ALLAH SEJATI ATAU PENGGANTI?
2 SAMUEL 22–24

 

Dalam memahami kebenaran Alkitab, orang yang bijaksana bukan hanya yang punya jawaban benar, tetapi yang memiliki pertanyaan yang benar, pertanyaan yang membawa kepada jawaban yang benar.

 

Alkitab bukan hanya berisi jawaban-jawaban yang mengubahkan hidup, tetapi juga mencatat pertanyaan-pertanyaan yang sangat dalam maknanya. Di taman Eden, ketika Allah bertanya kepada Adam, “Di manakah engkau?” (Kej. 3:9), kita dihadapkan pada kenyataan bahwa ada sesuatu yang sangat salah, dan dunia tidak akan pernah sama lagi. Adam dan Hawa, yang diciptakan menurut gambar Allah, kini justru bersembunyi dari Pencipta mereka, shalom dan damai sejahtera telah hancur.

 

Kemudian Abraham mengajukan pertanyaan penting, memohon belas kasihan Allah: “Masakan Hakim segenap bumi tidak menghukum dengan adil?” (Kej. 18:25). Lalu ada pertanyaan yang sangat praktis dari pemazmur: “Dengan apakah seorang muda mempertahankan kelakuannya bersih?” (Mzm. 119:9). Paulus juga bertanya dalam Roma 6:1: “Bolehkah kita bertekun dalam dosa, supaya semakin bertambah kasih karunia itu?” - sebuah pertanyaan yang menyingkapkan kesalahpahaman yang besar tentang kasih karunia. Pertanyaan-pertanyaan dalam Alkitab dicatat untuk membuka hati kita, menerangi pikiran kita, menjaga dan melindungi kita, memperdalam iman kita, membangkitkan kerinduan rohani, dan mendorong kita untuk semakin mengasihi Allah.

 

Menjelang akhir hidupnya, Raja Daud, menulis sebuah nyanyian panjang yang penuh sukacita karena pembebasan yang ia alami. Dalam nyanyian itu, ia memuji kesetiaan Allah yang melindunginya. Dengan rendah hati, Daud mengakui bahwa musuh-musuhnya dikalahkan bukan karena kekuatannya sendiri, tetapi karena kuasa dan kehadiran Allah yang Mahakuasa. Nyanyian ini bukan seperti seorang pahlawan yang membanggakan diri dan berkata, “Lihat apa yang sudah aku lakukan.” Inilah nyanyian pujian yang meninggikan Allah dari awal sampai akhir. Ini mengingatkan kita bahwa hidup kita pun seharusnya menjadi ungkapan syukur kepada Tuhan.

 

Dalam nyanyian itu, Daud mengajukan pertanyaan yang sangat penting, bahkan bisa dikatakan pertanyaan terbaik dalam hidup. Cara kita menjawab pertanyaan ini akan menentukan arah hati dan hidup kita: “Sebab siapakah Allah selain dari TUHAN, dan siapakah gunung batu kecuali Allah kita?” (2Sam. 22:32). Bagi Daud, ini adalah pertanyaan retoris. Hidupnya menjadi bukti nyata tentang kemuliaan dan kebesaran Allah. Tidak ada yang seperti TUHAN. Tidak ada yang seadil Dia. Tidak ada yang sekuat Dia. Tidak ada yang setia seperti Dia. Hanya Dia satu-satunya “Gunung Batu” tempat kita bisa berdiri dengan pasti dan menaruh pengharapan. “Siapakah Allah selain dari TUHAN?” Jawabannya jelas: tidak ada!

 

Namun, kita perlu sadar bahwa ada banyak “allah” lain yang berusaha menguasai hati kita. Banyak “tuan” yang ingin menguasai hidup kita. Pengganti-pengganti Allah ini bisa datang dari mana saja, bahkan dari dalam hati kita sendiri atau dari hal-hal di sekitar kita. Setiap hari “allah-allah palsu” ini membisikkan kebohongan kepada kita.

 

Di sinilah Injil berbicara dengan jelas. Kita yang dahulu jauh dari Allah, tersesat dalam dosa, dan mencari “allah” lain, kini dipanggil kembali melalui Yesus Kristus. Melalui salib-Nya, kita melihat bahwa hanya TUHAN yang layak menjadi Allah kita—karena hanya Dia yang menyelamatkan, menebus, dan memberi hidup yang sejati. Kiranya anugerah Allah menolong kita untuk memberikan jawaban yang benar atas pertanyaan yang paling penting ini: “Tidak ada Allah selain TUHAN. Hanya Dia Allahku.”

 

Refleksi
Bacalah Markus 12:28-34 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:

 

  1. Apa yang Anda pelajari tentang Tuhan dari renungan ini?
  2. Apa yang Anda pelajari tentang dirimu dari renungan ini?
  3. Apa yang perlu Anda pertobatkan dan terapkan hari ini?

 

Bacaan Alkitab Setahun: 2 Samuel 22-24