ALLAH BEKERJA MELAMPAUI CARA PIKIR MANUSIA
Kejadian 27-29

 

Allah tidak menjanjikan jalan yang mudah dipahami, tetapi Ia menjamin jalan yang benar dan penuh kasih.

 

Allah menciptakan kita sebagai makhluk rasional. Kita telah diberkati dengan kemampuan untuk berpikir dan menimbang. Karena itu, kita tidak pernah berhenti menafsirkan hidup—berusaha memahami apa yang sedang terjadi di dalam dan di sekitar kita. Namun, Allah tidak pernah bermaksud agar akal budi kita menjadi penuntun tertinggi dalam hidup. Nabi Yesaya menegaskan: "Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu" (Yes. 55:8-9).

 

Dalam Kejadian 25-26, kita dihadapkan pada perbedaan antara apa yang tampak benar dan logis bagi kita dan apa yang terbaik di mata Allah.  Secara manusiawi, masuk akal jika berkat perjanjian—yang mengandung janji global dan kekal—diteruskan dari Ishak kepada Esau, anak sulungnya. Namun Allah memiliki rencana yang berbeda. Dalam kisah penebusan, ini merupakan sebuah kejutan yang mengguncang.

 

Ketika kisah ini dipelajari dengan saksama, jelas bahwa kita tidak boleh menganggap remeh berkat tersebut. Allah sedang membalikkan tatanan yang lazim: yang lebih tua akan melayani yang lebih muda. Bahkan sebelum Yakub dan Esau lahir, Allah telah berfirman kepada Ribka, ibu mereka, "anak yang tua akan menjadi hamba kepada anak yang muda" (Kej. 25:23).

 

Menggunakan pikiran Anda itu benar. Memikirkan kehidupan itu baik dan itu adalah anugerah dari Tuhan. Kemampuan untuk berpikir, menimbang, dan memahami adalah berkat yang besar. Namun, setiap anugerah harus dipakai dengan kerendahan hati, disertai kesadaran akan keterbatasan kita dan kesiapan untuk tunduk pada hikmat Allah yang jauh melampaui kita.

 

Melalui iman, kita semua dipanggil untuk hidup percaya bahwa Allah itu kudus dan berdaulat dalam segala hal, setiap saat, dan dalam segala keadaan. Oleh karena itu, apa pun yang Ia lakukan dan perintahkan selalu bertujuan membawa kebaikan yang sejati. Karena jalan Allah bukanlah jalan kita, akan ada saatnya apa yang Allah lakukan tidak masuk akal bagi kita dan apa yang Dia minta untuk kita lakukan terasa bertentangan dari apa yang kita anggap terbaik. Ini adalah momen di mana kita menemukan "persimpangan jalan”: apakah kita akan menjadikan akal budi kita sebagai penuntun utama, ataukah kita akan menundukkan akal kita kepada hikmat Allah yang tak terbatas?

 

Dalam kisah Yakub dan Esau yang membingungkan ini, Allah tidak mengabaikan janji-janji dalam perjanjian-Nya atau melakukan hal yang jahat. Allah sedang melakukan apa yang Dia tahu adalah yang terbaik untuk menjamin berkat-Nya bukan hanya bagi satu generasi ini, tetapi bagi generasi umat-Nya yang lain yang juga akan menerima berkat tersebut.

 

Terkadang Allah akan mengejutkan, membingungkan, atau bahkan mengacaukan kita, tetapi Dia tidak akan pernah melakukan yang jahat. Dia kudus dan tidak mampu berbuat salah. Bahkan ketika Ia mengacaukan pengertian kita, Ia tetap layak sepenuhnya untuk dipercaya.

 

Dalam terang Injil, kita melihat bahwa keselamatan kita pun tidak datang melalui cara yang “masuk akal” menurut dunia. Kristus menang melalui salib, bukan melalui kekuatan. Kehidupan datang melalui kematian. Anugerah diberikan bukan kepada yang paling layak, tetapi kepada yang dipilih oleh kasih karunia.

 

Ketika kita menyerahkan seluruh kemampuan kita kepada Kristus, kita mengalami keamanan sejati. Allah itu baik. Dan karena Ia baik, bahkan di tengah kebingungan, kita dapat memiliki damai sejahtera—damai yang lahir dari iman kepada Allah yang setia menggenapi janji-Nya.

 

Refleksi
Bacalah Roma 8:28-30 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:

 

  1. Apa yang Anda pelajari tentang Tuhan dari renungan ini?
  2. Apa yang Anda pelajari tentang dirimu dari renungan ini?
  3. Apa yang perlu Anda pertobatkan dan terapkan hari ini?

 

Bacaan Alkitab Setahun: Kejadian 27-29