ALLAH MELIHAT DAN MEMAHAMI PENDERITAANMU
MAZMUR 21–25
Alkitab dengan jujur menggambarkan kerasnya kehidupan di dunia yang telah jatuh ke dalam dosa. Melalui firman-Nya, Allah meyakinkan kita bahwa Dia melihat, mengetahui, dan memahami penderitaan yang kita alami.
Ketika penderitaan datang menghampiri dan saat kita dilemahkan dan tertekan oleh hal-hal yang tidak terduga, tidak direncanakan, dan tidak diinginkan, kita menjadi lebih rentan untuk mempercayai kebohongan musuh. Salah satu kebohongan itu adalah bahwa penderitaan kita unik dan hanya kita yang mengalaminya. Seolah-olah Allah memiliki orang-orang favorit, dan kita bukan termasuk di dalamnya.
Kebohongan lain muncul dalam bentuk pertanyaan: “Di manakah Allahmu sekarang?” Seakan-akan Allah telah meninggalkan kita dan tidak lagi memegang janji-Nya. Pada saat-saat lemah, musuh ingin membuat kita meragukan kasih, kebaikan, dan kesetiaan Allah terhadap perjanjian-Nya. Ia tahu bahwa ketika kita mulai meragukan kebaikan Allah, kita akan berhenti datang kepada-Nya untuk meminta pertolongan. Kita hanya mempercayai dan mengikuti seseorang yang kita yakini mengasihi kita.
Namun, melalui kejujurannya tentang bahaya, kesulitan, dan pencobaan hidup, Alkitab membungkam semua kebohongan itu. Berulang kali firman Tuhan menunjukkan pergumulan orang-orang biasa seperti kita. Alkitab tidak memberikan gambaran hidup yang steril, tanpa kekecewaan dan penderitaan. Sebaliknya, Alkitab meyakinkan kita bahwa Allah melihat, memahami, dan peduli terhadap apa yang sedang kita alami.
Janji-janji Allah bukanlah janji untuk dunia khayalan yang tidak pernah kita tinggali. Allah memberikan pengharapan di tengah dunia nyata yang penuh penderitaan. Salah satu gambaran paling jelas tentang jeritan seorang yang menderita terdapat dalam Mazmur 22: "Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku? Aku berseru, tetapi Engkau tetap jauh dan tidak menolong aku. Allahku, aku berseru-seru pada waktu siang, tetapi Engkau tidak menjawab, dan pada waktu malam, tetapi tidak juga aku tenang… Seperti air aku tercurah, dan segala tulangku terlepas dari sendinya; hatiku menjadi seperti lilin, hancur luluh di dalam dadaku; kekuatanku kering seperti beling, lidahku melekat pada langit-langit mulutku." (Mzm. 22:2–3; 22:15–16a).
Mazmur 22 tidak hanya menggambarkan dengan tepat pergumulan kita pada masa-masa sulit, tetapi juga mengundang kita untuk membawa seluruh keluh kesah kita kepada Tuhan. Di sinilah Injil memberikan pengharapan yang lebih dalam. Ketika Yesus berada di kayu salib, Dia mengutip Mazmur 22 dan berseru, “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” (Mat. 27:46). Yesus masuk ke dalam penderitaan manusia dan merasakan kedalaman dukacita yang tidak pernah dapat kita pahami sepenuhnya. Yesus bukan sekadar mengetahui penderitaan kita, Dia telah mengalaminya.
Lebih dari itu, Yesus datang ke dunia dengan rela menderita bagi kita. Melalui kematian dan kebangkitan-Nya, Dia memberi jaminan bahwa suatu hari nanti penderitaan tidak akan ada lagi. Karena itu, ketika kita menangis hari ini, kita tidak menangis sendirian. Kristus menyertai kita. Ketika kita merasa ditinggalkan, kita dapat mengingat bahwa Dia telah menanggung keterpisahan itu demi keselamatan kita. Salib membuktikan bahwa Allah tidak meninggalkan umat-Nya. Kebangkitan membuktikan bahwa penderitaan bukanlah akhir cerita.
Di dalam Kristus kita menemukan penghiburan untuk hari ini dan pengharapan untuk masa depan. Akan tiba waktunya ketika dosa, air mata, rasa sakit, dan kematian tidak ada lagi. Sampai hari itu tiba, kita dapat berpegang pada satu kebenaran yang pasti: Allah melihat penderitaan Anda, memahami pergumulanmu, menyertaimu, dan sedang memimpinmu menuju kemuliaan yang kekal di dalam Kristus.
Refleksi
Bacalah Ibrani 4:14–16 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:
Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 21-25