MEMERIKSA HATI
Kejadian 35–37
Penting bagi kita untuk dengan rendah hati dan terus-menerus memeriksa hati kita, untuk membersihkannya dari berhala-berhala yang telah mencengkeram kita, dan berkomitmen kembali untuk menyembah dan melayani Allah saja.
Allah berfirman kepada Yakub, “Bersiaplah, pergilah ke Betel, tinggallah di situ, dan buatlah di situ mezbah bagi Allah, yang telah menampakkan diri kepadamu ketika engkau lari dari Esau, kakakmu” (Kej. 35:1).
Lalu berkatalah Yakub kepada seisi rumahnya dan kepada semua orang yang bersama-sama dengan dia,“Jauhkanlah dewa-dewa asing yang ada di tengah-tengah kamu, tahirkanlah dirimu dan tukarlah pakaianmu. Marilah kita bersiap dan pergi ke Betel; aku akan membuat mezbah di situ bagi Allah, yang telah menjawab aku pada masa kesesakanku dan yang telah menyertai aku di jalan yang kutempuh” (Kej. 35:2–3).
Kita tiba pada satu momen penting dalam kehidupan Yakub bersama Tuhan. Allah sendiri yang mengambil inisiatif memanggil Yakub kembali ke Betel, tempat di mana anugerah-Nya pertama kali dinyatakan ketika Yakub berada dalam pelarian dan ketakutan. Panggilan ini bukan sekadar ajakan untuk pindah tempat, melainkan panggilan untuk memulihkan penyembahan yang sejati.
Allah menyebut diri-Nya sebagai “Allah yang telah menampakkan diri kepadamu ketika engkau lari.” Dengan kata lain, Allah mengingatkan Yakub bahwa anugerah-Nya lebih dahulu hadir sebelum ketaatan Yakub. Inilah Injil: Allah menyatakan diri-Nya kepada orang berdosa, lalu memanggil mereka hidup dalam pertobatan dan penyembahan yang benar.
Sebelum mendirikan mezbah, ada satu hal yang harus Yakub lakukan: menyingkirkan berhala. Penyembahan sejati kepada Allah tidak bisa berdampingan dengan ilah-ilah lain. Karena itu, Yakub memerintahkan keluarganya untuk membuang allah asing, menyucikan diri, dan mengganti pakaian—tanda kesiapan hati untuk datang kepada Allah yang kudus.
Momen penyucian ini bukan hanya tentang membuang patung-patung berhala secara fisik. Berhala-berhala itu mencerminkan hati yang telah menyimpang dari Allah yang hidup. Saat jauh dari tanah Kanaan, hati umat Yakub pun ikut mengembara. Firman Tuhan mencatat hal ini agar kita bercermin, sebab kita pun mudah mengizinkan hati kita dikuasai oleh hal-hal selain Tuhan.
Segala sesuatu yang untuk sementara waktu, satu musim, atau bahkan seumur hidup, menguasai hati kita lebih daripada Tuhan, itulah berhala. Apa yang menguasai hati kita akan menguasai pikiran kita, membentuk keinginan kita, dan akhirnya mengarahkan pilihan serta tindakan kita. Hanya Tuhan yang layak menjadi pusat dan penguasa hidup kita.
Selama dosa masih hidup di dalam diri kita, kita akan terus bergumul dengan berhala-berhala hati. Namun, inilah Injil: Allah menemui kita bukan dengan penghukuman, melainkan dengan kasih karunia yang menginsafkan dan memberi kuasa, supaya kita dapat disucikan kembali dan diarahkan untuk melayani Dia saja. Karena itu, pertobatan bukan jalan untuk mendapatkan kasih Allah, tetapi respons atas kasih Allah yang sudah lebih dahulu diberikan pada kita. Di dalam Injil, Allah bukan hanya memerintahkan kita membuang berhala, tetapi Ia sendiri menjadi satu-satunya Harta yang memuaskan hati kita.
Refleksi
Bacalah Kolose 3:5–10 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:
Bacaan Alkitab Setahun: Kejadian 35-37