UJIAN YANG CUKUP

Jikalau ada seorang menganggap dirinya beribadah, tetapi tidak mengekang lidahnya, ia menipu dirinya sendiri, maka sia-sialah ibadahnya. Ibadah yang murni dan yang tak bercacat di hadapan Allah, Bapa kita, ialah mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka, dan menjaga supaya dirinya sendiri tidak dicemarkan oleh dunia. – Yakobus 1:26-27

 

Jika seseorang bertanya kepada Anda, “Bagaimana saya tahu jika iman saya itu sungguh-sungguh?” bagaimana Anda akan menjawab? Standar apa yang akan Anda gunakan untuk menilai diri sendiri? Mungkin Anda mengusulkan buah Roh atau karakter yang diajarkan dalam Khotbah di Bukit? Ada banyak standar yang bisa dipakai. Namun tujuan dari sebuah ujian iman bukanlah mencari kesempurnaan, tetapi melihat apakah kita sedang bergerak ke arah yang benar oleh anugerah Allah.  Karena itu, ketika Yakobus memberikan semacam tes iman, ia menyoroti tiga bentuk perilaku yang sangat spesifik.

 

Bagian pertama berkaitan dengan pengendalian lidah. Setiap orang percaya menghadapi risiko: kita dapat dengan tepat memuji Allah dan menyampaikan kebenaran iman, tetapi pada saat yang sama jatuh dalam kebiasaan mengumbar lidah tanpa pikir panjang. Banyak cara untuk berdosa dengan perkataan—di antaranya omongan yang tidak bijak, gosip, kebohongan, hinaan, dan kata-kata kotor. Bila kita tidak berusaha menyesuaikan perkataan kita dengan pengakuan iman kita kepada Kristus, maka kita perlu bertanya apakah hati kita sedang menipu kita. Lidah yang tidak dikendalikan adalah tanda bahwa ada sesuatu dalam hati yang perlu dikoreksi oleh Injil.

 

Bagian kedua dari ujian ini berkaitan dengan belas kasihan. Belas kasihan seharusnya menjadi ciri orang Kristen karena itu adalah karakter Bapa surgawi kita, yang adalah “Bapa bagi anak yatim dan Pelindung bagi para janda” (Mzm. 68:5). Jika kita adalah milik-Nya, maka kita pun seharusnya memiliki kepedulian yang tulus terhadap mereka yang tak berdaya. Jika hati kita tidak tergerak melihat penderitaan orang yang membutuhkan, maka kita perlu bertanya apakah ibadah kita benar-benar murni. Injil yang kita percaya seharusnya menghasilkan hati yang peka dan tangan yang terulur.

 

Bagian ketiga berbicara tentang kemurnian hidup. Yakobus ingin kita menanyakan apakah hidup kita ditandai oleh kekudusan. Kita tidak boleh begitu sibuk secara sosial atau aktif dalam pelayanan sehingga mengorbankan kekudusan pribadi. Dunia tempat kita tinggal menentang tujuan-tujuan Allah, sehingga kita perlu berjaga-jaga supaya tidak hanyut oleh arusnya. Ada perbedaan mendasar antara kerajaan Kristus dan dunia, dan perbedaan itulah yang menolong kita untuk tetap “menjaga diri supaya tidak dicemarkan oleh dunia.” Jika kita malah berteman akrab dengan dunia serta nilai-nilainya, kita akan jatuh dalam ibadah yang tercemar.

 

Meski ketiga hal ini bukan daftar lengkap, tapi ini sudah cukup. Tidak ada seorang pun yang dapat melakukannya dengan sempurna, tetapi kita didorong untuk menilai apakah kita sedang melangkah ke arah yang benar dalam hal perkataan, belas kasih, dan kemurnian. Mungkin melalui pembacaan ini Roh Kudus sedang menegur hati nurani Anda atau menunjukkan area mana di hati Anda yang membutuhkan pertobatan. Bila demikian, bersyukurlah. Karena Injil bekerja dalam diri kita untuk membawa kita kembali kepada Kristus Sang Juruselamat yang tidak hanya mengampuni dosa kita, tetapi juga memperbarui hati kita.

 

Dengan anugerah yang sama yang menyelamatkan kita, Roh Kudus menolong kita untuk bertumbuh dalam pengendalian perkataan, belas kasih yang nyata, dan hidup yang murni, sehingga ibadah kita benar-benar mencerminkan kasih kita kepada Allah dan sesama.

 

Refleksi
Bacalah 1 Petrus 1:22-2:3 dan jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut:

 

1. Kebenaran Injil mana yang mengubahkan hati saya?
2. Hal apa yang perlu saya pertobatkan?
3. Apa yang bisa saya terapkan hari ini?

 

Bacaan Alkitab Setahun: Hagai 1-2; Lukas 14:1-24