MENJAUH DARI GODAAN
Kejadian 38-40
Apakah kita sungguh mengasihi Tuhan, sehingga dalam setiap keadaan kita lebih memilih taat kepada-Nya daripada menuruti godaan, apa pun risikonya?
Kisah Yusuf bisa menjadi serial Netflix yang sangat dramatis dan memikat: seorang anak kesayangan ayahnya dikhianati oleh saudara-saudaranya sendiri dan dijual sebagai budak. Ia kemudian dibeli oleh seorang pejabat Mesir, dan di sana Allah menyertainya serta memberinya keberhasilan hingga ia diangkat menjadi pengawas di rumah tuannya. Sebuah kisah yang luar biasa.
Kemudian, godaan datang. Istri Potifar mulai tertarik kepada Yusuf. Yusuf adalah seorang pria yang tampan, cakap, dan berhasil. Dengan berani, perempuan itu mengajak Yusuf untuk tidur dengannya. Situasinya jelas berbahaya. Jika istri Potifar terus mendekati Yusuf, godaan itu tidak akan berhenti bagi Yusuf. Jika Yusuf terus menolak, ia berada dalam posisi yang rentan, sebab perempuan itu memiliki kuasa untuk mencelakainya. Pada suatu hari, perempuan itu menarik jubah Yusuf dan memaksanya untuk tidur dengannya. Yusuf menolak dan memilih melarikan diri, meninggalkan jubahnya di tangan perempuan itu. Jubah itu kemudian dipakai sebagai bukti palsu bahwa Yusuf telah mencoba memperkosanya, hingga Yusuf dijebloskan ke dalam penjara (Kej. 39).
Inilah gambaran nyata kehidupan di dunia yang telah jatuh ke dalam dosa. Sekalipun hati kita tertuju kepada Allah, godaan tetap akan datang. Bahkan ketika kita sedang mengalami penyertaan dan berkat Tuhan, godaan tidak berhenti. Suara godaan selalu berusaha menyeret kita keluar dari batas-batas kekudusan Allah. Kita baru akan benar-benar bebas dari godaan ketika kita berada di langit dan bumi yang baru, tempat kebenaran dan damai sejahtera memerintah untuk selamanya.
Yusuf menjelaskan dengan jelas mengapa ia tidak mungkin melakukan perbuatan itu. Ucapannya sangat menggugah: “Bagaimanakah mungkin aku melakukan kejahatan yang besar ini dan berbuat dosa terhadap Allah?” (Kej. 39:9). Perkataan ini menunjukkan bahwa alasan Yusuf menolak bukan semata-mata karena loyalitas kepada Potifar atau tanggung jawab atas jabatannya.
Motivasi terdalam Yusuf adalah takut akan Allah. Bukan ketakutan akan hukuman, melainkan rasa hormat, kekaguman, dan kasih yang mendalam kepada Allah yang hidup, Allah yang menyertainya dan memberkatinya. Yusuf tidak sanggup membayangkan dirinya menyakiti hati Allah yang begitu setia kepadanya. Karena itulah ia mampu berkata “tidak” terhadap dosa, sekalipun harus menanggung penderitaan yang berat.
Di sinilah Injil berbicara dengan kuat kepada kita. Kekuatan untuk melawan godaan tidak lahir dari kemauan diri semata, tetapi dari hati yang dikuasai oleh kasih kepada Allah. Ketika rasa hormat dan kekaguman yang mendalam kepada Allah menguasai hati kita, kita akan sanggup menolak godaan, apa pun harga yang harus dibayar.
Kiranya kita berseru memohon kasih karunia, supaya kita lebih takut akan Tuhan daripada takut akan manusia, dan lebih mengasihi Tuhan daripada kenyamanan hidup. Dan kiranya kita percaya bahwa penderitaan yang datang karena ketaatan kepada Allah bukanlah akhir dari cerita. Bagi Yusuf, penjara bukanlah penutup, melainkan jalan Allah menuju penggenapan rencana-Nya.
Dalam Injil, kita melihat bahwa Allah setia kepada umat-Nya, bahkan ketika ketaatan membawa kita ke lembah penderitaan. Allah yang sama yang menyertai Yusuf adalah Allah yang sama yang bekerja di dalam hidup kita hari ini—membentuk, memurnikan, dan menuntun kita menuju kemuliaan-Nya.
Refleksi
Bacalah Amsal 16:6 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:
Bacaan Alkitab Setahun: Kejadian 38-40