MELAMPAUI PENGERTIAN KITA
Yosua 5–8
Pikiran Tuhan tidak sama dengan pikiran kita, dan jalan-Nya jauh melampaui pengertian kita.
Memang benar bahwa pikiran Tuhan tidak sama dengan pikiran kita, dan jalan-Nya sangat berbeda dari jalan kita. Allah dalam hikmat-Nya yang sempurna tidak pernah keliru. Namun ada saat-saat ketika apa yang Tuhan minta dari kita terlihat begitu aneh dari sudut pandang manusia—begitu sulit dipahami sehingga membuat kita bingung, bahkan takut.
Iman yang sejati memanggil kita untuk tetap bertahan melewati hal-hal yang tampak tidak masuk akal. Iman memanggil kita untuk tetap percaya bahwa Allah itu kudus, bijaksana, dan bahwa semua jalan-Nya baik, benar, dan dapat dipercaya. Jika kita berhenti pada rasa tidak masuk akal itu, kita bisa saja meninggalkan panggilan Tuhan dan memilih jalan kita sendiri.
Kisah dalam Yosua 6 menunjukkan salah satu momen seperti itu. Tuhan tidak menyuruh umat-Nya menyerang Yerikho dengan strategi militer biasa. Mereka diminta berbaris mengelilingi kota itu sekali sehari selama enam hari, lalu tujuh kali pada hari ketujuh. Secara manusia, ini tidak masuk akal. Bahkan terlihat seperti tindakan yang berbahaya dan bodoh. Namun Tuhan memiliki rencana yang jauh lebih besar.
Pada hari ketujuh, setelah mereka mengelilingi kota itu untuk ketujuh kalinya, bangsa Israel meniup sangkakala dan bersorak dengan suara nyaring. Dan tembok itu runtuh. Kota itu pun dikalahkan. Yosua 6:20 tertulis demikian, “Lalu bersoraklah bangsa itu, sedang sangkakala ditiup; segera sesudah bangsa itu mendengar bunyi sangkakala, bersoraklah mereka dengan sorak yang nyaring. Maka runtuhlah tembok itu, lalu mereka memanjat masuk ke dalam kota, masing-masing langsung ke depan, dan merebut kota itu.”
Rencana Tuhan adalah memberikan kemenangan yang tidak mungkin bangsa Israel capai dengan kekuatan mereka sendiri. Melalui hal itu, Tuhan ingin mengajarkan bahwa Dialah yang menyertai mereka, dan bahwa setiap kemenangan mereka terjadi oleh kuasa-Nya, bukan kekuatan mereka. Apa yang tampak tidak masuk akal itu ternyata adalah hadiah dari kasih karunia dan kemuliaan Tuhan.
Seluruh kisah Alkitab juga bergerak menuju satu peristiwa lain yang tampak tidak masuk akal: bahwa harapan seluruh umat manusia bergantung pada Allah yang menjadi manusia, hidup tanpa dosa, mati menggantikan kita, bangkit dari kematian, lalu naik ke surga dan duduk di sebelah kanan Bapa.
Bagi dunia, itu terdengar tidak masuk akal. Tetapi justru di situlah rencana keselamatan Allah dinyatakan. Salib yang tampak seperti kekalahan ternyata adalah kemenangan terbesar Allah bagi manusia berdosa. Apa yang terlihat bodoh bagi dunia ternyata adalah hikmat Allah yang sempurna.
Injil mengajarkan kita bahwa ketika jalan Tuhan terasa tidak masuk akal, kita tidak dipanggil untuk memahami semuanya terlebih dahulu—kita dipanggil untuk percaya kepada Dia yang memegang seluruh rencana. Apa yang tampak “absurd” bagi kita sering kali adalah panggung bagi kemuliaan dan kasih karunia Allah.
Refleksi
Bacalah Matius 4:1–11 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:
Bacaan Alkitab Setahun: Yosua 5-8