CARA ALLAH
Tetapi engkau, hai Betlehem Efrata, hai yang terkecil di antara kaum-kaum Yehuda, dari padamu akan bangkit bagi-Ku seorang yang akan memerintah Israel, yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala. – Mikha 5:1
Ketika nabi Mikha menyampaikan harapan bagi umat Allah yang sedang putus asa, ia membuka nubuatnya dengan pernyataan yang mengejutkan: ia menyingkapkan bahwa Mesias yang dijanjikan tidak akan datang dari Yerusalem, kota kerajaan yang megah—tempat asal sebagian besar penguasa Israel pada masa itu. Jika seseorang membayangkan seorang raja akan datang, orang pasti mengira ia datang dari tempat yang besar dan terkenal. Namun, Allah mengatakan bahwa Mesias akan datang dari Betlehem. Dari kota kecil, sederhana, dan tidak terpandang inilah karya besar Allah akan dinyatakan bagi umat-Nya.
Yerusalem adalah kota yang paling menonjol di Israel. Kota raja besar Daud, lokasi Bait Allah, dan pusat kehidupan ibadah umat Allah. Tidak ada seorang pun yang akan memperhitungkan Betlehem. Kota itu terlalu kecil untuk masuk dalam daftar suku-suku Yehuda. Bahkan, Betlehem mungkin tidak akan muncul dalam daftar 100 besar mereka, apalagi 10 besar. Namun, justru di sanalah letak makna Betlehem—di dalam ketidakpentingannya.
Kalau kita melihat keseluruhan kisah Alkitab, kita akan sadar bahwa hal ini sebenarnya sangat masuk akal. Memang seperti inilah cara Allah bekerja! Ketika Goliat mengejek bangsa Israel, para prajurit yang kuat dan berani justru melarikan diri. Alih-alih memakai para tentara yang “besar” itu, Allah memakai seorang gembala kecil yang dianggap tidak berarti—dari Betlehem pula!—hanya dengan lima batu dan sebuah umban untuk menyelamatkan umat-Nya. Ketika kabar baik tentang kelahiran Sang Mesias datang, kita mungkin mengira bahwa para tokoh penting dan terpandanglah yang akan mendengarnya lebih dulu. Tetapi sebaliknya, Allah justru menyampaikannya kepada beberapa gembala yang tak dipandang. Begitulah cara Allah bekerja.
Banyak orang yang menolak pesan Alkitab tersandung oleh kenyataan bahwa jawaban Allah bagi dunia justru datang melalui seorang bayi yang lahir dalam ketidakjelasan. Ini bukanlah kisah yang akan dibuat oleh manusia! Namun, justru ke tempat yang tak diperhitungkan inilah Sang Mesias datang untuk memerintah. Dia yang terbaring dalam palungan di Betlehem adalah Raja yang kerajaannya tak berkesudahan—kerajaan yang jauh melampaui semua kerajaan lainnya.
Melihat pola karya Allah di zaman dahulu memampukan kita mengenali karya-Nya pada masa kini. Melalui Yesus sang Mesias yang sudah datang, kita disiapkan untuk memahami bahwa Dia membangun kerajaan-Nya bukan melalui kemegahan dunia, tetapi melalui jalan kerendahan hati, bahkan melalui kematian-Nya di kayu salib. Di situlah kepastian janji-janji Allah diteguhkan. Salib menunjukkan bahwa cara Allah selalu berbeda dari cara dunia, tetapi justru di sanalah keselamatan kita dinyatakan.
Jika Anda menilai diri Anda tidak berarti atau kecil, waspadalah—sebab sering kali itu justru membuat kita ingin meninggikan diri. Namun jika Anda merasakan diri Anda kecil, terbatas, dan tidak berpengaruh—maka berpengharapanlah, sebab Allah bekerja melalui hal-hal kecil dan orang-orang sederhana untuk menyatakan karya besar-Nya. Dari hal yang dianggap tidak penting, Allah membukakan jalan keselamatan bagi dunia.
Tidak perlu ragu bahwa hari ini pun, Allah masih bekerja melalui hal-hal yang sederhana, kecil, dan tersembunyi—supaya kemuliaan-Nya saja yang tampak.
Refleksi
Bacalah Mikha 5 dan jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut:
1. Kebenaran Injil mana yang mengubahkan hati saya?
2. Hal apa yang perlu saya pertobatkan?
3. Apa yang bisa saya terapkan hari ini?
Bacaan Alkitab Setahun: Yosua 1-3; Lukas 14:25-35