INTERUPSI DARI ALLAH
Kejadian 32–34
Tuhan sering mengizinkan interupsi dalam hidup kita untuk menarik kembali hati kita kepada-Nya, menguatkan iman kita, dan mengingatkan identitas kita lagi bahwa kita adalah anak-anak-Nya.
Kejadian 32 menceritakan salah satu pergulatan paling aneh yang pernah dicatat dalam Alkitab. Sekilas, kisah ini terasa ganjil dan sulit dipahami. Namun semakin kita memperhatikannya dengan saksama, semakin jelas bahwa pergulatan ini justru adalah sebuah anugerah, sebuah berkat. Peristiwa ini adalah gambaran yang sangat kuat tentang cara Allah menjumpai umat-Nya melalui kasih karunia.
Yakub sedang dalam perjalanan pulang ke tanah Kanaan setelah dua puluh tahun tinggal di Padan-Aram. Namun kepulangannya sama sekali tidak terasa damai. Ia diliputi ketakutan karena mendengar bahwa Esau, kakaknya, sedang datang menemuinya bersama empat ratus orang. Bagi Yakub, ini bukan rombongan penyambutan, melainkan ancaman, sebuah kemungkinan balas dendam yang telah lama ia takuti.
Ketakutan itu membuat Yakub melewati malam yang gelisah dan tanpa tidur. Di tengah kegelisahan itu, tiba-tiba seorang pria asing muncul dan mulai bergulat dengannya. Dalam proses pergulatan tersebut, Yakub akhirnya menyadari bahwa ia sedang bergumul dengan Allah sendiri. Ia pun berkata bahwa ia tidak akan melepaskan-Nya sebelum Allah memberkatinya. Allah tidak hanya memberkati Yakub, tetapi juga memberinya identitas baru: Israel, yang berarti “dia yang bergumul dengan Allah.” Perubahan nama ini menandai peran besar yang akan Allah kerjakan melalui hidup Yakub dalam rencana keselamatan-Nya.
Perhatikan bagaimana Allah menemui Yakub, bagaimana Dia menguatkan dan memberkatinya. Di sinilah kita melihat gambaran cara kerja kasih karunia Allah dalam hidup kita. Di saat kesulitan, kita sering berharap anugerah Allah datang sebagai kelegaan instan—seperti minuman segar atau bantal empuk. Namun Allah tidak selalu menyingkirkan kesulitan, justru Ia sering hadir di dalamnya.
Yakub tidak sedang melarikan diri dari Esau ketika ia bergumul dengan Allah. Hatinya mulai berbalik kepada Tuhan, dan yang ia rindukan bukan lagi keselamatan diri, melainkan berkat dari Allah.
Allah akan memakai apa pun yang Ia pandang terbaik untuk menarik hati dan pikiran kita kembali kepada-Nya. Ia mengizinkan kita berseru memohon anugerah-Nya dan menumbuhkan pemahaman yang lebih dalam tentang siapa kita sebagai anak-anak yang dikasihi-Nya. Dalam kasih, Allah akan datang menjumpai kita—bahkan melalui kesesakan—karena interupsi itulah yang sering kali paling kita butuhkan, agar kita tidak kehilangan jati diri dan melupakan anugerah yang telah kita terima sebagai anak-anak-Nya.
Kasih karunia Allah datang dalam banyak bentuk. Anugerah-Nya tidak selalu terasa nyaman. Namun sering kali, hal yang paling kita hindari justru menjadi alat Allah untuk membentuk kita. Allah akan bergumul dengan kita—bukan untuk menghancurkan kita, melainkan untuk menjadikan kita sebagai pribadi yang diberkati, diperbarui, dan dikuatkan, sekalipun kita harus berjalan terpincang.
Tidak ada interupsi yang lebih penting daripada interupsi ilahi. Semua itu adalah alat kasih karunia yang kita perlukan, diberikan oleh Allah yang selalu tahu waktu yang tepat dan selalu memilih jalan yang terbaik.
Refleksi
Bacalah Ibrani 12:3-11 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:
Bacaan Alkitab Setahun: Kejadian 32–34