DI TENGAH JALAN YANG TIDAK MUDAH
Kejadian 30 -31
Bukan hidup yang mudah yang Allah janjikan, melainkan kehadiran-Nya yang setia di setiap musim kehidupan.
Jika rencana utama Allah adalah melepaskan kuasa-Nya untuk memberikan kehidupan yang nyaman kepada kita, tentu sejak lama Ia telah melepaskan kuasa-Nya untuk itu. Namun sesungguhnya, rencana utama Allah adalah menyatakan hikmat, kuasa, dan kasih karunia-Nya demi keselamatan dan penebusan kita yang kekal. Kita tidak mengetahui segala sesuatu tentang Allah, tetapi kita tahu bahwa kita menyukai kenyamanan. Kita juga tidak menikmati musim hidup yang penuh gangguan dan kesulitan. Kita tidak suka harus bergumul atau menunggu.
Namun kenyataannya kita terus-menerus diperhadapkan dengan kenyataan bahwa Allah yang mengasihi kita dan yang telah menyerahkan Anak-Nya bagi penebusan kita, sering kali justru menuntun kita melewati jalan yang sulit.
Demikian pula dengan kehidupan Yakub. Berkat perjanjian yang mula-mula diberikan kepada Abraham memang diwariskan kepadanya, tetapi hidup Yakub sama sekali tidak berjalan mudah. Dalam Kejadian 30–31, Yakub hidup dalam konflik dengan mertuanya, Laban, terutama mengenai upah dan harta milik. Allah memberkati Yakub dan membuatnya berhasil, dan Laban pun turut menikmati hasil dari keberhasilan itu. Namun, Laban tidak rela memberikan kepada Yakub apa yang seharusnya menjadi haknya.
Kisah drama keluarga yang panjang ini terasa sangat dekat dengan kehidupan kita. Kita semua memahami konflik keluarga. Kita semua pernah berharap hidup bersama keluarga bisa berjalan lebih mudah dan lebih nyaman. Banyak dari kita pernah berselisih dengan anggota keluarga mengenai apa yang benar-benar menjadi hak kita. Bahkan, tidak sedikit dari kita yang pernah disakiti dan diperlakukan tidak adil oleh orang-orang terdekat. Pada saat-saat seperti itu, sering kali kita merasa seolah-olah kita bukan sedang berada di bawah berkat Raja segala raja dan Tuhan segala tuan.
Dalam momen-momen sulit itu, ketika hidup terasa tidak berjalan sebagaimana mestinya dan ketika Allah tampak jauh, kita dipanggil untuk tetap berpegang kepada Allah oleh iman dan bertahan di dalam-Nya. Alkitab memanggil kita untuk bertekun dalam firman Allah, karena di antara masa “sudah” dan “belum” (already but not yet), kita semua akan menghadapi musim-musim yang penuh kesukaran.
Masa-masa sulit ini bukanlah tanda bahwa janji Allah gagal atau bahwa Allah telah meninggalkan kita. Justru di tengah kesulitan itulah Allah sedang mengerjakan rencana-Nya dan memperdalam kepercayaan kita kepada-Nya, serta membentuk hidup kita sebagai anak-anak-Nya. Ketekunan bukanlah sekadar berusaha memperbaiki keadaan. Ketekunan adalah menolak untuk membiarkan penderitaan meyakinkan kita bahwa Allah tidak setia atau bahwa janji-Nya tidak dapat dipercaya. Ketekunan adalah tetap berpegang kepada Allah di dalam iman, bahkan ketika Ia terasa tidak dekat dan ketika jalan yang Ia izinkan terasa terlalu berat.
Dalam momen konflik dan pencobaan yang tak terduga, Allah menyambut kita dengan kasih karunia-Nya, memberi kita kekuatan untuk tetap berpegang kepada-Nya, sebab sesungguhnya Ia tidak pernah melepaskan kita. Allah belum selesai menguji dan membentuk Yakub, dan konflik keluarga ini tidak akan menghentikan jalannya rencana perjanjian-Nya.
Refleksi
Bacalah Yakobus 1:2-4 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:
Bacaan Alkitab Setahun: Kejadian 30-31