasa aslinya, kata ini memberikan gambaran tentang seseorang yang ditarik atau diseret ke berbagai arah. Perhatiannya terpecah; tubuhnya berada di satu tempat, tetapi pikirannya melayang ke banyak tempat sekaligus. Seringkali kita pun mengalami hal yang sama. Kita duduk bersama keluarga atau sedang berdoa, namun pikiran kita memikirkan cicilan dan pekerjaan. Secara fisik kita hadir, tetapi secara batin kita tidak sungguh sungguh berada di sana. Inilah yang disebut dengan distracted living atau hidup yang teralihkan.

Kita mungkin berdalih bahwa kita sedang melakukan multitasking, namun ketika jiwa kita tercerai berai, itu adalah sebuah masalah. Jadwal kita penuh dan kita terus bergerak dari satu kesibukan ke kesibukan lainnya tanpa arah yang jelas. Percaya atau tidak, kita sering menggunakan kesibukan agar kita tidak perlu berhadapan dengan apa yang sebenarnya ada di dalam jiwa kita. Saat kita berhenti sejenak, di situlah ketakutan, kesepian, dan kekhawatiran justru muncul.

Perlu dipahami bahwa aktivitas bukanlah musuh kita, masalahnya adalah ketika aktivitas tersebut berubah menjadi identitas. Yesus tidak pernah merendahkan orang yang rajin. Firman Tuhan dalam Roma 12:11 mengingatkan agar kerajinan kita jangan kendor, dan dalam Yohanes 9:4 kita diminta untuk mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus kita.

Pekerjaan, uang, dan pelayanan adalah hal yang baik. Namun, menjadi masalah besar ketika keberhasilan pekerjaan menentukan nilai diri kita, uang menentukan keamanan kita, dan pelayanan menentukan apakah kita merasa berharga atau tidak. Masalah sejatinya bukanlah pada apa yang tangan kita lakukan, melainkan pada apa yang menjadi sandaran hati kita.

Marta telah mengubah banyak perkara yang sebenarnya baik menjadi kebutuhan emosional yang tidak dapat dinegosiasikan. Bagi kita saat ini memiliki bisnis yang bertumbuh, anak yang berhasil, pernikahan yang bahagia, atau pelayanan yang berdampak adalah keinginan yang sangat baik. Namun keinginan yang sehat selalu dapat dibawa kepada Tuhan dengan tangan terbuka, di mana kita siap menerima jawaban tidak, diminta menunggu, atau menerima rencana Tuhan yang berbeda.

Bahaya muncul ketika keinginan tersebut mulai menanggung beban identitas dan rasa aman kita. Keinginan perlahan berubah menjadi keharusan emosional. Kita mulai menggenggamnya dengan erat, berusaha mengontrol keadaan, orang lain, bahkan mencoba mengontrol Tuhan melalui doa kita. Pada akhirnya, ketika keinginan menjadi keharusan, keharusan itu akan berubah menjadi penguasa atau berhala di dalam hati kita.

Tiga Gejala Hati yang Dikuasai Berhala

  • Kekacauan di Dalam Batin (Inner Turmoil): Marta terlihat seperti orang yang mengendalikan keadaan, namun sebenarnya keadaanlah yang mengendalikannya. Kecemasan tidak hanya menyingkapkan apa yang kita takutkan, tetapi kecemasan menyingkapkan apa yang kita sembah. Hati kita akan terus gelisah dan kacau jika kita meminta ciptaan memberikan ketenangan yang hanya bisa diberikan oleh Sang Pencipta.
  • Jengkel kepada Orang Lain (Irritation with Others): Kegelisahan hati selalu membuat kita mudah jengkel. Ketika seseorang menghalangi berhala kita (entah itu berhala akan kontrol, penerimaan, keberhasilan, atau kenyamanan), orang tersebut akan terasa seperti musuh. Sama seperti Marta yang tidak lagi melihat Maria sebagai adik yang dikasihi, melainkan sebagai penghalang agendanya yang harus segera diselesaikan.
  • Kecurigaan kepada Tuhan (Suspicion of God): Ini adalah gejala yang paling serius. Marta yang awalnya melayani Yesus, perlahan mulai memerintah Yesus, dan akhirnya menuduh Yesus dengan berkata bahwa Ia tidak peduli. Doa yang tidak dijawab yang kemudian membuat kita marah dan curiga kepada Tuhan, sebenarnya menyingkapkan adanya berhala yang selama ini tertutupi oleh aktivitas kita. Jika kita sungguh sungguh melayani agenda Yesus, kita seharusnya bisa menerima saat Yesus mengubah agenda tersebut.

Merespons sikap Marta yang gelisah, reaksi Yesus sangatlah luar biasa. Ia tidak memarahi atau menegur seperti seorang atasan kepada bawahannya. Pengulangan panggilan "Marta, Marta" adalah bentuk teguran yang lahir dari kasih sayang dan emosi yang mendalam dari seorang sahabat. Yesus seolah berkata bahwa Ia sangat memahami kegelisahan dan kelelahan hati Marta, yang pada akhirnya akan membawa kita pada pemahaman baru tentang urutan Injil.

KITA HARUS MENERIMA SEBELUM DAPAT MEMBERI

Memasuki poin yang kedua, kita perlu memperhatikan urutan Injil yang benar. Saat menegur Marta, Yesus tidak menyuruhnya untuk menenangkan diri terlebih dahulu baru berbicara kepada Nya. Sebaliknya, Yesus memanggil Marta dengan penuh kasih dan mengundangnya keluar dari kegelisahan. Di sinilah letak prinsip utama: kita harus menerima terlebih dahulu sebelum dapat memberi.

Yesus sama sekali tidak sedang mempertentangkan antara bekerja keras dan duduk di kaki Nya, seolah olah bekerja itu tidak penting. Keduanya sama pentingnya, tetapi urutannya tidak boleh dibalik.

Seperti yang dicatat dalam Lukas 10:39, Maria memilih untuk duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan Nya. Ini mengajarkan bahwa kita harus menerima kasih, identitas, dan rasa aman dari Kristus sebelum kita bisa mengasihi orang lain, bekerja, atau menghadapi ketidakpastian dunia. Sama seperti teko yang hanya bisa menuangkan air jika sudah diisi terlebih dahulu, jiwa manusia pun memiliki prinsip yang sama.

Pola ini sangat jelas terlihat di dalam Alkitab. Dalam Markus 3:14, Yesus menetapkan dua belas murid pertama-tama untuk menyertai Dia, baru kemudian mereka diutus untuk memberitakan Injil. Kehadiran bersama Yesus harus mendahului misi bagi Yesus. Kita harus berada di dalam Kristus sebelum berkarya bagi Nya, dan menerima identitas sebagai anak Allah sebelum menjalani peran sebagai orang tua, profesional, pengusaha, atau pemimpin. Seringkali kita melompat langsung ingin produktif dan berdampak hanya demi pembuktian diri. Padahal, kekristenan tidak dimulai dari apa yang harus kita kerjakan, melainkan dari apa yang telah Kristus selesaikan bagi kita.

Dalam Yohanes 15:5, Yesus menegaskan bahwa Ia adalah pokok anggur dan kitalah rantingnya; di luar Dia kita tidak dapat berbuat apa apa. Kita harus tinggal di dalam Nya agar bisa berbuah. Buah bukanlah harga yang harus dibayar supaya kita diterima oleh Kristus, melainkan hasil alami karena kita tinggal di dalam Nya.

Namun, gaya hidup dan budaya modern seringkali menghalangi kita untuk benar benar tinggal di dalam Kristus. Kita hidup dalam budaya serba cepat di mana kita hanya membaca judul tanpa menyelesaikan artikel, menonton video sepotong sepotong, atau mempercepat pesan suara. Sayangnya, kebiasaan serba cepat ini sering terbawa saat kita membaca firman Tuhan. Kita hanya mencari kutipan motivasi yang cocok untuk hari itu tanpa sungguh sungguh merenungkan, mendengarkan, atau merefleksikannya. Kita sekadar mencari solusi instan dan kemudian kembali sibuk dengan berbagai notifikasi serta masalah hidup.

Berbeda dengan Maria yang memilih duduk di kaki Yesus. Ada tiga makna penting dari sikap Maria ini:

  1. Menundukkan diri kepada otoritas Kristus: Maria meletakkan pikirannya di bawah firman Kristus, bukan sekadar mencari bagian firman yang sesuai dengan keinginannya sendiri.
  2. Memberikan perhatian yang terpusat: Firman Tuhan bukan sekadar informasi, melainkan alat untuk mengoreksi asumsi kita. Seperti tertulis dalam Mazmur 1:2-3, orang yang merenungkan firman Tuhan diibaratkan seperti pohon yang tertanam dekat sumber air, bukan pohon yang hanya sesekali terkena cipratan air.
  3. Menikmati persekutuan pribadi: Kita datang kepada firman untuk melihat keindahan pribadi Kristus dan bersekutu dengan Nya, bukan sekadar mencari jawaban atas persoalan kita.

Sebagai langkah nyata dalam kehidupan sehari hari, sediakanlah waktu khusus yang tidak tergesa gesa untuk membaca firman Tuhan. Jangan memberikan waktu sisa kepada Tuhan, seperti rutinitas membaca Alkitab persis sebelum tertidur pulas. Saat membaca, izinkan firman Tuhan membaca hati Anda. Bertanyalah pada diri sendiri mengenai apa yang teks tersebut tunjukkan tentang Tuhan, apa berhala yang mungkin sedang bersarang di dalam hati, dan bagaimana Injil mengubah respons kita. Belajarlah untuk berdiam diri di hadapan Tuhan, menenangkan segala ketakutan yang muncul, dan kembali menerima identitas Anda di dalam Injil.

Mungkin ada yang menganggap disiplin membaca firman ini sebagai sesuatu yang kaku atau legalistik. Namun, mengutip Dallas Willard, anugerah tidak bertentangan dengan usaha, melainkan bertentangan dengan upaya untuk mendapatkan kelayakan. Kita tidak membaca firman supaya diberkati atau agar Tuhan senang, karena Tuhan sudah memberkati dan berkenan kepada kita melalui pengorbanan Kristus. Kita berupaya membaca firman semata mata untuk mengkalibrasi hati kita yang mudah melenceng akibat berbagai pengaruh dunia. Kita bekerja keras mempersiapkan hati bukan untuk membeli kasih Allah, melainkan justru karena kita menyadari betapa besarnya kasih Tuhan kepada kita.

Kesimpulannya, Injil tidak menyuruh kita memilih untuk menjadi seperti Maria saja atau Marta saja. Injil bukanlah penarikan diri yang pasif dari tanggung jawab, dan bukan pula dorongan untuk terus berkinerja demi membuktikan diri. Injil menawarkan jalan ketiga, yaitu aktivitas yang dilandasi oleh ketenangan batin. Kita duduk di kaki Yesus supaya kita memiliki kekuatan untuk bangkit dan bekerja keras bagi kemuliaan Tuhan.

Pada akhirnya, Injil membentuk kita untuk memiliki hati yang beristirahat seperti Maria dan tangan yang bekerja seperti Marta. Ketika kita meletakkan Kristus sebagai pusat yang utama dalam kehidupan, niscaya segala hal lainnya akan menemukan tempatnya yang tepat.

MENEMUKAN BAGIAN YANG TERBAIK

Poin ketiga sekaligus yang terakhir dari kisah ini adalah tentang menemukan bagian yang terbaik. Dalam firman Tuhan di Lukas 10:42, Yesus menegaskan bahwa Maria telah memilih bagian yang terbaik.

Pemahaman mengenai kata “bagian” memiliki makna yang sangat mendalam. Dalam Perjanjian Lama, kata ini sering digunakan untuk menjelaskan bahwa Allah sendiri adalah milik pusaka, warisan, dan harta bagi umatNya. Hal ini sejalan dengan pernyataan dalam Mazmur 16:5 yang menyebutkan bahwa Tuhan adalah bagian dan warisan, Mazmur 73:25 yang menyatakan bahwa sekalipun daging dan hati habis lenyap Tuhan adalah gunung batu dan bagian kita, serta Ratapan 3:24 yang menegaskan bahwa Tuhan adalah bagian jiwa kita dan kepadaNya kita berharap.

Oleh karena itu, bagian yang terbaik bukanlah sekadar hidup yang lebih tenang, jadwal yang seimbang, atau kemampuan mengelola waktu, melainkan Tuhan itu sendiri. Maria tidak hanya memilih untuk mendengarkan Yesus, tetapi ia sungguh sungguh memilih Yesus sebagai bagian yang paling berharga.

Ada sebuah pertanyaan reflektif yang harus kita renungkan bersama: Apakah kita menginginkan pemberian Tuhan lebih daripada Tuhan Sang Pemberi?

Bayangkan seorang ayah pulang dari luar negeri membawa oleh-oleh. Ada anak yang saat pintu terbuka langsung berfokus pada tangan sang ayah dan bertanya tentang hadiahnya. Namun, ada pula anak yang langsung berlari memeluk ayahnya, karena ia sadar bahwa yang paling berharga bukanlah apa yang ada di tangan sang ayah, melainkan kehadiran sang ayah itu sendiri.

Seringkali kita datang kepada Tuhan hanya untuk mencari tangan-Nya. Kita sibuk mempertanyakan di mana berkat kita, kesembuhan kita, terobosan kita, atau jawaban doa kita. Kita bisa begitu terpaku pada tangan Tuhan sampai kita melewatkan wajah Tuhan. Ini menjadi masalah besar ketika keinginan kita terhadap pemberian-Nya mengalahkan kerinduan kita akan Sang Pemberi.

Hal terpenting dari bagian yang terbaik ini adalah ia tidak akan pernah bisa diambil dari kita. Segala sesuatu di dunia ini bisa hilang. Posisi, jabatan, pekerjaan, produktivitas, kesehatan, keluarga, dan relasi semuanya dapat diambil. Anak anak akan pergi menempuh jalan mereka, kesehatan bisa menurun, pelayanan bisa hilang, dan kemampuan yang kita banggakan bisa berhenti saat tubuh melemah. Jika bagian terbaik Anda adalah karier atau keberhasilan anak, Anda akan hancur ketika hal hal itu runtuh. Namun, jika Kristus adalah bagian Anda, maka Anda tetap memiliki yang terutama sekalipun segalanya hilang.

Kebenaran ini bukanlah sekadar konsep teologis yang kosong. Pada satu titik kehidupan, ketika semua pencapaian yang saya banggakan dan bangun habis tersita, saya merasa sangat hancur lebur. Sebagai seorang pelayan Tuhan, teologi yang saya pegang saat itu adalah jika saya melayani dan bersusah payah bagi Tuhan, maka Tuhan pasti akan membalas dan memberkati saya berlimpah limpah. Ketika semua itu hilang, saya sempat kecewa kepada Tuhan dan menyadari bahwa pikiran saya tentang Dia selama ini keliru.

Kehilangan yang menyakitkan itu perlahan lahan menyadarkan saya bahwa saya tidak membutuhkan semua hal fana tersebut untuk memiliki nilai diri. Di tengah kekecewaan dan terlepasnya segala hal dari genggaman saya, ada tangan Tuhan yang tidak pernah melepaskan hidup saya. Tuhan meruntuhkan segalanya untuk menunjukkan bahwa Dialah yang paling berharga. Di situlah saya sungguh sungguh menemukan Kristus dan keindahan Injil layaknya sebuah harta karun. Pertanyaan terpenting yang harus kita jawab hari ini adalah: Jika Tuhan mengizinkan semuanya hilang, apakah Kristus cukup bagi kita?

Mungkin ada yang merasa bahwa standar ini terlalu radikal dan harganya terlalu mahal. Namun, Injil memberikan kekuatan kepada kita. Ada satu Pribadi yang rela kehilangan semuanya demi memberi dan melayani. Ia meninggalkan kekayaan paling mulia, tempat paling nyaman, dan persekutuan paling indah demi mendapatkan kita, yaitu Yesus. Sesuai dengan Markus 10:45, Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan memberikan nyawaNya.

Marta sibuk mempersiapkan meja untuk melayani Yesus, tetapi Injil mengingatkan kebenaran yang jauh lebih indah bahwa Yesus datang bukan terutama supaya kita melayaniNya, melainkan untuk melayani kita. Kekristenan tidak dimulai dari apa yang kita kerjakan bagi Kristus, melainkan dari apa yang Kristus lakukan dan selesaikan bagi kita.

Itulah sebabnya pada malam sebelum disalibkan, Yesus mengambil kain lenan, menuangkan air, berlutut, dan membasuh kaki murid muridNya. Petrus sempat keberatan karena merasa pekerjaan itu terlalu rendah untuk seorang Mesias. Namun Yesus menegaskan bahwa jika Ia tidak membasuh Petrus, maka Petrus tidak akan mendapat bagian di dalam Dia. Artinya, kita mendapat bagian dalam Kristus bukan karena kita cukup bersih untuk melayaniNya, melainkan karena Kristus lebih dulu merendahkan diri untuk melayani dan membersihkan kita. Seperti yang tertulis dalam Filipi 2, Ia mengosongkan diri menjadi seorang hamba dan taat sampai mati di kayu salib.

Hidup dari Karya Kristus yang Sudah Selesai

Sang Tuan yang layak dilayani justru datang melayani. Yang layak menerima kemuliaan justru menanggung hukuman para pendosa hingga Ia berseru bahwa semuanya sudah selesai. Harga hidup kita telah dibayar lunas dan komplit, tidak ada lagi yang bisa kita tambahkan. Jika kita mampu melayani saat ini, itu semata mata adalah bentuk ucapan syukur, bukan untuk menambah harga kelayakan diri kita.

Lalu, mengapa hati kita masih gelisah? Mengapa kita masih bersandar pada tempat yang lain? Hari ini kita sudah memiliki bagian yang terbaik, dan tangan Tuhanlah yang memegang hidup kita dengan kuat. Bersandarlah kepada Yesus dan temukan ketenangan, karena Ia telah membayar semuanya lunas.

Orang Kristen tidak hidup untuk membuktikan diri, namun hidup dari karya Kristus yang sudah selesai. Kita bekerja bukan supaya bernilai, melainkan karena di dalam Kristus kita sudah bernilai. Kita mengasihi dan membesarkan anak bukan untuk membuktikan bahwa kita adalah orang tua yang sukses, tetapi karena kita menyadari bahwa kita telah lebih dulu dikasihi oleh Bapa di surga. Semua cara pandang kita kini diubahkan.

ORANG BERINJIL

Tidak perlu membuktikan diri agar dikasihi, karena di Salib Kristus telah membuktikan Kasih Nya kepada kita yang tidak layak.

Tidak melayani supaya diterima, namun dapat melayani karena di dalam Kristus sudah menerima bagian yang terbaik.

Tidak mudah hancur saat mengalami kehilangan, karena Kristus yang paling berharga adalah kecukupannya.

PERTANYAAN REFLEKTIF

  1. Apakah saya menikmati Yesus, atau diam diam memakai pekerjaan, keluarga, pencapaian, kesibukan, bahkan pelayanan untuk membuktikan bahwa saya berharga & layak dikasihi?
  2. Ketika rencana terganggu, usaha tidak dihargai, situasi tidak sesuai yang saya harapkan, apa respons saya menunjukkan bahwa Kristus adalah Tuhan? atau kontrol, keberhasilan, dan pengakuan telah menjadi berhala saya?
  3. Jika semua hilang dalam hidupku, apakah saya percaya bahwa Kristus adalah bagian terbaik dan Kristus cukup bagi saya?