TIDAK ADA YANG SEPERTI ALLAH KITA
Ulangan 32–34
Tidak ada yang seperti Allah kita. Tidak ada yang dapat dibandingkan dengan Dia. Ia mulia jauh melampaui kemampuan kita untuk memahaminya.
Di musim panas, seorang penulis melayani sebagai pembimbing rohani di sebuah perkemahan. Tujuan pelayanan di perkemahan itu sederhana yaitu menolong para peserta melihat kemuliaan Allah melalui keindahan ciptaan-Nya, dan melalui itu memperkenalkan mereka kepada kemuliaan Allah sebagai Juruselamat. Perkemahan itu berada di sebuah lembah yang diapit oleh dua pegunungan. Suatu sore, ia duduk di teras bangunan utama yang menghadap ke lembah. Dari sana ia melihat awan gelap mulai berkumpul di atas pegunungan, tanda badai akan datang.
Tak lama kemudian, awan itu pecah. Guntur menggelegar. Kilat menyambar di berbagai arah. Hujan turun dengan kekuatan yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Ia terpaku di kursinya, terpana oleh kedahsyatan badai itu. Namun badai itu datang dan pergi dengan cepat. Matahari kembali muncul. Langit menjadi terang lagi. Di kejauhan masih terdengar sisa-sisa suara guntur ketika badai itu bergerak menuju lembah lain. Orang-orang yang juga duduk di situ spontan bertepuk tangan. Mereka semua tercengang oleh kekuatan alam yang baru saja mereka saksikan. Tetapi sebenarnya tepuk tangan itu bukan hanya untuk badai itu sendiri. Mereka sadar bahwa apa yang mereka lihat hanyalah sekilas kecil dari kemuliaan Allah yang bekerja di balik ciptaan-Nya.
Menjelang akhir hidupnya, Musa—pemimpin besar bangsa Israel—mengucapkan berkat bagi setiap suku Israel. Doa dan nyanyian dalam Ulangan 33:26-29 mencapai puncaknya dengan pernyataan yang penuh kemuliaan tentang Allah: “Tidak ada yang seperti Allah, hai Yesyurun. Ia berkendaraan melintasi langit sebagai penolongmu dan dalam kejayaan-Nya melintasi awan-awan. Allah yang abadi adalah tempat perlindunganmu, dan di bawahmu ada lengan-lengan yang kekal. Ia mengusir musuh dari depanmu dan berfirman: Punahkanlah! Maka Israel diam dengan tenteram dan sumber Yakub diam tidak terganggu di dalam suatu negeri yang ada gandum dan anggur; bahkan langitnya menitikkan embun. Berbahagialah engkau, hai Israel; siapakah yang sama dengan engkau? Suatu bangsa yang diselamatkan oleh TUHAN, perisai pertolongan dan pedang kejayaanmu. Sebab itu musuhmu akan tunduk menjilat kepadamu, dan engkau akan berjejak di bukit-bukit mereka."
Musa telah menyaksikan begitu banyak kemuliaan Allah. Ia melihat bagaimana Allah menunjukkan kuasa-Nya untuk membebaskan, melindungi, memelihara, dan memimpin umat Israel. Mulai dari tulah-tulah di Mesir, laut Teberau terbelah, kemuliaan Allah di Gunung Sinai, tiang awan dan tiang api, sampai manna yang turun setiap pagi—semuanya menyatakan kemuliaan Allah bagi umat-Nya. Dari semua pengalaman itu, Musa merangkum semuanya dalam dua pernyataan yang penuh sukacita: “Tidak ada yang seperti Allah” dan “Berbahagialah engkau, hai Israel, suatu bangsa yang diselamatkan oleh TUHAN.”
Dalam terang Injil, kebenaran ini menjadi semakin jelas. Keselamatan yang dahulu dijanjikan Allah kini dinyatakan sepenuhnya di dalam Yesus Kristus. Melalui salib dan kebangkitan-Nya, Allah bukan hanya menunjukkan kuasa-Nya, tetapi juga kasih penebusan-Nya.
Karena itu setiap orang yang percaya kepada Kristus dapat memulai hari dengan dua pengakuan yang sama: “Tidak ada Allah seperti Allahku” & “Hari ini aku bersukacita, karena aku telah diselamatkan oleh Tuhan.” Kemuliaan Allah tidak hanya terlihat dalam badai, gunung, atau langit. Kemuliaan Allah paling jelas terlihat dalam Injil—ketika Allah menyelamatkan orang berdosa melalui Yesus Kristus. Dan di sanalah sukacita kita yang terbesar: kita adalah umat yang diselamatkan oleh Tuhan
Refleksi
Bacalah Mazmur 86:8–13 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:
Bacaan Alkitab Setahun: Ulangan 32-34