APA TUJUAN DARI PENDERITAAN?
Jika kamu harus menanggung ganjaran; Allah memperlakukan kamu seperti anak. Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya? Tetapi, jikalau kamu bebas dari ganjaran, yang harus diderita setiap orang, maka kamu bukanlah anak, tetapi anak-anak gampang. – Ibrani 12:7-8
Penderitaan tidak selalu membuat kita secara otomatis lebih dekat kepada Allah. Pencobaan yang panjang justru bisa menggoda kita untuk memberontak atau meragukan Dia. Tetapi ketika kita bersedia tunduk pada tujuan Tuhan yang berdaulat, Ia akan memampukan kita untuk tetap bertahan di tengah penderitaan itu.
Alkitab dengan jelas mengajarkan bahwa Tuhan berdaulat atas seluruh hidup kita—baik berkat maupun penderitaan. Sebagai contoh, dalam Ayub 1 kita melihat Iblis memfitnah Ayub, menuduh bahwa Ayub mengasihi Tuhan hanya karena semua berkat yang ia terima (Ayb. 1:9–10). Sebagai tanggapan, Tuhan berkata kepada Iblis, “Segala yang dipunyainya ada dalam kuasamu; hanya janganlah engkau mengulurkan tanganmu terhadap dirinya” (ay. 12). Artinya, kedaulatan Allah tetap melingkupi penderitaan Ayub sekalipun Iblis terlibat di dalamnya.
Lalu apa yang dapat kita katakan secara biblika mengenai tujuan Allah dalam penderitaan kita?
Pertama, Allah menggunakan penderitaan untuk meyakinkan & meneguhkan bahwa kita adalah anak-anak-Nya. Disiplin yang Ia izinkan terjadi dalam hidup kita adalah bukti bahwa kita milik-Nya. Alkitab berkata, "jikalau kamu bebas dari ganjaran, yang harus diderita setiap orang, maka kamu bukanlah anak, tetapi anak-anak gampang" (Ibr. 12:8).
Kedua, Allah memakai penderitaan untuk menumbuhkan ketergantungan kita pada-Nya. Paulus menyadari bahwa "supaya aku jangan meninggikan diri … maka aku diberi suatu duri di dalam dagingku" (2 Kor. 12:7). Kesombongan dapat menuntun pada kejatuhan total. Oleh karena itu, Tuhan terkadang dengan penuh belas kasihan mengizinkan pengalaman yang menyakitkan supaya kita belajar bersandar kepada-Nya. Kerendahan hati adalah tanah tempat benih anugerah-Nya bertumbuh dan matang.
Ketiga, Allah memakai penderitaan untuk menjaga kita tetap berjalan dalam iman. Sangat mudah untuk kita melupakan Tuhan ketika semuanya berjalan lancar. Namun, pernahkah Anda memperhatikan bagaimana kehidupan doa Anda dapat berubah dengan satu kunjungan ke dokter, atau betapa kerinduan kita untuk berseru kepada Tuhan bisa diperkuat hanya karena melihat satu bayangan masalah yang mendekat. Pemazmur mencatat kecenderungan ini ketika dia mengakui, "Sebelum aku tertindas, aku menyimpang, tetapi sekarang aku berpegang pada janji-Mu" (Mzm. 119:67).
Sebagai anak Tuhan, Anda dapat hidup dengan keyakinan bahwa Bapa surgawi tahu yang terbaik dan memegang kendali. Ketika keadaan saat ini terasa begitu berat dan hari-hari ke depan tampak tidak pasti, Anda tetap dapat percaya bahwa ada tujuan—meskipun masih tersembunyi—dan Anda dapat berkata:
Walaupun iblis datang menyerangku
Imanku tetap dan teguh
Ada Tuhan yang menyelamatkanku
Darah-Nya yang menebuskan ku
Tenanglah, jiwaku;
tenanglah, tenanglah, jiwaku
— Tenanglah Kini Hatiku, Horatio Gates Spafford
Refleksi
Bacalah Ibrani 12:3-11 dan jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut:
1. Kebenaran Injil mana yang mengubahkan hati saya?
2. Hal apa yang perlu saya pertobatkan?
3. Apa yang bisa saya terapkan hari ini?
Bacaan Alkitab Setahun: Yosua 7-9; Lukas 15:11-32