DENGARKAN NASIHAT BAPA
1 RAJA-RAJA 1–2

 

Sangat penting bagi anak-anak Allah untuk mendengarkan dan mengikuti nasihat Bapa mereka.

 

Setiap kita pasti memiliki Ayah. Ayah duniawi adalah manusia yang rapuh dan tidak sempurna. Ia tidak selalu bertindak atau mendidik dengan sempurna, tetapi ia meninggalkan banyak nasihat yang dapat terus diingat dan dipegang sepanjang hidup kita. Banyak dari nasihat itu terbukti benar. Mungkin dia pernah berkata pada Anda bahwa pekerjaan adalah sebuah kehormatan, bukan kutuk. Ia juga mungkin pernah berkata bahwa orang bisa kehilangan pekerjaan, tetapi tidak bisa kehilangan kemauan dan kemampuan untuk bekerja. Ia mengajarkan pentingnya kerendahan hati untuk terus belajar. Bahkan, ia mungkin juga pernah berkata bahwa manusia bisa tertipu, tetapi Allah tidak pernah bisa ditipu. Walaupun ayah Anda bukan ayah yang sempurna dan mungkin membuat banyak pilihan hidup yang kurang tepat, tetap Anda patut bersyukur atas hikmat yang telah ia wariskan.

 

Dalam 1 Raja-raja 2:1–4, kita membaca nasihat terakhir seorang ayah kepada anaknya. Daud sudah mendekati akhir hidupnya, dan Salomo akan menggantikannya sebagai raja. Inilah nasihat Daud: "Aku ini akan menempuh jalan segala yang fana, maka kuatkanlah hatimu dan berlakulah seperti laki-laki. Lakukanlah kewajibanmu dengan setia terhadap TUHAN, Allahmu, dengan hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya, dan dengan tetap mengikuti segala ketetapan, perintah, peraturan dan ketentuan-Nya, seperti yang tertulis dalam hukum Musa, supaya engkau beruntung dalam segala yang kaulakukan dan dalam segala yang kautuju, dan supaya TUHAN menepati janji yang diucapkan-Nya tentang aku, yakni: Jika anak-anakmu laki-laki tetap hidup di hadapan-Ku dengan setia, dengan segenap hati dan dengan segenap jiwa, maka keturunanmu takkan terputus dari takhta kerajaan Israel.” (1Raj. 2:1–4).

 

Sulit untuk melebih-lebihkan betapa berharganya nilai rohani dari nasihat singkat ini. Yang menarik, Daud menjelaskan apa arti menjadi “kuat.” Kekuatan yang ia maksud bukanlah tentang tampil hebat, keras, atau dominan. Kekuatan sejati adalah hidup berjalan dalam jalan Tuhan dan setia pada firman-Nya.

 

Hidup setiap orang dibentuk oleh apa yang menguasai hati. Pergumulan terbesar bukanlah di luar, tetapi di dalam—pikiran, keinginan, dan keputusan. Bukti kekuatan yang paling nyata adalah tetap berdiri teguh dalam ketaatan kepada Tuhan. Namun standar ini terlalu tinggi jika mengandalkan diri sendiri. Karena itu, kekuatan sejati hanya mungkin terjadi oleh anugerah Allah.

 

Ketika membaca nasihat Daud, ada kesadaran bahwa bukan hanya berbicara tentang ayah duniawi, tetapi tentang Bapa surgawi yang penuh hikmat, kasih, dan kebenaran. Dalam Injil, Allah bukan hanya memberi nasihat—Ia memberi Anak-Nya, Yesus Kristus, supaya manusia yang lemah dimampukan hidup seturut kehendak-Nya.

 

Melalui Kristus, hati yang keras diubahkan menjadi hati yang mau taat. Melalui anugerah-Nya, manusia yang tidak berhikmat diberi hikmat sejati. Tidak ada hikmat dalam diri sendiri—Tuhanlah hikmat itu. Pertanyaannya adalah: apakah Anda akan tunduk pada nasihat-Nya yang penuh kasih, atau tetap berjalan dalam kebodohan diri sendiri?

 

Refleksi
Bacalah Efesus 6:1-4 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:

 

  1. Apa yang Anda pelajari tentang Tuhan dari renungan ini?
  2. Apa yang Anda pelajari tentang dirimu dari renungan ini?
  3. Apa yang perlu Anda pertobatkan dan terapkan hari ini?

 

Bacaan Alkitab Setahun: 1 Raja-raja 1-2