TEGURAN TUHAN ADALAH BENTUK KASIH-NYA
YEREMIA 18–22

 

Peringatan Tuhan yang tegas bukanlah tanda bahwa Dia ingin menghukum atau menjauhkan kita. Justru sebaliknya, peringatan-Nya adalah salah satu bentuk kasih karunia-Nya.

 

Kita mungkin sulit memahami bagaimana peringatan keras tentang hukuman dapat berjalan bersama dengan kasih Allah. Bukankah Allah adalah Allah yang penuh kasih? Mengapa Dia berbicara tentang kehancuran, hukuman, dan akibat dosa dengan begitu serius? Namun, kita perlu memahami satu hal: peringatan Allah bukanlah lawan dari kasih-Nya. Justru peringatan-Nya adalah salah satu bentuk kasih-Nya.

 

Jika seseorang yang kita kasihi sedang berjalan menuju bahaya, kita tidak akan diam. Kita akan memperingatkannya. Kita mungkin harus berbicara dengan tegas, bahkan mengatakan sesuatu yang tidak ingin didengarnya. Bukan karena kita membencinya, tetapi karena kita ingin menyelamatkannya. Demikian juga Allah. Dia tahu betapa merusaknya dosa. Karena itu, Dia tidak membiarkan umat-Nya berjalan menuju kehancuran tanpa peringatan.

 

Melalui Nabi Yeremia, Tuhan memperingatkan bangsa Israel agar mereka berbalik dari dosa mereka. Tuhan dengan jelas menunjukkan apa yang Dia kehendaki dari umat-Nya: “Beginilah firman Tuhan: ‘Pergilah ke istana raja Yehuda dan sampaikanlah di sana firman ini! Katakanlah: Dengarlah firman Tuhan, hai raja Yehuda yang duduk di atas takhta Daud, engkau, pegawai-pegawaimu dan rakyatmu yang masuk melalui pintu-pintu gerbang ini! Beginilah firman Tuhan: Lakukanlah keadilan dan kebenaran, lepaskanlah dari tangan pemerasnya orang yang dirampas haknya, janganlah engkau menindas dan janganlah engkau memperlakukan orang asing, yatim dan janda dengan keras, dan janganlah engkau menumpahkan darah orang yang tak bersalah di tempat ini! Sebab jika kamu sungguh-sungguh melakukan semuanya itu, maka melalui pintu-pintu gerbang istana ini akan berarak masuk raja-raja yang akan duduk di atas takhta Daud dengan mengendarai kereta dan kuda: mereka itu, pegawai-pegawainya dan rakyatnya. Tetapi jika kamu tidak mendengarkan perkataan-perkataan ini, maka Aku sudah bersumpah demi diri-Ku, demikianlah firman Tuhan, bahwa istana ini akan menjadi reruntuhan. Sebab beginilah firman Tuhan mengenai keluarga raja Yehuda: Engkau seperti Gilead bagi-Ku, seperti puncak gunung Libanon! Namun pastilah Aku akan membuat engkau menjadi padang gurun, menjadi kota yang tidak didiami orang. Aku akan menetapkan pemusnah-pemusnah terhadap engkau, masing-masing dengan senjatanya; mereka akan menebang pohon aras pilihanmu dan mencampakkannya ke dalam api.’” (‭‭Yer. ‭22‬:‭1‬-‭7‬).

 

Allah sedang memberikan pilihan yang sangat jelas kepada umat-Nya yakni bertobat dan hidup dalam ketaatan, atau terus berjalan dalam pemberontakan dan menanggung akibat dosa. Ini menunjukkan bahwa Allah tidak memperlakukan dosa sebagai sesuatu yang sepele. Kita sering kali begitu mudah meyakinkan diri bahwa kita dapat melakukan sesuatu yang salah tanpa konsekuensi. Dosa membuat hati kita menipu diri sendiri: "Tidak apa-apa. Allah pasti mengerti. Ini tidak akan menjadi masalah besar."

 

Karena itu, ketika Allah memperingatkan kita, Dia sebenarnya sedang menarik perhatian kita kembali kepada-Nya. Dia memperlihatkan akibat dosa bukan karena Dia meremehkan kita, tetapi justru karena kita sangat berharga bagi-Nya. Peringatan ini memang terdengar keras. Tetapi justru karena dosa begitu serius, kasih Allah tidak akan berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja. Kasih yang sejati tidak hanya menghibur kita ketika kita terluka, kasih juga memperingatkan kita ketika kita sedang berjalan menuju kehancuran.

 

Dan kita melihat kasih yang sama dengan cara yang paling sempurna di dalam Injil. Allah tidak hanya memperingatkan manusia tentang akibat dosa. Dia sendiri datang untuk menyelamatkan kita dari dosa dan hukuman yang layak kita terima. Di dalam Yesus Kristus, Allah mengambil langkah pertama untuk memulihkan manusia yang telah memberontak kepada-Nya. Di kayu salib, kita melihat bahwa peringatan Allah tentang dosa bukanlah ancaman kosong. Hukuman dosa itu nyata dan Kristus rela menanggungnya menggantikan kita. Ia mengambil murka Allah yang seharusnya menjadi bagian kita, supaya kita menerima pengampunan dan pendamaian dengan Allah. Karena itu, teguran Allah seharusnya tidak membuat kita menjauh dari-Nya. Teguran-Nya seharusnya membawa kita berlari kepada Kristus.

 

Ketika firman Tuhan menyingkapkan dosa kita, jangan buru-buru membela diri. Ketika Roh Kudus menunjukkan sesuatu yang salah dalam hati kita, jangan mengeraskan hati. Datanglah kepada Allah dalam pertobatan. Sebab di dalam Kristus, pertobatan bukanlah pintu menuju penghukuman bagi orang percaya, tetapi jalan kembali kepada kasih karunia.

 

Mungkin hari ini ada sesuatu dalam hidup Anda yang sedang Tuhan tegur. Mungkin dosa yang selama ini disembunyikan, kebiasaan yang terus dipertahankan, kepahitan yang tidak mau dilepaskan, atau area hidup yang kita tahu tidak berkenan kepada-Nya tetapi terus kita toleransi. Jangan abaikan peringatan-Nya. Peringatan Allah adalah anugerah. Ketika Dia menegur, itu berarti Dia masih memanggil kita untuk kembali. Ketika Dia menunjukkan dosa, Dia sedang membuka jalan menuju pertobatan. Dan ketika kita bertobat, kita tidak menemukan Bapa yang sedang menunggu untuk menghancurkan kita, tetapi Bapa yang melalui Kristus membuka jalan untuk menerima, mengampuni, dan memulihkan kita.

 

Refleksi
Bacalah Amsal 3:11–12 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:

 

  1. Apa yang Anda pelajari tentang Tuhan dari renungan ini?
  2. Apa yang Anda pelajari tentang dirimu dari renungan ini?
  3. Apa yang perlu Anda pertobatkan dan terapkan hari ini?

 

Bacaan Alkitab Setahun: Yeremia 18-22