TAK PERNAH DIBIARKAN BERJALAN SENDIRIAN
Ulangan 30–31
Kekuatan bagi orang percaya bukanlah hasil kemampuan diri sendiri, melainkan buah dari kehadiran dan kuasa Allah.
Walaupun kehidupan, pelayanan, dan kepemimpinan Musa segera berakhir, Allah tidak meninggalkan umat-Nya tanpa pemimpin. Ia membangkitkan pemimpin demi pemimpin, sampai rangkaian pemimpin yang ditetapkan Allah itu mencapai puncaknya dalam diri Mesias, Yesus Kristus. Di sepanjang Perjanjian Lama, kita melihat tiga jenis pemimpin yang Allah bangkitkan untuk menuntun umat-Nya: nabi, imam, dan raja. Ketiga jabatan ini digenapi sepenuhnya di dalam Yesus, yang adalah Nabi, Imam, dan Raja yang kekal dan memerintah bagi umat Allah.
Di akhir kitab Ulangan, umat Allah berada pada momen transisi yang penting. Mereka bersiap memasuki Tanah Perjanjian—tetapi tanpa Musa. Pertanyaannya muncul: siapa yang akan mengisi kekosongan yang ditinggalkan Musa? Siapa yang mampu menghadapi bangsa Israel yang sering bersungut-sungut, mengeluh, ketakutan, dan kerap memberontak Allah? Siapa yang sanggup menangani persoalan di dalam perkemahan Israel sekaligus memimpin mereka menaklukkan bangsa-bangsa di Tanah Perjanjian? Siapa yang memiliki keberanian dan pengharapan untuk melakukan tugas sebesar itu?
Allah menetapkan Yosua sebagai pemimpin berikutnya. Namun, bukan karena Yosua adalah orang yang luar biasa hebat. Allah tidak memakai seseorang karena ia mampu, melainkan karena Allah sendiri Maha Kuasa. Ulangan 31:7–8 mencatat ketika Musa memanggil Yosua di hadapan seluruh Israel dan ia berkata: "Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, sebab engkau akan masuk bersama-sama dengan bangsa ini ke negeri yang dijanjikan TUHAN dengan sumpah kepada nenek moyang mereka untuk memberikannya kepada mereka, dan engkau akan memimpin mereka sampai mereka memilikinya. Sebab TUHAN, Dia sendiri akan berjalan di depanmu, Dia sendiri akan menyertai engkau, Dia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau; janganlah takut dan janganlah patah hati."
Jelas bahwa Allah tidak memilih Yosua karena ia mandiri, kuat, dan cakap. Lalu mengapa Musa dapat berkata, “Kuatkan dan teguhkanlah hatimu”? Karena Musa memahami janji, sumber daya, dan kuasa TUHAN. Allah tidak pernah mengutus anak-anak-Nya melakukan suatu tugas tanpa menyertai mereka. Ketika Allah mengutus, Ia tidak meninggalkan janji-janji-Nya. Ketika Allah mengutus umat-Nya melakukan pekerjaan-Nya, Ia juga memperlengkapi dan memampukan mereka untuk melakukannya. Allah tidak meninggalkan umat-Nya hanya dengan kekuatan mereka sendiri. Karena itu umat Tuhan dapat melangkah maju tanpa rasa takut. Bukan karena mereka hebat, tetapi karena Tuhan hadir dan bekerja di tengah mereka.
Janji tentang kehadiran dan kuasa Allah ini mencapai penggenapan yang paling sempurna di dalam Yesus Kristus. Ia datang menjadi manusia dan melakukan apa yang tidak pernah bisa kita lakukan: mengalahkan dosa dan maut. Melalui Kristus, kita diingatkan akan satu kebenaran yang menguatkan: ketika Tuhan memanggil kita melakukan kehendak-Nya, kita tidak pernah dibiarkan berjalan sendirian.
Refleksi
Bacalah Yesaya 40:28–31 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:
Bacaan Alkitab Setahun: Ulangan 30-31