MENCURI KEMULIAAN
Jawab pembawa kabar itu: "Orang Israel melarikan diri dari hadapan orang Filistin; kekalahan yang besar telah diderita oleh rakyat; lagipula kedua anakmu, Hofni dan Pinehas, telah tewas, dan tabut Allah sudah dirampas." 1 Samuel 4:17
Apakah Allah berguna bagi hidup Anda atau Dia layak mendapatkan hidup Anda?
Di awal 1 Samuel 3, tentara Israel mengalami kekalahan besar setelah membawa tabut perjanjian ke medan perang, berharap untuk menggunakannya sebagai semacam jimat untuk memastikan kemenangan (1 Samuel 4:1-4). Imam besar, Eli, tahu kebenarannya, tetapi dia tetap menyetujui rencana itu.
Pada saat itu, tabut perjanjian adalah tempat kediaman Allah di antara umat-Nya. Allah ingin mereka datang ke tabut perjanjian untuk mencari hadirat-Nya, bukan menggunakannya sebagai jimat. Eli memahami hal ini—dan karenanya, saat pasukan itu pergi berperang, dia duduk gemetar di Silo, menunggu kabar (1 Samuel 4:13). Ketika seorang utusan akhirnya tiba dari medan perang, pesan itu berakhir dengan kalimat yang menghancurkan: "Tabut Allah sudah dirampas." Mendengar berita ini, hati Eli gemetar, dan dia meninggal (ayat 18), karier selama 40 tahun berakhir dengan kehancuran dalam sekejap.
Hadirat dan kemuliaan Allah, yang saat itu terwakili dalam tabut perjanjian, tidak boleh dianggap enteng atau digunakan untuk tujuan egois kita. Apa yang terjadi di Silo menjadi sesuatu yang selalu diingat sejak saat itu. Pemazmur menulis, "Ketika Allah mendengarnya, Ia menjadi gemas, Ia menolak Israel sama sekali; Ia membuang kediaman-Nya di Silo kemah yang didiami-Nya di antara manusia” (Mazmur 78:59-60). Yeremia juga, berbicara pada suatu waktu dalam sejarah umat Allah ketika mereka juga tergoda untuk “memanfaatkan” Allah, dengan memberikan kata peringatan ini: “Sudahkah menjadi sarang penyamun di matamu rumah yang atasnya nama-Ku diserukan ini? Kalau Aku, Aku sendiri melihat semuanya, demikianlah firman TUHAN. Tetapi baiklah pergi dahulu ke tempat-Ku yang di Silo itu, di mana Aku membuat nama-Ku diam dahulu, dan lihatlah apa yang telah Kulakukan kepadanya karena kejahatan umat-Ku Israel!” (Yeremia 7:11-12). Silo dimaksudkan untuk menjadi pengingat akan akibat dari usaha menggunakan Allah sebagai jimat keberuntungan alih-alih menyembah-Nya sebagai Allah.
Berabad-abad kemudian, ketika Yesus membersihkan bait suci di Yerusalem, Dia mengutip sebagian peringatan Yeremia (Matius 21:12-13). Sekali lagi, orang-orang menggunakan Allah untuk tujuan mereka sendiri alih-alih menghormati-Nya. Namun, Dia datang bukan hanya untuk menyingkapkan dosa, tetapi juga untuk mengatasinya. Dengan membiarkan kuasa kegelapan memaku-Nya di kayu salib, Dia yang adalah segala kemuliaan Bapa-Nya (Yohanes 1:14) disingkirkan dari hadirat Bapa-Nya. Oleh karena itu, Dia layak menerima segala kuasa dan segala kehormatan (Wahyu 5:9).
Bagaimana dengan Anda? Ketika Anda dengan jujur mempertimbangkan kecenderungan hati Anda, apakah Anda berkata kepada Allah, “Engkau berguna” alih-alih “Engkau layak”? Pandanglah dengan mata iman kepada Yesus yang menyucikan bait suci dari orang-orang berdosa, dan kemudian menyucikan orang-orang berdosa sehingga mereka dapat hidup di hadirat Allah selamanya, dan Anda akan mendapati diri Anda berhasrat untuk menghabiskan hari-hari Anda memuji Dia. “lebih baik satu hari di pelataran-Mu dari pada seribu hari di tempat lain” (Mazmur 84:11). Saat Anda memercayai hal ini, hidup Anda akan menyatakan nilai-Nya, dan Anda akan berusaha untuk menyembah-Nya, bukan untuk memanfaatkan-Nya.
Refleksi
Bacalah Mazmur 84 dan jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut
Bacaan Alkitab Satu Tahun : Yesaya 56-59 : Markus 13: 21-37
Truth For Life – Alistair Beg