HIDUP BERTEOLOGI
MAZMUR 26-31
Teologi itu dekat dengan kehidupan sehari-hari. Teologi membantu kita memahami siapa diri kita, apa kebutuhan kita yang paling dalam, bagaimana Tuhan memelihara kita, dan kepada siapa kita menaruh harapan untuk masa depan.
Sering kali kata doktrin atau teologi terdengar seperti sesuatu yang hanya diperuntukkan kepada pendeta, dosen teologi, atau mahasiswa seminari. Ada juga yang beranggapan bahwa teologi hanyalah konsep-konsep abstrak yang dibahas para ahli. Bahkan mungkin Anda juga pernah berkata, “Jangan berkhotbah kepada saya tentang doktrin. Beritahu saja bagaimana Yesus dapat menolong saya.”
Namun, sesungguhnya teologi sangat dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Teologi membantu kita memahami tentang siapa diri kita, apa yang kita percayai, kepada siapa kita berharap, dan bagaimana kita menjalani hidup. Yang paling penting, teologi membawa kita mengenal Tuhan dan Juruselamat kita, yang kepada-Nya kita menemukan tujuan hidup, penebusan, dan pengharapan kekal.
Sebenarnya, setiap orang memiliki "teologi." Setiap orang berusaha memahami hidup dan mencari makna di balik apa yang mereka alami. Pertanyaannya bukan apakah kita memiliki teologi atau tidak, tetapi dari mana kita mendapatkan pemahaman tentang hidup: dari firman Tuhan atau dari suara-suara lain di sekitar kita? Sebab apa yang kita percaya tentang Tuhan akan menentukan bagaimana kita menjalani hidup.
Itulah yang kita lihat dalam Mazmur 27. "TUHAN adalah terangku dan keselamatanku, kepada siapakah aku harus takut? TUHAN adalah benteng hidupku, terhadap siapakah aku harus gemetar?" (Mzm. 27:1). Daud menulis Mazmur 27 ketika ia berada di tengah masalah yang menghancurkan hati dan ancaman besar. Entah itu karena kemarahan Saul yang iri kepadanya atau pengkhianatan dari anaknya sendiri, Absalom. Menariknya, Daud tidak memulai Mazmur 27 ini dengan membicarakan masalahnya. Ia memulai mazmur ini dengan teologi, yaitu pengenalan akan siapa Allah. Bagi Daud, kebenaran tentang Allah menjadi dasar penghiburan, keberanian, dan pengharapan di tengah penderitaan.
Daud tidak hanya berkata, “Tuhan adalah terang,” atau “Tuhan adalah keselamatan,” atau “Tuhan adalah benteng.” Seolah-olah semua itu hanya konsep yang jauh dan tidak berkaitan dengan hidupnya. Daud berkata: “TUHAN adalah terangku.” “TUHAN adalah keselamatanku.” “TUHAN adalah benteng hidupku.” Perhatikan kata “ku”. Bagi Daud, kebenaran tentang Allah bukan sekadar teori. Allah adalah Pribadi yang nyata dalam kehidupannya. Kebenaran ini sangat pribadi bagi Daud. Kebenaran ini membentuk identitasnya dan menentukan di mana ia menemukan pertolongan serta pengharapannya.
Daud seakan berkata: “Aku telah dipersatukan dengan Allah yang mulia ini oleh kasih karunia-Nya. Karena itu, semua yang Allah telah nyatakan menjadi dasar hidupku.” Daud memahami bahwa identitasnya tidak ditentukan oleh ancaman yang sedang ia hadapi, melainkan oleh Allah yang memegang hidupnya. Ketika kita mengenal siapa Tuhan, kita juga mulai memahami siapa diri kita di hadapan-Nya. Artinya, identitas kita tidak ditemukan dalam keadaan kita, tetapi dalam Allah yang memegang hidup kita.
Pada titik inilah teologi Kitab Suci membawa kita kepada pusat seluruh wahyu Allah, yaitu Yesus Kristus. Semua kebenaran tentang Allah menemukan puncaknya di dalam Dia. Yesus adalah Terang dunia yang datang ke dalam kegelapan kita. Yesus adalah keselamatan yang membebaskan kita dari dosa. Yesus adalah Benteng yang menopang kita ketika hidup terasa rapuh dan tidak aman. Melalui Dia, kita menerima hidup yang sejati. Dari sini kita mengerti bahwa seluruh kehidupan kita berakar di dalam Dia. Pengharapan terbesar kita bukanlah bahwa keadaan selalu mudah, tetapi bahwa Tuhan yang menjadi pusat segala sesuatu selalu bersama kita dan memegang kita.
Pada akhirnya, tujuan teologi bukanlah supaya kita tahu lebih banyak tentang Tuhan, tetapi supaya kita semakin mengenal, mengasihi, dan mempercayai Dia. Doktrin bukan sekadar kumpulan pengetahuan untuk dipelajari. Doktrin memperkenalkan kita kepada Tuhan yang hidup. Semakin kita mengenal siapa Dia, semakin kita menemukan kekuatan, penghiburan, dan pengharapan di tengah pergumulan hidup.
Refleksi
Bacalah Kolose 2:6–10 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:
Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 26-31