KEBERANIAN YANG SEJATI: TAAT KEPADA TUHAN
Yosua 1–4
Tidak ada tindakan keberanian yang lebih besar daripada menaati hukum Tuhan, apa pun perlawanan, penolakan, atau kesulitan yang kita hadapi.
Tuhan telah memilih Yosua untuk memimpin Israel. Yosua membutuhkan keberanian yang besar untuk melaksanakan panggilan Tuhan yang dipercayakan kepadanya. Yosua dipanggil untuk memimpin bangsa yang sulit, umat yang sering kecewa dan bangsa yang dikenal mudah berbalik melawan pemimpinnya ketika keadaan tidak berjalan sesuai keinginan mereka. Ia dipanggil untuk memimpin mereka menyeberangi sungai Yordan dan berperang melawan bangsa-bangsa yang tinggal di tanah perjanjian. Ia dipanggil menjadi seorang pemimpin perang yang memimpin pasukan yang tidak selalu mudah dipimpin, melewati pertempuran demi pertempuran.
Yosua membutuhkan keberanian untuk menghadapi pergumulan dari dalam maupun dari luar. Dan penting bagi kita untuk memahami bagaimana Allah mendefinisikan keberanian itu: “Hanya, kuatkan dan teguhkanlah hatimu dengan sungguh-sungguh, bertindaklah hati-hati sesuai dengan seluruh hukum yang telah diperintahkan kepadamu oleh hamba-Ku Musa; janganlah menyimpang ke kanan atau ke kiri, supaya engkau beruntung, ke mana pun engkau pergi. Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya; sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung. Bukankah telah Kuperintahkan kepadamu: kuatkan dan teguhkanlah hatimu? Janganlah kecut dan tawar hati, sebab TUHAN, Allahmu, menyertai engkau, ke mana pun engkau pergi.” (Yos. 1:7–9).
Tuhan mendefinisikan keberanian sebagai ketaatan kepada hukum-Nya, apa pun yang terjadi, tanpa menyimpang ke kanan atau ke kiri. Kita dipanggil untuk memenuhi pikiran dan hati kita dengan firman Tuhan—merenungkannya siang dan malam—sehingga firman itu membentuk cara kita berpikir dan menentukan keinginan hati kita.
Ketika kita membaca panggilan Yosua ini, kita menyadari bahwa kita pun sering gagal memenuhi standar Tuhan. Namun, Roh Kudus menuntun kita untuk mengakui bahwa kita sering kurang berani dalam ketaatan. Tetapi kita juga tidak akan kehilangan harapan, karena Tuhan telah mengutus seorang Yosua yang lebih besar bagi kita—yaitu Yesus Kristus.
Yesus menunjukkan keberanian yang sempurna bagi kita. Ia datang untuk mengalahkan dosa dan maut. Ia menghadapi penolakan, perlawanan, dan penderitaan, baik secara jiwa maupun tubuh, tetapi Ia tidak pernah mundur dan Ia tidak pernah goyah. Ia sepenuhnya memenuhi standar keberanian yang Tuhan tetapkan.
Karena itu sekarang kita dapat berdiri di hadapan Allah sebagai orang benar—bukan karena keberanian kita, tetapi karena kebenaran Kristus yang taat dengan sempurna. Inilah kabar baik Injil: keberanian Yesus menjadi kebenaran kita di hadapan Allah.
Refleksi
Bacalah Kisah Para Rasul 5:17–42 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:
Bacaan Alkitab Setahun: Yosua 1-4